Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 21. Bagaimana Mungkin?


__ADS_3

Tak terima dipukul, dihina dan dimaki oleh Selvie. Eko menarik tubuh wanita itu, ia membalikkannya hingga terlentang di atas ranjang. Eko mengekang tubuh Selvie sambil menatap nya tajam.


“Kamu lupa, kamu menarik ku seperti ini semalam? Kamu yang memulai. Kamu memaksaku melakukan hal itu padamu,” ujar eko mengingatkan kembali hal yang di lakukan oleh Selvie.


“Kamu biadab! Aku majikan mu, aku akan melaporkan perbuatanmu!” teriak Selvie berusaha melepaskan diri dari cengkraman Eko.


Eko pun kembali melayangkan ciuman brutal ke mulut Selvie, ia mencoba mengingatkan kembali bagaimana liarnya Selvie semalam. Hingga akhirnya wanita itu mulai menangis.


“Hiks.”


Eko menghentikan aksinya. ia tak tega melihat wanita cantik dan anggun kini menangis tersedu.


“Apa yang kamu tangisi? Semua sudah terjadi, aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku padamu.”


Selvie menatap Eko dengan marah. “Tanggung jawab? Siapa yang memintamu bertanggung jawab? Anggap hal ini tidak oernah terjadi, lupakan hal ini, jangan mimpi kamu bisa bertanggung jawab untuk hal kecil ini,” bentak Selvie. Ia kembali tersedu meratapi nasibnya.


“Semua ini karena mas Morgan dan pembantu itu, mereka membuatku jatuh ke pelukan pria hina ini. Aku tidak terima , aku akan membalas perbuatan kalian,” gumam Selvie dalam hatinya.


Selvie menarik selimut tipis yang membalut tubuhnya. Ia berjalan menuju pintu…


“Kamu akan keluar seperti itu?” tanya Eko.


“Aku akan ke kamar mandi,” bentak Selvie sambil mendorong tubuh Eko menjauh darinya.


“Pintu kamar mandi yang itu,” Eko menunjuk sebuah pintu yang berukuran lebih kecil.


“Kesialan apa ini? Bagaimana mungkin malam pertama ku berakhir bersama pria hina di rumah kumuh ini? Tidak tidak, aku harus segera pergi dari rumah ini.” batinnya kemudian berjalan cepat menuju pintu yang di tunjuk Eko.


.


.


.


Sementara itu di rumah sakit…


Kondisi Miracle sudah mulai membaik, ruam merah dan alergi di sekujur tubuh bayi itu sudah mulai hilang, bahkan Miracle mulai tertawa riang saat bercanda bersama Morgan di ruang perawatan bayi.


Dari balik jendela, Utari mengamati kedua ayah dan anak itu. Rasa bersalah seakan menghampiri nya. Jika saja Morgan bisa mengakui Miracle sebagai anak, tentu Miracle tak harus hidup tanpa ayah biologis.

__ADS_1


Tiba tiba terlintas dalam benak Utari untuk merebut Morgan, ia harus mendapatkan Morgan untuk Miracle.


“Miracle terlihat sangat bahagia bersama tuan. Jika tuan tau Miracle adalah anaknya, ia pasti akan mengambilnya kemudian mencampakkan ku. Miracle akan menjadi anaknya dan nyonya Selvie, sedangkan aku? Bagaimana jika aku merebut hati tuan, menyingkirkan nyonya Selvie kemudian menikah dengan tuan. Tidak ada yang akan memisahkan aku dan Miracle juga Ia bisa hidup dengan ayah kandungnya,” batin Utari.


“Tari!” panggil Morgan.


“Tu tuan,” Utari sontak kaget, lamunan nya buyar, dengan gelagatan Utari pergi dari ruangan itu.


“Huffttt membayangkannya saja sudah membuat aku gugup. Bagaimana cara agar bisa membuat tuan Morgan jatuh cinta padaku?” gumam Itari setelah berada cukup jauh sari ruang perawatan.


Utari menatap dirinya dari kaca jendela. Pantulan tang terlihat disana adalah sosok wanita lusuh dengan daster panjang dan rambut di gulung asal.


“Dan handuk ini, kenapa ada handuk di pundakku?” Utari melempar handuk kecil itu ke atas kursi tak jauh dari tempat ia berdiri. Handuk yang sering ia gunakan untuk ngelap keringat di badan Miracle teronggok begitu saja disana. Utari kini menatap sendal jepit dikakinya kemudian mencium daster yang dikenakan. “Bahkan bau di tubuhku sendiri sudah membuatku mual, bagaiman mungkin tuan mau mendekati ku?” gumamnya lagi. Dengan wajah manyun Utari menuju kursi Kemudian duduk disana.


Ia membayangkan sosok Nyonya Selvie yang cantik dan anggun. Wanita kelas atas yang tidak pernah memcium bau asem ditubuhnya. Wanita yang tidak pernah berdaster dan sendal jepit. Walau pun hanya di rumah seharian, rambut nyonya Selvie selalu tergerai indah dipadankan dengan gaun branded dan parfum mahal. Wanita yang sangat sesuai untuk tuan Morgan.


Setelah cukup lama duduk merenung di situ, Utari kembali kedalam ruangan. Sepertinya Miracle baru saja tertidur. Morgan sedang menepuk nepuk paha Miracle sambil bernyanyi nyanyi kecil.


“Shhhttt, jangan berisik,” ucap Morgan pelan sambil menempel telunjuk ke bibirnya.


Morgan bangkit dari kursinya kemudian berjalan mendekati Utari. “Kamu dari mana saja?” tanya Morgan pelan.


“Bukannya jagain anak malah keluyuran,” ujar Morgan.


Morgan terus berjalan maju, sedang Utari terus saja mundur. Morgan akhirnya berhenti, saat itu juga Utari berhenti mundur.


“Ada apa dengan mu? Aneh sekali?” ujar Morgan kemudian kembali mendekati Utari.


“Tuan jangan mendekat,” ujar Utari dengan nada nyaring.


Wajah Morgan berubah serius. “Suara kamu bisa kecilin ga?”


Utari mengatup bibirnya rapat.


“Tuan nggak kembali ke kantor? Sekarang sudah siang,” lanjut Utari.


Morgan berjalan mendekati Utari. “Sekarang kamu berani mengusirku dari sini?”


“Tuan, aku aku,” Utari tak bisa mundur lagi karena terdapat sofa dibelakangnya. “Aku belum mandi,” ujar Utari.

__ADS_1


Morgan mendekati sofa mengambil jaz yang ia letakkan di atas sofa kemudian berbisik di telinga Utari. “Sore aku akan kembali ke sini, aku akan menjaga Miracle. Kamu bisa pulang dengan pak Danu, mandi yang bersih biar wangi.” Morgan mengenakan jaz hitam ditangannya sambil merapihkan kerah dan dasi di lehernya. “Oh ya, kamar kalian sekarang pindah di kamar tamu. Bu Sukma sudah memindahkan semua perlengkapan kalian ke kamar itu. Aku pergi dulu,” ujar Morgan kemudian pergi dari situ.


Dengan wajah memerah Utari masih berdiri mematung. Perasaan saat berada dekat dengan Morgan selalu begitu mendebarkan. Terlebih beberapa hari terakhir, Morgan seperti sedang bermain main dengan perasaan Utari. Ia terlalu memanjakan Utari, perhatian, dan candanya membuat Utari semakin menginginkan Morgan sebagai suami sekaligus ayah untuk Miracle.


“Tok tok tok.”


Pintu terbuka dari arah luar, sang ibu Sukma tiba diruangan itu dengan sebuah kotak makanan di tangannya.


“Ibu.”


“Tuan Morgan baru saja pergi dari sini?” tanya Sukma.


“Iya bu.”


Sukma meletakkan kotak Makanan ke atas meja kemudian mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya.


“Menikahlah dengan pria ini. Pria ini bernama Ardi, dia bisa menerima mu dan anak mu.” Sukma menyerahkan foto itu ke tangan Utari.


“Bu, aku. Aku belum berniat menikah bu,” tolak Utari.


“Siapa lagi pria baik baik yang akan menerima janda beranak satu seperti mu? Kamu dan anakmu bisa pulang ke kampung ibu, disana kalian akan hidup makmur. Adi adalah tuan tanah dikampung ibu.”


“Aku tidak ingin menikah. Aku bisa menghidupi anakku sendiri,” tolak Utari tanpa melihat foto yang diberikan sang ibu. Ia menyerahkan kembali foto itu ke tangan Sukma.


“Kalau kamu tidak menikah, kamu akan terus menempel hidup dengan tuan Morgan?” sergah Sukma.


Karena suara keras Sukma, Miracle terbangun daru tidurnya. Utari langsung menghampiri Miracle kemudian menggendongnya.


“Ibu sudah mengatur pertemuan dengan keluarga Wirawan, mereka akan ke Jakarta dalam waktu dekat untuk melamar mu!”


Tanpa menunggu jawaban Utari, Sukma pun pergi meninggalkan ruangan itu.


“Bagaimana mungkin ibu berpikir seperti itu. Tiba tiba menjodohkanku tanpa meminta pendapatku?” batin Utari.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2