
Utari mengantar Morgan hingga ke depan pintu Mobilnya. Setelah mobil itu menghilang dari balik pintu pagar, Utari berjalan masuk ke dalam rumah.
Setibanya di sana, dua orang wanita sudah menunggunya di depan pintu kamar. Mereka menatap Utari seakan sedang menagih hutang terhadapnya.
Kemudian Sukma membawa masuk Utari ke dalam kamar.
“Kamu janji akan pergi hari ini juga kan?” tanya Sukma.
Utari diam, karena ia sangat berat pergi dari rumah itu.
Kemudian Selvie mengeluarkan ponsel dari dalam saku bajunya. Ia menunjukkan sebuah berita yang sedang trending dari sebuah situs pencarian.
“Perusahan mas Morgan sedang di ambang kehancuran. Jika kamu terus disini maka aku akan meminta ayahku untuk menjatuhkan Morgan hingga makin jatuh. Ia bahkan tak bisa bangkit dari keterpurukannya. Dan ia akan kehilangan perusahan yang di bangun kedua orang tuanya dengan susah payah,” ujar Selvie.
Utari mengambil ponsel tersebut kemudian membacanya sejenak.
Memang benar, Milano grup terlilit hutang. Anak cabang perusahan sebagian besar telah melepaskan diri dari induk grup tersebut. Bahkan pemiliknya Morgan Milano sekarang sulit di hubungi untuk dimintai keterangan oleh beberapa pemegang saham. Hingga berita itu terbit, Morgan masih tidak bisa mereka hubungi untuk diwawancarai mengenai kebangkrutannya.
Utari kembali menyerahkan ponsel Selvie setelah membaca tuntas berita tersebut.
“Setelah Morgan terpuruk, apa yang bisa kalian lakukan? Jika Morgan tetap bersama ku, aku akan meminta ayahku untuk membantunya keluar dari masalah keuangan yang ia hadapi,” ujar Selvie kemudian.
“Pergilah Utari, lagian nyonya sedang hamil anak tuan. Masa kamu tega membuat mereka berpisah,” bujuk Sukma.
“Aku akan pergi,” ucap Utari singkat padat dan jelas. Ia tak ingin lagi mendengar desakan dari kedua orang di hadapannya.
“Kalau begitu, kamu siapkan barang barang secukupnya yang akan kamu bawa, ibu akan berdiskusi dengan nyonya,” ujar Sukma.
Utari menunduk sambil mengangguk. Ia bisa berbuat apa lagi? Sejak beberapa hari terakhir ia sudah berpikir jernih bahwa jalan keluar adalah ia harus pergi meninggalkan rumah itu. Kenapa harus kembali bimbang hanya karena perlakuan baik tuan Morgan pagi tadi? Sejenak ia merasa seperti istri sah dari tuan padahal bukan.
“Berbenah lah, ibu akan kembali ke sini untuk membantu mu,” ujar Sukma kemudian keluar dari ruangan itu bersama Selvie.
Sepeninggal dua orang wanita itu, Utari mulai mengemas beberapa barang penting yang hendak di bawanya.
Sementara itu di ruangan lainnya, Sukma sedang mengitung hitung uang dalam tas yang baru saja diberikan Selvie. Total uang tunai senilai 500 juta sudah ia sisihkan didalam sebuah tas jinjing untuk diberikan kepada Utari. Sedangkan sebagian besar Uang ia simpan kembali di bawah tempat tidurnya.
__ADS_1
“Uang segini pasti cukup untuk biaya 2 orang hidup selama 2 tahun. Mereka harus belajar berhemat. Aku saja bisa merawat anak sambil bekerja, Utari juga harusnya begitu, dia bisa mencari pekerjaan sambilan sambil mengurus anak. Ya uang ini cukup,” gumam Sukma setelah selesai mengemas uang dengan rapih.
Sukma pun berjalan keluar dari kamar nya menuju kamar Utari. Setiba di kamar itu, Utari sudah selesai mengemas beberapa barang yang akan ia bawa. 4 koper dan 1 kardus besar.
“Semua keperluan penting sudah kamu siapkan?” tanya Sukma.
“Segini cukup,” sahut Utari.
“Oh ya, kalian akan kemana?” tanya Sukma lagi.
“Paling saya akan cari tempat kos di pinggiran kota bu,” ujar Utari.
