Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 29. Aku Akan Menikahi Mu


__ADS_3

“Untung saja tuan datang, hufffttt, hampir saja,” Utari bernafas lega setelah keluar dari restaurant itu. Morgan membawanya menuju mobil sport miliknya yang terparkir di halaman luas itu.


Di samping mobil, Asty masih berdiri disana menunggu mereka. Morgan baru sadar jika ia datang bersama seorang pelayan saat itu.


“Mbak Asty datang juga?” tanya Utari begitu tiba di dekat mobil.


“Saya tidak memiliki uang jadi…” karena saking terburu buru Morgan lupa memberikan uang taxi pulang kepada asty. Tadi ia langusung berlari masuk ke dalam restoran karena ingin mencegah pertunangan Utari.


Morgan merogoh uang dari dalam dompet. Ia mengambil beberapa lembar uang kemudian menyerahkan kepada Asty.


“Pulang lah dengan taxi.”


“Kalau begitu saya pulang duluan tuan, mbak,” pamit Asty kemudian pergi dari situ.


Morgan langsung membukakan pintu untuk Utari dan Miracle masuk kedalam mobil. Morgan menyusul masuk ke dalam mobil kemudian menyentil dahi Utari.


“Bodoh, kamu mau menikahi pria buta itu? Kamu mau anak mu memiliki seorang ayah buta?” ucapnya sambil menatap lega pada Utari.


“Aku juga nggak tau, aku pikir hanya akan menemani ibu makan bersama sahabatnya. Ternyata.” Utari bergidik, bagaimana mungkin sang ibu tega membarter anak nya dengan uang 2 miliar?


“Seharusnya kamu pastikan dulu, sejak dulu ibu mu tidak pernah sekalipun mengajak kamu makan diluar. Mbak Asty saja tau kamu akan bertemu calon suami kamu, masa kamu sendiri tidak? Bagaimana jika aku tidak datang? Ibumu pasti sudah membuat perjanjian dengan mereka dan?….” sambil fokus pada jalanan di depan Morgan terus mengomel pada Utari.


“Bagaimanapun ibu…” Mengingat hutang sang ibu yang begitu besar wajah Utari berubah sedih. Ia tau ibunya melakukan hal itu karena terpaksa.


“Kenapa kamu menyesal? Jangan bilang kamu sekarang berubah pikiran,” Morgan menatap Utari dengan seribu pertanyaan.


Melihat ekspresi Morgan, terpikir sebuah ide dalam benaknya.


“Bagaimana pun wajah pria itu sangat tampan, dia juga lumayan kaya, kekurangannya hanya karena dia buta saja, selebihnya lumayan.. Jika aku menikah dengannya, aku bisa menjadi kaya dan Miracle bisa memiliki ayah. Karena pria itu buta, pria itu cukup tinggal di rumah. Aku bisa menguasai hartanya. Hahaha,” tawa Utari menggelegar, ia membuat dirinya terlihat benar benar gembira.


Mobil sport itu berdecit karena ngerem mendadak kemudian berhenti. Morgan menatap Utari serius. Dari arah belakang, mobil mobil ikut ngerem mendadak akibat mobil Morgan yang tiba tiba berhenti. Tumpukan panjang kendaraan di belakang tak berhenti membunyikan klakson.


Wajah Morgan terlihat marah. Melihat hal itu, Tawa yang dibuat buat Utari perlahan melemah.

__ADS_1


“Sudah aku katakan aku akan menikahimu! Jadi jangan pernah berpikir mencari ayah lain untuk Miracle,” gertak Morgan.


“Tu itu aku emm.” Mendengar ucapan Morgan Utari menjadi sedikit kikuk. Kemudian ia mencoba mengingat lagi apakah sebelumnya Morgan pernah mengatakan akan menikahinya? tapi kapan ia pernah mengatakan itu? “Kapan tuan pernah mengatakan itu?” tanya Utari.


“Kapan? Di rumah sakit, dirumah. Aku selalu menyuruhmu bersabar, setelah urusan ku dengan Selvie selesai aku akan menikahi mu.” Morgan masih menatap serius wajah Utari yang keheranan. Sepertinya Utari sedang mengingat ngingat sesuatu dalam otak kecilnya.


“Tu tuan akan menikahiku?” Pekik Utari keras, ia baru sadar jika tuannya baru saja melamarnya.


Saat itu si kecil Miracle malah tertawa senang, ia mengira sang ibu sedang bermain ciluk ba bersamanya.


“Anak mu saja senang, bagaiaman pun dia tau perasaan ku seperti apa. Tidak seperti ibunya yang tidak peka,” gumam Morgan.


Bug Bug Bug


Suara seseorang memukul body mobil mereka, “Woi maju woi. Mobil saja mewah, tapi nggak taat peraturan!” teriak seorang pria dari arah luar. Ternyata mereka sudah menyebabkan macet panjang di belakang karena berhenti di tengah jalan.


Morgan segera membawa mobilnya pergi dari teriakan teriakan pengemudi lainnya di belakang.


Kenapa? Kenapa dia ingin menikahiku? Dia mencintaiku? Dia suka kepada Miracle? Kenapa bisa tiba tiba ingin menikah dengan ku? Apa tuan juga mencintaiku? Banyak pertanyaan terus muncul dalam benak Utari. Hingga mereka tiba di rumah, Utari masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


Morgan segera membukakan pintu mobil untuk Utari keluar dari mobil. Ia berjalan keluar tanpa menatap Morgan. Tatapan Utari lurus kedepan tak mempedulikan morgan yang sedang tersemyum kepadanya.


Melihat hal itu, Morgan kebingungan.


“Kenapa dengannya? Dia tidak ingin menikah denganku?” gumam Morgan ia kini kebingungan sendiri.


Sementara itu, begitu masuk kedalam kamar, Utari mengusap dadanya.


“Sayang, kamu dengarkan. Tuan mengatakan akan menikah dengan mama. Apa mama salah dengar ya? Tuan mencintai mama? Atau dia hanya kasihan melihat kita? Bagaimana dengan nyonya selvie. Mereka akan bercerai?” Mengingat hal itu Utari menjadi sedikit sedih. Ia memang berniat merebut Morgan dari selvie. Tapi sekarang perasaan nya malah merasa kasihan terhadap Selvie. Karena semua orang tau bahwa selvie benar benar mencintai Morgan.


Ah masa bodoh!


Utari mencoba menyelami hidupnya. Jika ia menikahi Morgan, maka Miracle akan bersatu dengan ayah kandungnya. Bahkan mulai terpikir dalam benak Utari untuk mengatakan siapa ayah kandung Miracle. Toh mereka akan menjadi ayah dan anak. Ia tak perlu lagi menyembunyikan hal itu.

__ADS_1


.


.


.


Sementara itu di butik Selvie, acara fashion show gabungan dari beberapa butik baru saja usai. Selvie terlihat sibuk membenahi beberapa pakaian ke dalam kardus. Wajahnya lesu, Ia terlihat sangat lelah karena sejak pagi sudah berada di butik. Alhasil acara yang diadakan berjalan dengan sangat lancar.


Dari sebuah sofa, Eko terlihat duduk sambil mengamati Selvie. Matanya bergerak mengikuti ke arah Selvie berada. Ia tak pernah bosan menatap wanita itu.


“Hhhhh,” Selvie melenguh sambil memegang pinggangnya.


Dengan sigap Eko menghampirinya kemudian mengambil kotak dari tangannya.


“Jangan terlalu lelah, minta saja karyawan kamu yang kerjakan,” ucap Eko.


“Aku akan mengirim barang barang ini ke beberapa model, jadi aku harus memilih sendiri sesuai yang mereka request. Karyawanku tidak tau menau soal ini,” sahut Selvie.


“Ya sudah besok kan masih bisa di kerjakan. Ayo istirahat dulu,” Eko membawa Selvie menuju sofa disitu kemudian mulai memijat punggung Selvie.


Tubuh Selvie bersandar dengan rileks di bahu Eko. Satu satunya bahu yang bisa ia gunakan untuk melepas setiap letih nya.


“Terima kasih,” ucap Selvie tulus.


Ya, selama beberapa hari setelah kejadian di rumah Eko, hubungan Selvie dan Eko memang menjadi sangat dekat. Eko adalah satu satunya orang yang selalu ada untuk Selvie. Selvie dengan bebas akan menceritakan setiap uneg uneg nya. Ia menjadi bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus menjaga image dan berpura pura berkelas. Dan Eko dengan sabar akan menjadi pelampiasan semua hal negative Selvie. Eko selalu menerima keluh kesah Selvie dengan senang hati. Tanpa mereka sadari, cinta perlahan tumbuh diantara mereka.


.


.


.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2