Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 64. Tempat Persembunyian


__ADS_3

Semenjak kedatangan Asty semalam, pikiran Utari jadi tidak tenang hari itu. Ia berencana pulang ke rumah untuk menyambangi wanita penyebab putranya sakit hingga koma selama dua bulan lebih.


Sangat tidak adil jika polisi menangkapnya dan hanya di jebloskan begitu saja ke dalam penjara. Karena dalam beberapa tahun, Selvie pasti akan bebas kemudian menjalani hidupnya dengan normal. Sedangkan Miracle yang hampir terenggut nyawanya akibat penculika akan selamanya menjadi catatan kelam dalam ingatan Utari.


Kemudian keraguan menerpa pikiran Utari. Bagaimana ia akan pulang sekarang? Di luar ruangan, Morgan, Jerry, Rayhan dan beberapa orang pengacara sedang meeting. Entah apa yang ada dalam pikiran Morgan dan Rayhan, ruang tamu kamar VIP itu selalu di jadi kan tempat mereka berkerja. Terkadang Utari menjadi tidak leluasa karena hampir semua staf dan rekan bisnisnya datang ke situ.


"Tapi aku harus pulang, bagaimana kalau Selvie mencari tempat persembunyian lain, pasti akan semakin sulit menemukannya." gumam Utari sambil mondar mandir dalam ruangan kamar.


"Sebentar lagi Miracle bangun, akan semakin sulit untuk ku keluar," lanjut Utari komat kamit sendiri dalam kecemasannya karena sejak sadar dari koma, anak nya Miracle menjadi sering ketakutan. Utari dan Morgan seakan tak boleh hilang dari pandangan matanya.


Setelah berpakaian rapih, Utari pun akhirnya memberanikan diri keluar dari kamar.


Suara bunyi gagang pintu mengalihkan perbincangan serius setiap orang di ruangan tamu. Mata mereka tertuju pada Utari sambil tercengang.


"Sayang, mau kemana?" Morgan akhirnya memberanikan diri bertanya karena melihat Utari yang telah terlihat cantik. Selama dua bulan lebih wanita itu tidak pernah memikirkan penampilannya. Ia bergaya seperti inem dengan daster dan rambut yang di cepol ke atas. Kali itu ia sungguh berbeda.


"Oh itu anu," Utari memikirkan sebuah alasan yang tepat agar ia bisa pergi dari situ.


"Kamu rapih begini mau kemana" lanjut Morgan bertanya seraya berjalan menghampiri Utari.


"Tidak kemana mana! Aku hanya ingin pergi ke loby. Silahkan lanjutkan obrolan kalian," ucap Utari dengan gelagat santai dan tersenyum ramah.


"Jerry, temani Utari. Dia mungkin butuh sesuatu di sana."


"Tidak tidak, aku akan pergi sendiri. Aku harus ke apotik soalnya," Tolak Utari.


"Atau Pak Danu aku suruh ke sini jemput kamu?" tanya Morgan lagi.


"Jangan, nggak usah ngerepotin."


"Alah takut bener istrinya di culik, Utari perlu udara segar juga kalee, keluar sebentar kan bole boleh saja, khawatir ampe segitunya," ejek Rayhan mengarah pada Morgan. "Bentar aku telpon Jessie biar dia ke sini temani kamu jalan jalan," lanjut Rayhan sambil menarik ponselnya dari dalam saku.


"Ya sudah, kalau perlu atau butuh sesuatu telpon ya. Pak Danu pasti sedang di parkiran, kalau ada apa apa pak Danu pasti nongkrong di sekitaran loby."


Utari mengangguk paham. Ia kemudian menyerahkan baby monitor ke tangan Morgan.

__ADS_1


"Aku titip anak kita, kalau dia bangun berikan susunya. Dan," Utari menjinjit kemudian mengecup pipi Morgan. "Aku hanya sebentar."


"Tar, Jessie dalam perjalanan ke sini. Katanya kalau mau, dia akan jemput kamu," ucap Rayhan.


"Ok, aku akan menunggunya di loby," sahut Utari sambil membulat kan jari jempol dan telunjuknya.


"Aku jalan dulu, bye."


Utari bergegas pergi sebelum sebelum Jessie dulaun tiba di situ, bisa bisa rencana nya keluar bisa gagal.


Utari berjalan cepet menuju pintu samping loby sambil waspada di sekeliling. Tentu saja Pak Danu tidak boleh melihatnya. Dan kebetulan di depan pintu loby rumah sakit sebuah taxi berwarna biru sedang menurunkan penumpang. Utari berjalan ceoat kemudian masuk ke dalam taxi tersebut.


"Pak jalan Antasari," ucap Utari seketika masuk ke dalam taxi. "Buruan pak, saya buru buru," lanjutnya.


Taxi biru mulai meniggalkan parkiran rumah sakit membawa Utari menuju alamat yang ia berikan.


Setiba dirumah, pintu utama rumah besar itu tertutup dari dalam. Agar tidak ketahuan Ibunya, Utari pun menghubungi Asty.


"Asty, shttttt diam diam kamu ke depan sekarang. Aku di depan pintu, bukakan aku pinty depan sekarang juga," perintah Utari.


"Mbak, den Mirey sudah bisa pulang?" tanya Asty namun Utari langsung mengankat telunjuk dibibirnya.


"Sshhtt, ibu dimana?" tanya Utari pelan.


"Sedang masak," jawab Asty sambil mencari di sekeliling. "Den Mirey mana?" lanjuta Asty.


"Anakku masih dalam pantauan dokter, setelah bab nya normal baru bisa pulang," jawab Utari kumudian langsung berjalan menuju kamar utama, kamar yang sebelumnya dijadikan kamar oleh Selvie.


"Mbak mau kemana? Ada yang bisa asty bantu?" tanya Asty keheranan akan sikap Utari.


Wanita itu menggeledah kamar Utama hingga ke dalam kamar mandi. Ruang pakaian dan lemari tak luput dari matanya.


"Mbak mencari apa, biar Asty bantu."


"Aku mencari penjahat. Kamu ikut aku dan hubungi tuan jika aku menemukan mereka," jawab Utari.

__ADS_1


Ia terlihat marah. Dari kamar Utama ia bergerak menuju kamar tamu, ruang kerja dan kamar yang dijadikan gudang peralatan Morgan. Ruang baca dan tempat tempat yang memungkin kan Selvie untuk sembunyi tak luout dari mata Utari.


Hingga akhirnya ia tiba di dapur.


Sukma terperanjat kaget melihat Utari yang sudah berdiri persisi di belakangnya.


"Aisshhh, anak sial ini kamu ngapain disini?" teriak Sukma diluar kendalinya. Centong wajan dalam genggaman sukma hampir jatuh dari genggamannya.


"Ada apa ibu, kenapa sekaget itu melihatku? Ibu tidak menyangka akan melihatku kembali ke rumah ini kan?" tanya Utari disertai senyuman sinis.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Seharusnya kamu menjaga anakmu yang sakit itu, kenapa berkeliaran?" tanya Sukma kemudian kembali mengaduk masakan di atas wajan.


Hati Utari terasa teriris, sejak ia pergi meninggalkan rumah dengan uang pemberian uang dari ibunya, baru kali ini ia bertemu lagi dengan ibu. Namun tak ada satu pertanyaan kabar diri Utari dari mulut sang ibu. Jika sudah begini, apakah Utari harus respek dan hormat kepadanya sebagai seorang ibu?


"Aku pulang karena harus melihat lihat keadaan rumah, aku hanya ingin memastikan rumah ini aman agar anak ku bisa pulang dan aman di rumah ini," ucap Utari sinis. "Asty, tolong periksa ruang pencucian dan dan kamar setrika. Aku takut jika ada sesuatu yang berbahaya bersembunyi di sana," lanjut Utari pada Asty.


"Baik mbak, Asty periksa sekarang." Sambir bergerak sesuai yang diperintahkan Utari.


"Pastikan hingga cela cela terkecil, bahkan serangga berbahaya sekalipun tidak boleh luput dari matamu."


"Siap mbak," Sahut Asty daru dalam kamar pencucian.


Mata Sukma melihat Utari dari sudut matanya. Bagaimana jika Tari mengecek rumah belakang? Tangan Sukma mulai bergetar, keringat dingin perlahan keluar dari pori pori kulitnya.


"Cih Kamu ngapain kembali ke sini?" ucap Sukma yang akhirnya tak tahan melihat sikap Utari.


"Tentu saja untuk mencari penjahat dan gembongnya. Aku harus menjerumuakan mereka ke dalam penjara!" jawab Utari ketus sambil berjalan cepat keluar dari pintu dapur.


"Eh kamu mau kemana? Utari?" teriak bu Sukma dari dapur.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2