Pembalasan Sang Yatim Piatu

Pembalasan Sang Yatim Piatu
Taman


__ADS_3

"Gila tu sih Alex gue fikir dia cowok yang setia ternyata tidak jauh beda dengan cowok brengs*k diluar sana." Umpat Dafa.


"Bukan tidak jauh beda tapi memang benar-benar brengs*k." Ucap Rian.


"Vin loh pernah gak lihat istrinya Alex? cantik gak?" Tanya Rian yang penasaran dengan istri Alex sampai-sampai Cia yang cantiknya diatas rata-rata masih di selingkuhi fikirnya.


"Pernah, orangnya jelek." Ucap Vino santai.


"Jelek loh gak salah lihatkan? masa Alex selingkuh dengan cewek jelek secara dia punya pacar yang sangat cantik." Ucap Dafa.


"Mana gue tahu, intinya gue pernah lihat dia di RS keluarga gue." Jawab Vino. Yang entah kenapa selalu menjawab setiap pertanyaan sahabatnya padahal selama ini jika ditanya paling cuma jawab hmm.


"Kapan?" Tanya Rian.


"3 hari yang lalu waktu gue pergi antar Cia menjenguk ayahnya yang kecelakaan namun ternyata tepat dihari itu ayahnya meninggal." Jawab Vino dengan kalimat terpanjangnya.


"Wow gue baru dengar loh bicara sepanjang itu Vin." Puji Rian heboh.


"Jangan bilang waktu Cia mengetahui ayahnya meninggal disitu dia juga mengetahui kalau Alex dan kakak tirinya selama ini berkhianat dibelakangnya." Tebak Dafa.


"Hmmm." Ucap Vino dengan pelan namun masih bisa didengar oleh Dafa dan Rian.


"Dasar gak punya hati bangat tu si Alex itu juga kakak tirinya tega bangat mereka ke Cia." Geram Dafa yang mendengar perlakuan Alex dan kakak tirinya ke Cia.


"Kalau mereka punya hati mereka tidak akan berkhianat." Timpal Rian.


Hingga obrolan ketiga pria tampan tersebut terus berlanjut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kediaman Pratama


Ketiga orang manusia yang berbeda generasi tersebut sedang duduk diruang keluarga setelah menikmati makan malam mereka tanpa kehadiran Siska dan Riska.


"Cia kapan kamu berangkat ke Paris?" Tanya mami Sinta yang duduk disamping sang suami.


"Tinggal 4 hari lagi mi." Jawab Cia sopan.


"Kamu kuliah disana nanti mau ambil jurusan apa?" Tanya mami Siska sedangkan papi Regi hanya diam sambil mendengarkan obrolan kedua perempuan tersebut.


"Akuntansi mi." Jawab Cia.


"Bagus kalau begitu apalagi kamu ini pintar jadi jika lulus nanti kamu pasti gak bakalan susah cari pekerjaan, tapi papi harap setelah lulus nanti kamu kerja saja di kantor papi." Ujar papi Regi.


"Akan Cia pikirkan ya." Jawab Cia yang entah kenapa merasa gak terlalu minat untuk bergabung dengan Perusahaan Pratama.


"Cia kalau kamu mau istirahat dikamar yang berada disamping kamar Siska dan Riska, semua kebutuhan kamu juga sudah tersedia didalam kamar itu dan kamar itu juga akan menjadi kamar pribadi kamu." Ucap mami Sinta.


"Baik mi, kalau begitu Cia mau langsung istirahat dulu." Ujar Cia.


"Baiklah sayang semoga kamu betah ya disini. Mami dan papi juga mau pergi istirahat." Ucap mami Sinta dibalas anggukan kepala oleh papi Regi.

__ADS_1


"Baiklah mi." Ucap Cia.


Kemudian mami Sinta dan papi Regi menuju kamar mereka yang berada di lantai satu sedangkan Cia menaiki tangga menunju kamarnya yang ada di lantai dua.


"Huftt." Helaan nafas Cia setelah membaringkan tubuhnya di kasur empuk tersebut.


Kemudian Cia mengambil poselnya yang ada di tas kecilnya. Dan menyalahkan poselnya yang belum pernah dia buka semenjak berada di bandara.


Pesan dari Siska


📩 Hi Cia gue sama Riska sudah sampai di Apartement. Besok gue hubungi loh yah soalnya gue pengen cepat-cepat istirahat." Pesan Siska.


📩Baiklah, jangan lupa selalu hubungi gue ya." Kirim Cia.


Kemudian beralih membuka pesan dari seseorang yang sudah mengkhianatinya.


📩 Sayang." Pesan Alex.


📩Kamu dimana sayang? kita ketemuan yuk, aku kangen bangat sama kamu."


📩Sayang kamu masih marah ya sama aku, maafin aku ya. Aku janji akan memperbaiki semuanya."


📩Aku sangat mencintai kamu, aku tahu kamu juga masih sangat mencintai aku kan?"


📩Sayang balas dong."