“Jangan, kamu harus keluar kota. Gunakan kereta api dan pergi sejauh mungkin. Ingat, pergi yang jauh. Jika tidak tuan apati akan menemukan kalian,” saran Sukma antusias.
Utari hanya mengangguk mengiyakan dengan perasaan sedih yang mendalam. Bagaimana tidak, sang ibu begitu ingin ia pergi dan tak kembali lagi.
“Dan ingat, harus berhemat. Ini ada uang 500 juta, uang ini pasti cukup untuk kalian hingga beberapa tahun kedepan. Sebelum uang ini habis sebaik nya kamu mencari pekerjaan, dan hiduplah yang baik di sana,” ujar Sukma seraya menyerahkan tas uang kepada Utari.
“Baik bu,” ucap Utari sambil menerima uang dari tangan Sukma. “Uang ini pasti pemberian nyonya.”
“Baik bu terima kasih, saya ingin bertemu nyonya,” ucap Utari.
“Eh untuk apa?” tanya Sukma.
“Saya ingin berterima kasih.”
“Sudah, nyonya sedang mual, dia masih didalam kamarnya. Sebaiknya kamu cepat pergi sekarang sebelum tuan pulang,” ujar Sukma lagi.
“Oh ya, ibu sudah menghubungi taxi. Taxi akan mengantar kamu menuju stasiun kereta api. Ibu minta maaf karena tidak bisa mengantar kalian. Ibu pasti akan merindukan kalian,” ujar Sukma.
“Baik bu,” ucap Utari kemudian memeluk ibunya itu.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Sukma mengijinkan tubuhnya dipeluk oleh Utari. Utari memeluk tubuh ibunya itu dengan erat di iringi linangan airmata.
“Maaf kalau Utari banyak merepotkan ibu,” ujar Utari tertahan karena berusaha menahan agar tidak mewek terlalu keras.
__ADS_1
“I iya, ibu juga,” sahut Sukma sambil memeluk pundak anak nya itu.
“Kamu hati hati disana,” ujar Sukma. Saat itu ia berucap dengan tulus, entah perasaan apa yang menghampirinya hingga ia pun menjadi sedih. Bahkan ia ingin menetes akan air mata karena iba melihat Utari yang kini menangis.
“Utari pamit ya bu, jaga kesehatan ibu dan ayah. Salam buat kak Eko. Kalian jaga diri,” ucap Utari lagi.
Tanpa sadar air mata sudah menetes dari pelupuk mata Sukma. Ia menjadi sedih seketika.
“Sudah, ibu pasti akan baik baik saja,” ucap Sukma sambil mengurai pelukannya.
Pukul sepuluh, klakson mobil terdengar berbunyi di depan rumah, sebuah taxi berwarna kuning sudah menunggu Utari di sana.
Setelah semua barang barang masuk ke dalam bagasi mobil, Utari dan Miracle masuk belakangan. Mobil kuning itu membawa mereka pergi tanpa sepengetahuan pelayan lainnya.
Beberapa saat Sukma masih berdiri di depan pintu, ia masih menatap arah berlalu nya taxi yang ditumpangi Utari. Setelah menghempaskan nafasnya, Sukma kembali masuk ke dalam rumah.
Disana Selvie sudah berdiri menunggunya.
“Ingat, apa pun yang terjadi mas Morgan tidak boleh tau hal ini. Anggap saja Utari pergi secara diam diam atau kita semua akan dalam masalah,” ujar Selvie.
“Saya tau nyonya,” jawab sukma kemudian mengatup bibirnya.
“Sore nanti aku akan menghubungi Morgan mengatakan Utari pergi dari rumah, kita harus berpura pura kaget. Jika perlu bu sukma menangis khawatir agar terlihat lebih nyata,” saran Selvie.
“Saya tau nyonya, apa pun yang terjadi saya tidak akan mengatakan apa pun kepada tuan. Utari pergi dari rumah ini secara diam diam,” ucap sukma meyakinkan.
“Bagus!”
Selvie melangkah masuk penuh kemenangan. Ia menganggap hari itu adalah hari baru untuk dirinya dan Morgan juga anak dalam kandungannya. semenjak Utari ada di rumah itu, hidup Selvie tidak pernah tentram. Kini pembawa sial itu telah pergi, maka tak akan ada lagi kesialan di dalam rumah besar tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung…