
Tengah malam Utari terbangun dari tidurnya. Sebuah ranjang kecil yang terdapat di dalam ruangan perawatan, ranjang yang hanya cukup untuk menampung satu orang untuk tidur di situ lah Utari tidur selama hampir 3 bulan terakhir. Ia tidak pernah kemana pun, ia selalu berada di kamar itu untuk menemani Miracle.
Niatnya untuk menuju kamar kecil ia urungkan, ia berdiri sejenak di samping ranjang Miracle menatap bayi kecil nya yang masih belum menampakkan kemajuan apapun.
Utari menggenggam tangan kecil Miracle kemudian menciumnya.
"Nak bangunlah, jangan tinggalakan mama, selama ini mama bertahan hanya karena dirimu. Jika kamu akhirnya menyerah, maka mama akan pergi jauh. Mama akan pergi meninggalkan semua yang ada di sini. Mama akan hidup seorang diri di tempat asing untuk menghukum diri mama karena lalai menjaga mu. Mama tidak layak mendapat kasih sayang dari siapa pun. Mama mohon bangunlah," bisik Utari pelan didekat Miracle, ia teringat akan ucapan dokter siang tadi, bahwa sangat jarang seorang bayi bertahan koma selama lebih dari 3 bulan. Fungsi organ mereka masih terlalu lemah, koma terlalu lama akan mengganggu pertumbuhan mereka termasuk perkembangan sel sel dalam tubuh. Maka jika Miracle tidak kunjung sadar dalam sebulan terakhir maka tidak ada satupun obat lagi yang bisa menolongnya.
Utari menangis tersedu. Harapannya untuk kesembuhan Miracle masih begitu besar. Ia tau saat ini anak nya sedang berjuang untuk bangun. Tidak mungkin ia merelakan anak nya pergi begitu saja, apa pun yang terjadi Utari tetap ingin Miracle bangun dan sembuh seperti sebelumnya.
Tiba tiba Morgan masuk ke ruangan itu.
"Utari?" Morgan berlari kecil menghampiri Utari yang tengah menangis sambil memeluk tubuh Miracle.
Morgan menarik tubuh Utari agar tidak terlalu menghimpit Miracle.
"Utari, kenapa jadi seperti ini? Kalau seperti ini kami akan menyakiti Miracle."
"Benarkah Mirey kita tidak akan selamat? Kata dokter jika tidak ada perubahan maka umurnya tidak akan sampai sebulan lagi," Utari menangis tersedu didada Morgan.
"Utari tenanglah dulu, dengar, Maksud dokter Miracle masih terlalu kecil. Peluang nya untuk selamat terlalu kecil. Sekarang dia hidup hanya karena alat penunjang di tubuhnya."
Utari melepaskan diri dari dekapan Morgan, ia mendongak sinis pada pria jangkung di depannya.
"Jadi begitu? Kamu juga akhirnya menyerah pada anak kita?" ucapnya lirih.
__ADS_1
"Bukan begitu, aku akan berusaha melakukan apapun untuknya. Sekarang aku hanya merasa kasihan, aku kasihan terhadap Miracle, ia sangat kesakitan sekarang. Dan aku kasihan juga dengan dirimu. Kamu tidak melakukan apapun, kemanapun. Kamu mendekam terus di kamar ini. Bahkan dokter sekarang mulai mengkhawatirkan dirimu," Morgan mengusap wajahnya frustasi.
"Aku tau ini akan terjadi, aku tau kamu akan seperti ini. Kamu tidak pernah berniat menyembuhkan nya. Setiap hari kamu berusaha membujukku meninggalkannya, kamu ingin aku pergi dari ruangan ini, kamu terus menyuruhku pulang untuk mandi. Kamu pasti muak melihat kami. Sebenarnya kamulah yang jahat, kamu ayah seperti apa?" teriak Utari sambil berjalan mundur menjauhi Morgan.
Morgan bergerak maju mendekap Utari. Ia tau, sejak Miracle sakit, Utari menjadi tidak rasional. Apalagi setelah mendengar ucapan dokter siang tadi. Utari menhadi sering uring uringan. Ia marah, sedih dan terus merasa bersalah.
"Tenang lah, aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku mengatakan itu hanya karena mengkhawatirkan dirimu," Morgan kembali memeluk Utari.
Sementara Utari, ia tak kuasa bergerak mudur lagi. Sesekali ia memukul dada Morgan sambil menangis disana.
Selang beberapa saat, saat Tari sudah mulai tenang, Morgan mendekati Miracle. Sambil menggenggam tangan Utari, ia juga menggenggam tangan Miracle.
"Mirey, lihat mamamu? Akhir akhir ini ia sangat galak. Ia memukul papa, ia akan marah marah jika papa sedang membujuk nya. Ia juga jarang makan, jarang tidur. Ia sering menangis tiap malam karena mu. Papa tidak pernah lagi melihat ia tersenyum. Nak, katakan ke mama mu tidak baik seperti itu. Katakan 'mama harus jaga kesehatan'," sesaat Morgan melirik Utari yang sedang mengusap airmatanya.
Morgan melanjutkan berbincangannya dengan si kecil Mirey, ia membahas kesehariannya selama di kantor. Ia membahas perusahannya yang kini bangkit lagi.
"Nak, coba lihat mamamu. Dia bisa tertidur berjam jam sambil duduk di samping ranjang mu. Papa takut mama mu akan bungkuk sebelum ia tua. Masa iya Mirey punya mama bungkuk."
"Uagh," pekik Morgan karena dipukul oleh Utari.
"Aku tidak akan bungkuk," ucap Utari.
"Benarkan Mirey, mama mu galak sekarang."
Seakan ikut merespon ucapan Morgan, Miracle pun menggerakkan tangannya.
__ADS_1
Saat itu juga Morgan tersentak kaget.
"Tari tangan Mirey bergerak, kamu lihat?" pekik Morgan.
Utari duduk meluruskan badannya kemudian mengusap tangan Miracle.
"Dia sudah sering seperti ini. Kata dokter, hal ini adalah reaksi otot dan saraf nya," ujar Utari lembut.
Tangan kecil itu kemudian kembali bergerak. Kali ini bukan seperti gerakan sebelumnya. Mirey seakan sedang ingin menggenggam sesuatu.
Mata Utari membulat, ia langsung mendekati Miracle.
"Sayang, kamu bangun?" ujar nya di dekat wajah Miracle.
Kepala Miracle perlahan bergerak, kelopak matanya bergerak seakan sedang berusaha untuk di buka dan tangannya kini bergerak lebih sering.
Melihat hal itu Morgan bergegas menekan tombol di atas kepala ranjang.
"Sayang, anak mu benar benar siuman." seru Morgan kemudian mengusap kepala Miracle lembut. "Nak, papa dan mama di sini sayang," ujar Morgan.
Utari pun memeluk tubuh putranya itu hingga beberapa orang dokter tiba di ruangan itu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...