Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 63. Berita Gembira


__ADS_3

Setelah di nyatakan sadar dari koma, Miracle harus menjalani pemeriksaan intensif. Dan seperti sebuah keajaiban, Miracle telah sembuh normal seperti semula.


Mendengar hal menggembirakan itu, keluarga besar Jessie dan Rayhan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Miracle. Kesembuhan anak itu seakan menjadi berita sukacita bagi semua orang.


Hingga sore harinya, Utari terlihat mulai menguap beberapa kali. Ia merasa sangat mengantuk. Sejak semalam ia hanya tidur sekitar dua jam. Ia mengikuti sekali perkembangan pemeriksaan dokter hingga hasilnya keluar. Dan saat ini, Utari masih harus meladeni setiap pengunjung yang datang membesuk putranya.


Setelah Jessie, Rayhan dan seluruh keluaraga besar mereka pulang, Utari bersandar santai di atas sofa. Ia merasa harus tidur sejenak sebelum Miracle bangun dari tidurnya. Mumpung hari itu Morgan tidak kemana pun. Ia berada diluar ruangan depan bersama Jerry dan dua orang manajer perusahan datang untuk membahas merger mereka dengan perusahan dari singapura.


Beberapa jam kemudian, suara tangisan kecil Miracle terdengar menggema dalam ruangan, suara itu terdengar semakin mengecil seakan menjauh kemudian menghilang.


"Mirey," pekik Utari kemudian tersadar dari tidurnya.


Utari mencari ke sekeliling kamar, dan memang Miracle tidak berada di ranjangnya. Utari bergegas berlari keluar kamar untuk mencari anak nya.


Di depan ruangan, Morgan sedang menggendong Miracle, sedangkan Jerry berdiri di depan Morgan dan Muracle dengan sebuah boneka ditangan, ia sedang berusaha membujuk Miracle agar tidak menangis.


Kedua pria itu tak menyadari kehadiran Utari dari balik pintu, mereka terlihat asik dengan permainan cilukba bersama Miracle.


"Bukankah tubuhnya belum terlalu kuat untuk di gendong seperti itu?" Utari bergegas mendekat untuk menopang kepala Miracle.


"Sayang, dokter yang mengajari di gendong seperti ini, Mirey udah kuat kok," jawab Morgan.


"Ta tapi, bukankah kata dokter tubuhnya masih lemah karena terbaring lama." Morgan menarik lengan Utari agar duduk di kursi.


"Tadi dokter Mardi ke sini, infusnya sudah di lepas agar Mirey bisa leluasa bergerak. Tadi dokter juga sudah mencoba memberinya susu jadi mirey tidak perlu di infus lagi," jawab Morgan.


"Benarkah? Dokter ke sini kenapa nggak ada yang bangunin aku, jam berapa ini?" Utari melirik jam di dinding kamar yang sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam.


"Kamu seharusnya tidur lebih lama, kamu harus beristirahat lebih lama, serahkan urusan menjaga Miracle kepadaku," sahut Morgan sambil mendaratkan kecupan di di dahi Utari.


"Ehmm," suara deheman Jerry yang merasa tidak terlihat didepan mereka.


Tentu saja wajah Utari memerah, ia menarik wajah nya menjauh namun Morgan mendekat dan kembali memaksa menciumnya.


Utari berusaha menahan Morgan.


"Tuan!" larang Utari tegas sambil tangan kirinya menutup bibirnya.


"Ya tuan lagi." ucap Morgan yang akhirnya menyerah.

__ADS_1


Terdengar Jerry terkekeh menahan tawa. "Aku tidak berani mengganggu lagi, aku sebaiknya pergi. Oh ya besok pagi aku akan ke sini. Besok janjian dengan pak Rayhan di sini jam 10," Jerry kemudian meraih jas nya yang tergeletak di atas kursi.


"Bay Miracle, bay Utari," pamit Jerry asisten sekaligus sahabat dekat Morgan.


Sepeninggal Jerry dari ruangan itu, Utari langsung mengambil Miracle dari pelukan Morgan. Akhirnya ia bisa merasakan kembali menggendong anaknya.


"Ringan sekali, kamu kurusan sayang. Kemana semua lemak di perutmu itu?" ujar Utari pada Miracle.


Utari terus tersenyum sambil bermain main dengan Miracle. Hal yang beberapa bulan terakhir tak pernah menghiasi wajah Utari.


Morgan pun mendekat kemudian mendekap keduanya. "Aku janji akan selalu membuat kalian berdua bahagai," ucap Morgan.


Sesaat kemudian suara pintu di ketuk dari arah luar.


Tok tok tok


Morgan baru akan membuka pintu namun pintu sudah terbuka.


"Pak Danu? Masuk pak," sambut Utari.


"Senangnya den Mirey sudah siuman. Ya Allah, terimakasih telah menjawab doa kami," ujar pak Danu bahagia.


Kemudian dari belakang pintu muncul juga asti dengan sebuah koper dan gantungan baju di tangannya.


"Mbak Utari," Asty masuk kemudian memeluk Utari dan Miracle. "Asty seneng, Mirey akhirnya sembuh," tutur Asty dengan mata berkaca kaca.


"Makasih Asty, makasih," ucap Utari.


"Tadi bapak ke rumah mengambil pakaian yang di minta tuan, tapi neng Asty ngotot ingin ikut, jadi bapak bawa aja sekalian," ujar pak Danu.


"Maaf baru sempat ke sini. Kemaren Asty ijin sama bu Sukma mau jenguk den Mirey tapi kata bu Sukma dirumah banyak kerjaan." ucap Asty.


"Asty, pak Danu ayo duduk," ajak Utari.


"Bapak masih harus mengambil makanan yang di pesan tuan, nanti bapak kembali sekalian menjemput neng Asty pulang, Bapak permisi dulu, Pak Danu pun pergi dari ruangan itu.


"Mbak Utari, berat badan mbak turun jauh, mbak jarang makan ya?" tanya Asty merasa perihatin.


Utari tersenyum kecil "Namanya anak sakit, jangan kan makan, minum saja rasanya ga enak," jawab Utari.

__ADS_1


"Padahal Asty selalu meminta ijin bu Sukma agar bisa ke sini untuk menemani mbak, tapi nggak pernah di beri ijin. Alasannya karena pelayan di rumah tinggal kami bertiga pekerjaan banyak dan ga boleh di tinggal lah," ucap Asty.


Mendengar ucapan Asty, Utari teringat kepada ibu angkatnya itu. Selama dua bulan lebih Miracle di rumah sakit, tidak pernah ia datang menjenguk. Bahkan menelpon untuk bertanya kabar sekalipun tidak pernah.


Utari sadar, seumur hidup ibunya itu memang tidak peduli terhadap dirinya. Ibunya itu lebih senang jika Utari tidak pernah pulang.


Melihat percakapan serius kedua wanita itu Morgan mengambil Miracle dari Utari.


"Apa ibu baik baik saja?" tanya Utari.


"Fisik bu Sukma baik baik saja, tapi seperti nya otaknya ada sedikit gangguan," ujar Asty.


Utari melirik menanggapi serius sambil menunggu penjelasan Asty.


"Maksudnya?"


"Bu sukma akhir akhir ini sering bersikap aneh. Ia suka bicara sendiri di dapur. Ia masak lebih banyak padahal suaminya sedang tidak berada dirumah. Setiap saya bertanya bu Sukma hanya mengatakan makanan untuk dirinya sendiri. Dan anehnya dia suka makan sendiri di rumah belakang," ujar Asty kemudian mendekatkan kepalanya di telinga Utari.


"Bu Sukma memasak makanan yang enak tiap hari, menu gulai kambing, gulai ayam hampir setiap hari gulai. Asty pikir, sebentar lagi bu Sukma bakal kena kolesterol karena makan gulai hampir setiap hari," lanjut Asty.


"Gulai?" Utari diam sejenak sambil mencermati ucapan Asty. Seingat Utari gulai adalah makanan kesukaan Eko.


"Siapa saja penghuni rumah saat ini?" lanjut Utari.


"Bu Sukma, saya dan Eka. Penjaga gerbang depan 2 orang dan siang hari ada 2 orang pekerja kebun," jawab Asty.


"Ayah?" tanya Utari lagi.


"Kerja di gudangnya tuan, jarang pulang," sahut Asty terdengar hampir berbisik.


"Sepertinya ibu menyembunyikan Eko di rumah, pantes saja polisi kesulitan menemukan jejak mereka. Rupanya mereka berada di rumah. Satu satunya tempat teraman untuk mereka sembunyi." batin Utari.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2