
Jessie keluar dari ruang make up dengan sangat anggun. Dibalik pakaian putih dan make up yang super sempurna di wajahnya membuat ia terlihat seperti bidadari yang baru saja turun dari kayangan.
Utari berdiri menatap Jessie penuh haru, matanya berlinangan airmata. Ia ikut bahagia melihat sahabatnya yang akan menjemput kebahagiaannya.
“Utari,” nada protes dari tante Anita ibunda Jessie. “Sudah cukup tangisan kalian siang tadi, make up kalian akan luntur,” ujar Anita mengingatkan kembali kejadian saat akad nikah siang tadi dimana Utari dan Jessie menangis tersedu bersama.
Utari segera membersihkan airmata disudut matanya yang belum sempat jatuh berderai. “Maaf, hari ini aku jadi sangat cengeng,” ujar Utari sambil berjalan mendekati Jessie kemudian memeluknya. “Kamu cantik sekali. Hari ini adalah hari mu, berbahagialah,” ucap Utari dan di balas pelukan hangat oleh Jessie.
“Pasti,” jawab Jessie kemudian mengurai pelukannya.
Saat itu seorang wanita berseragam hitam masuk ke ruangan itu. “Acara akan di mulai, pengantin wanita sudah bisa bersiap,” ucap wanita itu.
“Keluar lah, ayah sudah menunggu di luar,” ujar Anita.
“Aku duluan ke sana, semangat,” ucap Utari menyemangati Jessie kemudian menghampiri babysiter yang sedang menggendong Miracle “Mitha, berikan Miracle. Kamu ikut ke dalam ya,” ucap Utari pada babysiter itu. Babysiter yang di siap kan tante Anita untuk Utari agar ia lebih mudah saat beraktivitas bersama miracle.
Saat itu juga Utari langsung masuk ke dalam ballroom tempat di adakan perhelatan mewah itu.
Utari berjalan sambil tangan kirinya menyeret baju panjang nya yang tergerai di atas lantai dan tangan kanan menggendong Miracle dipinggangnya. Ia menuju deretan meja utama dimana keluaraga para pengantin berada.
Saat hendak duduk di sebuah meja tiba tiba istri dari kakak ke 3 Rayhan menghampiri Utari.
“Dek, sini berikan Miracle kepada kakak,” ucap Serly. Dan tanpa pikir panjang ia langsung mengambil Miracle dari pelukan Utari. “Ayah menyuruh kami bersama mengasuh Miracle. Kakak lihat kamu ribet dengan gaun panjang kamu, jadi biar kakak bantu mengurus anak mu, agar kamu bisa lebih leluasa,” tambah Serly sambil tersenyum ramah.
“Iya kak Ser, kalau kakak capek bisa berikan kepada Mitha, dia di meja belakang,” ucap Utari tak kalah ramah sembari menunjuk sitha di deretan meja belakang.
“Ok,” sahut serly sambil membulatkan jari telunjuk dan jempol. ia berlalu membawa miracle menuju meja lainnya.
Saat itu juga suara musik Wedding march mulai bergema, lampu di seisi ruangan menjadi redup tiba tiba. Sebuah sorotan lampu hanya tertuju ke arah pintu utama.
Pintu utama terbuka lebar, sang pengantin bersama ayahnya perlahan berjalan masuk menuju mahligai ya. Di sana Rayhan sudah menunggu Jessie dengan sebuah bucket bunga kecil di tangan.
Suara MC acara mulai melantunkan kata kata pauitis yang manis, membuat seisi ballroom yang jumlahnya hampir ribuan orang terbuai haru.
Cinta antara Jessie dan Rayhan akhirnya bersatu, kata akhir bukan menujukkan berakhir namun disini lah awal perjalanan bersama mereka dimulai.
__ADS_1
Setelah melewati serangkaian acara, akhirnya lampu ruangan ballroom kembali mejadi terang benderang. Masuk dalam sesi ramah tamah semua orang mulai menuju meja meja hidangan yang tersedia di beberapa titik ruangan. Puluhan meja tersedia dengan anek ragam makanan, dessert, buah, cake makanan dalam negri bahkan mancanegara terhidang di setiap meja.
Beberapa pelayan mulai terlihat sibuk mondar mandir untuk melayani setiap tamu undangan. Deretan panjang para undangan juga mulai menuju altar untuk memberikan selamat kepada pasangan pengantin baru. Beberapa tamu ada yang terlihat meninggalkan ruangan ballroom namun ada juga yang baru berdatangan.
Sementara itu, di meja utama, Utari masih duduk belum beranjak sedikitpun. Ia masih melihat lihat meja mana yang akan di tuju nya. Makanan oriental sepertinya lebih menggugah seleranya saat itu.
Matanya berpendar disekitar mencari sosok Miracle, putra nya itu terlihat nyaman bersama kak Serly. Artinya ini adalah kesempatan Utari untuk makan sebelum bayi kecil nya itu mengantuk dan minta untuk pulang.
Setelah bertanya meja makanan oriental pada pelayan, saat itu juga Utari menuju meja di ujung dekat pintu masuk.
Sebuah piring kecil sudah berada dalam genggaman Utari, tanpa sadar matanya tertuju ke sebuah meja tak jauh dari tempat ia berdiri.
“Tu tuan!”
Spontan Utari langsung berjongkok di samping meja. Utari mengintip sekali lagi untuk memastikan pria yang di lihatnya itu adalah Morgan.
Benar, pria itu adalah tuan Morgan majikan nya sekaligus pria yang dicintainya.
Morgan terlihat sedang berdiri memegang gelas wine sembari menatap lurus ke arah altar. Ia meneguk habis minuman dalam gelas kemudian mengambil lagi gelas lainnya yang masih terisi penuh. Hal itu ia lakukan berulang ulang hingga beberapa gelas habis di teguknya.
Tidak jadi mengambil makanan, Utari malah berjalan jongkok menuju meja nya. Ia harus mengambil Miracle sebelum Morgan melihatnya.
“Kak sherly mana Miracle?” tanya Utari begitu tiba di depan sherly.
“Utari, ngapain kamu jongkok disitu?” tanya Sherly yang tak habis pikir dengan tingkah Utari.
“Itu kak, aku capek berdiri. Pengen jongkok aja,” sahut Utari asal.
“Ya sini duduk.” Ajak Sherly karena Utari sudah menjadi pusat perhatian keluarga yang lain.
“Tari, kamu sakit?” tanya bang Farhan suami kak Sherly.
“Aku baik saja kok kak, mana Miracle?” tanya Utari lagi.
“Babysiter mu membawanya keluar, tadi dia agak rewel. Oh ya, kamu sudah makan?” tanya Sherly.
__ADS_1
“Bentar lagi kak,” Utari terlihat sibuk sendiri. Matanya jelalatan kesana kemari mencari sosok Morgan.
Morgan terlihat sedang ngobrol bersama beberapa orang pria tak jauh dari meja minuman. Tangannya masih memegang sebuah gelas.
“Hufftttt,” tanpa sadar hempasan nafas lega keluar begitu saja dari mukut Utari.
“Kak, aku keluar dulu mencari Miracle,” ujar Utari kemudian pergi dari situ.
Ia berjalan menuju ruangan pengantin tempat pengantin sebelumnya di dandan.
Benar saja, Sitha dan Miracle berada di sana bersama beberapa orang MUA.
“Sitha, Miracle kenapa sit?” tanya Utari begitu tiba di ruangan itu.
“Den Mirey haus mbak, ini mau tak kasih susu,” jawab Sitha.
“Kamu sudah makan?” tanya Utari.
“Sudah, tadi aku di suruh makan duluan sama bu Serly. Dan sudah makan kue itu juga,” ujar Sitha sambil menujuk kue di meja yang sementara di lahap oleh para MUA.
“Kalian juga pasti belum makan,” ucap Utari pada beberapa orang wanita di situ.
“Kami bagian akhir makannya mbak, saat tetamu sudah pulang itu jatah makanan di luar milik kami,” sahut seorang wanita.
Utari tersenyum kepada mereka, “Ya sudah. Oh ya Sitha setelah mirey minum susu nya kita pulang ya, Kasian dia kecapean berlama lama disini. Kalau gitu aku pamit dulu dengan tante Anita, om Hutaman juga sama om Yudha,” ucap Utari pada Sitha.
“Iya mbak,” sahut sitha.
Saat itu juga Utari segera berlalu dari ruangan itu, kembali ke ballroom yang masih di penuhi oleh para undangan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung…