
Ciuman panas mereka terpaksa akibat ponsel Cia berdering, yang tertera nama tante didalam yang berarti ibu tirinya.
"Shittt." Umpat Vino kesal karena harus melepaskan ciuman mereka yang membuatnya candu.
Sedangkan Cia berusaha tenang walaupun sebenarnya dia malu karena membalas ciuman dari Vino. Dia juga merasa telah mengkhianati Alex.
"Halo bu." Ucap Cia yang merasa bingung karena hampir dua minggu mereka tidak ada kabarnya.
"Mungkin mereka sudah ada dirumah." Gumam Cia dalam hati.
"Datang ke RS *** sekarang." Ucap Ibu Tiri Cia.
"Untuk apa bu?" Tanya Cia.
"Ayah kamu kecelakaan datang sekarang juga karena keadaannya koma." Ucap Ibu tiri Cia.
Deg! Cia yang mendengar kabar tersebut bagai ditusuk ribuan pisau. Benarkah ayahnya kecelakaan, kenapa bisa? bukankah mereka berada dikampung neneknya Fania. fikirnya.
"Halo kamu dimana sekarang? datang kesini sekarang." Langsung mematikan panggilan secara sepihak.
"Ini pasti mimpi gue yakin ini cuma mimpi." Ucap Cia pada dirinya sendiri sambil menampar pipinya keras.
"Tanpar terus sampai bengkak." Ucap Vino dingin.
"Jangan bilang dia tiba-tiba menjadi gila karena ciuman tadi." Gumam Vino dalam hati.
"Hiks hiks hiks ayah ini tidak mungkin kan ." Ucap Cia sambil menangis.
"Loh kenapa jadi aneh mending loh turun dari mobil gue sekarang kita udah sampai." Ucap Vino dingin.
"Please antarin gue ke RS De Metz." Ucap Cia bermohon. Cia tidak tahu kalau rumah sakit yang dia sebut ternyata rumah sakit laki-laki yang ada disampingnya.
"Emangnya gue sopir loh." Ucap Vino sinis.
"Pleaseee ayah gue kecelakaan hiks hiks." Ucap Cia menangis sambil mengoyang-goyangkan lengan Vino.
"Ok tapi loh lepas tangan loh dari lengan gue." Ucap Vino yang entah kenapa merasa kasihan melihat keadaan Cia padahal selama ini dia tidak pernah merasa kasihan kepada orang lain. Bahkan kepacarnya sekalipun.
__ADS_1
"Gue harap semua ini hanya mimpi, semoga ayah baik-baik saja." Doa Cia dalam hati.
Dia benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan sang ayah karena cuma dia keluarga yang punya sekarang.
RS De Metz
"Ayah dimana bu?" Ucap Cia ketika sudah sampai depan ibu tirinya.
"Ayah kamu ada didalam." Ucap Ibu tiri Cia sambil menunjuk kearah ruang perawatan yang tidak jauh dari mereka.
"hiks hiks hiks. Gimana dengan keadaan ayah?" Tanya Cia sambil menagis tersedu-sedu.
"Koma." Ucap ibu tiri Cia santai seperti orang yang baik-baik saja.
"Kenapa ayah bisa kecelakaan bukannya ayah dan ibu pergi jenguk Fania di kampung?" Tanya Cia.
Yang langsung membuat mama tirinya bungkam.
"Ibu kenapa ayah bisa kecelakaan?" Tanya Cia dengan suara parunya.
"Kalau begitu kenapa tidak dilaporkan ke polisi." Ucap Vino yang entah sejak kapan berada di belakang Cia.
"Loh kamu masih ada disini?" Tanya Cia dengan wajah kagetnya.
"Kenapa? gue baru tahu ya ternyata loh orang yang tidak tahu trimakasih. Sudah ditolongin tapi malah pergi gitu aja." Ucap Vino sinis.
"Maaf trimakasih banyak." Ucap Cia dengan rasa bersalah.
"Hmmm." Ucap Vino.
"Siapa laki-laki tampan ini kayaknya orang kaya, Semua yang dipake brand ternama." Gumam ibu tiri Cia sambil memperhatikan penampilan Vino dari atas sampai kebawah.
"Kenapa tidak di bawah ke jalur hukum?" Tanya Vino kembali. Dia merasa ada yang tidak beres disini.
"Semenjak kapan gue peduli ke orang seperti ini." Gumam Vino dalam hati yang menyadari sikapnya sendiri ke Cia berbeda dengan sikapnya ke orang lain.
"Untuk apa dimenindak lanjuti sedangkan tersangka berhasil melarikan diri. Itupun kalau kami mau menindak lanjuti percuma karna pasti kami akan kalah di pengadilan nanti. Kamu tahu sendiri kami tidak punya banyak uang untuk membayar pengacara."Ucap mama tiri Fania yang seakan-akan kasus ini bukan kasus yang besar.
__ADS_1
"Kenapa kalian takut kalah, sedangkan pelakunya saja tidak takut kecuali kalau kalian membayar pelaku tersebut baru kalian takut." Ucap Vino sinis yang sekarang mulai paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau soal pengacara nanti pengacara saya yang akan membantu kalian." Ucap Vino yang semakin menyudutkan mama tiri Cia.
"Kami tahu kami orang miskin tapi bukan berarti kami mau mengemis bantuan kepada orang asing sok kaya seperti anda." Ucap mama tiri Cia yang merasa tersudutkan.
"Saya juga tahu anda orang miskin tapi saya hanya menawari anda bukan menyuruh anda mengemis." Ucap Vino dengan pedas.
"Tidak trimakasih tapi kami tidak butuh." Ucap mama tiri Cia dengan ketus.
"Baguslah kalau begitu saya hanya memberi tawaran satu kali, tapi anda sudah menolaknya jadi yaudah saya juga tidak akan rugi." Ucap Vino dengan nada sombong.
Cia yang mendengar pembicaraan kedua orang tersebut pun bingung melihat sikap ibu tirinya yang seakan-akan berusaha menutup kasus yang menimpa ayahnya.
"Ibu." Ucap Fania yang berjalan kearah ibunya. Dengan perut yang sedikit membuncit.
"Fa-nia." Ucap Cia terbata-bata saking kagetnya melihat Fania yang sudah beberapa bulan tidak dilihatnya terlebih dia datang dengan perut yang kelihatan buncit.
"Cia." Ucap Fania dengan senyum manisnya.
"*Drama yang benar-benar menarik." Gumam Fania dalam hati sambil tersenyum smirk.
"Jangan bilang dia datang dengan Alex." Ucap Vino sinis*.
"Mana suami kamu sayang." Ucap mama tiri Cia sambil mengelus perut Fania dengan lembut.
"Lagi ke toilet bu." Ucap Fania dengan ekpresi bahagia.
"Suami, sejak kapan kak Fania menikah?" Tanya Cia terkejut mendengar kabar kakak tirinya yang sudah menikah.
"Belum cukup satu minggu." Ucap mama tiri Cia.
"Jadi ini alasan ayah dan ibu pergi ke kampung tapi kenapa mereka tidak memberi tahu aku yah." Gumam Cia mencoba menerka-nerka dalam hati.
"Fania." Ucap seorang laki-laki tampan sambil berjalan kearah Fania.
Deg!
__ADS_1