Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 39. Sebenci Itu


__ADS_3

Seperti biasa Miracle akan terbangun setiap pukul empat atau lima subuh. Sebelum si kecil itu rewel, Utari langsung mengganti popoknya agar tidak lembab kemudian keluar kamar untuk membuat sebotol susu.


Saat Utari membuka pintu kamar. Ia kaget bukan kepalang, ternyata Morgan sedang berdiri disana. Tangan nya tengah berusaha menopang tubuhnya pada kusen pintu. Kepalanya tertunduk seperti orang keliyengan.


“Tuan.”


“Utari, akhirnya kamu bangun juga,” ucap Morgan yang sejak dua jam yang lalu sudah berdiri di depan pintu itu.


Morgan langsung maju selangkah agar lebih dekat dengan Utari. Ia memegang pundak wanita itu.


“Aku tidak pernah berhubungan dengan nya. Anak itu bukan anak ku,” ujar Morgan seperti sedang berkulum. Aroma alkohol pun langsung menyeruak ke hidung Utari.


“Tuan minum minum lagi?”


“Utari, percaya lah. Aku tidak pernah melakukan hal itu padanya. Aku tidak mungkin melakukannya semabuk apa pun aku. Utari percayalah,” ujar Morgan.


“Tentu saja tuan tidak ingat karena tuan mabuk,” ujar Utari.


Mendengar hal itu Morgan langsung memeluk Utari. Ia bahkan berusaha mencium bibir Utari.


“Aku hanya ingin melakukan hal itu dengan mu Utari, tidak dengannya.”


Karena terus di dorong, tubuh Utari semakin terdesak mundur ke dalam kamar. Morgan terus berusaha mencium Utari. sambil sesekali bergumam betapa ia sangat menginginkan Utari.


“Tuan, sadarlah.” ujar Utari.


“Tidak Utari, aku sangat menginginkan mu. Aku menjadi candu terhadap diri mu seperti yang pernah kita lakukan saat itu. Hanya ada kamu, aku tidak pernah mengijinkan wanita lain, bahkan dalam mimpi sekalipun hanya kamu yang aku inginkan,” ujar Morgan.


Tubuh Utari semakin terdesak ke arah ranjang. Jika ia meladeni nafsu Morgan, mungkin akan ada benih lain di dalam perutnya. Tidak!


Dengan hati hati Utari mendorong tubuh Morgan ke atas ranjang. Pria itu terkulai begitu saja tak ada perlawanan.


Utari berdiri menatap tubuh pria yang terkulai di atas tempat tidurnya.


“Seperti inilah dirimu. Saat mabuk, kamu melakukan apapun yang tidak mungkin kamu ingat keesokan harinya. Jadi bagaimana mungkin anak nyonya bukan tuan?”

__ADS_1


Mata Utari berpendar berpindah ke atas box dimana Miracle sedang bermain.


“Sama halnya dengan Miracle, tuan tidak pernah tau jika Miracle adalah anak tuan.”


Saat itu juga Utari keluar meninggalkan kamar, ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air panas kemudian kembali ke kamar.


Karena Morgan berada di situ, Utari membawa sikecil Miracle ke ruang depan. Tidak nyaman buatnya berada dalam satu kamar dengan Morgan. Terlebih di saat majikannya itu sedang mabuk, ia tidak ingin Selvie berpikir yang tidak tidak terhadapnya.


Hingga pukul 7 pagi, Utari belum kembali ke kamarnya. Ia berjalan berkeliling halaman rumah sembari menyambut matahari pagi. Miracle yang sudah mulai belajar berdiri ia letakkan berpegangan pada tembok taman samping.


“Ayok sayang jalan,” panggil Utari padahal bayinya itu baru saja belajar berdiri sendiri.


“Ayuk dong, sini sama mama,” panggil Utari lagi kemudian si kecil datang ke arahnya namun sambil merangkak. “Yeeay berhasil,” puji Utari pada bayi yang besok hari akan genap berusia 9 bulan.


Kemudian dari arah halaman belakng Sukma datang menghampiri Utari. Wanita itu berdiri tepat di depan Utari tanpa Ekspresi.


“Aku ingin bicara,” ucap Sukma sambil menatap sekeliling taman. Para pekerja kebun belum datang bekerja dan saat itu mereka berada jauh dari dinding rumah. Tak mungkin ada yang mendengar perbincangan mereka.


Utari tak menanggapi, dari mimik wajah ibunya ia tau ibunya pasti akan memarahinya lagi.


“Pergilah dari rumah ini, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk kamu dan anak mu bertahan hidup selama beberapa tahun,” ujar Sukma.


“Ibu mengusirku dari sini?” tanya Utari tak percaya.


“Kamu lihat kondisi dirumah ini sekarang? Nyonya sedang hamil, jangan menjadi tidak tau malu seperti itu Utari. Jangan membuat ku menyesal telah merawatmu selama ini,” ujar Sukma.


“Sebenci itukah ibu terhadapku? Sekalipun aku bukan terlahir dari rahim ibu, namun kita sudah hidup bersama seperti keluarga selama 15 tahun. Sedikitpun ibu tidak memliki rasa kasihan atau perihatin kepadaku? Bagaimana aku dan anak ku hidup di luar sana ibu tidak peduli sedikitpun?” tanya Utari.


“Ibu hanya memikirkan kondisi rumah ini akan seperti apa jika kamu tetap disini. Bersiaplah, beberapa hari lagi ibu akan memberi kamu uang yang cukup untuk biaya hidupmu selama beberapa tahun kedepan,” lanjut Sukma.


“Itu keputusan ku mau pergi dari sini atau tidak. Bukan hak ibu mengatur hidupku,” ujar Utari kemudian pergi dari hadapan ibunya.


Sukma masih berdiri menatap punggung putrinya yang sedang menggendong Miracle.


“Ikut siapa sifat keras kepalanya itu?” gumam Sukma dalam hatinya.

__ADS_1


Sementara itu dalam rumah, Selvie baru saja keluar dari kamarnya. Ia terlihat berjalan menuju pintu samping kemudian kembali masuk menuju ruang kerja Morgan. Karena apa yang ia cari tidak berada disana, Selvie berjalan cepat menuju arah dapur.


Melihat hal itu, Utari tau jika Selvie sedang mencari Morgan.


Selvie kemudian kembali ke ruangan tengah melewati Utari dan Miracle kemudian masuk ke kamar Utari.


Tiba tiba ia keluar dengan cepat menghampiri Utari.


“Mas Morgan tidur dikamar kamu? Kenapa nggak bilang kalau ia ada disana?” tanya Selvie. Ia terlihat marah.


Karena Utari tak merespon pertanyaannya, Selvie kembali mencerca nya.


“Apa maksud kamu? Kamu sengaja ingin membuatku marah? Kamu pasti tidak suka karena sekarang aku sedang mengandung anak mas Morgan. Iya kan? Jadi kamu sengaja terus menggoda mas Morgan. Utari sikap mu sudah sangat keterlaluan. Kamu ingin merebut suami ku? Aku sedang hamil anaknya!” ucap Selvie, ia emosi, kesal, sedih dan takut. Semakin hari ia semakin takut jika Morgan tak mau mengakui anak dalam kandungannya karena Utari.


“Utari jawab aku,” hardik Selvie.


“Nyonya, tarik nafas. Tenangkan diri nyonya. Wanita hamil yang baik itu harus lebih bersabar, dijaga emosinya agar janin bisa tumbuh dengan sehat,” tutur Utari sebagai wejengan untuk majikannya itu.


“Kamu!” saat itu Selvie langsung memegang perutnya. Ucapan Utari ada benarnya. Tapi? Tentu Selvie akan selalu kesal dan marah jika melihat Utari. Apalagi dia dan Morgan tidur bersama semalam!


Selvie terduduk lemah pada sofa di hadapan Utari.


“Kamu tega berbuat seperti ini Utari, kamu juga seorang wanita. Apa yang kamu rasakan saat hamil dan pria yang menghamili mu tidak bertanggung jawab. Kamu ingin merebut suamiku, ayah dari anakku. Dimana hari nurani mu?!” ucap Selvie lirih. Mungkin ia lelah berlaku kasar pada Utari. Kali ini Selvie mencoba menjadi korban, mungkin saja Utari akan tersentuh.


Benar saja, Utari menatap wajah Selvie. Ia mulai terlihat iba.


“Aku tidak pernah membawa tuan masuk ke kamarku, dia tiba pukul 5 subuh tadi dan langsung tertidur. Aku sendiri tidak bisa masuk ke kamar karena ada tuan disana. Sebaiknya nyonya membawa tuan ke kamar nyonya, anakku juga butuh istirahat di ranjangnya,” ujar Utari.


Utari bangkit dari kursi kemudian menggendong Miracle. “Nyonya tenang saja, aku tidak akan merebut tuan dari nyonya!”


.


.


.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2