Pembalasan Sang Yatim Piatu

Pembalasan Sang Yatim Piatu
13. Mencoba Tegar


__ADS_3

Riska yang melihat pasangan tersebut berulang kali mengucek matanya dia menduga mungkin dia hanya salah lihat dan laki-laki tersebut hanya kebetulan saja memiliki bentuk tubuh yang sama persis dengan Alex. Namun dugaanya itu salah orang yang di lihat sekarang benar-benar laki-laki yang sudah ditunggu kedatanganya berjam-jam namun tak kunjung datang.


Sedangkan Siska hanya melihat sebentar kearah pasangan tersebut karena dia sangat yakin orang itu adalah Alex. Namun pandanganya kini terus menatap lekat wajah sang sahabat yang sepertinya merasa sangat kecewa dengan sikap sang kekasih, Dan Cia tetap melihat kearah pasangan tersebut dengan tatapan kosong.


"Cia itu benar-benar Alex kan?" Tanya Riska yang masih fokus kearah mobil yang dinaiki oleh Alex dan cewek tersebut, tanpa melihat kearah sahabatnya yang menatap kosong ke mobil sang kekasihnya itu.


"Itu benar Al...., Ucap Riska menghentikan ucapannya ketika melihat kode dari saudara kembarnya untuk melihat kearah Cia.


"Iya itu benaran Alex dengan Fania." Ucap Siska. Yang tak menyangka kalau Alex tega menghianati sahabatnya dengan kakak tirinya sendiri, walaupun mereka belum terbukti menjalin hubungan namun Siska sangat yakin kalau perubahan sikap Alex selama ini itu karena adanya orang ketiga.


"Gila ini sangat gila, sejak kapan Alex menjadi laki-laki pengkhianat, dasar laki-laki brengs*k." Maki Riska tanpa mengetahui kejelasan hubungan kedua orang itu.


"hhhh jadi selama ini itu yang membuat dia berubah, dengan menjalin hubungan dengan kakak tiri gue sendiri." Ucap Cia sambil tertawa miris.


Baru tadi dia kembali bahagia membaca chat dari sang kekasih namun belum terwujud apa yang mereka rencanakan kini dia sudah dipatahkan oleh sebuah kenyataan. Kenyataan dimana orang yang dia tunggu berjam-jam lamanya malah sedang bermesraan dengan perempuan lain.


Siska dan Riska yang mendengar ucapan Cia tersebut langsung memeluk sahabatnya itu, mereka yakin kalau perasaan sahabatnya ini sangat terluka. Siapapun yang diperlakukan seperti itu pasti akan sangat kecewa.


"Loh yang sabar ya Cia." Ucap Riska sambil melepaskan pelukannya dari sang sahabat diikuti oleh Siska.


"Gue gak nyangka kalau dia sengaja tidak mengangkat panggilan dari gue hanya karena dia jalan dengan Fania." Ucap Cia sendu.


"Gue harap loh jangan mau lagi dengan laki-laki seperti itu, gue saranin setelah pulang dari sini loh harus putusin dia, laki-laki brengs*k seperti itu untuk apa dipertahankan." Saran Riska yang malah mendapatkan tatapan tajam dari saudara kembarnya.


"Loh jangan dengarin saran dari orang gila ini. Saran gue lebih baik nanti loh tanya baik-baik ke Alex, minta penjelasan sama dia kenapa gak datang jemput loh, hitung-hitung kita test dia." Ucap Siska bijak.


Sedangkan Riska yang mendengarkan saudara kembarnya itu menganggapnya orang gila hanya mencabikkan bibirnya dengan kesal.


"Orang secantik dan sewaras gue dikatai orang gila, dasar saudara laknat." Maki Riska dalam hati.


"Terus kalau dia berbohong bagaimana? kak Siskaku yang cantik jelita emangnya loh mau kalau sahabat cantik kita ini plus primadona sekolah harus dianggap cewek bodoh karena selalu dipermainkan oleh laki-laki brengs*k seperti Alex." Ucap Riska dengan nada sedikit bercanda. Namun terdapat keseriusan di wajahnya.


Siska yang mendengarkan ucapan saudara kembarnya itu hanya memutar bola matanya malas. Dia kesal dengan sikap saudara kembarnya yang lola itu.

__ADS_1


Sedangkan Cia hanya diam sembari melihat adegan debat kedua saudara kembar itu namun dia tetap mencoba memahami apa maksud dari kata-kata Siska. Dasar Cia ternyata dia sama lolanya dengan Riska.


"Maksud gue loh coba meminta penjelasan sama dia, kalau Alex berkata jujur berarti selama ini dia juga jujur sama loh tentang kesibukannya mengenai tugas dari kampus. Tapi jika dia berbohong berarti kemungkinan besar selama ini dia sering membohongi loh." Ucap Siska panjang lebar.


Sedangkan Cia dan Riska yang mendengarkan ucapan Siska pun hanya menganguk-anggukan kepalanya.


