
Suara Miracle tertawa renyah menggema di seisi ruangan begitu Utari memasuki pintu rumah besar itu. Hal gembira apa yang membuat ia tertawa seperti itu. Utari pun berjalan cepat menuju sumber suara itu.
Setiba di sana, tante Anita, Jessie dan Asty sedang duduk mengelilingi Miracle. Mereka bermain lempar tangkap bola bersama si kecil yang mulai cerewet dengan hal apa pun yang di dengarnya. Celoteh Miracle dan tawa girang nya saat melempar bola ke arah wajah tante Anita membuat semua orang tertawa. Utari mengehentikan langkahnya menikmati pemandangan tersebut.Ternyata di dunia ini masih begitu banyak orang yang menyayangi anaknya.
Dahulu Utari sempat berkecil hati saat tau ia hamil di luar nikah. Hal yang dulu di anggapnya terlalu berat untuk menghidupi anak di usia muda, dan bagaimana tanggapan dunia terhadap dirinya. Serta semua hal yang dilaluinya dan segala permasalahan hidup mejadi single parent di usia muda. Kini semua hal itu hanya menjadi kenangan indah masa lalu belaka. Nyatanya Utari berhasil melewati semuanya. Dan ia bahagia kini, orang orang di sekitarnya menerima dan bahkan mencintai ia dan anak nya dengan tulus.
"Masalah apa pun itu, asal kita berani menghadapinya pasti akan berlalu seiring berjalannya waktu. Jika saja waktu itu aku mengambil keputusan menggugurkan kandungan, aku tak tau apa yang terjadi dengan diriku sekarang."
"Mama," suara kecil Miracle berhasil membuyarkan lamunan Utari.
"Mama?" ulang Utari sambil mengikuti arah mata Miracle.
"Tari, kamu sudah pulang," ujar tante Anita.
"Aku sudah pulang sejak beberapa menit lalu, aku nggak mau mengganggu kalian bermain. Sangat jarang melihat Miracle berbaur seperti ini," Utari berjalan bergabung bersama mereka duduk di atas lantai beralaskan karpet biru.
"Makanya, sering seringlah bawa Mirey ke sini. Tante luang sepanjang hari, hitung hitung ada yang bisa tante ajak tertawa," ucap Anita kemudian melirik ke arah Jessie.
"Kamu kapan?" lanjut Anita.
"Mama, ini juga sedang usaha." Sahut Jessie manyun.
"Nenek," panggil Mirey kemudian.
"Wah mama bener bener hebat. Semua yang mama ajarkan ke Mirey langsung di ucapkan dengan lancar," jessie berujar takjub kepada sang ibu.
"Makanya buruan bawa pulang momongan ke mama, mama paling ahli merawat anak kecil," sahut Anita berbangga diri.
Hari itu Utari dan Miracle puas bermain di rumah tante Anita ibunda Jessie. Sore harinya pak Danu yang menjemput Utari dan Mirey dari rumah Jessie.
.
.
.
Sudah beberapa hari Utari dan Morgan resmi menjadi suami istri, namun ia hanya bisa bertemu Morgan beberapa jam saja dalam sehari. Morgan akan pulang hampir pukul dua subuh setiap hari kemudian berangkat kerja awal pagi. Entah kesibukan apa yang di lakukannya di kantor hingga begitu banyak menyita waktunya.
Sepulang kerja, karena sudah terlalu larut Morgan tidak mengganggu tidur Utari. Ia akan diam diam naik ke atas ranjang kemudian berbaring di samping Miracle. Begitu seterusnya hingga seminggu lagi berlalu.
Suatu pagi, setelah bangun tidur Morgan langsung menuju kamar mandi. Ia mandi dengan buru buru kemudian berpakaian. Tanpa sarpan ia langsung berpamitan kepada Utari.
__ADS_1
"Sayang aku berangkat kerja dulu. Oh ya hari ini Asty akan ke sini menemani kamu, maaf aku buru buru," sambil mencium dahi Utari.
"Sayang, kamu kenapa akhir akhir ini tidak pernah meluangkan waktu untuk," Utari belum sempat menyelesaikan ucapannya, Morgan sudah melambai menuju pintu kemudian pergi begitu saja.
"Apa apaan ini? Sebenarnya kesibukan apa yang sedang di kerjakannya? Sejak menikah dia bahkan tak pernah memperlakukan ku seperti istrinya. Apa dia menyesal telah menikahiku?"
Karena Miracle sudah bangun, pikiran Utari jadi teralihkan pada anaknya itu. Ia harus memandikan Miracle, membuat segelas susu kemudian membawanya sarapan di lantai 1 hotel. Sejak Morgan membawa Utari tinggal di hotel mewah itu, tak banyak yang bisa Utari lakukan. Setiap hari ia hanya akan menghabiskan waktu bermain bersama Miracle.
Diiingggg
Suara bel pintu berbunyi beberapa kali, Utari berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang pagi itu.
"Pagi mbak Utari," sapa Asty begitu Utari membuka pintu.
"Asty?" Utari menatap Asty yang berdiri ceria di depan pintu dengan 2 buah koper di tangannya.
Asty berjalan masuk tanpa aba aba Utari, ia menerobos langsung mencari dimana keberadaan Miracle. Bayi itu sedang berdiri berpegangan pada ranjang hanya dengan mengenakan popok.
"Kamu mau ke mana dengan koper sebanyak itu?" tanya Utari berjalan menyusul di belakang Asty.
"Loh mbak nggak tau? Tuan yang menyuruhku ke sini. Dia menyuruhku membawa pakaian, katanya untuk beberapa hari ke depan aku harus menemani mbak. Tuan bahkan menyuruhku membawa banyak jenis pakaian hangat."
"Kata tuan?" ulang Utari.
"Tuan sibuk kerja, hari ini ia ada meeting bulanan dengan para pemegang saham. Kata tuan saya temani mbak disini. Rumah mungkin sebulan dari sekarang sudah bisa di tinggali." jelas Asty.
"Dia bicara begitu banyak dengan Asty, sedangkan dengan ku? Dia bahkan pergi tapa aku menyelesaikan ucapan ku," gumam Utari kesal.
"Kenapa mbak?" tanya Asty melihat wajah Utari cemberut dengan mulut nya komat kamit.
"Nggak apa, apa lagi kata tuan?" katanya hari ini asty siapkan peralatan makan Den Mirey, siapkan beberapa pasang bajunya saja. Tuan akan menjemputnya sore ini," lanjut Asty.
"Hanya Mirey?"
Asty menatap Utari heran. "Hm, soal itu Asty juga kurang tau, mbak siap siap saja siapa tau mbak juga di ajak."
Mendengar ucapan Asty, Utari semakin kesal karena dirinya tak di anggap sama sekali oleh Morgan.
Menjelang sore, Asty telah menyiapkan segala hal yang diperintahkan oleh Morgan. Perangkat makanan, botol susu, waslap, dan beberapa potong pakaian Miracle. Asty dan Miracle tinggal menunggu aba aba selanjutnya dari Morgan.
Beda halnya dengan Utari, ia masih mengenakan daster, cemberut seharian karena kesal dan uring uringan. Bagaimana jika Morgan membawa Miracle pergi jauh, ia hanya membawa Asty yang tentu akan merawat Miracle. Apakah Morgan menyesal telah menikah dengannya?
__ADS_1
Pikiran Utari dipenuhi pertanyaan pertanyaan. Selama Asty mempersiapkan Mirey, Utari hanya duduk di sofa, pindah ke ranjang, menyetel tv dan berbaring. Hingga akhirnya bel pintu berbunyi.
"Mirey, mungkin itu papamu," sorak Asty sambil berlarian ke arah pintu.
"Cih, senang bener," desis Utari.
"Pak Danu?" ucap Asty dari arah pintu terdengar hingga ke telingan Utari.
Bukan Morgan yang datang tapi pak Danu.
"Sudah siap neng Asty?" tanya pak Danu.
"Sudah dong pak," jawab Asty.
"Dih, ngeselin banget." Utari mengambil ponsel dari atas nakas kemudian menghubungi ponsel Morgan. Ia hanya akan bertanya kemana Morgan akan membawa Miracle hari itu. Namun beberapa kali ia menelpon tak di angkat oleh Morgan.
"Ayo neng, tuan sudah menunggu," ajak pak Danu.
"Tuan sudah menunggu? Jangan jangan Morgan akan membawa Miracle pergi. Tidak tidak!" Terbesit pikiran kotor dalam benak Utari. Akhirnya ia pun bangun dari duduk nya.
"Mbak, mbak bener nggak ikut?" tanya Asty.
"Tentu saja Ikut," sahut Utari.
"Tapi mbak, tuan sudah menunggu kami. Mbak," Asty menatap Utari dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sejak pagi wanita itu belum mandi dan masih mengenakan daster.
"Aku akan mengantar kalian. Aku nggak ganggu, aku hanya ingin memastikan dimana Morgan menunggu kalian."
"Ya sudah ayo neng Utari. Takut nya kita terlambat," Pak Danu langsung menarik 4 koper yang disiap kan Asty berjalan terlebih dahulu menuju parkiran mobil.
"Ya sudah mbak Utari buruan, Asty nggak mau dimarah tuan karena terlambat," Asty pun langsung menggendong Miracle dan menarik lengan Utari agar berjalan cepat disampingnya.
"Membawa anakku nggak bilang bilang. Di telpon juga nggak di angkat. Awas saja kamu!" gerutu Utari sambil berjalan cepat di samping Asty. Ia tak peduli lagi dengan pakaian yang dikenakannya saat itu. Dalam benak Utari hanyalah ingin bertemu Morgan dan meminta penjelasan nya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1