Pembalasan Sang Yatim Piatu

Pembalasan Sang Yatim Piatu
48. Bonus Visual


__ADS_3

"Thanks ya." Ucap Leticia pada Cassandra ketika mereka sudah sampai di apartement yang dihuni oleh Leticia.


Apartement tersebut merupakan pemberian dari orangtua Siska dan Riska. Awalnya Leticia menolak dengan berbagai alasan karena tidak enak hati dan merasa tidak pantas tinggal diapartement mewah, namun kedua orangtua angkatnya tidak mau menerima penolakan. Hingga Leticia pun tidak mampu menolak pemberian mereka.


"Sama-sama kayak sama siapa aja loh." Ucap Cassandra sambil tersenyum manis.


"Loh gak mampir dulu." Ajak Leticia yang sudah turun dari mobil Cassandra.


"Gak deh next time aja ya soalnya dirumah ada kakak gue. Nanti gue di cincang habis-habisan kalau pulang malam." Tolak Cassandra halus sambil mengingat wajah sang kakak yang begitu menyeramkan ketika lagi marah.


Membayangkan saja sudah membuat Cassandra langsung bergedik ngeri.


"Oh iya kalau gitu loh hati-hati ya jangan ngebut." Ucap Leticia mengigatkan temannya.


"Ok kalau gitu gue pamit dulu ya, bye." Pamit Cassandra sambil melambaikan tangannya dan dibalas lambaian tangan oleh Leticia.


Setelah kepergian Cassandra. Leticia pun masuk kedalam apartementnya yang berada dilantai 13.


"Kenapa gue harus ketemu pria mesum itu lagi sih." Gumam Leticia kesal sambil melangkahkan kakinya kedalam kamarnya.


"Tuhan gue berharap itu pertemuan terakhir gue dengan dia." Doa Leticia dalam hati. Entah kenapa dia benar-benar merasa ada yang janggal dengan hatinya ketika bersitatap langsung dengan Vino.


"Tapi kenapa Cassandra kayak gak suka ya ketika pria itu datang. Apa mereka saling kenal, tapi bodoh amatlah bukan urusan gue juga." Monolog Leticia dalam hati sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Sama halnya dengan Leticia. Pria tampan yang dijuluki pria mesum oleh Leticia baru selesai makan bersama perempuan cantik yang tak lain adalah Rebecca.


"Kita mau langsung pulang atau gimana?" Tanya Rebecca ketika mereka sudah berada dimobil mewah milik Vino.


"Memangnya loh mau kemana lagi?" Tanya Vino tanpa menatap kearah Rebecca.


"Hmm dari loh aja. Gue pasti akan selalu ikut kok." Ucap Rebecca sambil menatap kagum kearah Vino.


"Vino tampan bangat sih. Gue beruntung bangat bisa dekat dengan pria sekaya dia, pokoknya apapun yang terjadi dia harus jadi milik gue." Gumam Rebecca sambil tersenyum menatap kearah Vino.


"Lain kali aja ya, gue masih punya urusan yang sangat penting." Ucap Vino yang mulai merasa risih dengan Rebecca yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.


"Ok tapi loh harus janji ya akan ajak gue keluar kalau loh ada waktu luang." Ucap Rebecca penuh harap.


"Hmm." Ucap Vino singkat.


"Gue boleh minta nomor ponsel loh gak?" Tanya Rebecca sambil menyondorkan ponselnya ke Vino dengan tidak tahu malunya.


Vino pun langsung mengambil ponsel Rebecca kemudian memasukkan nomor ponselnya ke ponsel tersebut tanpa menjawab ucapan Rebecca.


"Gue antarin loh pulang sekarang." Ucap Vino singkat.


Lalu Vino pun langsung melajukan mobilnya tanpa menunggu jawaban dari perempuan cantik yang ada disampingnya.


"Alamat loh dimana?" Tanya Vino yang pura-pura tidak tahu alamat Rebecca.


Padahal tanpa bertanya pun Vino sudah tahu alamat rumah Rebecca karena dia telah menyelidiki semua informasi tentang musuh keluarga De Metz terutama informasi tentang Rebecca.


Namun Vino akan bermain cantik agar Rebecca tidak curiga kepadanya.


"Di Jalan ***." Ucap Rebecca menyebutkan alamat mansionnya. Sedangkan Vino hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.

__ADS_1


30 menit kemudian mereka pun sampai di perumahan elit yang tentunya hanya orang berdompet tebal atau orang-orang yang memiliki status sosial tinggi yang dapat tinggal dikawasan tersebut.


"Silahkan turun kita sudah sampai." Ucap Vino dingin ketika mereka sudah berada digerbang sebuah mansion yang mewah begaya eropa. Namun jika dibandingkan dengan mansion keluarga De Metz tentunya mansion Tuan Hendrik yang tak lain adalah ayah Rebecca masih kalah jauh dari mansion milik keluarga De Metz.


Sebenarnya dia sendiri tidak sudi harus satu mobil dengan Rebecca apalagi mengantar perempuan itu pulang. Namun demi sebuah misi dia harus mencoba menahan diri.


"Kamu mampir dulu ya sekalian aku kenalin ke orang tuaku." Ucap Rebecca mencoba menahan Vino.


"Lain kali aja gue punya banyak urusan." Tolak Vino cepat.


"Kalau bukan untuk sebuah misi gue pasti sudah melempar loh dari dalam mobil gue." Gumam Vino yang sudah mulai emosi melihat Rebecca yang belum juga turun dari mobilnya.


"Sebentar saja ya gue masih ingin bersama loh." Ucap Rebecca dengan suara manjanya.


"Tapi gue benar-benar gak bisa, gue masih punya urusan yang sangat penting gue harap loh bisa paham." Ucap Vino sambil menahan emosinya yang sudah berada diubun-ubun.


"Baiklah kalau begitu." Ucap Rebecca sambil mendekatkan wajahnya kearah Vino.


"Loh mau ngapain?" Tanya Vino ketika melihat tingkah Rebecca yang semakin mendekat kearahnya bahkan wajah mereka pun tinggal beberapa senti


Rebecca tidak peduli dengan ucapan Vino dia semakin mengikis jarak diantara mereka.


"Gue hanya ingin memberi loh hadiah sebagai tanda perkenalan kita." Ucap Rebecca dengan nada menggoda.


"Tapi gak usah dekat-dekat begini." Ucap Vino.


"Tenang aja gue jamin loh pasti sangat suka." Ucap Rebecca kemudian menyentuh dada Vino dengan lembut.


"Gue jamin loh pasti tidak akan bisa menolak apa yang akan gue lakuin." Gumam Rebecca kemudian langsung mendudukkan tubuhnya diatas paha Vino.


"Gue cuma mau kasih loh hadiah." Ucap Rebecca dengan satu tangannya yang masih meraba-raba dada Vino dengan lembut sedangkan tangan satunya berada ditekuk leher Vino.


"****." Umpat Vino yang mulai merasa panas dingin. Sedangkan Rebecca yang mendengar umpatan Vino pun tersenyum penuh kemenangan.


Sebagai pria normal dia pasti akan tergoda jika diperlakukan seperti itu.


"Loh turun gak." Ucap Vino dengan suara sedikit serak.


"Sepertinya kamu sudah tidak tahan honey." Ucap Rebecca berbisik dengan lembut tepat ditelinga Vino dan memanggil Vino dengan kata kamu bukan dengan kata loh


Hingga Rebecca yang menyadari perubahan di wajah Vino pun tidak membuang waktu Rebecca langsung mendekatkan bibirnya kearah bibir Vino yang sudah membuat gairah dalam tubuh Rebecca meningkat.


Visual Leticia/Cia



Visual Alvino/Vino



Visual Alex



Visual Fania

__ADS_1



Visual Tuan De Metz (Daddy Vino)



Visual Nyonya De Metz (Mommy Vino)



Visual Megi Lestari (Ibu Fania)



Visual Siska dan Riska



Visual Rian



Visual Dafa



Visual Randy



Visual Gilang



Visual Cassandra



Visual Rebecca



Visual Clara



Bonus visual author😂



HELLO READERS


MAAF YA BARU BISA UP SEKARANG KARENA AKHIR-AKHIR INI TUGAS SAYA SANGAT BANYAK dan TIDAK BISA DIABAIKAN JADI UNTUK MENULIS SATU BAB SAJA SAYA TIDAK PUNYA WAKTU.


SAYA HARAP KALIAN TETAP STAY YA. DAN JANGAN LUPA LIKE, COMENT dan VOTE.

__ADS_1


__ADS_2