
Jerry dan beberapa orang polisi telah tiba terlebih dahulu di rumah sakit Persada sebelum Morgan dan Utari. Polisi terlihat sibuk mencari ke sekeliling rumah sakit karena tersangka penculikan tidak berada di bangsalnya. Sepertinya Selvie berhasil melarikan diri, bahkan sosok Eko yang melaporkan keberadaan Miracle tidak berada di tempat itu.
Morgan dan Utari tiba bersama sebuah mobil ambulance dari rumah sakit ibukota untuk membawa miracle pindah dari rumah sakit kecil itu.
Setiba Utari di ruang perawatan anak, Miracle terlihat tak berdaya masih dengan merah dan bengkak di sebagian wajahnya. Melihat putranya dengan kondisi seperti itu, Utari menangis sejadi jadi nya. Hal yang ia takutkan terjadi, dia sudah menduga hal ini akan terjadi karena riwayat penyakit yang sudah beberapa kali menimpa Miracle. Akibat kotor dari lingkungan dan makanan menjadi pemicu Alergi akutnya kambuh.
"Bagaimana keadaan anak ku dok?" tanya Utari di sela tangisnya.
"Maaf ibu, rumah sakit kami sangat terbatas dalam mendiagnosa bayi ibu. Sejauh ini hasil pemeriksaan lab mengatakan alergi. Faktor penyebnya kami tidak tau. Bayi ibu dua kali mengalami kejang, demam nya terlalu tinggi dan mulai terjadi sesak nafas dan muntah. Pengobatan terbaik telah kami lakukan dengan peralatan seadanya. Sebaiknya anak ibu segera di pindahkan sekarang."
Setelah mengatakan hal itu, dokter diruangan itu langsung menyiapkan Miracle untuk di bawa menuju ambulance.
"Nak, semua salah mama, mama tidak menjaga mu dengan baik. Mama tidak layak menjadi ibu. Mama bahkan tidak bisa melindungi mu dengan baik," Utari terus menangis sambil bersandar lemah di samping Miracle.
"Tari," Morgan yang baru tiba di ruangan itu langsung menarik Utari ke dalam pelukannya. "Sadarlah, sekarang bukan waktunya menangis. Kamu harus kuat untuk Mirey," bujuk Morgan.
"Aku seharusnya membawa nya pergi jauh. Jika saat itu kami pergi dari kota ini, Selvie pasti tidak akan menemukan kami. Wanita jahat itu sudah pernah memperingatkan ku, tapi..."
"Sshhht shhhtt tenang lah dulu. Jika ada yang harus di salahkan itu adalah diriku. Aku tidak peka terhadap kalian. Sekarang serahkan Miracle kepadaku, biar beban rasa bersalah ini aku yang tanggung. Aku mohon, aku sedih mendengar ucapan mu," Morgan dengan mata berkaca kaca dan rahang mengerat berusaha menahan pedih di hatinya.
"Sekarang tugasmu adalah tetap berada di samping Miracle, menjadi penyemangat agar ia bisa sehat seperti sebelumnya," lanjut Morgan.
Utari pun bersandar lemah dalam pelukan Morgan. Untuk pertama kalinya ia merasa terlindungi. Perasaan hangat seakan sedang membungkus hatinya, Ia tidak sendiri lagi menghadapi kesulitan hidupnya.
Saat itu juga, Miracle di bawa pergi dari tempat itu menuju rumah sakit terbaik di ibukota.
Miracle yang sedang dalam kondisi kritis itu pun tiba di rumah sakit tujuan. Bayi kecil yang mulai kejang karena gagal nafas mulai di tindak lanjuti. Segala usaha di lakukan oleh tim medis untuk menyelamatkan nyawa Miracle. Hingga akhirnya dua bulan berlalu.
.
.
.
__ADS_1
Di sebuah ruang tamu di ruangan VVIP rumah sakit, Morgan, Rayhan, Jerry dan beberapa orang pengacara dari kedua belah pihak perusahan sedang asik berbincang. Perjanjian kerjasama antara kedua perusahan milik Morgan dan Rayhan di tanda tangani di rumah sakit dimana Miracle di rawat.
Satu masalah teratasi saat itu, perusahan yang sedang di ambang kebangkrutan karena Ulah Nico kini bangkit lagi.
Morgan kini membalikkan keadaan. Perusahan Nico kini terlilit hutang di hampir semua bank. Nico menyatakan diri bangkrut dan tidak bisa membayar pinjama bank. Pihak perbankan menuntut Nico hingga akhirnya di jebloskan ke dalam penjara.
Sementara di dalam ruang perawatan, Jessie sedang terkekeh besar. Ia membuat lelucon lelucon kecil untuk Utari. Setidak nya hanya hal itu yang bisa ia lakukan untuk menghibur Utari.
Sejenak Utari tersenyum melihat tingkah konyol Jessie kemudian kembali merenung menatap Miracle.
"Jess, sudah dua bulan Mirey di rawat disini namun belum ada perubahan, kami berencana untuk membawa Mirey berobat ke Amerika. Akhir akhir ini perusahan kak Morgan sudah mulai membaik, sudah bisa di tinggal jadi kami akan membawanya ke pergi sesegera mungkin," ucap Utari sendu.
Jessie pun mendekati Utari kemudian menggenggam tangan Utari.
"Sudah dua bulan Tar, sudah dua bulan kamu berada di rumah sakit ini tanpa kemana pun. Setiba di amrik, luang kan waktu mu dan Morgan. Sambil mengurus anak, kalian bisa berduaan romantis. Nikmati kebersamaan kalian, bila perlu langsung nikah. Toh kalian saling mencintai," saran Jessie.
"Menikah?" ulang Utari lirih. "Hanya jika Miracle sembuh, jika tidak? Sebaiknya aku akan menata hidupku yang sempat tertunda, aku akan berkelana kemana saja arah angin membawaku. Aku akan melakukan banyak hal yang belum pernah aku lakukan dimasa lalu," Utari kemudian terdiam.
Terdengar Jessie membuang nafasnya serempak.
"Mirey, please bangun lah, bantu mama mu meraih kebahagiaannya. Bangunlah Mirey sayang, kami semua merindukan mu," ucap Jessie penuh permohonan pada bayi yang tertidur lelap.
"Percayalah, Miracle pasti bangun. Dia baru saja berbisik akan bangun sebentar lagi," ucap Jessie pada Utari.
Utari tersenyum kecil, ia kemudian teringat sesuatu hal yang ingin ia tanyakan kepada Jessie.
"Jess, apakah Selvie belum di temukan jejaknya?" tanya Utari tiba tiba.
Jessie menggeleng kemudian menatap sinis pada Utari. "Jika ketemu, aku lah orang pertama yang akan menemuinya di penjara. Aku tampar, jambak rambutnya trus siram dengan air es biar dia tau rasa. Bila perlu, polisi nya aku sogok biar hukumannya 10 kali lebih berat huf," ucap nya kesal.
Utari pun turut membayangkan hal yang akan ia lakukan saat bertemu Selvie. Kemudian..
"Tari!" pekik Jessie dengan kencang membuat Utari tersentak.
__ADS_1
"Jari Miracle bergerak, dia baru saja menggerakkan jarinya," ucap Jessie bersemangat dan masih terus memegang tangan Miracle.
"Benarkah?" Utari memperhatikan jemari Miracle namun jari itu tak bergerak sedikitpun.
"Sumpah, aku bisa merasakan jemarinya bergerak saat aku memegang tangannya," Jessie mencontohi gerakan yang ia rasakan.
"Mirey, sayang, kamu sudah bangun?" Panggil Utari.
"Pencet tombol minta dokter ke sini Jes," pinta Utari dan segera dilkukan oleh Jessie.
Beberap saat kemudian dokter, perawat serta Morgan dan Rayhan masuk ke ruangan itu. Jessie menceritakan kejadian yang ia rasakan. Saat itu juga dokter langsung memeriksa keadaan vital Miracle.
Dengan cermat dan teliti dokter melakukan beberapa percobaan. Kedua bola mata Miracel masih belum bergerak, bayi itu masih belum sadar dari komanya.
Dokter melepas stetoskop dari telinganya kemudian menatap Utari, dokter itu menggeleng pertanda tidak terjadi perubahan apa pun dengan Miracle.
Air mata kembali berderai dari kedua pelupuk mata Utari.
"Tapi dok, saya tadi merasakan tangannya bergerak," ulang Jessie berusaha meyakinkan semua orang.
Rayhan menarik lengan Jessie, mendekat ke arahnya.
"Mungkin reflex saraf atau otot, hal itu biasa terjadi pada pasien yang mengalami koma," jelas dokter.
Sepeninggal dokter dari ruangan, Morgan mendekati utari kemudian mendekapnya. Seakan tak ada lagi kata yang bisa ia ucapkan untuk menghibur Utari. Dalam diam Morgan hanya bisa mengusap kepala Utari. Mungkin tangisan lah yang bisa mengobati hati Utari. Setelah menangis ia akan kembali menjadi wanita yang lebih kuat.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1