Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 57. Miracle 3


__ADS_3

Selvie masih kesulitan sendiri, rasa mual serta Miracle yang terus menangis dari luar kamar membuat ia sangat frustasi.


"Anak sialan bisa diam gak sih?!" Selvie kembali berteriak. Namun teriakan nya itu tidak serta merta membuat Miracle berhenti menangis, bayi itu menangis semakin menjadi membuat Selvie harus keluar dari kamar mandi dan menghampiri anak itu.


Miracle yang tadi nya di atas ranjang kini berada di lantai. Ia menangis karena sepertinya habis terjatuh dari ranjang. Seketika itu selvie langsung menggendong Miracle sambil mengusap ngusap badannya.


"Shh shhh shhh," bujuknya kemudian mengambil kembali bubur dari atas nakas.


Aroma basi menyeruak dari dalam kotak itu. Aroma yang ternyata membuat ia merasa mual sebelumnya.


"Basi?! Tapi," Selvie menatap Miracle yang sebelumnya sudah ia suapi beberapa sendok.


Miracle menangis entah sakit perut atau mungkin karena jatuh, membuat selvie semakin kebingungan. Selama satu jam ia menggendong dan membujuk Miracle hingga akhirnya bayi itu benar benar tertidur.


"Hei," Selvie mendoer doer pipi Miracle. "Anak cengeng, kamu sudah tidur hah?" tanya nya pada bayi yang sudah tertidur itu.


"Baguslah, aku bisa keluar mencari makan sekarang," Selvie pun meletakkan Miracle ke atas ranjang.


Kemudian berdiri lurus untuk meregangkan badannya yang terasa pegal. Kemudian rasa nyeri di melanda bagian bawah perut Selvie. Rasa perih semakin menjadi saat ia bergerak.


Perlahan Selvie duduk di atas ranjang sambil terus menahan perut.


"Kenapa lagi ini? Aku kenapa? Auuuuu" gumamnya merintih perih.


Kemudian cairan hangat dan kental terasa keluar dari antara pahanya.


Dengan kesusahan Selvie bangun untuk memastikan satu hal yang ia takutkan. Benar saja, cairan merah menetes hingga ke bagian bawah kakinya.


"Tidak, aku aku..." Dengan panik Selvie berjalan menuju pintu, ia berusaha meraih gagang pintu. Sambil menahan rasa sakit di perut yang tidak berkurang sedikitpun.


Tok tok tok


Selvie mengetuk pintu kamar sebelah, hingga wanita yang menempati kamar itu keluar.


"Kenapa lagi?" tanya Wanita itu ketus karena sebelumnya Selvie bersifat kasar kepadanya.


"Tolong saya, saya ahhhh," selvie menahan perutnya.


Saat wanita itu melihat darah di kaki Selvie, ia menjadi panik.


"Mbak, kamu kenapa? Ini kenapa?" tanya wanita itu sambil membopong selvie yang terlihat kesulitan berdiri.

__ADS_1


"Tolong saya," selvie berjalan masuk ke dalam kamar nya. Ia mengambil ponselnya di atas nakas.


"Tolong hubungi nomor ini, minta dia ke sini, tolong mbak," pinta Selvie.


"Tapi tapi ini gimana? Kamu baik saja?" Wanita asing itu memeriksa perut Selvie jika saja ada luka di sana.


"Katakan nama saya Selvie, katakan pada pria ini Selvie menunggu nya di sini. Buruan mbak," ucap Selvie.


"Tapi, kamu harus segera di bawa ke rumah sakit mbak. Kamu berdarah!" Sergah wanita itu.


"Polisi akan menangkap ku jika aku ke rumah sakit sekarang. Tidak mungkin mas Morgan tidak mencari kami. Bahkan foto kami sudah beredar di semua media."


"Saya akan ke klinik setelah anak saya aman," ujar Selvie kemudian.


Wanita asing itu menatap Miracle yang masih terlelap. Ia seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. "Baiklah saya akan ke warung telpon untuk menghubungi nomor ini, kemudian kembali ke sini untuk menolong mbak." Wanita itupun segera berlari keluar dari ruangan itu. Ia berlari cepat menuju warung telepon untuk menghubungi nomor yang di berikan Selvie.


Hingga setengah jam kemudian ia kembali dengan seorang warga setempat yang entah ia dapat dari rumah yang mana. Karena setahu Selvie, rumah rumah di kampung itu sangat sedikit, jarak setiap rumah sangat jarang.


Selvie sedang duduk dilantai dan bersandar di ranjang kayu berukir saat wanita itu tiba. Ia terduduk lemah dan pasrah akan keadaannya.


Tangismya pecah saat itu juga, isakan pilu seakan sebuah penyesalan besar akan kesalahan yang telah ia perbuat.


"Nak Mar, wanita ini keguguran Dek, itulah sebab darah itu." ucap Wanita yang baru saja di bawa ke situ yang ternyata adalah pemilik penginapan.


"Orang orang kampung sedang ke sini, kita akan membawanya ke rumah bu bidan," lanjut wanita itu.


"Kalau begitu saya akan membawa anaknya ikut saja ya bu, tidak mungkin anaknya di tinngalkan?" tanya Marni.


"Iya dong Mar, tugas kamu menjaga anak nya. Bisa kan?"


"Iya bisa dong bu," Marni berjalan mendekati Miracle yang masih terlelap kemudian menggendongnya.


Marni kemudian merasa kalau tubuh Miracle sangat panas, ia meraba dahi Miracle untuk kembali meyakinkan.


"Bu Yeyen, anak ini demam bu. Badannya panas sekali," Marni yang panik langsung mendekati bu Yeyen.


"Hah masa sih? " ujar bu Yeyen sembari menempelkan punggung tangan di dahi Miracle.


"Demamnya tinggi sekali Mar, mending kamu duluan ke rumah bu bidan, biar ibu menunggu orang ke sini untuk mengangkat ibunya, bila perlu kita akan membawa mereka ke rumah sakit malam ini juga."


Sementara itu Selvie terliahat semakin lemah, ia menangis sesenggukan. "Bu tolong jangan bawa kami ke rumah sakit," pinta Selvie sembari meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Mbak, kondisi mbak sudah seperti ini, wajah mbak sangat pucat. Menurut saya, mbak harus kerumah sakit. Di rumah bu bidan ada mobil yang ia siapkan untuk keadaan darurat disini. Mbak tenang saja, mbak akan baik baik saja," ujar bu Yeyen.


Sestelah itu beberapa orang pria tiba disitu dengan tandu. Mereka langsung membawa Selvie menuju timah bu Bidan untuk di tindak lanjuti.


....


Eko sedang membersihkan rumah sebelum sebuah telpon asing masuk ke ponselnya. Ia pun mengangkat panggilan telpon tersebut. Terdengar suara wanita asing tersengal sengal dari sebrang telpon.


"Halo pak, saya di suru menghubungi bapak. Bu Selvie meminta bapak ke sini sekarang," ucap wanita itu.


"Kenapa dengan Selvie?" tanya Eko, ia sedikit ragu, tidak mungkin Selvie yang dimaksud si peneloon adalah Selvie kekasih hatinya.


"Saya hanya di suruh menggubungi nomor ini. Selvie sedang sakit, saya tidak tau yang terjadi dengannya, saya hanya di suruh. Ia meminta bapak ke sini sekarang," ucap wanita itu.


"Tunggu tunggu, maksud kamu yang menyutuh kamu telpon saya adalah Selvie, dia meminta saya menemuinya?" tanya Eko lebih jelas.


"Iya pak."


"Dimana? Dimana selvie sekarang?" tanya Eko lagi.


"Di desa Sukamaju pak," jawab wanita itu.


"Tunggu! Selvie yang kamu maksud adalah Sevie seorang wanita cantik berambut panjang berwarna coklat. Kulitnya putih bersih dan suka perpakaian mahal?!" tanya Eko asal seakan tak percaya selvie berada di desa yang di maksud wanita si penelpon.


"Iya pak, Selvie yang itu. Wanita jutek dan emosian serta sering memandang remeh orang," kawab wanita itu ketus karena mulai kesal dengan pertanyaan Eko.


Mendengar hal itu, Eko langsung merasa yakin jika Selvie yang dimaksud adalah Selvie majikannya.


"Dimana dia sekarang?"


"Di desa Sukamaju barat."


"Baiklah, saya akan ke situ sekarang!"


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2