
Di lantai 27 didalam ruangan bertuliskan ruang CEO. Morgan Jerry dan seorang pria berjas hitam sedang terlibat percakapan serius.
Beberapa bukti yang mereka telusuri selama setahun terakhir akhirnya mendapat titik terang. Sebuah perusahan fiktif yang dahulu membeli beberapa saham di anak perusahan ternyata adalah perusahan milik paman Niko.
Dan perusahan fiktif itu kini sedang bergerak mendekati perusahan induk.
Sambil berpikir keras Morgan termangu menatap sebuah map yang ada di atas meja.
“Gan, Kamu harus bertindak secepatnya. Putus kontrak kerjasama dengan paman Niko, jelas jelas ia telah melenceng dari kontrak kerjasama dengan perusahan induk,” ujar Jerry serius.
“Tahan dulu! Hingga sebulan kedepan jangan dulu ada pergerakan. Aku harus melakukan sesuatu, mereka membutuhkan dana tidak sedikit sekarang. Mereka pasti sedang mengincar pengusaha lainnya untuk membantu mereka melangkah. Aku ingin tau siapa orang yang akan menjadi Mitra paman Niko kali ini,” ujar Morgan.
“Arlek, kamu terus ikuti paman Niko. Laporkan setiap gerak gerik setiap hari,” ujar Niko pada pria berbaju hitam itu.
“Baik pak.”
“Kamu pergilah, jangan terlalu lama berada disini. Orang akan mencurigaimu,” ujar Morgan.
“Saya permisi,” pamit pria yang sering di sebut black cyber itu.
Sepeninggal Arlek, Morgan kembali termangu menatap tumpukan map diatas meja.
“Jadi apa rencana mu sekarang?” tanya Jerry.
“Aku terus kepikiran padanya, aku tidak bisa fokus bekerja sekarang,” ujar Morgan.
“Maksud kamu bro?” tanya Jerry bingung.
“Jerry. Ada seorang teman yang meminta bantuanku memecahkan masalahnya,” ujar Morgan.
“Teman mu? Siapa?” tanya Jerry karena setahunya satu satunya teman yang dimiliki Morgan selama ini hanyalah dirinya.
“Masalahnya adalah pikiran nya kacau setiap hari karena terus memikirkan seorang wanita. Dia menjadi bingung. Apa itu sebuah perasaan cinta atau hanya sebuah perasaan simpati. Menutut kamu bagaimana membedakan kedua perasaan itu?” tanya Morgan.
“Kamu mulai bersimpati kepada Selvie? Kamu bingung mulai menyukainya atau hanya karena simpati bertahun tahun sudah menjadi suaminya namun belum melakukan hubungan itu?” tebak Jerry.
“Jangan asal tebak, ini masalah teman ku bukan masalahku,” elak Morgan.
“Teman? Sejak kapan dia punya teman?” gumam Jerry dalam hati.
“Saat kamu mencintai seseorang, orang itu akan selalu sempurna dimata mu. Apa pun yang dilakukannya kamu bisa merasa bahagia berada di dekatnya,” ujar Jerry.
“Ya seperti itulah. Aku selalu merindukannya, aku selalu ingin berada di dekatnya.” sahut Morgan keceplosan.
“Cih katanya teman?” desis Jerry.
“Bahkan saat ini aku sangat sangat ingin pergi menemuinya. Dia pasti sedang kerepotan mengurus anaknya,” ujar Morgan pelan namun masih tersengar samar ditelinga Jerry.
“Kamu dan Selvie sudah menikah, segeralah punya momongan. Seorang anak pasti akan membuat hubungan kalian semakin harmonis,” ujar Jerry.
__ADS_1
“Tapi temanku itu ragu. Bagaimana jika ternyata perasaannya hanya sebuah perasaan simpati. Ia takut melukai hati wanita itu, dan merusak hubungan baik mereka sejak kecil,” ujar Morgan.
“Pulanglah dan temui istrimu. Kamu dan dia sejak kecil sudah saling menyukai. Makanya perasaan takut dan bimbang selalu ada diantara kalian. Saat ini kamu hanya merasa takut akan merusak hubungan baik yang kalian bina hingga hatimu menjadi bimbang,” ujar Jerry sok tau.
“Ya sudah aku pergi dulu,” Morgan langsung berdiri merapihkan jas nya kemudian berjalan pergi dari ruangan itu.
“Jangan lupa, nanti malam jam 7 kita ada acara makan malam dengan paman Niko dan pak Hutama,” seru Jerry sebelum Morgan menghilang di balik pintu.
“Tau!” sahut Morgan tak kalah nyaring.
Saat itu juga Morgan langsung kembali ke rumah sakit. Pak Danu melesat laju meninggalkan Milano grup menuju rumah sakit dimana Miracle sedang dirawat.
“Padahal sebagian besar waktuku berada disisinya lebih banyak daripada waktuku di tempat lain. Sejak semalam, pagi hingga menjelang siang. Namun rasanya sangat kurang, aku sangat merindukannya,” batinnya.
