Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 47. Tempat Baru


__ADS_3

Selvie masuk ke dalam ruang kerja Morga dengan percaya diri namun setibanya ia disana ia sedikit kaget karena Sukma dan dan suaminya ada disitu.


Kening Selvie bertaut setelah menatap sebuah tas jinjing berwarna hitam yang adalah miliknya. Tas yang sebelumnya ia gunakan untuk mengisi uang untuk diberikan kepada Utari.


Kenapa tas itu ada disitu? Apa Ia gagal mengusir Utari?


Selvie tak peduli lagi pada sepasang mata Morgan yang sedang menjalak ke arahnya. Selvie menatap Sukma yang terus menunduk duduk di samping suaminya. Mereka terlihat takut. Apa ulah dirinya dan Sukma mengusir Utari dari rumah itu sudah ketahuan?


“Ada apa mas?” tanya Selvie yang tak memiliki oerasaan bersalah sedikitpun.


“Kamu sudah sadar apa kesalahan mu?” Morgan balik bertanya.


“Saya? Apa salah saya?” tentu saja Selvie merasa tak bersalah.


Morgan tersenyum simpul. Baginya Selvie sangat tak tau diri.


“Kamu tau uang siapa dalam tas itu?” tanya Sambil berjalan menuju tas jinjing yang tergeletak di atas lantai.


Selvie mengangguk. “Itu uang yang saya berikan kepada bu Sukma.”


“Untuk apa uang itu?” tanya Morgan.


“Saya tidak tau mas, bu Sukma terus memohon meminjam uang kepada saya. Saya tidak tau uangnya di gunakan untuk apa,” ucap Selvie dengan polosnya.


Mendengar elakan Selvie mengenai uang itu, Sukma kaget. Ternyata semua kesalahan di tumpukan kepada dirinya. Selvie mencuci tangan hingga bersih seakan ia tak ada sangkut pautnya dengan kepergian Utari.


“Nyonya. Uang itu uang yang nyonya berikan untuk Utari agar ia pergi dari rumah,” aku Sukma.


“Bu Sukma, kalau uang itu aku berikan kepada Utari seharus nya uang itu ada pada Utari. Dimana Utari? Tanyakan padanya jika aku oernah memberikan dia uang?” ujar Selvie.


Sukma memejamkan matanya, ia tak tau harus membela dirinya seperti apa. Selvie seperti ular berbisa yang kini menumpahkan semua kesalahan kepada Sukma. Sukma tak mungkin menang melawan kelicikan Selvie.


“Mas, aku sedang hamil. Aku tak ingin repot repot mengurus urusan mereka. Aku hanya cukup memberi pinjaman kepada bu Sukma, aku tidak tau ia butuh uang untuk apa. Sekarang bisakah aku pergi dari sini?” tanya Selvie.


Mata Morgan masih menatap wajah Selvie. Ia tau apa yang terjadi.


“Ingatlah, minggu kedua di bulan depan kita akan mengadakan konferensi pers. Kita harus mengumumkan perceraian kita,” ucap Morgan.


“Cerai? Mas aku sedang hamil, bagaimana mungkin mas melakukan hal ini?” hardik Selvie.


“Tak ada yang perlu kita lakukan lagi sebagai suami istri. Masa berlaku kontrak kita berakhir di tanggal itu. Soal kehamilan mu kita bisa tunggu hingga anak itu lahir kemudian lakukan tes DNA. Walau pun mabuk aku tau aku tidak mungkin tidur dengan mu,” ucap Morgan.


“Mas, kamu,” air mata mulai menetes di kedua pipi Selvie. Ia menangis atas apa yang di ucapkan Morgan. Pria itu tega memperlakukan dirinya seperti itu. Setidaknya berikan ia waktu dan kesempatan sebagai istri, tapi Morgan tak pernah memberinya kesempatan untuk menjadi istri yang baik. Status istri sudah ia dapat, namun ia tak pernah mendapatkan hati Morgan.

__ADS_1


Dengan air mata berderai, Selvie bergegas pergi dari ruangan itu.


“Cerai, tuan dan nyonya akan cerai? Kontrak? Mereka menikah kontrak. Ya ampun, aku berpikir tuan dan nyonya benar benar menikah. ternyata!” batin Sukma yang baru saja di huat kaget akan fakta yang baru saja di dengarnya.


“Tuan kalau begitu kami pamit juga. Saya akan diskusikan uang ini dengan istri saya kemudian akan segera saya kembalikan kepada nyonya,” ujar Marwan kemudian pamit dari situ.



Siang hari itu saat Utari meninggalkan rumah keluarga Milano….


Utari masih bingung hendak kemana akan ia bawa diri nya beserta anak kecil dalam pelukannya.


Sementara itu taxi terus berlalu membawa ia dan Miracle menuju stasiun kereta api tujuan luar kota. Setiba di stasiun, Utari masih tak memiliki arah dan tujuan.


