Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 71. Liburan II


__ADS_3

Setelah melakukan penerbangan panjang mereka akhirnya tiba di bandara Charles de Gaulle. Seorang pemandu yang akan menyiapkan segala keperluan mereka sekaligus sopir menjemput mereka di bandara sore itu.


Jessie dan Utari terus berjalan berdampingan hingga pintu keluar kedatangan. Di belakang mereka Asty berusaha mengejar deru langkah mereka sambil mendorong stroler dimana si kecil Mirey berbaring santai.


Jessie kemudian berhenti sambil membuka catatan panjang bertuliskan berbagai macam tempat yang ingin di datanginya bersama Utari.


"Marseille, Louvre Moseum, Arc de triomphe, Istana versailles, Mount saint michel, Eifel tower-" Jessie membaca semua tempat yang ingin di sambanginya bersama Utari.


"Gorge du verdon," Utari menambahi sebuah tempat yang menyuguhkan pemandangan indah di negara itu.


"Ok, kita akan datangi semua tempat itu," sahut Jessie.


Di belakang mereka Rayhan berdiri termangu menatap Morgan.


"Padahal dulu kami bertiga yang membuat jurnal perjalanan itu. Tapi sekarang seperti nya aku tidak di anggap sama sekali." Rayhan memasang mimik kecewanya, seingatnya rencana keliling italy itu adalah cita cita mereka bertiga sewaktu masih menjadi sahabat tapi setelah menjadi suaminya sepertinya ia telah di kelurkan dari rencana mereka.


"Menurutku kita telah salah bulan madu bersama seperti ini. Sekarang kita lebih seperti sedang tour keliling prancis," tanggap Morgan.


Rayhan mengangguk setuju. "Ya, sepertinya aku bakal pulang dengan tangan kosong. Mertuaku pasti akan kecewa kepadaku," lanjut Rayhan.


"Kalian ngapain bengong, pak Charles sudah menunggu," teriak Jessie kepada Rayhan dan Morgan.


Kedua pria itupun akhirnya bergegas menuju mobil mini van yang sudah terparkir menunggu mereka.


Mobil membawa mereka menuju sebuah resort yang terletak di saint tropes salah satu tempat yang menyuguhkan pemandangan laut terindah di negara itu.


Jessie mungkin merogoh kocek ratusan juta untuk menyewa resort tersebut. Ia melarang morgan ataupun rayhan mengurus soal penginapan, ternyata disini lah mereka sekarang. Penginapan yang sudah lama menjadi target tujuannya. Sungguh perjalanan yang sudah terencana dengan baik.


Setiba di penginapan, Morgan dan Rayhan langsung bersandar santai di atas sebuah dipan yang di sediakan untuk berjemur. Asty sibuk mengganti pakaian Miracle, sedangkan Jessie dan Utari telah menghilang entah kemana.


Menjelang pukul sepuluh malam, Jessie dan Utari baru pulang ke rumah. Badan mereka basah disertai butiran pasir yang masih menempel dibadan.


"Kalian dari mana saja?" Rayhan dengan nada tegas bertanya.


"Main di pantai, airnya dingin namun pasirnya hangat. Hmm, banyak bule ganteng, mungkin hanya kami berdua yang berambut hitam disana," ujar Jessie bersemangat.


Rayhan menatap nanar istrinya yang tak ingat tujuan utama mereka ke tempat itu. Tugas mereka adalah pulang membawa janin di dalam perut Jessie, atau sang mertua akan terus mencerca mereka dengan pertanyaan kapan punya momongan.

__ADS_1


Pertengkaran kecil mulai terjadi. Jessie yang tak paham akan maksud Rayhan mulai membalas Rayhan dengan kata kata kasar.


Morgan pun menarik Utari masuk ke kamar mereka agar tak mengganggu perdebatan suami istri itu.


Morgan membantu Utari membersihkan badan kemudian mengeringkan rambut. Perdebatan di luar sepertinya telah semakin seru.


"Aku akan keluar sekarang," ucap Utari.


"Jangan, itu urusan mereka. Biar mereka yang selesaikan," sahut Morgan.


"Tapi?"


"Ga ada tapi tapi," Morgan langsung membekap bibir Utari dengan bibirnya.


"Tunggu," sela Utari lagi. "Mirey dimana? Sudah makan? Sudah tidur?" tanya nya.


"Sudah," Morgan pun melanjutakan aktivitasnya.


"Jangan... geli," suara tawa Jessie kemudian terdengar berderai. Pasangan di luar itu kini tak lagi bertengkar. Mereka malah sibuk kejar kejaran sambil tertawa di luar.


"Dengar itu. Setelah bertengkar, mereka akan baik baik saja," ucap Morgan akhirnya membuat Utari lega.


Morgan pun melanjutkan aksinya, ia membopong tubuh Utari ke atas ranjang. Ia akan melakukan tugasnya sebagai suami, hal yang pernah ia lakukan sebelumnya namun hanya terasa seperti mimpi kini akan menjadi kenyataan. Kini pasangan halal nya itu nyata berada di hadapannya.


"Sayang maaf, aku akan," Utari sudah terbuai dalam suasana panas langsung menutup bibir Morgan. Morgan pun melanjutkan aksinya hingga pagi menjelang.


Utari masih terlelap ketika Morgan keluar dari kamar. Hanya dengan mengenakan bathrobe ia mencari lemari es untuk menyegarkan kembali tenggorokannya.


Di teras depan, Jessie dan Rayhan tengah bermain kartu dengan wajah yang dipenuhi coretan lipstik. Sepertinya Rayhan yang menjadi korban keganasan Jessie. Mereka tertawa kemudian bertengkar, hal kecil saja bisa membuat mereka ribut berkepanjangan. Namun kemuidan Jessie akhirnya mengalah dan mencium Rayhan terlebih dahulu.


Morgan menggeleng menatap sikap kedua pasangan itu.


Terpikir dalam benak Morgan untuk membuat sarapan dengan menu yang ada dalam kulkas


Aroma harum makanan buatan Morgan membuat Jessie dan Rayhan beringsut dari teras depan menuju dapur.


7 porsi spagheti sudah terhidang di atas meja. Tanpa aba aba, Jessie dan Rayhan langsung melahap jatah sarapan mereka hingga habis tak bersisa.

__ADS_1


"Nggak nyangka, CEO milano grup ternyata hebat dalam memasak," puji Rayhan


Jessie pun ikut mengangguk.


"Tari mana? Tar?" Teriak Jessie.


Beberapa saat kemudian Miracle dan Asty ikut bergabung bersama mereka


"Utari kenapa, dia sakit ya?" tanya Jessie.


"Dia masih tidur, jangan di ganggu," jawab Morgan.


Utari pasti kelelahan. Tak tau berapa ronde ia menggempur istrinya itu. Bahkan saat subuh barusan pun ia masih memberikan siraman saat Utari masih lelap dalam tidur.


Beberapa saat kemudian Utari bangun dari tidurnya. Si kecil Miracle langsung merangkak menyambut Utrai di depan pintu.


"Mama," ucap anak itu sambil menjulurkan tangannya.


Utari menggendong miracle sejenak kemudian meletakan nya kembali ke lantai untuk berjalan bersama menuju meja makan.


Morgan langsung meyiapkan sarapan untuk Utari.


"Tari jadwal kita hari ini, istana versailles. Kita bawa Mirey sekalian biar bisa foto foto," ujar Jessie bersemangat.


"Jess, kamu belum tidur semalaman, kamu tahan ga tidur trus jalan jauh gitu?" protes Rayhan.


"Jet lag Ray, ga bisa tidur," sahut Jessie manja.


"Ya sudah, tidur sekarang. Bangun tidur baru jalan," Rayhan menarik Jessie menuju kamar mereka meninggalkan ruang makan itu.


Seperti itulah hari pertama kedua pasangan itu berbulan madu.


Hari hari berlalu cepat di tempat itu. Utari menyiapkan diri untuk suami saat malam, dan saat siang hari ia akan traveling menemani Jessie kemana pun mau. Hingga akhirnya berminggu minggu telah di lalui


Liburan panjang mereka akhirnya usai. Tiba waktunya untuk kedua keluarga baru itu kembali k tanah air.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2