Morgan tersenyum kecil mengingat tingkah Utari.
“Ia pasti belum mandi,” gumam Morgan.
Tanpa ia sadari pak Danu sedang memperhatikannya dari balik kaca spion.
“Tuan, pasti sangat merindukan mereka,” ujar pak Danu.
“Siapa pak?” tanya Morgan.
“Neng Utari dan Miracle,” sahut pak Danu sambil sesekali menatap ke arah spion. “Saya juga selalu selalu seperti itu. Memikirkan wajah istri dan anak saja sudah membuatku merasa bahagia. Mereka penyemangatku.”
Morgan mengangguk setuju.
Morgan menatap ke arah luar jendela mobil. Ucapan pak Danu memang ada benarnya. Ia harus menuntaskan hubungannya dengan Selvie secepatnya.
“Saya mengatakan hal ini karena saya sudah menganggap tuan dan neng Utari seperti keluarga sendiri. Saya juga tidak menyarankan agar tuan menceraikan nyonya. Jika tuan tidak menceraikan nyonya sebaiknya tuan tidak mendekati neng Utari,” ujar pak Danu serius.
Saat itu juga Morgan menatap wajah dari balik spion itu. “Pak Danu tidak salah, saran pak Danu sepenuhnya benar. Selama ini saya selalu ragu dengan perasaan saya. Saya takut perasaan ini bukan perasaan suka namun hanya sebuah perasaan tanggung jawab. Dan aku takut membuat Utari pergi karena perasaan ku yang tak wajar ini,” ujar Morgan.
Pak Danu tersenyum kecil. “Percayalah, saya bisa merasakan kalau kalian memiliki perasaan yang sama,” ujar pak Danu percaya diri.
“Pak Danu tau darimana?” tanya Morgan.
“Kita sudah sampai tuan,” sela pak Danu. Mobil yang dikendarainya sudah berhenti di depan loby rumah sakit.
“Baiklah.”
Dengan penuh semangat Morgan berjalan cepat menuju ruangan perawatan bayi. Ia tak sabar untuk menemui Miracle.
Mendekati ruang perawatan suara gerai tawa Utari terdengar hingga ke depan pintu. Dengan dipenuhi rasa penasaran Morgan menguping pembicaraan Utari.
“Haha, iya aku seneng banget.”
“Jadi kapan lamarannya?”
__ADS_1
“Senangnya bisa menikah dengan orang yang kita cintai,” lanjut Utari
Makin penasaran dengan siapa lawan bicara Utari, Morgan pun masuk ke dalam kamar.
“Siapa?” tanyanya spontan.
“Tu an!” Utari bangkit dari ranjang. “Jess, udahan dulu tar di lanjut ya.” Utari langsung mengakhiri panggilan telpon.
“Siapa?” tanya Morgan lagi.
“Temen kuliah,” jawab Utari singkat.
Morgan menatap Miracle yang sedang mengemut jemarinya sambil ikut menikmati percakapan ibunya.
“Kamu dianggurin lagi ya sama mama?” tanya Morga pada si kecil Miracle dan dijawab oleh tawa oleh Miracle.
“Tuan besok Kita sudah bisa pulang, kata dokter anakku sudah sembuh dan sehat,” lapor Utari gembira.
“Jadi tuan akan menjaganya untukku? Aku bisa pulang mandi kan?” tanya Utari.
“Sekalian aku akan bawakan makanan malam untuk tuan, oh ya Miracle sudah mulai mpasi jadi aku akan membuat bubur kemudian kembali ke sini,” lanjut Utari.
Morgan hanya menatap wajah Utari, ia terlihat gembira. Entah gembira karena Miracle sudah sembuh atau gembira karena seseorang yang menelpon barusan.
“Kenapa tuan?” tanya Utari.
Morgan mengusap kepalanya, ia tersenyum kecil ikut merasa gembira.
“Aku disini hanya sebentar. Malam ini ada undangan makan malam dari pak Hutama.” Morgan menarik tubuh Utari agar mendekat padanya kemudian mengusap rambut Utari.
“Setelah urusanku selesai, aku akan menjaga mu dan Miracle. Beri aku sedikit waktu lagi,” ujar Morgan.
“Urusan pekerjaan tuan lebih utama, aku bisa mandi besok setelah tiba di rumah. Oh ya tuan, bisakah aku kembali ke kamarku semula..”
“Kenapa?”
“Aku tidak tidak enak hati dengan nyonyah. Aku..”
“Tetaplah dikamar itu. Secepatnya kamu akan pindah ke kamarku,” ujar Morgan.
“Tuan akan pindah rumah?” tanya Utari sedikit kaget.
Morgan menowel hidungnya kemudian berkata, “kamu akan segera tau.”
“Aku pergi dulu. Makan malam yang teratur dan jaga Miracle dengan baik,” pamit Morgan.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung…