Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 68. Secarik Akta


__ADS_3

Siara dering keras ponsel dari kantong baju Morgam tentu mengganggu aktivitas saling pagut di pinggir jalan itu.


"Aishhh," dengan kesal Morgan meraih ponsel dari saku bajunya. Nama Rayhan tertera di layar hp itu.


"Angkat," ucap Utari sambil membenarkan posisi duduknya. "Kamu tinggalkan Mirey dengan Rayhan kan?" ulang Utari.


"Halo," baru saja sepatah kata suara Jessie sudah melengking dari balik telpon beradu tangis dengan si kecil Miracle.


"Kalian ke mana sih? Anak kalian nangis nih nggak bisa di bujuk."


Utari meraih ponsel dari tangan Morgan, sedangkan Morgan langusng duduk rapih di balik kemudi kemudian melanjutkan perjalanan.


"Ia Jess, bentar lagi kami tiba. Mirey, mama pulang nak," seru Utari.


"Buruan sayang, kamu tau sendiri Mirey nggak bisa jauh dari pandangan kita."


Morgan menambah deru mobil sambil tersenyum puas. "Gitu dong," gumamnya mendengar panggilan sayang Utari.


Setiba di rumah sakit si kecil Miracle masih menangis. Namun tangisan itu mereda begitu Morgan membawa Mirey ke dalam pelukannya.


Jerry dan Rayhan dengan boneka dan mobil mobilan di tangan mereka langsung terduduk lemah di atas kursi.


"Aduh, ga kebayang kalo mama papa mu berbulan madu. Gimana jadinya kami," Jerry menggerutu di ujung sofa sambil mengipas ngipas tangan nya ke arah wajahnya.


"Jer, setelah ada satu lagi tugas untuk mu. Besok lengkapi berkas ku dan Utari bawa ke KUA. Aku harus segera menghalalkan hubungan kami."


"KUA?" pekik Utari.


"Ya kenapa? Mau di tunda sampai kapan?" ulang Morgan melirik Utari.


"Tapi kita masih di rumah sakit, dan aku-"


"Ga ada tapi tapi, aku akan mengurus semuanya." potong Morgan.


"Bagus dong Tari. Semakin cepat semakin baik. Hal baik ga boleh di tunda tunda," ujar Rayhan.


Jessie mendekat pada Utari kemudian memeluknya. "Selamat sayang ku, akhirnya." Jessie mengecup Utari di pipi kirinya. "Dua Minggu depan kami ke prancis, bulan madu kami yang gagal kemaren di jadwalkan ulang ke minggu depan. Huffttt, sekarang ada suami mu yang menjaga mu, aku jadi lega meninggalkanmu tari," ulang Jessie.


"Maaf karena kami, bulan madu kalian jadi tertunda," Utari membalas pelukan Jessie.


Tiba tiba Morgan berbisik sesuatu di telinga Miracle.


"Eh eh pak Morgan kamu jangan meracuni otak anak kecil. Kamu berbisik apa ke Mirey," tegur Rayhan.


Morgan kemudian memberikan Miracle ke tangan Rayhan.


"Lihat kan? Mirey menyukaimu, hitung hitung sebagai latihan menggendong bayi." ucap Morgan sambil menatap kagum ke arah Rayhan.


"Waah, Ray. Kok tumben dia betah di kamu. Kenapa ga dari tadi kamu gendong?" ucap istrinya Jessie.

__ADS_1


"Aura kebapakan nya terasa di mirey kali Jess," tambah Utari.


" Oh Jadi maksud lu, gue ga ada aura keibuan gitu?" sergah Jessie kesal.


"Ya berarti kamu harus lebih banyak latihan. Kata orang orang, kalau kita sering menggendong bayi lelaki, kita kita akan ketularan anak lelaki loh," lanjut Morgan dengan binar pada matanya.


"Bener?" tanya Jessie serius. Ia kemdian mengambil Mirey dari tangan suaminya. Awalnya Miracle sedikit rewel namun lama lama anak kecil itu malah tertawa gembira jepada Jessie dan Rayhan.


Utari dan Morgan tersenyum puasa menatap pemandangan di hadapan mereka.


.


.


.


Setelah Miracle keluar dari rumah sakit, Morgan membawa Utari dan Miracle menginap di sebuah hotel karena rumah sedang di renovesi. Morgan melakukan pembongkaran besar besaran pada rumah peninggalan kedua orang tuanya. Hal yang sebelumnya tak ingin ia rubah walau hanya sekecil apa pun kini berubah pikiran. Rumah model lama itu akan segera menjadi baru dalam beberapa pekan ke depan.


Pagi itu Utari dan Miracle sedang di lobby hotel untuk sarapan pagi, sambil menunggu Asty datang ke situ.


Sementara belum menemukan babysiter yang cocok, Asty di tugaskan Utari untuk membantu menjaga Miracle. Sementara rumah belum selesai direnovasi, Asty pun dengan senang hati menerima tugas barunya itu.


Asty pun tiba sesaat setelah Utari dan Mirey menyarap.


"Mbak tari, Mirey," panggil Asty setelah bertemu Utari dan Mirey di loby hotel.


"Sudah mbak, tentu Asty harus makan dulu sebelum jalan," jawab Asty sambil bermain main dengan jari jemari Miracle.


"Mirey, tante Asty gendong yuk?" ajak Asty.


Miracle berpaling bergelantungan di leher Utari dengan erat.


"Pelan pelan saja Asty, lama lama Mirey akan suka kok," ujar Utari.


"Yuk, kita ke kamar dulu, aku harus siap siap soalnya."


Setiba di kamar, Asty langsung menemani Miracle bermain, sedangkan Utari, ia sibuk berdandan dan berpakaian rapih di dalam kamar mandi.


Setelah beberapa saat, Utari keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang berbeda jauh dari sebelumnya.


"Mbak Utari rapih banget hari ini," seloroh Asty sambil terkagum kagum menatap Utari. Ia tengah mengenakan pakaian semi kebaya, atasan berwarna putih dan bawahan coklat keemasan. Penampilan nya terlihat sangat cantik dengan rambut yang di gulung rapih ke belakang. Sederhana namun begitu elegan.


"Ya, aku dan papanya akan ke suatu tempat. Hari ini kamu jaga Mirey di rumah Jessie. Ada Jessie dan Rayhan Miracle ga akan rewel."


Selang beberapa saat Morgan tiba di situ. ia berpakaian tak kalah rapih dengan Utari. Setelan dengan warna senada seperti pasangan yang akan pergi ke acara resmi.


Setelah membawa Asty ke rumah Jessie dan Ray, Morgan dan Utari menuju ke kantor KUA untuk ijab kabul mereka.


Semua berkas, foto, dan buku nikah telah siap. Utari dan Morgan menuju musholah kecil dalam lingkungan KUA. Penghulu dan beberapa orang saksi, maupun wali telah menunggu mereka di sana.

__ADS_1


Acara ijabkabul berlangsung dengan penuh khidmad. Rona bahagia terpancar dari wajah pasangan pengantin itu.


"Istriku," panggilnya lagi kemudian mengecup dahi Utari.


"Istriku."


Utari mencubit pelan pinggang Morgan.


"Jangan ke kanak kanakan ah."


Petugas KUA dan beberapa orang yang tersisa disitu tersenyum lebar menatap kedua pasangan baru itu.


"Pak Morgan, seharusnya tidak perlu repot repot ke sini. Kami petugas bisa menyambangi kediaman bapak," ucap petugas itu ramah.


"Ga apa pak Tama. Seperti ini segala urusan jadi lebih cepat selesai."


"Prosesnya pasti cepat, tadinya aku berpikir pak Morgan harus menyiapkan surat cerai terlebih dahulu dari pernikahan sebelumnya. Aku tidak menyangka ternyata pernikahan bapak itu hanyalah rumor belaka," ujar pegawai KUA itu.


"Begitulah," jawab Morgan singkat, ia sengaja tak ingin memperperpanjang pembahasan mengenai Selvie.


"Walinya kamu dapat dimana?" tanya Utari yang sejak tadi mengganjal dalam pikirannya.


"Oh ya, pak Diman ini adalah sepupu jauh ayah mu. Jerry mencarinya sejak beberapa hari lalu. Pak Diman ternyata migrasi ke palembang," jelas Morgan.


"Kakek mu hanya mempunya seorang anak, paman adalah sepupu tertua dari keluarga ayah mu. Mendengar keponakan akan menikah tentu paman tak bisa menolak hal baik ini," ujar pak Diman bersahaja.


"Terimakasih paman sudah jauh jauh datang ke sini," ucap Utari.


"Pak Diman, pak Tama. Kami pamit dulu, hari ini ada urusan penting lain yang harus aku selesaikan. Pak Diman, Jerry asistenku akan menjemput bapak. Dia sedang dalam perjalanan ke sini," ujar Morgan.


"Baiklah," sahut pak Diman dan pak Tama hampir bersamaan.


Setelah merapihkan berkas ke dalam map, Morgan dan Utari pergi dari ruangan itu. Morgan membawa Utari menuju kediaman Jessie. Miracle menunggunya disana.


Setelah Utari turun dari mobil, Morgan bergegas pergi. Banyak urusan pekerjaan yang harus ia selesaikan hari itu.


Utari masih berdiri menatap mobil Morgan berlalu dari halaman rumah.


Sesaat ia menarik nafas penuh masuk ke dalam paru parunya kemudian membuang udara itu serempak keluar, tiba tiba Utari teringat sosok Selvie. Hari itu adalah sidang perdana Selvie. Perasaan benci nya kepada wanita itu kini berubah menjadi perasaan kasihan.


"Cerita pernikahan Morgan dan Selvie akhirnya hanya menjadi sebuah rumor di kalangan masyarakat. Selvie dan Morgan memang tidak benar benar menikah. Selvie berusaha mendekati Morgan hanya demi secarik akta nikah. Ia melakukan segala hal untuk menjadi istri sah Morgan." Utari membatin sambil terus menatap mobil yang kini menghilang di balik pagar.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2