
Setelah Morgan pergi dari ruangan itu Sukma duduk termangu dengan seribu macam kegelisahan pada wajahnya. Wajah yang tadinya berpura pura sedih karena kepergian Utari kini berganti tertekuk murung. Mengingat perihal pertanyaan Morgan barusan, nomor ponsel Eko anak nya hingga kini belum bisa di hubungi.
Dimana Eko? Apa dia baik baik saja? Berbagai pertanyaan yang bolak balik seliweran dalam pikiran Sukma.
Melihat ketidak nyamanan pada wajah Sukma, Selvie pun memberanikan diri bertanya.
“Kenapa dengan Eko bu Sukma?” tanya nya. Ia pun sedikit penasaran kenapa Morgan mencari Eko.
“Itu Nyah, anak saya Eko nomor ponselnya tidak bisa di hubungi. Sejak berhenti bekerja sebagai sopir nyonya, dia tidak pernah muncul kesini,” jawab Sukma dengan nada khawatir.
Selvie terbatuk kemudian pergi begitu saja meninggalkan Sukma sendirian di ruang tengah. Selvie berjalan cepat menuju kamarnya.
Sukma tidak menghiraukan kepergian Selvie, ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi suaminya Marwan. Beberapa saat kemudian terdengar suara Marwan dari sebrang.
“Iya bu?” sapa Marwan.
“Pak, Anak kita tidak bisa di hubungi ponselnya, bapak coba bantu ibu ke rumah ngecek dia kalau dia ada di rumah, mungkin saja dia dirumah sedang sakit,” pinta Sukma pada suaminya.
“Bapak kemaren sudah ke rumah, rumah kosong. Kata tetangga sudah hampir sebulan Eko nggak pulang. Terakhir Eko pulang bersama seorang wanita cantik,” ujar Marwan.
“Wanita canti siapa pak?” tanya Sukma.
“Bapak juga nggak tau bu.”
“Pak, apa jangan jangan anak kita di culik rentenir Mokey pak. Gimana ini pak?” tanya Sukma dengan nada khawatir.
“Ibu ngomong apa? Jangan membuat takut diri ibu sendiri. Buat apa mereka menculik Eko, kalau pun di culik nggak mungkin mereka nggak menghubungi kita, toh hutangnya belum dibayar. Niat rentenir itukan agar uang mereka segera lunas,” ujar Marwan sedikit mengurangi khawatir pada istrinya.
“Jadi anak kita dimana dong pak?” tanya Sukma lagi.
“Nanti bapak coba cari lagi, mungkin dia sedang di rumah judi,” ucap Marwan.
“Pak, jika ketemu suru dia pulang segera. Katakan padanya ibu sudah memiliki uang untuk membayar hutangnya,” ujar Sukma.
“Ibu dapat uang dari mana?” tanya Marwan penasaran.
“Ada lah pak, ibu pinjam dari teman ibu,” jawab Sukma.
“Ibu!” gertak Marwan. “Sudah bapak katakan jangan pernah mendapatkan uang dengan cara memanfaatkan Utari lagi. Bapak paling tau sifat ibu, awas saja jika ada kejadian lagi dengan Utari. Sore bapak akan ke situ!” ancam Marwan yang tau persis kelakuan istrinya.
Ya, sejak dahulu istrinya itu memang sudah sering memanfaatkan Utari. Sejak Utari di adopsi oleh mereka, Utari sudah mendapat jatah bulanan dari tuan Morgan. Namun semua jatah bulanan Utari masuk ke rekening Sukma diluar gaji yang Sukma terima karena merawat Utari. Memasuki SMP, Utari sudah di suruh bekerja di rumah besar itu sebagai pembantu oleh Sukma untuk mengurangi pekerjaannya di rumah itu. Dengan alasan Utari sendiri yang ingin bekerja, itulah kenapa Morgan memberikan pekerjaan mudah untuk Utari yaitu menyiapkan keperluan Morgan setiap hari. Sejak itu pula uang jatah bulanan Utari dilipatgandakan oleh Morgan. Namun Utari hanya diberikan jatah 10 % dari total uang yang diterimanya, tentu saja sebagian besar gaji Utari masuk ke rekening Sukma.
__ADS_1
Bahkan setelah Utari berkuliah di Surabaya, jatah bulanan Utari masuk ke rekening Sukma tanpa sepeserpun dikirim kepada Utari. Selanjutnya, Utari di jodohkan dengan anak sahabatnya yang buta dengan iming iming uang besar. Dan kini Sukma memliki uang banyak untuk membayar hutang Eko, dari mana asal uang itu. Tentu saja Marwan menjadi curiga. Tidak mungkin Sukma mempunyai uang sebanyak itu jika tak ada yang ia manfaatkan.
…
Setelah menutup panggilan telpon Marwan menjadi khawatir. Ia harus pulang ke kediaman Milano untuk memastikan dari mana asal uang yang dimiliki istrinya itu.
Namun sebelum pulang, Marwan mampir dibeberapa tempat judi untuk mencari anak nya, ia juga singgah di warung makan langganan Eko untuk bertanya. Kemudian Marwan menuju kompleks rumah mereka untuk bertanya di beberapa warung terdekat jika mungkin ada yang melihat Eko di sekitar situ. Namun semua tempat yang di datanginya tidak membuahkan hasil.
Menjelang sore, Marwan memutuskan untuk pulang ke kediaman Milano. Ia harus menemui Istrinya dan tentu saja anak nya Utari.
Setiba di kediaman Milano, Marwan langsung menemui Sukma.
“Bapak, bagaimana bapak sudah mencari anak kita Eko?” tanya Sukma.
“Dimana Utari?” Marwan balik bertanya ia kini lebih mengkhawatirkan anak nya Utari dari pada Eko.
“Utari di dalam pak,” jawab Sukma. “Bapak sudah makan?” tanya nya agar pembicaraan teralihkan.
“Siap kan makanan di gazebo belakang, bapak akan makan di sana bersama Utari. Suru dia menyusul bapak di sana,” ujar Marwan sambil berjalan menuju bangunan belakang.
Sukma berjalan cepat menyusul suaminya.
“Ya sudah, kamu siapkan makan malam kemudian bantu Utari mengurus anaknya. Suru dia menemui bapak. Bapak akan tunggu di belakang,” Marwan terus berjalan meninggalkan Sukma yang akhirnya berdiri mematung.
“Dasar! Dalam otak nya hanya ada Utari. Setiap pulang pasti bikin kesal,” umpat Sukma kemudian berbalik badan. Ia harus membuat makan malam kemudian mencari alasan tepat yang harus ia katakan kepada suaminya.
Beberapa jam berlalau, Marwan masih menunggu Utari di gazebo belakang rumah tempat andalan Marwan saat pulang ke kediaman itu.
Hingga menjelang pukul 7 malam orang yang di tunggu belum juga muncul. Marwan hendak pergi mencari Utari kemudian Sukma tiba di situ dengan nampan besar berisi makanan.
“Bapak makan dulu pak,” ujar Sukma.
Kepala Marwan mencari ke belakang sukma jika saja Utari menyusul di belakangnya. Hingga selesai makanan di hidangkan Utari tidak kunjung tiba.
“Dimana Utari?” tanya Marwan.
“Bapak makan dulu lah pak, sedari tadi yang di cari Utari terus. Emang Utari bisa bikin bapak kenyang?” ujar Sukma mulai kesal.
“Ya sudah, aku akan masuk mencarinya. Aku ke sini karena ingin bertemu dengan nya bukan untuk makan,” ujar Marwan kemudian bangkit dari duduknya. Ia akan mencari Utari di dalam rumah besar.
“Pak,” cegah Sukma. “Bapak jangan bikin ribut didalam, nyonya sedang hamil dia sedang sensitiv, Utari sedang merawatnya,” ucap sukma asal.
__ADS_1
“Siapa yang mau bikin ribut? Saya ingin melihat anak saya,” ulang Marwan.
“Sudahlah, bapak makan dulu. Setelah merawat nyonya Utari akan ke sini,” ucap Sukma.
Marwan merasa ada yang tidak beres. Ada apa dengan Utari? Kenapa begitu susah untuk bertemu dengannya. Sukma terus mencari alasan agar Marwan tidak masuk ke rumah utama. Ia membuat alasan yang tidak masuk akal.
Tanpa banyak bicara Marwan berjalan menuju rumah utama. Ia tidak percaya ucapan Sukma sebelum melihat Utari secara langsung.
Dibelakang Marwan, Sukma berusaha mencegah Marwan dengan seribu macam alasan. Hingga tiba di teras dapur rumah utama.
Disana Asty dan Wiwi sedang memasukan sisa sisa makanan ke dalam kantong sampah. Kedua wanita itu terlihat kaget akan kehadiran Marwan.
“Bapak, mencari siapa?” tanya Wiwi.
“Dia suami bu sukma,” bisik Asty di telinga Wiwi.
“Ooo,” sahut Wiwi sambil membulakan bibirnya.
“Dimana Utari?” tanya Marwan.
“Utari? Bapak mencari mbak Utari? Tapi mbak Utari tidak ada dirumah pak,” jawab Asty dengan polos.
“Ayo pak, kita bicara di belakang,” ajak Sukma.
Marwan tak menghiraukan istrinya itu. Ia melanjutkan bertanya pada Asty.
“Utari pergi kemana?” tanya Marwan lagi.
“Kami juga belum tau mbak Utari pergi kemana,” jawab Asty kemudian terdiam. Dibelakang Marwan, Sukma terus memberi kode agar tutup mulut. Saat itu juga Asty langsung mengatup rapat kedua bibirnya kemudian menunduk.
“Pak, makan malam bapak sudah siap, kita makan sambil bincang di belakang pak,” ajak Sukma.
Dengan perasaan tak karuan Marwan kembali ke gazebo bersama Sukma. Ia yakin pasti sudah terjadi sesuatu dengan Utari. Ia harus meminta penjelasan Sukma ke mana Utari pergi.
.
.
.
Bersambung…
__ADS_1