
Pak Yadi seorang kepala polisi yang mengusut kasus Selvie membawa Selvie menuju kantor polisi. Tentu saja Eko tak tinggal diam, dengan sukarela ia pun ikut dimana Selvie dibawa pergi. Hingga saat tersulit Selvie, Eko dengan setianya menemani Selvie menghadapi kesulitannya.
Melihat putra nya yang telah di butakan oleh cinta, Sukma tak tinggal diam. Ia mencoba menahan anak terkasihnya itu.
"Bu Sukma," panggil Morgan.
Mendengar namanya di panggil oleh Morgam, Sukma mengurungkan niatnya menahan Eko. Sukma akhirnya hanya bisa menatap Eko dan Selvie di giring bersama menuju kantor polisi.
"Bu Sukma, urusan kita belum selesai."
"Tuan butuh sesuatu?" tanya Sukma masih menampakkan keresahan di wajahnya akibat perbuatan putranya.
"Lepas nama Utari dari dalam kartu keluarga kalian. Mulai hari ini, aku sendiri yang akan bertanggung jawab terhadapnya."
Sukma menatap Morgan sedikit menyelami maskud Morgan.
"Utari tidak butuh keluarga seperti kalian." Sebuah kalimat singkat dan jelas membuat Sukma sedikit kikuk.
"Tu tuan, tapi..." sukma terdiam sejenak. "Biar Utari tetap menjadi anggota keluarga kami, saya tidak pernah mempermasalahkan hal itu tuan," lanjut Sukma.
"Saya akan menikahinya, selanjutnya saya lah yang akan menjadi keluarga nya." Morgan meraih tangan Utari yang berdiri di sampingnya kemudian menggenggam tangan itu erat. "Dan mulai hari ini bu Sukma sekeluarga tidak perlu bekerja di rumah ini lagi."
Mendengar ucapan itu, Sukma tak tinggal diam. Ia menarik tangan Morgan sambil membungkuk memohon.
"Tuan, sudah lebih dari lima belas tahun saya mengabdi di rumah ini. Jika kami dipecat, bagaimana kami akan hidup nanti?" tanya Sukma berharap Morgan akan berubah pikiran.
"Sepertinya bu Sukma sudah terlalu tua untuk terus mengurus urusan rumah ini. Bu Sukma bahkan sudah mulai pikun dan berpikir tidak rasional."
"Kapan ibu berpikir tidak rasional tuan? Ibu masih segar dan segar bugar. Otak ibu masih sehat."
"Bu Sukma lupa perkataan ibu tadi? Bagaimana mungkin kedua orang tua Utari yang membunuh kedua orang tuaku? Pemikiran macam apa itu?" Morgan melirik sejenak ke arah Utari. "Ucapan Utari benar, ayah nya berusaha menyelamatkan ibuku. Tanpa ayahnya aku mungkin tidak sempat bertemu ibu. Setidaknya ayahnya membantu ibuku bertahan beberapa hari lebih lama sebelum akhirnya meninggal. Ibu tau apa yang dikatakan ibuku sebelum meninggal? 'Jaga Utari, kalian harus saling menjaga seperti sebuah keluarga, jadilah kakak yang baik untuk Utari,' tapi sepertinya aku tidak bisa menjadi kakak yang baik baginya karena ternyata aku mencintainya."
Morgan mengecup punggung tangan Utari.
"Bu Sukma, perbuatan ibu terhadap Utari aku tau semuanya. Namun dia tak pernah marah, dia tulus memperlakukan bu Sukma seperti ibunya sendiri. Aku pikir suatu waktu bu Sukma akan bisa menerimanya sebagai anak. Nyatanya, bu Sukma malah ikut ikutan menyakitinya. Utari bukan anak sial, kesialan apa yang sudah terjadi disini? Atau bu Sukma pernah tertimpa kesialan sejak mengadopsinya?"
Di samping kiri Utari berdiri, ia menarik lengan Morgan, ia mendongak menatap Morgan kemudian menggelengkan kepalanya.
Morgan sadar, Utari melarangnya berbicara terlalu jauh yang mungkin hanya akan menyakiti bu Sukma.
__ADS_1
"Bagaimana pun keputusan sudah di buat, mulai hari ini, ibu sekeluarga tidak perlu bekerja di rumah ini lagi. Anggap uang 2 miliar yang aku berikan kepada keluarga ibu sebagai kompensasi telah bekerja cukup lama disini. Kedepannya jangan mengganggu Utari lagi!"
Tanpa sadar di bawah pohon bougenvile, Marwan berdiri berpegangan pada batang pohon. Ia mendengar semua ucapan Morgan kepada Sukma. Ia tak berani melanjutkan langkahnya karena rasa malu yang begitu besar. Ia tak kuasa menahan rasa bersalah, bertahun tahun lamanya, ia sadar jika istrinya itu tak pernah menyukai Utari. Dan selama bertahun tahun itu Marwan tak bisa mendidik sang istri dengan baik. Sikap egois dan keras kepala Sukma tak bisa ia atasi.
