Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 73. END


__ADS_3

Sambil berdoa dalam hati, Sukma menekan tombol bertuliskan call. Panggilan itu mulai tersambung ke si empunya nomor.


Sukma sempat putus asa, ia telah menghubungi beberapa kali namun tidak ada jawaban dari nomor tujuannya. Sukma mencoba lagi untuk kesekian kali, setelah beberapa kali terdengar nada sambungan, akhirnya suara Morgan terdengar menjawab panggilan Sukma.


"Halo."


"Tuan Morgan?" sapa Sukma agak kikuk. Saat itu Eko yang duduk di samping Sukma langsung menempel ke telinga Sukma ikut mendengarkan percakapan Morgan dan Eko.


"Ya halo?" ulang Morgan.


"Tuan Morgan, ini saya bu Sukma," Sukma dengan penuh hati hati menyapa Morgan. "Bagaimana kabar tuan?"lanjutnya.


"Baik, ada perlu apa?" tanya Morgan datar.


"Saya ingin bicara dengan Utari, tapi saya tidak memiliki nomornya. Tuan, tolong sampaikan pada Utari ayah sedang sakit. Sedang di rawat di rumah sakit, kondisi nya kritis."


"Kenapa aku harus sampaikan hal itu kepadanya, Utari bukan siapa siapa kalian lagi."


Sejenak Sukma terdiam. Ia malu namun harus tetap berusaha demi kesembuhan suaminya.


"Tuan, suami saya terus mengigau menyebut nama Utari. Di akhir hayatnya, bisakah tuan mengabulkan permintaan terakhirnya? Kesalahan saya, biar saya yang tanggung." lagi lagi ia terdiam kemudian kembali berujar. "Suami saya tidak jahat seperti saya, saya yang salah kepada Utari tuan. Saya lah yang harus menanggung semuanya," perlahan airmata menetes jatuh di kedua pipi Sukma.


Suara menjadi hening, Morgan tidak merespon ucapan Sukma lumayan lama.


"Akan saya coba katakan, tapi saya tidak bisa memaksanya. Terserah Utari mau menemui pak Marwan ataupun tidak itu urusannya," ujarnya kemudian.


"Terimakasih tuan," sahut Sukma atas tanggapan Morgan.


"Berikan alamat rumah sakitnya," pinta Morgan.


"Suami saya di ruang ICU rumah sakit harapan hidup tuan. Terimakasih terimakasih tuan."


Tanpa sadar Sukma telah membungkuk seakan akan Morgan berdiri di hadapannya. Airmata pun kembali berderai.


Sukma meletakkan ponsel di samping nya.


"Ibu bersalah pada Utari, jika ibu bisa bwrtwmu lagi dengannya, ibu akan memohon maaf. Ibu akan mengakui semua kesalahan ibu," ratap Sukma. "Sebenarnya ibu sangat membutuhkan anak itu," lanjutnya.


Tanpa sadar Selvie telah berdiri tak jauh dari Sukma dan Eko duduk. Ia mendengar semua ucapan sukma sejak beberapa menit lalu.


Tiba tiba ia berdiri di hadapan Sukma dengan amarah.


"Ibu akan mengemis pada mereka? Ibu tidak malu mereka melihat kita menjadi seperti ini?" sergah Selvie.


"Kamu, sini," Eko menarik lengan Selvie agar duduk di samping kanannya. "Jangan ribut disini. Ini bukan di rumah."


"Pokoknya aku nggak sudi Utari datang ke sini!" Bentak Selvie kasar.


"Bukan kemauan ibu membawa Utari ke sini, ayah di dalam masih kritis dan ia terus memanggil nama Utari," jelas Eko.

__ADS_1


"Nggak berguna, sudah sekarat aja masih nyusahin," gerutu Selvie pelan.


"Selvie!" Dengan suara besar Eko menghardik istrinya itu.


"Orang nggak berguna itu adalah ayahku, kamu bisa nggak sih menghormati nya. Kamu tidak menghormati kedua orang tuaku sedikitpun." Eko menatap garang wajah Selvie yang tak mau tunduk. Kali itu adalah pertama kali ia membentak Selvie, bahkan menyebut namanya secara langsung.


Mata Selvie membola tak terima diperlakukan kasar oleh Eko.


"Aku hanya tidak ingin harga diri ku jatuh di hadapan Utari, kenapa kita harus memohon dan merendah di hadapannya, dia hanya seorang pembantu bagiku!" tanggap Selvie tak kalah berapi api.


"Kamu! Kamu lupa aku, ibu dan ayah juga seorang pembantu sebelumnya."


"Justru itu, aku tidak ingin malu. Aku malu terhadap wanita yang merebut posisiku. Kenapa kamu tidak mengerti sedikitpun," Selvie mulai menangis. "Aku mengira kamulah satu satunya orang yang mengerti akan diriku. Nyatanya, kamu juga ingin menjatuhkan ku sekarang," lanjut Selvie ditengah derai airmatanya.


Eko menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Itu karena istri mu tidak bersyukur dengan apa yang dia miliki sekarang," tambah Sukma kemudian bangkit dari kursinya. "Sudahlah, ibu lelah menengahi pertengkaran kalian. Kalian sudah dewasa, seharusnya sudah bisa berpikir jernih. Hal apa yang baik dan tidak bisa kalian putuskan sendiri." sukma Melangkahkan kakinya meninggalkan Selvie dan Eko. Ia berkeliling taman rumah sakit sambil meratapi keadaan hidupnya kini. Sebenarnya ia juga adalah orang yang tidak pernah bersyukur sebelumny. Ia serakah dan tidak pernah berpikir jernih. Namun semuanya sudah terlambat untuk di sesali.


Sukma pun berhenti dan duduk di sebuah bangku taman, ia menghela nafas panjang kemudian mendesah panjang.


Karena lelah berpikir, Sukma mencoba untuk memejamkan matanya. Seorang pria kemudian duduk di di sebuah bangku lainnya tak jauh dari Sukma berada. Pria itu tengah asik mebuka buka majalah Elite di tangannya.


Pada sampul depan majalah tersebut terpajang foto Morgan dengan caption 'Intip gaya pernikahan sederhana ala cazy rich.'


Sukma bergegas mendekati pria itu.


"Pak bisa pinjam sebentar," tutur Sukma sopan pada si pemikik majalah.


Pada halaman 60 foto Morgan dan Utari tengah mengenakan gaun berwarna putih.


"Mereka sudah menikah, tapi tidak ada pemberitahuan sama sekali kepada kami," gumam Sukma sambil melanjutkan bacaannya.


"Perusahan tuan sekarang semakin berkembang. Mereka hudup semakin kaya," ujar Sukma lagi.


Pria yang duduk di samping Sukma melirik ke arah sukma karena setiap apa yang di bacanya ia akan bergumam pelan.


Kemudian sukma menunjukkan foto Utari pada pria tersebut.


"Wanita ini adalah anakku. Dia pintar dan cantik," ujar Sukma bangga.


"Namannya Utari, dia juga baik hati," lanjut Sukma.


Pria itu berdiri dari bangku itu sambil mengumpat "Wanita sinting," ujarnya kemudian meninggalkan Sukma.


"Ya Utari memang putriku," gumam Sukma.


Ia berjalan kembali ke ruang ICU. Dari kejauhan , Eko dan Selvie masih di kursi yang sama tengah berpelukan. Sepertinya anak dan menantunya itu telah berbaikan. Sukma pun memberikan majalah itu ke tangan Selvie.


Melihat sampul majalah tersebut mood Selvie kembali menjadi buruk.

__ADS_1


"Aku sudah tau, nggak perlu membawa bawa barang sampah seperti ini," Selvie melempar majalah tersebut ke tong sampah terdekat


Kemudian ia berdiri terpana akan kehadiran dua orang di hadapannya.


Utari dan Morgan telah berada di situ. Berjalan sambil bergandengan menuju ruang ICU.


Mereka terus berlalu tak mengiraukan Selvie kemudian berhenti di hadapan Sukma. Bagi mereka, Selvie hanya bayangan tak terlihat di mata mereka.


"Ibu, kami ke sini ingin menjenguk ayah," tutur Utari lembut dan ramah seperti biasanya.


Sukma menatap Utari dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya tertuju ke perut Utari yang mulai menonjol sedikit ke depan. Utari tengah hamil, mungkin kandungannya berusia sekitar 5 bulan saat itu.


"Ibu, bisa kami menjenguk ayah?" ulang Utari.


Sukma memejamkan matanya sambil mengangguk. Suara Utari masih selembut dan seramah dulu, tidak berubah sedikitpun. Hanya penampilannya saja yang berubah, ia menjadi lebih elegan dan terlihat sedikit gemuk.


Sukma mengantar Utari dan Morgan masuk ke dalam ruang ICU.


Utari mulai menangis setibanya ia didalam ruangan ICU, Marwan sedang terbujur lemah tubuhnya dipenuhi berbagai selang.


"Ayah, Utari datang ayah," tangisannya pecah membahana di seisi ruangan. "Ayah harus sembuh, Utari belum sempat meminta maaf pada ayah. Hari itu Utari pergi begitu saja tanpa pamit pada Ayah. Ayah pasti sangat sedih."


Mendengar ucapan Utari, Sukma ikut menangis. sedangkan Morgan menemui dokter untuk menanyakan kondisi pasien saat itu dan mengenai pengobatan yang akan di lakukan selanjutnya.


"Ayah, jika ayah sehat kembali. Utari janji akan selalu menghubungi ayah. Atau sekali kali ayah bisa datang menemui Utari. Mirey sekarang akan memiliki adik. Ayah harus menjadi kakek yang sehat untuk anak anaku. Bangunlah ayah," lanjut Utari.


Beberapa saat kemudian Marwan mulai membuka matanya. Ia kembali memanggil nama Utari.


"Utari."


"Utari anakku."


Bahagia rasanya melihat putrinya kembali. Bagi Marwan, Utari adalah anaknya. Tak ada istilah anak angkat untuk outri satu satunya itu.


"Ayah. Maafkan Utari ayah."


Marwan menggeleng kemudian berusaha mengusap kepala Utari.


.


.


.


Bagi Utari, ayah Marwan tetaplah ayahnya. Ia memperlakukan Marwan dengan baik. Namun tidak terhadap Sukma, Eko dan Selvie. Bagaimana pun baiknya Sukma kini, Utari telah memutus hubungan dengan wanita itu. Rasa hormat dan pedulinya telah hilang sejak Sukma menyembunyikan Selvie di dalam rumah.


Sedangkan Selvie, selama sisa hidupnya ia tak pernah merasa bahagia. Sifat iri hati dan tidak bersyukur terus membuatnya hidup dibalik bayang bayang Utari dan Morgan. Ia selalu menyalahkan Utari dan Morgan atas semua kemalangan yang menimpanya.


Eko, terus menjadi suami yang hanya menyenangkan si istri. Walaupun berstastus suami, Eko tetap hidup sebagai pembantu di mata Selvie. Namun Eko selalu bahagia dan menerima Selvie apa adanya.

__ADS_1


Utari dan Morgan di karuniai 3 orang anak. Seorang putra dan dua orang putri. Sedangkan Jessie dan Rayhan, baru memliki anak setelah 10 tahun pernikahan mereka. Tiga orang bayi kembar berjenis kelamin laki laki.


END


__ADS_2