
Setelah semua ketegangan yang terjadi di rumah sakit persada, hal serupa pun terjadi di kediaman Milano.
Saat rumah menjadi sepi, pelayan sibuk mengurus pekerjaan mereka masing masing tiba tiba sukma di kagetkan dengan kehadiran Eko yang tiba tiba dari arah pintu dapur
"Ibu," Emo dengan sigap menempelkan jari telunjuknya ka bibir, sebagai isyarat agar sukma tak bersuara.
Saat itu juga Eko menarik sukma menjauh dari rumah besar, mereka berjalan menuju bangunan belakang.
"Ibu, Eko ingin minta tolong sesuatu kepada ibu, Eko mohon ibu bersedia menolong kami," ujar Eko begitu memasuki pintu.
"Kamu kemana saja dua bulan terakhir? Ibu terus menghubungi mu. Kamu di cari oleh tuan," ucap Sukma.
"Apa kata tuan bu?" tanya Eko balik.
Sukma mendekati Eko kemudian mulai memukul pundak anaknya sambil mengomeli perbuatan anak nya.
"Kamu yang membantu tuan menemukan anaknya, kamu kemana setelah itu? Benarkah kamu membantu Selvie melarikan diri dari rumah sakit itu?" ujar Sukma geram.
Eko menunduk sejenak, ia diam dan terima di pukul dan di omeli sang ibu.
"Maafin Eko bu." Satu kata yang mampu mendekripsikan perbuatannya.
"Jadi benar kamu membantunya kabur?" Sukma kembali memukul pundak anaknya.
"Sekarang katakan dimana wanita itu sembunyi? Katakan pada ibu, biar ibu yang melaporkannya ke polisi."
"Bu," sela Eko.
"Aku mohon bantulah kami," ulang Eko.
Sukma terdiam kemudian mengerutkan kedua alisnya. "Kami? Apa maksudmu?" Dengan nada mulai meninggi.
"Nyonya bersama denganku."
Saat itu juga Selvie keluar dari arah pintu kamar.
__ADS_1
Mata Sukma terbelalak, secara spontan ia meraih pinselnya dari dalam saku baju.
Eko bergegas menahan ibu nya kemudian berlutut di hadapan Sukma.
"Bu aku mohon, bantu kami. Bantu nyonya Selvie bu," pinta Eko sambil merekatkan kedua tangannya.
"Apa yang kamu lakukan? Membantu buronan ini? Kamu ingin kita semua di penjara karenanya? Tidak tidak," Sukma mulai mendorong Selvie agar keluar dari rumah itu.
Hanya sekali dorong, Selvie sudah terjerembab ke arah dinding. Ia berdiri berpegangan pada dinding berusaha mengimbangi tubuhnya agar tidak jatuh.
"Bu," Eko bergegas membantu memapah Selvie.
"Wanita buronan cepat keluar dari sini, sebelum aku menghubungi tuan Morgan sekarang," teriak Sukma yang mulai dikuasai emosi.
"Jika ibu melaporkannya, aku akan ikut bersamanya ke dalam penjara," tukas Eko lantang.
"Anak ini sudah gila. Berapa banyak kamu di sogok olehnya."
"Bu," Eko mulai berlutut dihadapan ibunya.
"Kamu, ngapain kamu berlutut seperti itu." Sukma dibuat kebingingan melihat tingkah anaknya. Tidak pernah ia berlutut seperti ini sebelumnya.
"Ckck," sukma berdecak melihat kelakuan putranya yang semakin keterlaluan berbohongnya.
"Aku tidak bohong. Sumpah. Anak yang gugur itu adalah anak ku, setidaknya aku harus bertanghung jawab atas kesehatannya meskipun anak kami telah gugur. Bu, nyonya bisa saja mati jika tidak merawat dirinya sekarang. Sejak melarikan diri dari rumah sakit nyonya mengalami pendarahan hebat. Dia hampir saja mati, karena sedang dalam persembunyian dia tidak makan dengan teratur, kedinginan dan kesakitan. Bu Eko mohon ijinkan nyonya tinggal di sini hanya sampai dia benar benar pulih, setelah pulih ibu mau lakukan apapun terserah ibu," ucap Eko penih kesungguhan. Membuat sukma akhirnya sedikit ragu.