Marwan hanya bisa teetunduk lesu, kakinya bergetar sekaan tak mampu menopang tubuhnya. Hingga saat Morgan dan Utari melintas di hadapannya. Kedua orang itu baru sadar jika Marwan berada disitu.
"Ayah?" sapa Utari sedikit kaget akan keberadaan Marwan
"Ayah, ayah baik baik saja?" tanya Utari.
Sambil meneteskan airmata, Marwan berdiri sambil tertunduk lesu.
"Maafkan saya karena tidak bisa mendidik istri saya dengan benar. Maafkan saya," ucap Marwan dengan suara bergetar.
"Setelah Utari keluar dari kartu keluarga kalian. Segeralah tinggalkan rumah ini," ulang Morgan kepada Marwan.
Ia kemudian menarik Utari pergi dari situ.
"Ta tapi, aku," Utari menoleh sang ayah yang masih berdiri tertunduk di belakangnya. Morgan terus membawa Utari pergi menuju Mobil.
Setelah membukakan pintu untuk Utari masuk ke dalam mobil, Morgan langsung menghubungi Jerry.
Mesin Mobil langsung dinyalakan, mobil mulai melesat perlahan meninggalkan pekarangan rumah tersebut.
Utari menatap Morgan sejenak kemudian menoleh lagi ke arah belakang. Perasaannya masih tak tenang melihat sang ayah menangis. Namun untuk meminta Morgan kembali rasanya tidak mungkin. Kali ini Morgan terlihat sangat marah pada keluarga itu.
Sekali lagi Utari menoleh ke arah belakang. Sosok sang ayah masih terlihat jelas, terlebih saat ayahnya menampar Sukma. Rasa bersalah meninggalkan sang ayah begitu saja semakin membebani Utari.
"Tu tuan, aku,"
Morgan menatap Utari dari sudut matanya. Membuat Utari tak berani melanjutkan ucapannya.
"Dia semarah itu?" gumam Utari dalam hatinya.
Sesaat suasana dalam mobil menjadi dingin dan mencekam. Mimik wajah Morgan beraura merah. Seperti seekor binatang buas yang ingin menerkam mangsanya.
"Bagaimana mungkin. Apa karena terlalu marah hingga dia mulai hilang akal sehat?!" lagi lagi Utari bergumam sendiri dalam hatinya. Ia tak tau harus melakukan apa agar ketegangan disitu mencair. Morgan masih terlihat marah, ia bahkan melaju cepat di jalanan yang sedang ramai kendaraan.
"Tu tuan," pelan namun pasti Utari kembali memanggil Morgan.
__ADS_1
Lagi lagi pria itu menatapnya kesal kemudian makin mempercepat laju kendaraannya.
"Hati hati, aku takut tuan."
Morgan langsung membanting setir ke arah kiri, mobil kemudian berhenti di pinggir jalan.
"Tuan? Kapan kamu akan terbiasa tidak memanggilku dengan sebutan itu?" ucap Morgan marah.
Utari sadar ternyata hal itulah penyebab wajah cemberut Morgan.
"Maaf," ucap Utari singkat, ia mencoba membujuk Morgan, tapi entah bagaimana. Ia tak punya pengalaman sedikitpun dalam membujuk pria.
"Tuan," panggilnya lagi. "maksudku sayang. Haruskah aku memanggil tuan seperti itu?"
Morgan terlihat semakin kesal.
Ia tak menoleh sedikitpun ke arah Utari. Ia membuang muka ke arah kanan jalan.
"Sayang, aku akan biasakan menyebut tuan dengan sayang." Utari menutup mulutnya dengan jemari. lagi lagi ia menyebut kata tuan. Kata yang sudah lebih dari 15 tahun ia gunakan untuk memanggil majikannya itu tentu tidak mudah merubah kebiasaan seseorang.
Utari tersenyum sejenak. Ternyata Morgan memliki sisi lain yang suka ngambekan.
Tanpa disadari Utari, Morgan melihat saat bibir Utari tersungging.
"Kamu tertawa? Kamu menertawakanku?"
Dengan gesit Morgan mendaratkan bibirnya di atas bibir Utari, kemudian mulai meng ulum bibir utari dengan kasar.
Karena kaget akan serangan tiba tiba itu, Utari berusaha menarik nafas. Kepalanya bahkan terdorong hingga ke kaca jendela.
Barang sejenak, ciuman itu berubah menjadi lembut. Sambil menarik kepala Utari mendekat, lidah Morgan menyesap ke dalam setiap rongga mulut Utari.
Sisi lain Morgan yang baru dilihat Utari. Biasanya ia sangat hati hati terhadap Utari, namun kali ini ia seperti sedang menghukum Utari dengan ciuman panas penuh gai rah.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...