
Dua hari berlalu namun belum ada tanda tanda keberadaan Miracle di seluruh penjuru ibukota. Semua orang terdekat Utari telah berusaha mencari Miracle namun belum membuahkan hasil.
Di meja makan, Utari terduduk lesu menatap berbagai makanan yang di sajikan untuknya. Namun tak satupun dari makanan itu di sentuhnya.
“Makanlah,” ucap Jessie kesal melihat sahabatnya itu tidak bergeming sedikitpun.
“Sayang jangan galak dong,” ujar Rayhan sambil menarik Jessie agar duduk di sampingnya.
“Gimana ga kesal, sudah 2 hari dia nggak makan, tidur juga nggak. Kalau dia sakit gimana? Emang Miracle bisa pulang dengan sendirinya. Setidak nya Tari, kamu harus sehat dulu agar bisa terus mencari Mirey,” ujar Jessie ketus.
Saat itu juga air mata mengalir dari pelupuk mata Utari.
“Bagaimana aku bisa makan Jess, aku tidak tau Mirey sekarang sudah makan apa belum. Dia sehat atau sakit. Dia tidur dimana. Kedinginan atau kepanasan. Menelan makanan seperti menelan duri buatku,” ujar Utari sambil tersedu.
“Jadi kamu ingin sakit?” ujar Jessie tak mau kalah.
Morgan yang baru saja mengakhiri panggilan telpon menghampiri Utari. Ia duduk di samping nya kemudian menarik semangkok bubur hangat di atas meja.
“Makanlah, setelah makan kita akan mencari ke arah luar kota. Foto Miracle sudah di sebarkan di seluruh situs internet dan media berita. Ada beberapa laporan dari warga mengenai wajah anak yang mirip dengan Miracle, kita bisa ke sana mengeceknya,” ujar Morgan sembari mengaduk perlahan bubur di atas mangkok. “Jadi sekarang makanlah, kita akan berkendara jauh hari ini, kamu harus kuat,” bujuk Morgan.
“Benarkah? Ada kabar terbaru dari Mirey?” tanya Utari antusias.
“Aku masih belum tau, setidaknya kita harus mengecek langsung ke sana,” jawab Morgan kemudian menyuap sesuap bubur ke mulut Utari.
Setelah beberapa suapan, Utari bangkit dari kursinya, mengambil kardigan yang tergeletak di atas kursi.
“Ayo, kita pergi sekarang,” ucap Utari.
“Cih, baru makan segitu. Kamu bukan robot Tari. Makan yang banyak trus mandi, kamu bau ke,” ucap Jessie tiba tiba terhenti. Rayhan langsung membekap mulut Jessie hingga tak bisa melanjutkan ucapannya.
“Auuggghh,” pekik Rayhan karena jemarinya di gigit oleh Jessie.
“Aku sudah menyebarkan pengumuman bagi yang menemukan Miracle akan di beri imbalan besar. Percayalah Sebentar lagi pasti ada yang menghubungi kita!” ulang Jessie dengan percaya diri.
“Ka kamu, bisa diam gak?” tegas Rayhan.
“Ta tapi sayang. Aku juga khawatir melihatnya seperti itu,” sahut Jessie.
__ADS_1
“Kapan pengumuman itu di buat?” tanya Morgan yang jelas ingin tau perkembangan pencarian keluarga Jessie.
“Papa baru saja memberi info. Jaman sekarang, uang lah yang berkuasa. Lihat saja, penculik itu pasti sedang panik sekarang. Seandainya orang yang menculik itu tidak butuh uang, tapi pasti orang di sekitarnya butuh. Siapa pun yang melihat Miracle pasti akan langsung menghubungi kita.” lanjut Jessie.
Benar saja selang beberapa saat ponselnya Morgan berdering. Sebuah nomor ponsel yang di privat masuk. Segera Morgan mengangkat panggilan tersebut.
“Halo mas.”
“Selvie!” Bentak Morgan begitu mengenali suara si penelpon. “Dimana Miracle?” tanya Morgan langsung pada intinya.
“Miracle sedang bersamaku.”
“Cepat katakan dimana kalian, aku akan ke situ sekarang,” sergah Morgan.
“Tapi aku punya permintaan,” ucap Selvie.
Saat itu Jessie yang duduk jauh di sebrang meja langung mendekat kepada Morgan. Begitu juga dengan Utari. Kepala mereka seakan ingin menempel di dekat ponsel Morgan.
“Aku ingin mas mengakui kehamilan ku. Akui anakku sebagai anak mas ke semua media berita. Sore ini aku ingin melihat berita itu di semua media sosial. Soal Perceraian kita tunda hingga beberapa bulan, aku hanya ingin anak dalam perutku di akui kedua orang tua ku, hanya itu. Jika tidak, nasib anak mas Morgan akan berakhir. Aku akan hubungi mas setelah membaca pengakuan mas di media,” ancam Selvie kemudian menutup panggilan telponnya.
“Di diaman kamu. Selvie katakan kamu dimana!” teriak Morgan. Namun pertanyaannya sia sia, Selvie sudah ke itu menutup panggilan telpon itu.
“Sialan kamu Selvie!” Pekik Utari karena daftar no yang masuk adalah nomor rahasia.
“Cepat tuan, buat pengumuman sekarang. Lakukan seperti tang diinginkan Selvie, setidaknya Miracle bisa aman,” desak Utari.
“Ta tapi aku bukan ayah dari bayinya! Aku tidak ingin,”
“Tuan, setidaknya lakukan itu untuk anak mu Miracle,” Utari memegang lengan Morgan sambil menatapnya penuh permohonan.
“Oke oke akan aku lakukan,” ujar Morgan kemudian memeluk Utari. Wanita itu terlihat sangat frustasi, apa pun akan di lakukannya demi untuk Miracle agar cepat kembali.
….
Sementara itu, di sebuah perkampungan di pinggiran kota. Kampung kecil yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan.
Selvie terlihat berjalan keluar dari sebuah warung internet kecil di ujung jalan. Sambil menggendong Miracle, Ia berjalan kembali ke penginapan tempat ia tinggal. Ia menghentakkan kakinya berulang ulang karena kesal akan bayi gemuk dalam gendongannya.
__ADS_1
“Kamu di kasi makan apa sih sama wanita murahan itu. Berat sekali,” gerutunya nya sambil terus berlalu di bawah terik matahari.
“Mengingat kamu adalah anak kandung mas Morgan, aku tidak bisa melakukan apa apa kepadamu. Aku pasti akan di bunuh nya jika aku membuang mu ke tong sampah,” gerutunya lagi setelah tiba di teras penginapan yang di tempatinya bersama Miracle.
“Duduk disitu!” Selvie meletakkan Miracle dengan kasar di atas sebuah kursi kayu kemudian meregangkan pinggangnya yang terasa pegal.
“Akh, perutku kenapa terasa nyeri. Apa karena sejak semalam aku belum makan?! Hufftt karena sibuk mengurus anak ini aku jadi lupa makan,” batin Selvie.
Saat itu si kecil Miracle mulai menangis kecil.
“Eh eh, diam. Kamu pasti lapar lagi kan?” tanya Selvie mengingat selama beberapa hari bersama anak itu, ia jarang menangis kecuali lapar.
Kemudian pintu kamar sebelah terbuka, seorang wanita muda keluar dari sana.
“Mbak bayinya kenapa nangis? Di bujuk dong kasihan,” ujar penghuni kamar sebelah karena Miracle menangis semakin kencang.
“Bukan urusan kamu!” ucap Selvie kemudian menggendong Miracle dan masuk ke dalam kamarnya. “Dasar murahan. Di kampung sekecil ini masih saja ada wanita yang menjual diri. Masih sok mengatur orang lagi,” omel Selvie pada wanita barusan.
Setiba ia di kamar ia meletakkan Miracle di atas ranjang. Si kecil yang biasanya anteng itu masih menangis bahkan semakin di bujuk ia akan menangis semakin keras.
Selvie menuju nakas di mana kotak makanan berada. Seporsi bubur yang dibelinya sejak semalam mulai ia suap kemulut Miracle.
Miracle mulai diam sejak ia disuap. Setelah Beberapa suapan…
“Ueek,” rasa mual tiba tiba mendera. Selvie berlari cepat menuju kamar mandi untuk mengeluarkan rasa mualnya yang datang tiba tiba.
Bughh
Suara terjatuh tiba tiba terdengar dari dalam kamar di ikuti suara tangisan keras oleh Miracle.
“Anak sial, kenapa lagi kamu hahh?” Teriak nya dari dalam kamar mandi. Selvie tak langusng bergegas keluar. Rasa mual dan pening membuat ia duduk sejenak di sana.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung…