
Pemakaman pun telah selesai kini tinggal Cia, Alex, Mama tiri Cia dan Fania yang ada disana.
"Hiks hiks ayah kenapa tinggalin Cia, Cia harus sama siapa lagi yah hiks hiks." Tangis Cia tidak pernah berhenti.
"Sayang kita pulang yuk." Ucap Alex yang benar-benar sakit hati melihat kondisi kekasihnya tersebut.
Sedangkan Mama tiri Cia dan Fania yang mendengar ucapan Alex pun sangat emosi terlebih Fania namun dia masih bisa menahan emosinya karena sadar kalau mereka masih di tempat pemakaman.
"By ayah kenapa tega ninggalin aku sendiri hiks hiks." Ucap Cia yang sepertinya melupakan tentang kejadian di RS tadi.
"Kamu tenang ya sayang mungkin ini yang terbaik buat ayah, kamu harus kuat masih ada aku yang akan selalu ada bersama kamu." Ucap Alex sambil menarik sang kekasih kedalam pelukannya.
"Awas aja loh Lex kita akan lihat bagiamana reaksi kekasih loh itu kalau tahu ternyata kekasih yang selama ini bersamanya ternyata sudah menikah." Gumam Cia dalam hati.
"Tapi aku harus bagaimana by, lebih baik aku pergi ikut ayah aja supaya aku juga bisa ketemu ibu hiks hiks." Ucap Cia sambil membenamkan wajahnya kedalam dada bidang sang kekasih.
"Sayang kamu gak boleh bilang begitu masih ada aku sayang, aku gak mau kalau harus kehilangan kamu aku gak akan sanggup sayang. Kamu harus buktikan sama ayah dan ibu kalau kamu akan menjadi anak yang tegar dan menjadi anak yang sukses supaya ayah dan ibu diatas bangga memiliki anak seperti kamu." Ucap Alex sambil mengecup pucuk kepala sang kekasih.
Yang semakin membuat kedua orang yang memperhatikan mereka dari tadi berusaha menahan emosi yang sudah diatas ubun-ubun.
"*Sialan dasar anak tidak tahu diri kenapa malah peluk suami orang dasar gadis murahan." Umpat mama Cia mencaci maki Cia dalam hati.
"Dasar wanita ****** kenapa malah peluk suami gue, awas aja loh gue yakin setelah ini loh akan semakin menderita bahkan menangis darah. Setelah kehilangan ayah loh sebentar lagi loh juga akan gue buat pergi dari hidup Alex selama-lamanya." Gumam Fania dengan otak yang penuh rencana licik*.
"Sayang kita pulang yuk sebentar lagi hujan." Ajak Alex sambil melepaskan pelukannya dengan sang kekasih.
"Aku tidak mau by aku mau disini temanin ayah hiks hiks." Ucap Cia. Dia benar-benar tidak menyangka harus kehilangan sang ayah disaat dirinya berusaha keras untuk dapat beasiswa demi kebahagian sang ayah kelak.
__ADS_1
Namun belum juga dia memberitahu sang ayah kabar bahagia darinya namun dia yang terlebih dahulu harus mendengar kabar buruk dari ayahnya.
"Sayang kalau kamu disini terus nanti kamu sakit apalagi sebentar lagi hujan, kita pulang yah sekarang biarkan ayah istirahat dengan damai. Mungkin sekarang ayah dan ibu sedang memperhatikan kamu dari atas. Mereka pasti akan sedih melihat keadaan kamu yang seperti ini." Ucap Alex mencoba menyakinkan sang kekasih.
"Iya by. Ayah Cia pamit pulang dulu yah, istirahatlah dengan damai ayah. Cia titip salam buat ibu jangan lupakan doakan Cia supaya bisa melewati semua ini. I love you ayah I love you ibu." Ucap Cia kemudian berdiri dari duduknya.
"Ayah aku janji akan selalu membuat putri ayah dan ibu bahagia." Gumam Alex yang benar-benar sakit melihat kekasihnya yang seperti mayat hidup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rumah Cia
Mereka telah sampai dirumah Cia. Namun lagi-lagi air mata Cia mengalir deras ketika dia sudah mulai melangkahkan kakinya kedalam rumah yang banyak menyimpan kenangan bersama sang ayah.
"Cia hiks hiks." Ucap Siska dan Riska kompak kemudian langsung memeluk erat sahabatnya itu. Mereka tahu bagaimana rapuhnya perasaan sahabat mereka sekarang.
"Ayah kenapa tega ninggalin aku hiks hiks." Tangis Cia pecah ketika sudah berada di pelukan kedua sahabatnya itu.
Tapi mereka rela mengundur keberangkatan mereka ke Singapura yang rencananya besok kini diundur 2 hari lagi. Mereka tahu sahabatnya pasti sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya.
"Maaf Kita gak sempat hadir di acara pemakaman ayah kamu karena kita punya urusan yang benar-benar sangat penting dan tidak bisa diundur." Ucap Siska yang merasa bersalah karena disaat sahabatnya membutuhkan dukungan mereka malah tidak ada.
"Iya Cia kami benar-benar minta maaf kami sahabat yang buruk hiks hiks." Ucap Riska yang masih memeluk erat sahabatnya tersebut.
"Gak kenapa-kenapa aku ngerti kok hiks." Ucap Cia mencoba tegar.
"Kalian mau berdiri terus atau mau duduk." Ucap Fania ketus.
__ADS_1
Sontak ketiga sahabat tersebut langsung melepaskan pelukan mereka dan melihat wajah Fania yang tampak biasa saja seperti orang tidak merasakan kehilangan. beralih menatap wajah ibu tiri Cia yang bukannya sedih malah memperlihatkan wajah yang bahagia.
"Kalian duduk dulu ada yang mau kami bicarakan terutama untuk kamu Cia." Ucap mama tiri Cia.
Cia dan kedua sahabatnya pun duduk disofa tepat didepan Fania dan mamanya namun yang menjadi tanda tanya adalah kenapa Alex malah duduk di samping Fania. Bukankah seharusnya Alex berada disamping Cia.
"Kalian ingin membicarakan apa ke Cia?" Tanya Siska mewakili Cia karena dia tahu sahabatnya pasti tidak akan membuka suaranya.
"Begini karena ayah kamu sudah tidak ada berarti ibu dan Fania akan keluar dari rumah ini." Ucap mama tiri Cia tenang.
"Kenapa ibu dan Fania ingin keluar." Tanya Cia.
"Kamu tahu sendiri kan Kita tidak punya hubungan darah jadi sudah sepantasnya kami pergi dari rumah ini. Apa kata orang jika kami selalu menumpang sama anak yatim piatu seperti kamu." Ucap mama tiri Cia sangat kejam.
"Maksud anda bilang begitu apa?" Tanya Siska emosi.
"Memang benarkan dia anak yatim piatu dan untuk apa juga kami berada disini sedangkan suami saya sudah menyiapkan tempat tinggal yang lebih layak." Ucap Fania tak kalah kejam.
"Fania." Bentak Alex tinggi. Dia benar-benar emosi mendengar ucapan Fania yang secara tidak langsung menghina wanita yang sangat dicintainya.
"Kenapa sih honey memang benarkan?" Tanya Fania.
"Honey?" Tanya Cia, Siska dan Riska kompak.
"Iya memang salah jika saya memanggil suami saya sendiri dengan sebutan honey." Ucap Fania santai.
"Hahaha mimpi jangan terlalu tinggi." Ejek Riska yang merasa Fania hanya bermimpi.
__ADS_1
"Gue gak bermimpi kok buktinya sebentar lagi kami akan memiliki anak." Ucap Fania sambil mengelus perutnya yang membuncit. Sontak ketiga gadis cantik tersebut mengalihkan pandangan mereka ke perut Fania.
Duar!!!!