
Keesokan pagi, di dapur rumah keluarga Milano. Asty dan Sena sedang berbisik bisik sambil membersihkan bumbu dapur. Mereka sedang terlibat percakapan serius mengenai tuan Morgan yang ternyata mencintai Utari. Sena tak percaya dengan Ucapan Asty, ia menuding Asty sebagai penggosip tak berbobot. Pertengkaran pun terjadi di antara mereka.
Karena keributan itu, Sukma pun menghampiri mereka.
“Ada apa ini?” tanya Sukma dengan nada tegas hingga membuat kedua pelayan itu terdiam dan menunduk.
“Sena ada apa?” tanya Wiwi yang juga baru tiba di dapur itu.
“Pagi pagi sudah ribut. Kalian sudah bosan bekerja di sini?!” gertak Sukma sekali lagi. Mood nya memang sedang buruk karena masalah batalnya perjodohan Utari dan Ardy. Uang 2 miliar nya kini melayang.
“Katakan Sena ada apa?” ucap Wiwi dengan nada pelan.
“Anu bu, mbak wi. Mbak Asty mengatakan Tuan Morgan mencintai mbak Utari,” ujar Sena.
“Cerita bohong dari mana itu Asty? kamu sengaja menyebarkan gosip seperti itu pasti disuruh Mbak Utari ya?!” gertak Wiwi ke wajah Asty.
“Buat apa aku bohong,” gumam Asty.
Sukma membuang wajahnya ke arah luar. Ia tau keakraban Morgan dan Utari telah terjalin sejak mereka kecil, mereka sudah seperti keluarga. Tuan Morgan tidak mungkin memliki perasaan kepada Utari.
“Asty, jangan menyebarkan berita bohong seperti itu. Semua orang bisa salah paham,” ujar Sukma kepada Asty.
“Aku tidak bohong, tuan memang mencintai mbak Utari. Aku yakin itu,” gumam Asty namun terdengar jelas di telinga semua orang.
“Sudah jangan di bahas lagi, jika didengar tuan kalian pasti dipecat,” ujar Sukma. Melihat keyakinan diwajah Asty, Sukma menjadi sedikit khawatir.
Saat itu juga Utari tiba di ruangan itu.
“Ada apa, kenapa pada ngumpul disini?” tanya Utari.
“Pagi mbak Utari,” sapa Asty kemudian berdiri di samping Utari. Asty memilih menjadi pendukung Utari. Ia yakin tidak salah dengar ucapan Morgan saat dimobil semalam. Tuan Morgan menyukai mbak Utari.
Kemudian Selvie pun tiba di situ.
“Wiwi,” panggil Selvie pada pelayannya.
Melihat semua orang berkumpul disitu Selvie menjadi heran.
“Ada apa ini?” tanya Selvie.
__ADS_1
“Nyonya, sudah rapih apa butuh sesuatu?” tanya Sena sambil mendekati Selvie.
“Tuan sudah berangkat kerja?” tanya Selvie.
“Sudah Nyah, tadi pukul 7 tuan sudah jalan,” sahut Sena.
“Ya sudah kalian berdua ikut aku, bantu angkat beberapa barang dari bagasi mobilku. Tolong simpan di kamarku,” ucap Selvie.
“Baik Nyah,” sahut Wiwi dan Sena bersamaan.
“Bu Sukma, siapkan sarapanku,” perintah Selvie kepada Sukma.
“Baik Nyah,” Sukma pun bergerak cepat menuju meja makan.
Selvie kemudian menatap Utari dan Asty yang masih berdiri berdampingan.
“Dan kamu,” Selvie menatap angkuh pada Utari. “Sudah berapa kali aku katakan jangan berkeliaran di rumah ini. Melihat wajah mu membuat moodku menjadi buruk,” ujar Selvie kemudian meninggalkan Utari dan Asty.
“Dasar nenek lampir,” sahut Utari.
“Mbak Utari, yang sabar ya mbak, nenek lampir itu tidak bisa melukai mbak. Tuan pasti akan membela mbak,” ujar Asty.
“Maksud kamu?” tanya Utari.
Setelah mengambil segelas air, Utari pun kembali ke kamarnya. Didepan pintu ia di hadang oleh Selvie.
“Utari, ada yang ingin aku bicarakan,” ucap Selvie. Wajahnya tak sedingin sebelumnya, ia sedikit tersenyum dengan nada bicara lembut.
“Bicara dengan ku?” tanya Utari tak percaya.
“Ikut aku,” ajak Selvie.
Selvie membawa Utari menuju ruang baca.
Setiba disana Utari diajak duduk di sebuah kursi panjang. Selvie pun ikut duduk disamping Utari.
“Aku ingin bicara serius dengan mu.Tiba tiba terpikir sebuah ide di kepalaku. Bagaimana kalau aku dan suamiku mengadopsi anak mu?” dengan kelembutan Selvie menyentuh lengen Utari sambil berharap Utari akan setuju. Namun yang di dapat Selvie kali itu adalah sebuah tatapan sini seakan mengintimidasi dirinya.
“Kenapa? Kamu tidak ingin anak mu hidup membawa nama Milano?” tanya Selvie.
__ADS_1
“Miracle anak ku, aku masih bisa membesarkan nya sendiri,” tolak Utari.
“Ya kamu bisa membesarkan nya. Bagaiaman setelah ia besar. Lingkungan sekolah, masyarakat pasti akan melihat status sosialnya yang, em kamu tau dia anak di kuar nikah, dia anak yang tak memiliki ayah,” ujar Selvie. Lagi lagi Utari membalas ucapannya dengan tatapan tajam, kali ini lebih tajam dari sebelumnya.
“Ka kamu jangan marah dulu, aku hanya ingin membantu mu,” ujar Selvie.
“Itu bukan membantu, tapi kamu akan merebutnya dariku,” ujar Utari.
“Tidak, kamu bisa tetap menjadi ibunya. Aku dan suami ku hanya akan menambahnya didalam daftar kartu keluarga kami. Kamu akan tetap menjadi ibu kandungnya. Hanya saja secara hukum, Miracle akan menjadi anak ku,” jelas Selvie.
“Kenapa kamu menginginkan anak ku?” tanya Utari.
“Karena anak mu sangat lucu.”
“Tentu saja karena Morgan sangat menyayangi anak itu. Kamu pikir, bagaimana Morgan bisa perhatian sama kamu? Dia perihatin dengan mu yang harus membesarkan bayi di usia muda, cih,” batin Selvie.
“Setelah Miracle menjadi anakku, kamu bisa melanjutkan karir mu. Kamu bisa kembali mengejar cita cita mu. Kamu juga bisa menikah lagi dengan pria lain, tanpa ada kendala anak mu,” ujar Selvie berharap Utari akan berpikir jernih. Yang ada Selvie malah menerima hardik Utari.
“Kendala?” Kenapa anak ku harus menjadi kendala? Aku tidak akan berikan anak ku kepada siapa pun!” Utari bangkit dari kursi kemudian berjalan keluar.
“Ckckck, Utari. Siapa pria yang akan menerima mu? Apa kamu akan merebut perhatian suami orang untuk membesarkan anak mu itu, oh ya menumpang hidup dari keluarga kaya adalah keahlian kamu. Itukah yang diajarkan ibumu?” ujar Selvie.
Mendengar Ucapan Selvie, Utari menghentikan langkahnya..
“Ya, aku akan merebut perhatian suami orang. Aku akan terus menumpang hidup di keluarga ini hingga aku mati!” tegas Utari, tanpa sadar ucapannya barusan sudah memicu bara panas dalam dada Selvie.
Setelah mendengar tantangan Utari, Selvie bangkit dari kursinya sambil mengepal kedua tangannya. Ia sangat marah, utari berani menantang nya seprti itu.
“Baiklah, aku akan berusaha membuat parasit seperti mu keluar dari akar pohon ini walaupun harus dengan cara kematian sekalipun,” ancam Selvie.
Utari memalingkan wajahnya separuh, hingga sudut matanya bisa menangkap Selvie yang berdiri dibelakangnya. Utari menarik sebuah sudut bibirnya dengan tatapan sinis.
“Coba saja kalau bisa. Hati hati mungkin saja kamu yang akan tersingkir,” setelah Ucapan itu Utari keluar dari ruang baca itu.
Ia sadar sudah menantang Selvie secara terang terangan. Ancaman selvie tidak bisa di anggap main main. Kedepannya Utari harus lebih berhati hati saat berada di rumah itu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung…