
Tengah malam di sebuah rumah sakit kecil... Selvie baru terjaga dari tidurnya. Setelah pendarahan parah yang dialaminya, wajah nya terlihat sangat pucat. Tubuhnya terasa begitu lemah.
Hal pertama yang terbesit dalam benak Selvie adalah pergi dari tempat itu. Morgan pasti akan menemukannya, ia pasti akan di jebloskan ke dalam penjara.
Selvie berusaha bangkit dari pembaringan kemudian sebuah tangan menahan tangannya."Kamu sudah bangun."
Selvie menengadah ke arah samping, menatap sosok Eko yang sedang memegang tubuhnya.
"Eko, bawa aku pergi dari sini. Tolong bawa aku pergi eko aku tidak ingin masuk penjara," Selvie memohon penuh ketakutan.
"Tenang dulu, apa maksud nyonya?" tanya Eko.
"Cepatlah, bawa aku pergi kauh dari sini," Selvie kemudian teringat kepada Miracle. "Dimana anak itu, dimana dia?" tanya Selvie sambil mencari ke sekeliling. Matanya terbelakak, ia baru saja sadar jika saat itu ia swdang berada di bangsal rumah sakit. "Dimana ini, kenapa aku bisa disini. Aku tidak ingin berada di tempat ini. Aku ingin pergi, bawa aku pergi dari sini," lanjut selvie sambil berteriak teriak histeris hingga beberapa orang perawat tiba disitu.
Infus yang terpasang di tangan lepas dari tangan Selvie, ia terus meronta ingin pergi dari tempat itu. Karena para suster mulai kewalahan, akhirnya mereka memutuskan untuk memberi Selvie suntikan penenang. Iapun kembali tertidur.
"Bapak keluarga pasien? Dokter Rama akan ke sini besok pagi, dokter meminta bapak menemuinya di ruangannya."
"Sebenarnya apa yang terjadi sus?" tanya Eko yang memang belum seberapa kama tiba disitu.
"Pasien keguguran hingga mengalami shock. Karena keadaannya masih belum pulih, pasien masih harus beristirahat hingga beberapa hari ke depan. Mungkin karena kelelahan dan depresi ia kehilangan janinnya," jelas perawat itu.
Mendengar ucapan perawat senior itu, Eko mengusap wajahnya dengan kasar.
"Oh ya, anak pasien juga masih dalam perawatan, untung cepat di bawah ke rumah sakit, anak itu memiliki riwayat alergi akut. Sekarang sedang dalam perawatan intensif," lanjut dokter itu.
Eko mengerutkan dahinya, ia tak mengerti maksud dari ucapan perawat itu.
"Maksudnya apa sus? Anak?" ulang Eko heran.
Perawat itu menatap wajah Eko, kemudian mengulang kembali ucapannya. "Anak nya pasien, mereka bersamaan masuk ke sini."
"Ta tapi Selvie tidak memiliki anak," gumam Eko namun terdengar di telinga perawat itu. "Kapan pasien bisa sadar kembali?" Lanjut Eko bertanya.
"Efek obat nya hingga 6 jam, besok pagi pasien akan bangun seperti biasa," jawab suster itu sambil menatap curiga. Setelah melirik sejenak ke arah Selvie, suster itu meninggalkan tempat itu.
Anak siapa yang di maksud perwat itu? Kenapa Selvie bisa berada di tempat seperti ini? Pertanya pertanyaan itu terus mengusik benak Eko, ia pun menyusul perawat tadi untuk bertanya ruang perawatan bayi. Eko menuju ke sana namun tidak tau menau soal anak itu.
Ia pun memutuskan untuk menghubungi sang ibu.
Beberapa kali Eko mencoba menyambung panggilan ke ponsel ibunya namun ibunya tak mengangkat panggilan telponnya. Akhirnya Eko memutuskan untuk menunggu hingga pagi hari saat Selvie bangun.
__ADS_1
.
.
.
Eko bangun dengan lebih segar pagi itu, walau hanya tertidur beberapa jam di atas lantai yang beralaskan koran, namun sudah cukup membuat Eko segar bugar. Ia tak ingin melewatkan kesempatan saat Selvie bangun karena banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada Selvie.
Bangsal rumah sakit mulai terlihat ramai, ruangan luas berisikan sekitar 10 sampai 15 ranjang hampir terisi penuh oleh pasien. Para penjaga dari setiap pasien pun mulai lalulalang beraktivitas dipagi hari.
Sementara Eko, ia memilih duduk di samping ranjang sambil terus menatap wanita cantik yang masih terlelap. Kapan lagi ia bisa menikmati wajah Selvie seintens itu, pasti langsung kena semprot dengan kata kasar majikannya itu. Aji mumpung, Eko pun tak menyia nyiakan kesempatan itu.
Sesaat kemudian mata Selvie berkedip seakan saat itu adalah waktu untuk ia bangun. Eko dengan senyuman siap menyambut di depannya.
"Nyonya, nyonya sudah bangun?" tanya Eko terus berusaha menyadarkan Selvie.
"Dimana aku?" seperti sedang mengigau Selvie belim sepenuhnya sadar.
"Nyonya dirumah sakit," sahut Eko.
Mata Selvie terbuka lebar, ia menatap sekelilingnya. Riuh akan percakapan dari setiap orang di ruangan itu yang tidak sedikit jumlahnya membuat ia kembali histeris.
"Kenapa aku disini? Aku tidak ingin berada di tempat ini," teriak Selvie sambil berusaha bangun dari tidurnya.
Mendengar ucapan Eko, Selvie menutup mulutnya dengan tangan. Ia mulai menangis sejadi jadinya.
"Aku tidak ingin berada di tempat ini, dimana ini? Kenapa banyak sekali orang di sini?" Selvie menatap setiap pasien di rungan itu. Pasien pasien dengan berbagai macam penyakit yang mereka derita. "Eko tolong bawa aku pergi dari sini," Selvie memohon dengan nada pelan.
"Saya juga tidak tau jelasnya kenapa nyonya bisa berada di sini. Itulah kanapa saya menunggu nyonya bangun, saya ingin tau yang terjadi. Kenapa nyonya bisa keguguran? Nyonya sengaja ke tempat seperti ini untuk aborsi?" tanya Eko panjang lebar.
Selvie menangis meratapi nasibnya. Anak dalam perutnya telah tiada, dan kini nasibnya sudah berada di ambang kehancuran. Polisi pasti akan menangkapnya jika mengetahui identitasnya.
"Dimana Miracle? Anak itu dimana?" tanya Selvie sesaat setelah sadar bahwa ia sedang dalam pelarian bersama Miracle.
"Siapa anak itu?" Eko balik bertanya mengingat Selvie sebenarnya bukanlah ibu dari anak itu.
Selvie menarik Eko mendekat ke arahnya. "Aku bertanya dimana anak itu?" tanya Selvie marah.
"Anak itu sedang dalam perawatan, kata perawat alergi," jawab Eko seadanya karena tatapan Selvie seakan ingin memangsanya.
"Sekarang juga ambil anak itu dan bawa kami pergi darisini," ucap Selvie dengan nada pelan, namun setiap kata ia ucapkan dengan tegas.
__ADS_1
"Ok, aku akan temui perawat, aku akan membawanya ke sini," jawab Eko patuh tak ingin berdebat dengan Selvie.
Eko menuju ruang perawatan anak dimana Miracle dirawat, setiba ia di sana dua orang perawat dan seorang dokter sedang melakukan pemeriksaan.
"Dok bagaimana keadaan anak ini?" tanya Eko.
"Anda keluarga nya?" tanya dokter itu.
"Hhmm, ya saya keluarga nya," jawab Eko setelah sejenak berpikir.
"Anda orang tuanya?" tanya Suster itu lagi.
"Bukan bu, sebenarnya saya kenalan ibunya. Saat ini mereka tidak memiliki siapa siapa jadi saya yang akan bertanggung jawab," jawab Eko mantap membuat perawat itu mengangguk setuju.
Perawat itu mengambil laporan hasil lab dari miracle yang baru saja keluar.
"Sebenarnya anak ini memiliki riwayat penyakit bawaan sejak lahir, alergi akut dan harus dirawat intensif karena pembengkakan dan merah di seluruh bagian tubuh. Akan sangat bahaya jika sampai ke paru paru pak bisa menyebabkan gagal nafas. Rumah sakit kami peralatan belum memadai, kami sarankan agar memindahkan anak ini ke rumah sakit lain yang lebih memadai. Jika bapak bersedia saya akan urus surat rujukannya," ucap perawat itu.
"Hhhm, suster. Saya akan bertanya pada ibunya dulu," jawab Eko.
"Sebaiknya segera di putuskan pak, sebelum terlambat."
"Iya iya sus," Eko berjalan cepat meninggalkan ruangan bayi kembali menuju bangsal dimana Selvie berada.
Melihat Eko kembali dengan tangan kosong, Selvie menjadi berang.
"Mana anak itu?" sergahnya.
"Anak itu kondisinya tidak bagus, dia harus di rujuk ke rumah sakit besar," jawab Eko.
Selvie menarik baju Eko dengan kasar dan tatapan marah.
"Kamu lebih mendengar suster itu dari pada aku! Ambil anak itu dan kita akan meninggalkan rumah sakit ini segera!"
"Baik lah."
Eko kembali menuju ruang perawatan bayi. Sepertinya ia harus memaksa membawa anak itu keluar dari rumah sakit itu apa pun caranya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...