"Bagaimana ibu bisa menolong kalian? Rumah ini bukan rumah ibu," kini Sukma menjadi bingung sendiri.
"Justru itu bu, sekarang rumah ini adalah tempat paling aman untuk kami sembunyi. Kami hanya akan tinggal di dalam kamar, kami tidak akan keluar kemana pun. Asalkan ada obat dan makanan kami sudah bersyukur."
Mendengar ucapan Eko, Sukma berpikir sejenak. Ia teringat akan suami dan dua orang pelayan yang tinggal di situ juga. Sangat beresiko, tapi jika mereka tidak keluar kamar seharusnya tidak akan ketahuan.
"Baiklah, ibu akan menerima kalian. Hanya seminggu. Ingat, setelah seminggu kalian boleh pergi dari sini. Apa pun yang terjadi bukan urusanky."
Sukma kemudian menatap Eko. "Dan kamu, setelah dia semvuh tinggalkan wanita ini. Dia tidak berguna lagi sekarang."
__ADS_1
Eko tak menggubris ucapan ibunya. Ia bangkit berdiri dari hadapan ibunya menghampiri Selvie yang masih berdiri di sudut ruangan.
Sukma mengerlingkan matanya jengah melihat tingkah anaknya yang begitu baik dengan Selvie.
"Bu."
"Entahlah, kamu sudah di guna gunai wanita ini," sukma berjalan menuju sebuah kamar di ujung koridor. Ia membuka pintu kamar itu untuk Eko dan Selvie.
"Ingat, jangan buat keribuatan apapun disini apa lagi tengah malam. Kamar kalian tak jauh dari kamar Asty, keributan sedikit saja ia pasti Akan bangun." Ucao Sukma begitu berada di dalam kamar.
Sukma memperhatikan tangan Eko yang sibuk menuntun Selvie hingga duduk di atas ranjang. Ia tak oernah melihat anaknya perhatian seperti itu bahkan kepada dirinya.
Lagi lagi sukma mengerling.
"Jampi apa yang diberikan hingga anak ku jadi seperti itu. Cantik sih cantik tapi buronan," gumam Sukma pelan.
"Bu," Eko berbalik badan kemdian berdiri di hadapan Sukma.
"Apa lagi?" sahutnya ketus.
"Ibu ke apotik, belikan nyonya obat. Ibu tanya saja obat untuk wanita yang mengalami keguguran. Dan," Eko diam sejenak tersenyum membujuk sang ibu. "Bawakan kami makan, kami lapar," lanjutnya semanis mungkin tersenyum pada sang ibu.
Sukma tak berkata apa apa lagi, ia segera keluar dari kamar itu, dengan mukut komat kamit. Walau demikian, saat itu juga Sukma langsung menuju dapur untuk menyiapkan dua porsi makanan untuk Eko dan Selvie.
"Nyonya nyonya, enak saja nyonya. Cih dia bukan siapa siapa lagi di rumah ini. Pake acara godain anak ku segala," gumam Sukma di dapur saat sedang memasukkan makanan ke dalam piring. ia kemudian terdiam karena terpikirkan suatu hal.
"Tapi, wanita itu lumayan kaya. Kalau Eko menikah dengannya apakah akan kecipratan tajir juga. Ya, sebaiknya aku mendukung hubungan mereka. Siapa tau anak ku nantinya yang akan menjadi penerus perusahan pak Nico ayah Selvie," gumam Sukma pelan. Wajahnya berinar dan dan menjadi beraemangat.
Akhirnya Sukma yang tak tau apapun mengenai kondisi keuangan keluarga Selvie memutuskan untuk mendukung hubungan Selvie dan Eko. Sukma bahkan berpikir untuk segera menikahkan mereka. Jika tidak keguguran, toh Eko sudah menjadi bagian dari keluarga Nico. Mereka harus bisa menerimanya sebagai menantu.
Hingga akhirnya beberapa hari berlalu, tak ada seorang pun yang tau keberadaan Selvie di rumah itu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...