Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 53. Pria Bodoh


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya ketika Morgan tiba di ruangan ballroom. Lampu ruangan sedang redup karena acara baru saja di mulai. Morgan masuk dan duduk di meja terdekat yang ia temukan sambil menunggu kesempatan untuk menghampiri pak Hutama.


Tujuan utamanya berada di acara besar itu adalah untuk berbincang dengan pak Hutama yang sudah beberapa minggu terakhir tidak bisa ia temui secara langsung.


Selang beberapa saat setelah lampu menyala, Morgan langsung bergerak dari meja tempat ia duduk menuju sebuah meja dimana tersusun rapih beberapa botol minuman aneka pilihan rasa.


Kemudian sambil menikmati secangkir wine, mata Morgan tertuju ke arah panggung. Pak Hutama dan istrinya duduk di salah satu kursi di sana. Kesempatan Morgan adalah pergi ke panggung untuk meminta waktu luang pria itu.


MC acara pernikahan masih dengan agenda acara yaitu perjalanan cinta antara Jessie dan Rayhan. Beberapa foto keduanya sedang di play di sebuah proyektor besar yang menempel di dinding ballroom.


Mata Morgan kemudian terfokus pada sosok pria yang ia lihat dalam layar proyektor.


“Pria itu,” ucap Morgan pelan sembari menautkan kedua alisnya. Ia berusaha mengingat foto lawas si pengantin pria dari layar proyektor.


Dari kejauhan Morgan menatap si pengantin pria, yang kini terlihat berbeda di balik balutan jaz putih dan potongan rambut klimis.


“Aku yakin, aku sangat mengenal wajahnya. Tapi dimana?” ulang Morgan pelan sambil berulang ulang meneguk gelas berisi wine yang ada di atas meja.


Karena penasaran Morgan maju mendekati panggung, pada jarak tiga puluh meter, sosok Rayhan semakin terlihat tidak asing di mata Morgan.


Saat itu, satu persatu para tamu undangan sudah mulai bergerak menuju panggung membuat antrian mulai mengular demi sebuah ucapan selamat untuk pasangan pengantin. Morgan pun akhirnya menunda waktunya beberapa saat hingga antrian agak lengang.


Tiba tiba paman Niko yang entah dari arah mana muncul dihadapan Morgan bersamaan dengan beberapa pengusaha lainnya.


“Morgan, kamu disini ternyata. Ayah mencarimu kemana mana,” sapa Niko di selingi derai tawa.


Beberapa pria yang saat itu bersama Niko pun menjabat tangan Morgan. Tentu saja ia mengenal beberapa orang pengusaha itu, mereka rekan paman Niko yang turut ingin menjatuhkan Morgan.


“Morgan, ini pak Lutfi dan pak Anis mereka-”

__ADS_1


“Aku kenal mereka, walaupun kami baru beberapa kali bertemu,” potong Morgan.


“Haha baguslah,” mata Niko mulai mencari di sekitar Morgan, tentu saja ia mencari anak nya Selvie. “Dimana Selvie?” tanya nya.


“Selvie? Ayah nya seharusnya lebih tau dimana anak nya berada,” bisik Morgan di telinga Niko.


Niko terdiam menatap Morgan. Setelah sejenak berpikir, Niko mendekatkan kepalanya ke arah wajah Morgan.


“Jadi ini keputusan mu?” tanya Niko masih dengan senyuman yang sama seperti sebelumnya.


“Paman lupa? Kontrak kami berakhir dalam dua hari lagi. Bukankah apa yang paman ingin kan sudah tercapai? Anak perusahan sudah menjadi milik paman. Sekarang waktunya paman mengambil kembali anak paman,” jawab Morgan.


“Kamu?” gertak gigi Niko sembari mengepalkan tangan kanannya erat.


“Tanpa diriku kamu tidak bisa apa apa, dasar tidak tau terima kasih,” ujar Niko yang hampir tidak bisa menahan emosinya.


“Paman salah! Seharusnya aku yang mengatakan hal itu. Tanpa diriku dan perusahan ku, paman tidak bisa apa apa dan bukan siapa siapa!” Ucap Morgan sambil menarik kedua sudut bibirnya namun matanya manatap tajam Niko.


