Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 59. Sebuah Kabar


__ADS_3

Eko kembali menuju ruang bayi dimana Miracle dirawat. Ruangan itu tidak seberapa ramai, hanya ada sekitar 4 anak yang di rawat disitu. Sedangkan di ujung ruangan seorang suster muda berjaga sambil menyusun laporannya.


Sesekali Eko menggaruk kepalanya sambil berpikir keras. Jika ia meminta ijin untuk membawa Miracle perawat pasti akan melarang. Infus dan selang oksigen yang terpasang di tubuh anak itu menandakan bahwa ia sangat butuh perawatan.


Namun, jika ia kembali tanpa Miracle Selvie akan kembali memarahinya.


"Bagaimana ini?" gumam Eko sambi mondar mandir di samping ranjang Miracle.


Sesaat kemudian ponsel dari dalam saku celana Eko berbunyi. Bunyi yang cukup membuat ia sendiri kaget. Ia bergegas mengambil ponsel kemudian mengecilkan speaker suara ponsel.


"Maaf Sus," ucap Eko kepada suster yang kini sedang menatap tajam ke arahnya.


"Jangan berisik bapak, dalam ruangan ini tidak boleh ada kebisingan," ucap perawat tang berjarak sekitar 20 meter dari tempat ia berdiri.


"I iya maaf," ucap Eko lagi, namun kemudian ponsel nya kembali berdering. Nada dering yang cukup besar membuat ia harus berlari keluar ruangan itu. "Duh, ibu," gumamnya kemudian mengangkat panggilan telpon dari ibunya.


"Ada apa bu?" tanya eko dengan nada kesal.


"Loh seharusnya ibu yang tanya ada apa. Semalam kamu menelpon ibu berkali kali," jawab Sukma.


"Oh itu Eko salah pencet. Udah ya bu, Eko sibuk," suara Eko ketus. Ia hendak menutup telpon.


"Eh Eko ada yang ingin ibu sampaikan penting!" suara Sukma terdengar bahkan setelah ponsel jauh dari telinga Eko.


"Ada apa lagi sih bu?" tanya Eko yang sebenarnya tak peduli dengan hal penying yang ingin dikatakan ibunya. Menurutnya hal terpenting saat ini adalah membawa bayi sekarat itu pergi dari rumah sakit ini. Ia pun akhirnya mendekatkan kembali ponsel ke telinganya menunggu penjelasan dari sang ibu.


"Nak, rumah kita sekarang sedang kacau. Tuan Morgan sangat marah karena Selvie membawa kabur anak nya," mendengar hal itu Eko akhirnya mulai memasang telinganya.


"Trus?"


"Tuan sangat marah, ia sudah mengerahkan semua kemampuannya untuk menangkap nyonya, eh Selvie ke seluru pelosok indonesia," ujar Sukma berapi api.


"Maksud ibu, nyonya Selvie membawa kabur anak tuan? Kapan tuan punya anak?" tanya Eko penasaran.


"Kamu tau, ternyata anak Utari adalah anak tuan. Tuan Morgan adalah ayah dari anak itu," terang Sukma.


"Miracle? Miracle anak Utari dan Tuan?" sontak tatapan Eko tertuju ke arah ranjang bayi di dalam ruangan perawatan bayi.


"Iya, entahlah ibu harus senang atau marah pada Utari. Mungkin juga ia sekarang akan jadi besar kepala terhadap ibu. Selama ini ia menyembunyikan ayah dari anaknya, membuat ibu terus menghina Muracke sebagai anak sial. Ternyata anak itu anak tuan..."


Sukma terus bericara panjang lebar. Eko tak lagi mendengar ucapan ibunya, ponsel tak lagi berada di telinga Eko. Ia berjalan perlahan mendekati kaca ruang perawatan menatap Miracle dari kejauhan.

__ADS_1


"Miracle anak tuan Morgan dan Utari? Selvie menculiknya. Dan anak itu sedang kritis sekarang. Bagaiana ini? Jika aku membawanya pergi bersama Selvie sama saja aku membunuhnya, tuan Morgan sudah terlalu baik pada keluarga ku. Tapi jika aku memberitahukan keberadaan Miracle, maka Selvie pasti tidak bisa lolos dari penjara," gumam Eko dalam hati, benaknya terus berkecamuk.


Tanpa sadar sudah lebih dari lima menit ia mondar mandir di depan ruang perawatan bayi.


"Sebaiknya aku menghubungi tuan dan memohon pengampunan untuk Selvie. Tuan orang yang baik, dia pasti tidak akan menghukum Selvie terlalu berat. Bagaimanapun juga Selvie adalah istrinya," gumam Eko kemudian mulai mengutak atik ponsel di tangannya untuk mencari nomor Morgan.


