
Beberapa minggu berlalu…
Di tempat yang baru dengan kehidupan yang baru Utari terus melanjutkan hidupnya. Tak ada hal yang patut ia syukuri saat itu karena memiliki dua sahabat yang sangat menyayanginya. Bahkan kini keluarga kedua sahabatnya menerima hidup Utari yang menyedihkan itu. Mereka menerima keberadaan Utari seperti keluarga.
Di tengah kesibukan fitting pakaian pesta. Utari menyaksikan keakraban kedua keluaraga. Di sebuah rumah mewah milik keluarga Jessie sang ayah dan ibunya menerima keberadaan keluarga Rayhan yang bukan dari kalangan pengusaha kaya raya. Dan bahkan kedua orang tua Jessie pun kini menganggap Utari seperti anak mereka.
Kelak setelah Miracle berusia setahun, Utari akan mulai bekerja di perusahan ayah Jessie yang tentunya sebentar lagi akan di pindah tangan kan kepada Jessie dan Rayhan.
Di ruangan lain, kedua orang tua Jessie dan keluarga Rayhan sedang berbincang. Acara pernikahan yang terbilang mepet membuat mereka harus bergerak cepat menyiapkan segala sesuatu. Terlebih bu Anita ibunda Jessie, ia paling terlihat antusias atas pernikahan putri semata wayangnya.
“Jessie,” suara bu Anita melengking memanggil putrinya yang sedari tadi masih malas malasan di atas sofa. Sementara yang lain sudah selesai mengepas pakaian masing masing.
“Jessie,” bu Anita yang sudah berdiri di samping sofa tempat Jessie berbaring. “Kamu gimana Jess, pakaian kamu sudah kamu coba lagi belum?” tanya Anita rada kesal karena putrinya terlihat cuek.
“Sudah bu, kemaren orang bridal sudah dua kali ke sini. Tinggal pakaian Rayhan, pakaian Jessie udah fix,” ujar Jessie.
“Trus Rayhan nya mana?”
“Tuh, lagi bantuin bapaknya fitting,” jawab Jessie sambil menunjuk sebuah ruangan.
Saat itu Utari menghampiri Jessie.
“Jess, kenapa kamu ga temani Rayhan ke bridal nya dulu. Takutnya ga keburu, acara tinggal dua hari lagi. Kalau ga di push takutnya ga selesai bajunya Ray.” ucap Utari.
“Iya Jess, Utari aja paham, kamu kok cuek bener,” imbuh Anita membenarkan Utari.
“Janjinya dengan bridal siang ini, Jess dan Ray akan ke sana ma. Udah mama tenang aja. Pokoknya pesta pernikahannya akan berjalan sesuai harapan mama,” ujar Jessie.
“Cih, anak ini lelet nya minta ampun. Padahal acara tinggal dua hari lagi. Kamu yang nikah kok mama yang was was,” desis Anita pelan kemudian meninggalkan anaknya yang masih bermalas malasan.
Sepeninggal Anita, Utari menatap Jessie.
“Mama kamu terlihat seneng dan antusias. Lebih antusias di bandingkan si pengantin wanita,” ucap Utari.
“Siapa suru mau Jessie buru huru menikah. Jessie udah bilang selesai wisuda, tapi ngotot. Katanya kalo lama lama keburu putus ama Ray,” sahut Jessie.
“Karena mama mu paling tau seperti apa sifat mu jess.”
“Pasti, mama kepengen cepat cepat punya menantu yang bisa di setir nya. Dia butuh Ray untuk mengelola perusahan papa. Dan supaya papa ga kesana kemari kecentilan,” ujar Jessie.
“Hush, kamu ngomong apa sih. Udah sana, kamu mandi. Bentar lagi pak Yudha selesai fitting. Kamu bawa Ray ke bridal. Setidaknya biar mama mu lega Jess,” bujuk Utari.
__ADS_1
“Ok, aku ke kamar, anak ku masih sama mbak Ita?” tanya Jessie.
“Miracle, sama mbak Diah. Sejak tinggal bersama pak Yudha mereka bergiliran mengajak Miracle main. Aku jadi jarang kebagian jatah menjaga nya,” ujar Utari.
“Dimana? Dikamar ku kan?” saat itu juga Jessie beranjak dari kursi malasnya menuju lantai dua.
.
.
.
Sementara itu di sebuah pelabuhan…
Kapal besar yang membawa Eko berlayar selama lebih dari sebulan sandar di dermaga. Eko berdiri di dekat sebuah tangga kapal sambil menatap ponsel di tangannya.
Sudah lebih dari sebulan ponsel itu tidak ia aktifkan. Ia segera menekan sebuah tombol power pada sisi ponsel.
