
Pukul enam lebih sepuluh menit Morgan baru tiba di rumah. Ia langsung menuju kamarnya untuk mandi, karena seharian banyak melakukan pekerjaan di luar kantor. Baju yang di kenakananya berdebu dan keringat, tidak mungkin ia menemui Miracle dalam keadaan kotor seperti itu.
Setibanya di dalam kamar, Selvie langsung berdiri dari pembaringan untuk menyambutnya.
Wanita itu terlihat lemah dan wajahnya begitu lesu.
“Mas,” ucap Selvie sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya. “Mas ada yang ingin saya bicarakan dengan mas,” ujarnya lagi.
“Aku mandi dulu, badanku lengket semua,” tolak Morgan, ia menjauh dari Selvie kemudian berjalan cepat menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit Morgan keluar dari kamar mandi. Selvie masih berdiri menunggu nya disana.
“Kita sudah bisa bicara sekarang mas?” tanya Selvie.
Tak menggubris ucapan Selvie Morgan malah masuk ke pintu lainnya untuk mengganti pakaian.
“Mas.”
Tok tok tok.
Selvie mengetok pintu ruangan itu beberapa kali. Ia takut jika Morgan tidak keluar. Biasanya saat sedang lelah Morgan akan langsung tertidur di dalam ruangan pakaian.
“Ada apa?” ucap Morgan begitu membuka pintu.
“Saya ingin bicarakan hal penting,” lanjut Selvie.
“Hal penting apa? Minta pelayan siapkan makan malam, kita bicara di ruang makan. Ada hal yang juga ingin aku bicarakan,” ujar Morgan. Malam itu ia memutuskan untuk mengatakan kepada Selvie bahwa tenggat waktu pernikahan mereka adalah 2 tahun, beberapa bulan lagi pernikahan palsu mereka akan genap berusia 2 tahun. Artinya Selvie harus menyiapkan diri. Morgan akan mengumumkan ke media bahwa hubungan mereka tidak cocok dan akan segera bercerai.
Usai mengatakan hal itu, Morgan langsung berjalan keluar dari kamar. Ia menuju kamar Utari dan Miracle. Sejak kemaren perasaan Morgan sangat khawatir, suhu tubuh Miracle demam, anak itu jadi agak rewel dan bahkan ia tidak bisa menemani Utari pergi kedokter untuk memastikan kondisi anak itu.
Setiba di kamar, Utari sedang menyuapi Miracle dengan semangkok bubur yang isinya sudah hampir ludes. Melihat kehadiran Morgan, Miracle antusias menyambutnya. Bahkan bayi kecil itu ingin langsung di gendong oleh Morgan.
“Hellow My Boy,” sapa Morgan.
“Tata tatata ta,” dengan celoteh khas anak bayi, Miracle terus mencari perhatian Morgan. Bayi lucu itu sangat ingin di gendong oleh Morgan.
__ADS_1
“Ayo sini paman gendong,” ajak Morgan.
“Ga boleh Mirey, abisin dulu makan mu,” ujar Utari melarang anak nya.
“Ga apa Tar, aku gendong bentar ya?” ijin Morgan pada sang ibu.
“Ga boleh, Miracle masih makan.” tolak Utari rada ketus.
“Bentaran doang, kasihan dia pengen sekali ku gendong. Boleh ya?” ijin Morgan sekali lagi, ia sangat iba melihat miracle yang terus gelayutan di kursi makan ingin menghampiri Morgan.
“Nggak boleh,” ucap Utari tegas namun wajahnya terlihat manyun.
“Kamu kenapa?” tanya Morgan begitu merasa ada sesuatu yang salah dengan Utari. Tidak biasanya ia kasar seperti itu, apalagi dihadapan Miracle.
Morgan mengusap lembut kepala Utari. Ia berpikir positif, mungkin wanita itu sedang capek mengurus anak hingga menjadi agak sensitif.
“Sayang, bujuk mama dong. Bilang mama, jangan marah dong. Paman kan cuman mau gendong bentar doang,” ucap Morgan pada si kecil Miracle, sambil berjongkok di samping kursi makan Miracle.
Morgan menatap wajah Utari. “Kamu kenapa? Maaf aku tidak bisa menemani kamu ke dokter hari ini. Aku sedang banyak pekerjaan.” bujuk Morgan sambil menebak nebak kesalahan yang sudah dibuatnya.
“Sayang, jangan marah dong,” rayu Morgan.
Ucapan sayang yang di ucapkan Morgan membuat Utari menatap ke arah Morgan.
“Sayang, sejak kapan?” gumamnya lagi namun bisa tertangkap oleh telinga Morgan.
“Aku memang memang menyayangi kamu. Aku akhirnya sadar, aku sangat menyayangi kamu. Aku terus memikirkan mu, bahkan aku…” Morgan tak melanjutkan ucapannya.
“Aku apa?” tanya Utari ketus.
“Aku ingin menjalin hubungan serius dengan mu,” ujar Morgan.
Ungkapan perasaan pertama kali Morgan. Ia merasa sudah sangat yakin akan perasaan nya kepada Utari.
Utari dibuat terlena dengan ucapan Morgan. Ternyata ia berhasil menarik perhatian pria yang sangat di impikan nya itu. Ia mengira selama ini Morgan baik hati dan perhatian hanya karena kasihan. Ia juga mengira, usahanya mendekati Morgan tidak akan berhasil. Utari Tidak menyangka perasaan nya kini berbalas.
__ADS_1
Namun kini Utari menjadi ragu akan sikap pria yang berjongkok disampingnya itu. Jika tuan Morgan memang serius terhadap Utari kenapa juga dia masih bersama Selvie. Seakan sedang memberi harapan palsu kepada Utari.
Mengingat kehamilan Selvie, perasaan Utari yang sempat melambung tinggi ke langit kini seakan di hentakkan kembali ke bumi dengan perasaan sakit dan kecewa.
“Tuan, keluar lah. Nyonya pasti sudah menunggu tuan diluar. Dia punya sebuah berita penting yang ingin dia sampaikan kepada tuan,” ucap Utari datar.
“Selvie?” Morgan teringat pada wanita yang terus membuntuti nya saat ia di kamar. Seingat Morgan, Selvie mengucapkan ada hal penting yang ingin dibicarakan. Apa Utari tau hal penting yang dimaksud Selvie? “Hal penting apa?” tanya Morgan lagi.
“Tuan tanya sendiri sama istri tuan, saya tidak berkepentingan mencampuri urusan tuan dan nyonya,” ucap Utari sarkas. hingga membuat Morgan mengerutkan dahinya. Kenapa tiba tiba sikap Utari menjadi dingin, seakan sedang memasang tembok pembatas dianatara mereka.
Merasa ada yang tak beres Morgan pun bangkit dari duduk jongkok nya. Setelah suapan terakhir Miracle, Morgan langsung mengambil Miracle ke dalam pelukannya.
“Ayo, kamu juga ikut aku, ada hal yang ingin aku jelaskan. Kita bicara di meja makan,” ujar Morgan.
Kini waktunya Morgan berbicara jujur pada Utari mengenai pernikahan kontraknya dengan Selvie. Jangka waktu dua tahun sudah hampir berakhir, artinya beberapa saat lagi Selvie sudah bukan berstatus istri Morgan lagi.
“Saya tidak ingin mendengar hal apa pun dari kalian,” Utari merasa enggan untuk ikut, ia yakin suasana akan sangat canggung disana. Entah hal penting apa yang ingin di umumkan Morgan, yang pastinya nyonya Selvie akan mengumumkan kehamilannya dengan bangga. Sedangkan ia hanya bisa menggigit jari karena akhirnya Morgan akan sangat bahagia mendengar berita gembira itu.
“Please aku mohon, karena aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi diantara kita!” ucap Morgan seraya memohon. Hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.
“Kesalahpahaman?”
Satu kata yang membuat Utari akhirnya bangkit dari kursi tempat ia duduk. Apa pernah ada salah paham diantara mereka? Apa itu?
Sambil menggendong Miracle, tangan kiri Morgan menggenggam tangan Utari. Ia membawa Utari dan Miracle menuju meja makan.
Disana Selvie sudah duduk rapih dengan tangan terlipat diatas meja. Ia terlihat bersemangat menunggu makan malam dihidangkan. Binar senyuman terpancar dari wajahnya seketika Morgan tiba disitu, namun seketika itu juga binar senyuman itu luruh karena tangan pria yang ditunggunya sedang menggenggam erat jemari seorang wanita yaitu Utari.
.
.
.
Bersambung…
__ADS_1