Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 65. Kesalahan Masa Lalu


__ADS_3

Melihat Utari terus berjalan menuju rumah belakang, Sukma langsung mengejar Utari sebelum masuk ke dalam rumah tersebut.


"Utari, berhenti."


Utari tak menggubris perkataan ibunya. Ibunya harus berlari lebih cepat sebelum ia masuk ke dalam rumah.


"Utari, berhenti. Kamu dengar ucapan ibu?" Sukam menahan lengan Utari hingga langkahnya terhenti tepat sebelum pintu kamar pertama.


"Ada bu, alu ke sini hanya ingin melihat kamarku. Aku mungkin lakan kembali menempati kamar lamaku," ujar Utari kemudian melanjutkan langkahnya. Ia berbelok ke koridor sebelah kiri dimana kamar nya berada.


Sukma menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil ikut berjalan di belakang Utari. Dengan berat hati ia tak melarang Utari menuju ke kamarnya.


Kamar itu masih sama seperti sebelumnya saat Utari pergi dari situ. Posisi barang barang lamanya masih berada pada tempatnya.


"Mbak Utari, mbak kenapa ingin tidur di rumah ini. Kalau mbak mau kan bisa tidur di rumah Utama. Kamar2 disana jauh lebih luas daripada disini," ujar Asty yang baru saja tiba disitu.


"Aku cuman liat liat dimana tempat yang membuatku merasa nyaman," lanjut Utari.


Ia kemudian mentap Sukma.


"Aku akan ke kamar ibu sekarang." Utari langsung berjalan keluar dari kamar itu menuju kamar di sampingnya.


"Apa apaan anak ini. Apa yang sedang otak kotormu itu pikirkan?" Sukma tak bisa menahan karena Utari langsung beranjak cepat di depan pintu kamar.


Tanpa aba aba ia langsung membuka pintu kamar itu.


Setelah memeriksa ruang kamar ibuhya ia langsung keluar. Tak ada siapapun di ruangan itu. Utari langsung memeriksa dua kamar kosong lainnya yang terletak di depan kamarnya dan Sukma.


"Asty, kamar kamu yang mana? Dan kamar Eka yang mana?" lanjut Utari bertanya.


"Kamar Asty di sebrang mbak," sambil menujuk koridor sebelah kanan dimana terdapat empatbkamar lainnya disana.


Dengan keras Sukma menarik lengan Utari.


"Sebenarnya apa maumu?" tanya Sukma kesal.


"Aku sedang mencari kamar, ibu tidak mendengar ucapan ku tadi?" jawab Utari tak kalah kasar menanggapi perbuatan Sukma.


"Sebenarnya apa yang kamu cari?" Ulang Sukma tersiratkan amarah di wajahnya.


Utari menepis lengan Sukma, kemudian berjalan menuju koridor di seberang.


"Ini kamar Asty mbak, dan itu kamar Eka," jelas Astu setiba disana.

__ADS_1


"Berarti dua kamar ini kosong?" Utari langsung menuju ujung kamar kemudian mencoba membuka pintu kamar tersebut.


Pintu tidak bisa terbuka seberapa keras Utari mencoba.


"Biar asty bantu," Asty mencoba membantu Utari mencoba membuka pintu tersebut namun pintu sepertinya terkunci. "nggak biasanya pintu ini tertutup. Biasanya kamar kosong nggak pernah terkunci kok," gumam Asty sambil terus berusaha.


"Dimana kunci kamar ini bu?" tanya Utari tanpa melirik ke arah Sukma.


Sukma terlihat panik, ia berdiri jauh di belakang utari sambil mengusap ngusap jemarinya.


Asty mencoba membuka kamar kosang lainnya namun kamar tersebut tidak terkunci. "Tuh, kamar ini gak terkunci mbak. Setahu Asty kamar kamar ini nggak pernah dikunci," ujar Asty.


Mata sukma membulat menatap Asty, ia marah karena mulut wanita itu tak bisa diam.


"Bu, berikan kunci kamar ini, tegas Utari sekali lagi.


"Mana ibu tau dimana kuncinya. Kunci masing masing kamar biasanya hanya menggantung di belakang pintu.


"Ohh, jadi ada otang lain yang tinggal disini?" tanya Utari lagi.


"Mana mungkin? Pasti ada yang tidak sengaja mengunci kamar itu."


Tak ingin mendengar alasan Sukma lagi, Utaru mulai menggedor pintubkamar itu dengan kasar.


"Siapa pun didalam kamar ini keluar lah, sebelum aku menyuruh tukang kebun untuk membuka paksa pintu ini," seru Utari.


Buk buk buk.


"Keluarlah."


Utari menatap wajah sang ibu dengan marah.


"Ibu mau bekerja sama dengan mereka? Ibu tau kejahatan menyembunyikan penjahat? Ibu akan di jebloskan kedalam penjara bersama mereka."


Sukma gelagatan tak bisa berkata kata.


Buk buk buk


"Kak Eko, buka pintunya kak. Atau tukang kebun akan ke sini mendobrak pintu ini," ucqp Utari. setelah swjenak masih tak ada respon dari dalam kamar.


"Asty panggil tukang kebun ke sini. Dobrak pintu ini," ucap Utari keras agar terdengar hingga ke dalam kamar.


Kemudian perlahan pintu terbuka.

__ADS_1


Eko berdiri di balik pintu masih sambil menahan gagang pintu.


"Utari, kamu tenanglah dulu. Kita akan bicarakan ini baik baik," ucap Eko kemudian.


Saat itu juga Utari langsung menerobos masuk ke dalam kamar.


Ia berdiri tepat didepan Selvie beradu tatapan dengan wanita angkuh itu.


"Beraninya kalian menyembunyikan penjahat ini, kalian lebih memilih bersekongkol dengannya daripada aku keluarga kalian. Haha" ia kemudian tetawa lantang. "Ya aku lupa, aku bukan siapa siapa kalian. Aku hanyalah seorang anak yang di tambahkan kedalam kartu keluarga kalian. Aku tidak layak mendapat perlakuan baik dari kalian." lanjut Utari.


Ia menyaksikan seisi kamar, diruangan tak seberapa luas itu tersedia berbagai jenis makanan. Seperti nya Selvie di perlakukan dengan sangat baik oleh Sukma dan Eko. Sedangkan Miracle anaknya. Selama dua hulan lebih ia bertahan hidup hanya dengan infus dan selang oksigen ditubuhnya.


Utari menjadi sangat marah. Ia maju selangkah kemudian menampar wajah Selvie yang sedari tadi menengadah tak menurunkan tatapannya sedikitpun padahal seharusnya dialah penyebab masalah.


"Selvie bangun dari duduk nya. Ia maju selangkah mendekati Utari."


"Kami dan anakmu layak mendapatkan hal itu."


Sekalilagi Utari melayangkan tangannyavke wajah Selvie namun Eko demgan sigap menariknya mundur.


"Lepaskan aku," teriak Utari sambil berusaha leoas dari tangan Eko.


"Utari, maafkan Selvie, ada alasan kenapa ia melakukan hal itu."


"Apa alasannya? Apa salah anakku? Apa salahku? Kalian menyuruh kami pergi, kami telah pergi. Apa anakku Miracle yang harus menjadi pelampiasan amarah nya?"


"Utari, tenanglah, Selvie sudah membayar apa yang dia perbuat. Dia mengalami keguguran, dia juga hampir tak bisa bertahan," bela Eko.


"Salah siapa? Salah siapa? Siapa yang menyuruh dia melakukan hal itu?" tanya Utari penuh amarah.


"Salah mu, karena kamu ada di rumah ini. Sejak awal semua salahmu. Kamu dan keluarga mu pembawa sial. Kamu dan kedua orang tua mu hanya bisa merugikan keluarga ini. Sejak awal aku sudah tidak menyukaimu dan kedua orang tuamu. Mereka pembunuh!" ujar Sukma berapi api. Akhirnya ia mengeluarkan uneg unegnya selama ini. Hal yang terus membuat sukma membenci Utari.


"Setelah menyalahkan ku, kamu bahkan menyalahkan kedua orang tuaku. Kamu tidak relevan, hal yang seharusnya salah selalu benar di matamu, dan hal yang benar pasti dijadikan salah dimatamu. Apa salah kedua orang tuaku?"


"Orang tuamu penyebab kematian tuan dan nyonya besar di rumah ini. Kedua orang tua mu lah yang membuat mereka tewas," sergah Sukma lantang.


"Apa?" Utari terbelalak mendengar ucapan Sukma. Bagaimana kedua orangtuanya bisa menjadi penyebab kematian orang tua Morgan padahal mereka juga menjadi korban dalam kecelakaan pesawat tersebut.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2