"Kenapa gue gak berfikir sampai kesitu yah, tumben bangat sih otak gue ini lemot." Ucap Riska sambil memukul pelan kepalanya.


"Memang selama ini otak loh itu memang hanya otak udang." Ucap Siska sinis.


"Masa sih perasaan selama ini gue pintar deh." Ucap Riska yang tidak terima dikatain otak udang oleh saudara kembarnya itu. Sedangkan Cia hanya mengeleng-gelengkan kepalanya mendengar pembicaraan mereka.


Memang kedua saudara kembar itu perpaduan yang until. Riska yang otak udang sedangkan Siska yang memiliki otak encer.


"Diam gak loh." Ucap Siska sambil menatap tajam kearah Riska. Siska yakin jika terus meladeni ucapan saudara kembarnya itu tidak akan habisnya.


"Oh ya Cia gimana dengan saran gue." Tanya Siska sambil menatap Cia yang terkekeh melihat sikap dia dengan saudara kembarnya walaupun dia yakin dibalik senyuman itu terdapat air mata yang siap keluar.


"*Gue harap loh gak seperti yang gue pikirkan Lex." Ucap Cia dalam hati.


"Loh benar-benar polos Cia, Tapi gue harap loh akan tetap tegar ketika mendengar alasan dari dia. Tapi gue sangat yakin dia pasti akan berbohong." Ucap Siska dalam hati sambil menatap wajah sahabatnya.


"Cih laki-laki brengsek seperti dia untuk apa dipertahanin, kalau gue yang di perlakukan seperti itu siap-siap saja kepala perempuan itu langsung botak." Geram Riska dalam hati*.


"Iya mudah-mudahan saja." Ucap Siska, walaupun dia sendiri tidak yakin.


"Lebih baik kita pulang sekarang yuk, sebentar lagi gelap. Dan gue juga sudah mengantuk bangat." Ucap Riska di jawaban anggukan kepala oleh Siska dan Cia.


Mereka pun berjalan kearah mobil yang di kemudikan oleh Siska, Tapi sekarang giliran Cia yang berada di kursi belakang sedangkan Siska dan Riska berada di kursi depan.


Hingga 25 menit kemudian mereka pun sampai di sebuah rumah sederhana namun tampak asri dan nyaman.


"Trimakasih ya guys." Ucap Cia sambil membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Ok sama-sama, jangan lupa minta penjelasan ke dia. Apapun nanti alasannya loh jangan sampai jujur kalau loh lihat mereka tadi di cafe." Ucap Siska.


"Btw itukan mobilnya Alex berarti dia masih disini dong." Ucap Riska sambil menunjuk sebuah mobil sport Lamborghini yang ada didepan mereka.


Siska dan Cia pun sontak mengalihkan padangan mereka ke mobil mewah tersebut. Dan mereka pun sibuk menerka-nerka kenapa Alex masih ada disini, Apakah dia datang meminta maaf ke Cia atau malah ingin memperjelas hubungannya dengan Fania.


"Ini kesempatan bagus untuk loh supaya bisa meminta penjelasan secara langsung ke dia, tapi sekali lagi gue bilang apapun itu yang loh lihat atau yang loh dengar dari mereka. Loh harus kuat dan bersikap seperti biasa ." Ucap Siska namun dia yakin pasti Alex memiliki hubungan khusus dengan Fania yang tak lain adalah kakak tiri dari Cia.


"Ok makasih yah buat sarannya." Ucap Cia yang merasa beruntung memiliki sahabat seperti mereka yang selalu ada untuknya.


"Sama-sama, btw kita pulang dulu ya ini sudah malam. mami dan papi pasti udah nyariin kita dari tadi." Pamit Siska.


"Ok kalian hati-hati di jalan yah dan salam buat mami dan papi." Ucap Cia sambil turun dari mobil dan menutup kembali pintu mobil tersebut. Cia memang memanggil orangtua Siska dan Riska dengan panggilan mami dan papi itu atas permintaan mereka sendiri karena sudah menganggap Cia sebagai putri mereka sendiri.


"Oky bye." Ucap Riska sambil melambaikan tangannya.


Cia yang melihat mobil sahabatnya itu sudah pergi langsung melangkahkan kakinya kedalam rumahnya sambil mencoba menerka-nerka kenapa Alex ada dirumahnya, kenapa dia bisa bersama dengan Fania, sejak kapan mereka dekat? karena setahu Cia selama ini setiap Alex datang berkunjung ke rumahnya dia selalu bersikap dingin ke Fania sama seperti ke perempuan lain.


Deg! deg! deg!


Pemikiran itu harus berhenti disertai dengan langkah kakinya yang ikut berhenti ketika melihat diruang tamu sederhana tersebut terdapat sang kekasih dengan saudara tirinya yang berhasil membuat hatinya sakit seperti ditusuk ribuan panah.


Visual Cia



Visual Alex



Visual Sikembar Siska dan Riska


__ADS_1


__ADS_2