“Surabaya, apa sebaiknya kami kembali ke Surabaya? Tidak mungkin kami tetap di Jakarta, aku sudah janji kepada ibu akan pergi keluar kota.”


Setelah menunggu beberapa antrian akhirnya Utari berdiri di depan loket ticket.


“Tujuan mana bu?” tanya seorang wanita di hadapannya.


“Emmm??”


Drrrttt drrrrttttt


Suara ponsel yang terus bergetar dari saku bajunya mengharuskan Utari mundur beberapa langkah mempersilahkan antrian di belakangnya maju.


“Jess, aku-”


“Ga ada tapi tapi, aku akan ke situ sekarang!”


“Aku di gambir,” ucap Utari jujur.


“Tunggu di situ, jangan ke mana mana.”


Selang 10 menit Jessie dan Rayhan tiba.


Jessie langsung menghampiri Utari kemudian memeluknya.


“Kamu kenapa sebodoh ini Tari, kalau aku lambat membaca pesan mu apa kamu sudah pergi? Kamu mau ke Surabaya sendiri tanpa siapa pun disana?” ujar Jessie sambil memukul pundak Utari.


Utari menerima kekesalan sahabatnya itu. Ia berdiri diam menerima di omelin Jessie, karena ia memang bodoh. Selain anak nya, tak ada hal lain yang bisa ia banggakan dalam hidupnya kini.


“Kamu anggap kami sahabat mu bukan? Kamu pikir kita berteman hanya di saat bahagia saja?” ulang Jessie.

__ADS_1


“Maafkan aku,” ucap terdiam.


Siang itu, Jessie dan Rayhan membawa pergi Utari dari stasiun kereta api tersebut. Utari tak bisa berbuat apa apa. Sepertinya ia harus mengingkari janjinya pada sang ibu karena ia tak bisa meninggalkan kota Jakarta. Kedua sahabatnya itu pasti tak ingin Utari pergi hidup sendirian di luar kota. Saat itu Utari hanya bisa sembunyi sebaik mungkin agar tidak ada seorang pun yang tau ia masih di Jakarta.


Rayahan dan Jessie membawa Utari di bilangan Jakarta barat. Di sebuah perkampungan padat penduduk kediaman orang tua Rayhan.


Di rumah tak seberapa mewah seorang pria paruh baya sudah berdiri di depan pintu rumahnya menyambut kepulangan sang putra bersama calon menantunya.


Rayhan membawa Utari untuk diperkenalkan kepada sang ayah sekaligus ijin agar Utari bisa tinggal di rumah itu.


Setelah Rayhan menceritakan kejadian yang menimpa Utari, sang ayah pun dengan lapang hati menerima Utari untuk tinggal bersama mereka.



Setelah beberapa hari berada di rumah pak Yudha. Utari mulai beradaptasi dengan keluarga tersebut. Ternyata sahabatnya Rayhan memiliki kekuarga yang sangat penyayang, hingga membuat Utari merasa terlindungi selama berada di situ.


Ayah Rayhan yang adalah seorang kepala RT menutupi keberadaan Utari di rumah nya. Warga di sekitar rumah kompak akan melindungi Utari karena semua warga di tempat itu patuh kepada ayahnya.


Hingga suatu pagi seorang warga sambil tergopoh gopoh berlari masuk ke halaman rumah pak Yudha.


“Pak RT. Pak RT,” panggil wanita berdaster itu.


Pak Yudha pun segera menghampiri wanita itu.


“Ada apa bu Nuri?”


“Ada beberapa pria di depan gang sedang membawa foto ini dan bertanya pada setiap warga,” ucap bu Nuri sembari menyerahkan selembar foto yang adalah foto Utari.


“Apa kata warga?” tanya pak Yudha menampakkan wajah garangnya.


“Mereka malah mengusir pria pria itu pergi pak. Terjadi ricuh di depan gang. Tapi pria-pria itu berjanji akan datang lagi. Mereka ingin menangkap neng itu. Apakah mereka preman?” tanya bu Nuri.


Pak Yudha mengangguk. “Mereka orang bayaran yang suruh mencari orang hilang. Mereka tidak berbahaya.”


”Jadi sekarang giamana pak, mereka akan kembali lagi.” tanya bu Nuri cemas.


“Jika mereka kembali, aku yang akan menghadapi mereka.” Ucap pak Yudha sembari menggulung lengan bajunya menampakkan otot besarnya serta tatoo Naga yang melingkar di tangannya. “Jangan katakan saya preman Beruang jika mereka berani,” pak Yudha berucap dengan bangga atas julukannya itu.


“I iya pak RT, itu dulu. Sekarang usia pak yudha sudah tidak muda lagi. Sebaiknya jangan pakai otot lagi. Biar kami warga yang mengurus mereka,” ucap bu Nuri kemudian berlari pergi hadapan pak Yudha.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung…


__ADS_2