Pembalasan Sang Yatim Piatu

Pembalasan Sang Yatim Piatu
31. Tidak Normal


__ADS_3

"Gue juga merasa seperti itu tapi kita gak bisa menuduh tanpa bukti." Ucap Siska.


"Tapi kita akan bantu loh untuk menyelidiki semua ini." Ucap Riska.


"Trimakasih sebelumnya namun gue fikir untuk kali ini biar gue sendiri yang menyelidiki semuanya. Gue akan buktikan kalau gue bisa tanpa bantuan orang lain.


Untuk sekarang biarkan mereka merasa menang, biarkan mereka merasakan dan menikmati kebahagian yang gue jamin suatu saat akan menjadi kehancuran bagi mereka sendiri. Gue berjanji suatu saat nanti tidak akan lagi Adolfina Leticia Santoso yang lemah." Janji Cia dengan penuh keyakinan.


"Jika loh masih meganggap kita sahabat. Gue harap loh datang ke kita jika loh perlu bantuan jangan pernah sungkan untuk bilang ke kita kapanpun itu, walaupun nanti kita jauh percayalah hanya loh sahabat kita yang terbaik. ." Ucap Riska.


"Untuk kali ini biar gue sendiri yang memulai semuanya. Gue janji jika gue butuh bantuan atau apa gue akan kasih tahu kalian." Ucap Cia yang benar-benar merasa bahagia memiliki sahabat seperti Siska dan Riska.


"Ok untuk sekarang biar kita jalani sebagaimana mestinya. Tapi ngomong-ngomong untuk rencana kamu selanjutnya gimana? mau lanjut kuliah atau tidak?" Tanya Siska.


"Dulu gue berusaha untuk bisa lolos beasiswa demi bisa membahagiakan ayah gue walaupun sekarang ayah telah pergi namun gue akan tetap melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.


Apalagi selama ini ayah berharap gue bisa melanjutkan pendidikan sampai ke bangku kuliah. Untuk itu gue akan berusaha meraih apa yang diharapkan ayah dengan begitu kedua orang tua gue diatas bisa bahagia." Ucap Cia sendu ketika kembali mengingat kenangannya bersama sang ayah.


Namun apalah daya semua kebahagian yang dijanjikan ke ayahnya belum tercapai karena sang ayah yang telah berpulang terlebih dulu.


"Gue harap loh bisa memanfaatkan beasiswa loh dengan sebaik mungkin, karena jika nanti loh ingin balas dendam kepada mereka dalam keadaan loh yang belum sukses itu akan membuat mereka semakin menertawai keadaan loh.


Apalagi zaman sekarang apa-apa pasti uang. Siapa yang berkuasa dia yang menang." Ucap Siska sambil memberi dukungan kepada temannya.


"Dan siapa yang miskin pasti akan kalah." Ucap Riska tanpa difilter.


"Iya loh benar dan itu gue." Ucap Cia yang entah kenapa merasa sensi dengan apa yang diucapkan oleh Riska.


Siska yang mendengar ucapan sahabat sekaligus adik kembarnya pun langsung menatap tajam kearah Riska sedangkan Riska refleks menutup mulutnya karena baru menyadari ucapannya walaupun sebenarnya dia tidak punya maksud untuk menyindir Cia.


"Cia maaf gue gak bermaksud buat nyindir loh." Ucap Riska dengan rasa bersalah.

__ADS_1


"Tenang aja gue gak masalah kok dengan ucapan loh barusan, jadi loh gak perlu merasa bersalah begitu sahabat gue yang cantik dan imut." Ucap Cia.


"Hua akhirnya loh mengakui juga kalau gue ini cantik dan imut." Teriak Riska keras dengan kepercayaan diri yang tinggi.


Siska yang melihat sikap adik kembarnya itu hanya memutar bola matanya jengah. Sedangkan Cia geleng-geleng kepala.


"Oh ya kapan kalian akan berangkat ke Singapura." Tanya Cia penasaran.


"Hm rencananya besok lusa." Jawab Siska dengan sendu.


Dia sebenarnya ingin sekali berada disisi sahabatnya apalagi mengingat hanya mereka yang dia punya sekarang. Namun apalah daya mereka juga tidak mungkin mengabaikan mimpi mereka.


"Loh gak kenapa-kenapa kan kalau besok lusa kita berpisah?" Tanya Riska.


"Gak kenapa-napa kok. Kalian kan juga punya impian yang perlu diraih sama halnya dengan gue." Ucap Cia.


"Untuk loh sendiri kapan berangkat ke Paris?" Tanya Siska.


"Jadi kita harus memanfaatkan waktu yang tersisa untuk bersama sebelum berpisah." Ucap Riska.


Pembicaraan ketiga gadis cantik tersebut terus berlanjut sampai tengah malam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mansion De Metz


"Vin bagaimana dengan hubungan loh dan perempuan itu?" Tanya Tuan De Metz yang tak lain adalah Daddy Vino, tanpa melihat kearah sang putra.


Sebenarnya tuan De Metz mengetahui semuanya namun dia hanya ingin mencoba mendengar langsung dari mulut putranya.


"Ya gak gimana-gimana." Ucap Vino enteng.

__ADS_1


"Maksudnya gak gimana-gimana itu apa?" Tanya mommy Vino.


"Pasti dia cuma bisa porotin kamu kan?" Tebak daddy Vino. Yang memang tahu sifat matre dari kekasih putranya itu.


"Hmmm." Gumam Vino pelan namun masih bisa didengar oleh kedua orang tuanya.


"Kenapa kamu gak tinggalin aja perempuan yang begitu Vino. Kamu itu tampan, kaya, idola setiap wanita kenapa malah pacaran sama perempuan jadi-jadian." Ucap mommy Vino yang kesal dengan tingkah putra tampannya.


"Sebesar apa sih cinta kamu ke perempuan itu?" Tanya mommy Vino kembali ketika melihat sang putra yang hanya diam saja.


"Cinta? apa itu cinta?" Tanya Vino santai. Sedangkan Nyonya De Metz yang mendengar ucapan sang putra sontak melototkan matanya.


Sedangkan Tuan De Metz hanya cuek saja karena anak buahnya selalu melaporkan apa saja yang dibuat sang putra diluar sana termasuk perlakuannya ke sang kekasih yang biasa saja bahkan terkesan seperti orang asing.


"Kamu itu itu punya pacar tapi tidak tahu apa itu cinta? atau jangan-jangan kamu itu sebenarnya tidak cinta sama pacar kamu?" Tanya Mommy Vino penuh selidik.


"Memang pacaran harus saling mencintai?" Tanya Vino dengan tampang polosnya tanpa menjawab ucapan sang mommy


"Vino untuk apa pacaran kalau tidak cinta?" Tanya Mommy Vino kesal sambil menepuk jidatnya mendengar pertanyaan polos dari sang putra.


"Yah buat status lah, daripada Vino dituduh tidak normal." Ucap Vino kesal. Apalagi mengingat sahabatnya dan perempuan yang mencoba mendekatinya selalu menuduhnya tidak normal.


Karena selama ini dia dikenal dengan wajah dinginnya namun tidak pernah terlihat mengandeng seorang perempuan. Hingga waktu Citra kembali menyatakan cinta kepadanya dia terima saja untuk membuktikan bahwa dia laki-laki normal. Karena selama ini belum ada satupun perempuan yang bisa membuat jantungnya berdetak lebih cepat.


"Hahahaha." Tawa Tuan dan Nyonya De Metz pecah ketika mendengar alasan putra mereka menjalin hubungan hanya karena dituduh tidak normal.


"Memangnya kamu benar-benar normal Vin?" Tanya Tuan De Metz dengan nada mengejek.


"Maksud daddy apa jelaslah aku ini normal." Ucap Vino kesal karena mengetahui sang daddy sengaja mengejeknya.


"Normal tapi kok gak perna jatuh cinta atau jangan bilang kamu ini jeruk makan jeruk." Tuduh Nyonya De Metz yang semakin membuat harga diri seorang Alvino De Metz merasa direndahkan.

__ADS_1


__ADS_2