.


.


.


Sementara itu, suasana pagi lainnya di kediaman Milano.


Seorang Dokter masih berada di dalam kamar untuk memberikan perawatan kepada Utari. Sudah beberapa hari wanita itu hanya makan seadanya. Ia juga kurang tidur dan terus menangis karena terus memikirkan Miracle.


Sementara Morgan walaupun hatinya juga rapuh, namun ia harus terlihat kuat di hadapan Utari. Hal itu semata mata karena ia harus melindungi Utari, walaupun hatinya juga terasa sakit karena kehilangan anak yang baru beberapa hari ini ia tau identitasnya. Selama ini, anak kandungnya sendiri sudah berada di sisinya namun karena kebodohannya hingga ia tidak tau. Seharusnya ia sadar Miracle adalah anak nya sejak dirumah sakit. Miracle memiliki penyakit bawaan yang sama dengan dirinya.


"Pak Morgan."


Suara dokter Arya membuyarkan lamunan Morgan.


"Ya dok, bagaimana keadaan Utari?" Morgan berpaling dari arah jendela menuju ranjang dimana dokter Arya berdiri.


"Baik dok, terimakasih saya akan terus mengingatkannya," sahut Morgan.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Siang hari saya akan kembali ke sini setelah jam makan siang untuk mengecek infusnya," lanjut donter Arya.


"Terimakasih dokter," ucap Utari sebelum dokter Arya meninggalkan ruangan itu.


"Tuan, ada kabar dari Jessie dan Ray?" tanya Utari dan balas tatapan skeptik oleh Morgan.


"Sudah berapa kali aku katakan jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi," protes Morgan.


"Maaf, saya sudah terbiasa dengan panggilan itu. Saya sudah memanggil tuan dengan sebutan itu sejak kecil, sepertinya akan sulit untuk di hilangkan," jawab Utari.


Morgan pun menarik nafas kemudian membuang nafasnya kasar. Ia mengusap keapala Utari sejenak kemudian membenarkan selimut ditubuh Utari.


"Ya sudah, yang penting sekarang kamu harus sehat dulu. Sejak semalam kamu hanya tidur beberapa jam. Jangan memaksakan diri terus."


"Sudah ada kabar dari Ray dan Jessie?" Sela Utari.

__ADS_1


Morgan menggeleng. "Tenang saja, Miracle pasti baik baik saja. Pencarian sudah dikerahkan hingga keluar kota, anak kita akan segera ketemu," bujuk Morgan, semoga ucapannya itu bisa sedikit mengurangi kegelisahan Utari.


Sesaat kemudian nada dering dari ponsel yang di letakkan di atas meja nyaring terdengar. Ponsel yang selalu di tunggu berbunyi seakan mendatangkan kabar baik mengenai keberadaan Miracle.


Secepat mungkin Morgan mengambil ponsel itu kemudian langsung mengangkatnya.


"Ya hallo?"


"Tuan Morgan Selamat pagi," suara Eko dari seberang telpon.


Morgan melihat layar hp yang sebelumnya tak sempat membaca nama si penelpon. Nama Eko tertera disana.


"Eko?" sebutnya dengan nada sedikit kecewa. "Ada apa menelpon pagi pagi begini?" tanya Morgan jadi kurang bersemangat.


"Tu tuan, saya," suara Eko terdengar ragu.


"Cepat bicara, saya sedang menunggu panggilan lainnya," ujar Morgan.


"Tuan, saya ingin mengabari soal Miracle."


"Miracle? Anak ku?" Sela Morgan saat Eko belum sempat menyelesaikan kalimatnya. "Dimana anak ku? Cepat katakan dimana kamu melihatnya," tanya Morgan. Ia menjadi sedikit tak tenang, panik, dan tak sabaran.


"Tuan harus ke sini segera, anak tuan sedang sakit parah. Tuan harus memindahkannya ke rumah sakit yang lebih baik," jawab Eko.


"Ok sekarang katakan nama rumah sakitnya, aku akan ke sana sekarang!"


"Tuan, tapi berjanjilah, tuan akan memberi keringanan hukuman kepada nyonya Selvie. Saya yakin nyonya melakukan ini karena terdesak."


"Eko, sekarang dimana alamat kamu, kita akan bahas hal lainnya setelah menyelamatkan nyawa anak ku. Aku mohon cepat katakan?" desak Morgan.


"Rumah sakit Persada di kecamatan Asri pinggiran kota A."


"Ok ok kamu tunggu di situ."


"Tuan, itu kabar dari Miracle?" Utari dengan tangis bahagianya berdiri di belakang Morgan. Ia menangis senang, akhirnya secerca harapan untuk bertemu Miracle muncul di pagi itu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2