Bip Bip Bip
Suara pesan masuk secara beruntun. Pesan dari sang ibu dan ayahnya. Pesan dari ketua geng Mokey, pesan dari Morgan serta pesan dari beberapa rekan lainnya yang semuanya ia abaikan. Matanya hanya fokus pada 33 pesan dari Selvie.
Eko segera membaca pesan dari wanita yang membuat harga dirinya jatuh. Wanita yang membuat ia pergi berlayar untuk mencari penghasilan. Wanita yang mengatakan dirinya miskin. Kini di antara semua pesan yang masuk pesan wanita itulah yang paling banyak.
“Wah, apa maksudnya. Setelah menyuruhku pergi jauh kini dia mencariku,” gumam Eko masih tak percaya dengan semua pesan yang dibaca nya.
Saat itu juga ponsel di tangannya berdering. Nama Selvie tertera di layar ponsel tersebut.
“Ehem, hmm” setelah berdehem membenarkan suara, Eko mengangkat panggilan telpon tersebut.
“Halo,”
“Kamu pasti sengaja bikin aku cemas kan? Kamu kemana saja? Kalau marah gak harus matiin ponsel kayak gitu dong. Aku ga bisa tenang gara gara kamu!!!” hardik Selvie.
Mendengar Emosi meluap luap Selvie, Eko malah kebingungan.
“Kenapa dengannya? Ia sedang marah? Tapi kenapa?” gumam Eko dalam hatinya.
“Nyonya gak salah sambung kan?” tanya Eko seakan tak percaya.
“Kamu dimana?” tanya selvie masih dengan nada kasar.
__ADS_1
“Nyo nya, ini saya Eko,” ucap Eko lebih meyakinkan. Mungkin saja nyonya Selvie sedang ingin menghubungi tuan Morgan tapi malah membhubungi dirinya.
“Kamu dimana Eko,” sergah Selvie.
“Oh saya? Sekarang saya di pelabuhan Priuk. Di atas kapal Nakula,” jawab Eko terbata masih tak percaya.
“Tidak tidak, kamu jangan kemana mana. Tunggu aku disitu, aku akan ke situ menjemput kamu sekarang. Pastikan ponsel mu tetap aktiv. Aku ke situ sekarang!”
“I iya nyonya,” jawab Eko masih terbata. Ia berdiri tertegun menatap tangga kapal yang belum juga di turunkan. Ia harus bergegas turun dari kapal sebelum Selvie tiba di situ.
Beberapa saat kemudian tangga kapal mulai diturunkan. Dengan sebuah tas backpack yang bergantung di punggung, Eko berlari cepat menuju pintu keluar dermaga.
Sembari berjalan cepat, ponsel dari genggaman Eko berdering.
“Aku di parkiran dekat gate 5, kamu dimana?”
“Aku ke situ,” jawab Eko kemudian mempercepat laju langkahnya.
Setiba di parkiran, Selvie terlihat sedang berdiri di belakang sebuah taxi. Ia terlihat cemas menunggu Eko di sana.
Setiba Eko dihadapannya ia langusng memeluk Eko dengan air mata berderai.
“Kamu mau kemana? Kamu pasti akan pergi jauh?” tanya Selvie.
“Aku tidak akan ke mana mana,” jawab Eko.
“Kenapa kamu disini? Ransel di punggung mu? Kamu pasti akan pergi kan?” tanya Selvie lirih. Ia berusaha menahan linangan air mata jatuh semakin deras dikedua pipinya.
“Aku baru saja tiba. Nyonya kenapa?” Eko berdiri memegang pundak Selvie kemudian menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Apa yang terjadi dengan mu? Kamu sakit?” tanya Eko berbalik khawatir. Saat itu Selvie terlihat kurus, pucat dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Hari itu adalah penampilan terkusam Selvie selama ia mengenal wanita itu.
“Aku baik baik saja,” ujar Selvie sambil membersihkan air mata di wajahnya. “Selama ini kamu kemana? Kamu pasti pergi karena aku?”
Eko membuang nafasnya lega kemudian tersenyum senang. “Kamu sedang mengkhawatirkan ku? Maaf. Aku pergi untuk bekerja, aku tidak ingin merepotkan orang lain lagi. Setelah hari itu, aku sadar betapa buruknya diriku. Aku mencoba mencari sesuatu hal yang bisa merubah sudut pandangku. Memikirkan apa yang sudah aku lewatkan dan mecoba hal baru yang lebih berguna. Lupakan semua yang telah lalu, Sekarang aku akan hidup lebih baik,” ujar Eko penuh tekad.
Selvie kembali memeluk Eko. Ia sadar selama ini hanya Eko lah satu satunya orang yang selalu sabar terhadap dirinya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung…