
Cia yang diperlakukan seperti itupun sangat terkejut apalagi ini adalah tempat umum. Hingga dengan dengan sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri dari Vino namun sebelum itu terjadi Vino terlebih dahulu mengengam kuat kedua tangannya.
Vino pun mulai menyesap bibir Cia dengan sedikit kasar, tapi Cia berusaha menutup rapat-rapat bibirnya. Hingga Vino pun tak kehilangan akal dia mengigit pelan bibir Cia hingga spontan membuat Cia membuka mulutnya. Hal itu tidak dilewatkan Vino begitu saja dia langsung memasukkan lidahnya hingga mengeksplor seluruh isi mulut Cia.
Ciuman yang awalnya kasar kini menjadi lembut, sampai sadar atau tidak sadar Cia pun mulai terbuai dan membalas ciuman Vino. Vino meluma*t lembut bibir Cia dengan rakus hingga akhirnya mereka pun saling bertukaran ludah tanpa mereka sadari bahwa mereka berada ditempat umum.
Cia yang merasa mulai kehilangan nafas pun sontak mengigit lidah Vino.
"Auh." Pekik Vino yang merasakan sakit pada lidahnya akibat gigitan Cia. Namun tanpa Cia sadari dia masih duduk dipangkuan Vino.
Sedangkan Cia diam sambil mencoba mengatur nafasnya yang sudah ngos-ngosan akibat ciuman mereka yang terbilang lama.
"Gimana enak gak?" Tanya Vino yang sengaja menggoda Cia.
Sedangkan Cia hanya merutuki dirinya sendiri yang dengan mudahnya malah membalas ciuman pria mesum tersebut.
"Gue bodoh bangat sih, kenapa tubuh gue malah mudah sekali terbuai. Tapi bibirnya begitu manis." Gumam Cia dalam hati yang merutuki kebodohan dirinya sendiri.
Cia pun langsung berdiri dari pangkuan Vino tanpa merespon ucapan pria tersebut, kemudian pergi dari hadapan Vino yang sudah membuatnya seperti wanita murahan.
"Bodoh, Bodoh, Bodoh, gue benar-benar bodoh." Gumam Cia yang terus merutuki dirinya sendiri sambil melangkahkan kakinya ke parkiran dimana pak Asep sudah menunggunya sedari tadi.
Berbanding terbalik dengan Cia. Vino pun hanya bisa tersenyum kecil mengingat ciuman mereka.
"Bibirnya manis bangat bikin gue candu." Gumam Vino sambil mengingat ciuman mereka yang menjadi candu baginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
Kediaman Pratama
Keesokan harinya Cia pun bangun kesiangan akibat dirinya semalam yang tidak bisa tidur cepat mengingat kejadian ditaman kemarin. Entah kenapa dia selalu memikirkan ciuman tersebut.
"Pagi non Cia." Sapa bi Irma ketika melihat Cia yang baru turun dari tangga.
__ADS_1
"Pagi juga bi, mami dan papi kemana?" Tanya Cia ketika melihat diruang makan sudah tidak ada mami dan papinya.
"Tuan dan nyonya sudah berangkat kekantor tadi pagi-pagi sekali non." Jawab bi Irma sopan. Sedangkan Cia hanya mengangukan-angukan kepalanya.
"Tadi nyonya berpesan mereka mungkin akan pulang agak lama, karena mereka akan pergi ke acara ulang tahun rekan bisnis mereka. Dan nyonya juga berpesan jika nona Cia ingin keluar nanti diantar sama pak Asep namun tetap harus sudah sampai di rumah sebelum malam." Jelas bi Irma.
"Baik bi saya tidak akan sarapan dirumah karena saya mau sarapan di cafe saja." Ucap Cia.
"Baik non." Ucap bi Irma.
Cia pun berjalan keluar rumah dan menyuruh pak Asep untuk mengantarnya ke sebuah cafe.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Garden Cafe
Disinilah Cia berada sekarang sambil menikmati menu yang telah dipesan tadi, hingga tiba-tiba suara heboh pengunjung memenuhi cafe tersebut.
"Lihat pangeran datang."
"Lihat itu tuan Alvino De Metz yang merupakan pewaris dari perusahaan raksasa."
"Astaga selain kaya dia juga sangat tampan."
Dan masih banyak lagi pujian yang dilontarkan para pengunjung cafe tersebut. Namun ketiga pria tampan itu hanya cuek saja sambil berjalan dengan gaya coolnya masing-masing.
"Hmmm." Ucap ketiga pria tampan tersebut yang berhasil membuat Cia terlonjak kaget. Sontak Cia pun mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya sibuk memakan makananya.
Hingga tatapannya pun beralih kepada pria tampan yang juga sedang menatapnya sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Hai cantik kita boleh gabung gak?" Tanya Rian yang masih setia berdiri didepan Cia begitupun dengan Dafa. Namun tidak dengan Vino yang sudah terlebih dahulu duduk disamping Cia.
Tanpa memandang kearah perempuan yang sedang menahan emosinya.
__ADS_1
"Vin kita kan belum diperbolehkan gabung kenapa loh malah langsung duduk aja." Tanya Dafa yang merasa tidak enak kepada Cia. Apalagi melihat wajah Cia yang jelas menunjukkan rasa tidak sukanya kearah Vino.
"Inikan tempat umum jadi terserah dong gue mau duduk dimana aja." Jawab Vino santai sambil melihat-lihat menu yang ada di Cafe tersebut.
"Tapi bagaimanapun Cia yang duluan ada disini." Ucap Dafa.
"Memangnya disini ada larangan untuk tidak boleh satu meja dengan orang lain." Ucap Vino sinis.
"Tapi...." Ucap Rian tepotong.
"Kak Dafa dan kak Rian silahkan duduk aja gak kenapa-knapa kok. Benar kata teman kakak ini tempat umum jadi gue gak punya hak untuk melarang kalian."Ucap Cia yang kesal melihat sikap Vino namun dia juga merasa kasihan ke Dafa dan Rian yang hanya berdiri sedari tadi.
"Benaran gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Rian memastikan.
"Iya kak santai aja." Ucap Cia mencoba bersikap seramah mungkin.
"Makasih ya cantik." Ucap Dafa dan Rian kompak sambil duduk berhadapan dengan Cia dan Vino.
"Iya kak." Ucap Cia sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Apa-apaan ini Dafa dan Rian dipanggil kakak sedangkan ke gue dia seakan-akan tidak tahu nama gue. Dan kenapa juga dia harus menunjukkan senyum manisnya ke laki-laki lain sedangkan ke gue hanya cuek saja." Geram Vino dalam hati yang merasa tidak dianggap sama sekali oleh Cia.
"Kenapa pria mesum ini ada disini sih, Tuhan aku harap semoga ini adalah pertemuan terakhir aku dengannya." Doa Cia dalam hati.
Hingga keheningan melanda ke empat orang tersebut.
karena mereka hanya sibuk dengan makanan masing-masing.
Visual Cia dan Vino ketika mereka sedang berciuman
Hello readers jangan lupa untuk tinggalin jejak kalian ya (like, coment, dan Vote)
__ADS_1
Maaf jika masih banyak kesalahan, kalian boleh mengkritik dan kasih saran ya lewat kolom komentar.
Dan harap bisa dimaklumi karena saya masih pemula.