Dan masih banyak lagi pesan dari Alex namun tidak dibaca semua oleh Cia, kemudian Cia memblokir nomor kontak Alex yang ada di poselnya.


"Ayah ibu Cia kangen, doakan Cia supaya suatu saat bisa menjadi anak kebanggan kalian." Gumam Cia kemudian menutup matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari


"Bi tolong panggil Cia dikamarnya." Perintah nyonya Sinta yang sedang membuatkan kopi untuk sang suami.


"Baik nyonya." Ucap bi Irma yang tak lain adalah asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di kediaman Pratama.


Tok! Tok! Tok!


"Ada apa bi?" Tanya Cia yang sudah rapi.


"Non Cia dipanggil nyonya kebawah untuk sarapan." Ucap bi Irma sopan.


"Oh iya ayo bi kita turun sama-sama." Ajak Cia kemudian turun ke lantai bawah bersama bi Irma.


"Pagi mi pagi pi." Sapa Cia ketika melihat mami Sinta dan papi Regi yang sudah berada di meja makan.


"Pagi juga sayang." Ucap mami dan papi kompak.


"Ayo sayang sini sarapan sama mami dan papi." Ajak mami Sinta kemudian mengambilkan makanan untuk suaminya.

__ADS_1


"Biar Cia aja mi." Ucap Cia tak enak hati ketika melihat mami Sinta yang ingin menyendokkan nasi ke piringnya.


"No pokonya mami tidak mau menerima penolakan, kamu itu anak mami. Jadi jangan pernah merasa tidak enak hati atau kamu tidak sudi memakan makanan yang mami sediakan untuk kamu." Ucap mami Sinta dengan pura-pura sedih.


"Maaf bukan begitu mi." Ucap Cia merasa bersalah.


"Kalau begitu biarkan mami melayanimu sebelum kamu pergi ke Paris." Ucap mami Sinta kemudian mengambilkan makanan untuk Cia.


"Baiklah mi trimakasih banyak." Ucap Cia.


"Sama-sama sayang silahkan makan yang banyak." Ucap mami Sinta. kemudian meja makan pun menjadi hening hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring.


Hingga tidak membutuhkan waktu lama makanan yang ada dipiring mereka pun telah habis.


"Sayang mami mau menemani papi ke kantor jadi kemungkinan nanti sore baru kami pulang, kalau kamu mau keluar silahkan tapi usahakan sudah ada dirumah sebelum malam." Ucap mami Sinta.


"Baik mi hati-hati ya." Ucap Cia sambil mencium punggung tangan mami dan papi secara bergantian.


"Kamu nanti diantar sama pak Asep ya." Ucap papi Regi.


"Iya pi." Jawab CIA sembari melihat mobil yang ditumpangi mami dan papinya telah menghilang dibalik gerbang tersebut.


"Nona Cia mau diantar kemana?" Tanya pak Asep sambil membukakkan pintu mobil untuk Cia.


"Ke taman aja pak." Ucap Cia.


"Baik non." Kemudian mobil yang ditumpangi Cia pun meninggalkan kediaman Pratama. 25 menit kemudian mereka pun sampai disebuah taman yang belum ramai karena masih pagi.


Cia duduk disebuah kursi panjang yang menghadap kesebuah danau yang tampak indah.


Tidak jauh dari tempat Cia terdapat seorang pria tampan yang baru turun dari mobil mewahnya. Kemudian melangkahkan kakinya kearah Cia.


"Hmmm." Ucap pria tampan tersebut dengan sedikit keras.


Cia yang mendengar sebuah suara pun sontak melihat ke sampingnya yang ternyata ada sepasang mata yang sedang menatapnya.


"Ngapain loh kesini?" Tanya Cia ketus ketika mengetahui laki-laki tersebut adalah Vino.


"Suka-suka gue la inikan tempat umum." Ucap Vino tak kalah ketus. Entah kenapa setiap bersama Cia dia selalu banyak bicara.


"Tapi kenapa harus dikursi ini, lihat masih banyak kursi yang kosong." Ucap Cia sambil menunjuk beberapa kursi yang masih kosong disamping mereka.


"Kalau gue maunya duduk disini loh mau apa?" Tanya Vino menjengkelkan.


Cia yang malas berdebat dengan Vino pun sontak berdiri namun belum juga melangkahkan kakinya, tangannya terlebih dahulu ditarik oleh Vino hingga duduk dipangkuannya.


"Hei lepasin." Ucap Cia sambil mencoba berdiri dari pangkuan Vino.


"Diam." Ucap Vino yang menahan sesuatu karena Cia yang terus bergerak diatas pangkuannya. Namun Cia tidak berhenti malah semakin mengoyangkan tubuhnya.


"Sssstttt." Desis Vino yang benar-benar sudah tidak tahan.

__ADS_1


Hingga dia langsung meraih dagu Cia kemudian secepat mungkin langsung meraup bibir sexy yang sudah pernah dia rasakan.


__ADS_2