Pernikahan putri pak Hutama merupakan pernikahan terbesar di kalangan para pengusaha, wajar jika disinilah para pengusaha pengusaha kecil berkerumun mencari mangsa ataupun rekan kerja. Seperti dirinya yang berniat mendekati pak Hutama untuk menggagalkan rencana kerjasama pak Hutama dengan Niko.


Sambil menatap gelas dalam genggaman, Morgan teringat akan kejadian yang hingga kini masih terbayang dalam benaknya. Pria yang ia pergok berdua di dalam kamar kos Utari.


“Dia adalah Pria itu?” ujar Morgan. Untuk lebih memastikan, Morgan berjalan mendekat ke arah panggung. Dia ingin meyakinkan kan pria di atas panggung itu adalah pria yang sama yang pernah bertemu degannya.


Saat itu Tanpa sengaja Morgan dan Rayhan beradu pandang. Cukup lama mereka beradu pandang seolah sedang saling mengenali.


“Ya dia pria itu! Aku yakin,” gumam Morgan setelah MC acara itu menyebut kota Surabaya sebagai tempat pertemuan si pengantin pria dan pengantin wanita.


“Pria bejat! Dimana tanggung jawab mu sebagai pria! Kamu menikahi wanita kaya lainnya setelah mencampakkan Utari” batin Morgan.

__ADS_1


Matanya menatap garang ke arah panggung. Emosinya tersulut. Mengingat wanita yang di cintainya menjadi korban pria bejat di atas panggung. Jika Utari tidak dihamili pria itu, hidup Utari mungkin tidak akan seperti sekarang ini. Terkatung katung di luar sana tanpa kabar dan berita bersama seorang bayi yang harus di rawatnya di usianya yang masih terlalu muda.


Saat itu juga Morgan berjalan naik ke arah panggung yang kebetulan antrian pengunjung sudah mulai lengang. Ia berjalan cepat menghampiri Rayhan. Ia melewati pak Hutama yang sebenarnya menjadi tujuannya datang ke acara itu.


“Aku ingin bicara dengan mu sekarang,” ucap Morgan pada Rayhan membuat Jessie dan kedua orang tuanya heran.


“Pak Morgan?” sela pak Hutama.


“Morgan? Jadi kamu Morgan? Cih” desis Rayhan yang sedari tadi ragu akan pria yang terus menatapnya dari bawah panggung.


“Kita harus bicara,” ulang Morgan kepada Rayhan.


Morgan dan Rayhan menuju pintu samping, mereka terus menuju koridor sepi yang jarang di lalui manusia.


“Pria bejat, kamu harus di beri pelajaran!” Saat itu juga Morgan berbalik badan kemudian menghantam wajah Rayhan dengan tinju mentahnya. “Jika bukan karena kamu, Utari tidak akan seperti ini. Kamu bajingan,” Morgan hendak melayangkan sebuah pukulan lainnya namun Rayhan menahan pergelangan tangannya itu.


“Haha, tuan Morgan. Anda sedang bicara apa? Yang seharusnya di beri pelajaran itu anda,” sebuah tinju Rayhan pun melayang di wajah Morgan. Membuat pria setengah mabuk itu terhuyung ke lantai.


Tak puas dengan satu pukulan, Rayhan menghampiri Morgan kemudian menarik kerah bajunya.


“Jika tidak bisa melindungi wanita, jangan menghamilinya. Utari menderita karena mencintaimu. Kamu membiarkan Utari dan anak mu hidup sendirian di luar kota? Kamu tau mereka dimana? Bagaimana bisa seorang pria sepertimu layak di cintai Utari. Kamu bahkan tidak bisa melindungi anak mu sendiri!” ujar Rayhan sambil mengayunkan beberapa bogem mentah ke wajah Morgan.


Morgan pasrah menerima pukulan itu. Matanya terbelalak, ia menarik lengan Rayhan seakan memohon penjelasan. “Anak siapa? Apa maksud kamu?” tanya Morgan.


“Pria bodoh, anak kamu. Miracle anak kamu, kamu tolol tidak bisa mengenali anak mu sendiri. Sekarang jangan pernah dekati mereka lagi, jika sekali lagi Utari menangis karena kamu, aku akan membunuhmu,” ulang Rayhan kemudian mendorong Morgan hingga terkulai di atas lantai.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung…


__ADS_2