Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 37. Anak siapa?


__ADS_3

Di balik pintu Utari menangis sejadi jadinya. Air mata keluar begitu deras, ia sendiri tak bisa membendung nya. Suara tangis berusaha ditahannya agar si kecil Miracle yang saat itu tengah dalam pelukannya tidak tau jika ia menangis.


Semakin erat ia memeluk Miracle, semakin ingin ia menangis.


“Seandainya kedua orang tua ku masih hidup! Nasibku tidak akan seperti ini. Aku tidak memiliki siapa pun untuk ku bersandar,” batin Utari.


Saat itu perasaannya bercampur aduk jadi satu, ia sangat kecewa terhadap Morgan. Tapi ia tak bisa berbuat apa apa. Ia juga kesal dengan wanita yang di sebutnya ibu itu, wanita itu tidak pernah menyayangi dirinya.


Sejenak ia ingin melampiaskan kekesalannya, jika saja ia bisa lebih kasar lagi memaki ibunya saat di ruang makan. Jika saja ia bisa mengusir si wanita hamil itu keluar dari rumah itu. Dan jika saja ia bisa menampar wajah Morgan karena tidak bisa tegas terhadap perasaannya sendiri. Di saat ia memberikan harapan kepada Utari, ternyata ia juga meniduri istrinya itu. Ya walaupun ia melakukannya tanpa sadar.


Tangis Utari mulia mereda setelah tangan si kecil Miracle mengusap wajahnya.


“Mama,” ucap bayi itu.


“Ya sayang, kamu memanggilku?” jawab Utari kemudian tersenyum. Ucapan pertama putranya saat memanggilnya dengan begitu jelas. “Panggil mama lagi sayang,” pinta Utari.


“Mama,” ulang Miracle dengan binar polos pada wajahnya.


Utari mendekap Miracle erat. “Terimakasih sayang, maafin mama, mama jadi cengeng malam ini.”


“Mama. Mama catatata pica pa tata.”


“Hah, kamu ngomong apa? Gimana jika malam ini kamu tidur di ranjang sama mama,” ujar Utari dan dibalas senyuman oleh Miracle.


“Yuk,” ajak nya kemudian berjalan menuju ranjang.


Baru berbaring sejenak, Utari dan Miracle sudah terlelap. Ia tidak ingin lagi memikirkan hal lain yang membuatnya sedih. Saat itu dalam benaknya hanyalah hidup untuk Miracle.


…..


Sementara itu, diruangan dokter kandungan.


Dokter Yenni sedang memeriksa kehamilan Selvie. Morgan ikut masuk ke dalam ruang USG untuk memastikan jika Selvie memang benar benar hamil.


Setelah wawancara mengenai hasil testpack, dokter meminta Selvie berbaring untuk melakukan USG.


“Benar pak, istri anda hamil. Selamat kepada calon ibu dan ayah,” ucap dokter Yeni yang sedang menempelkan sebuah alat ke atas perut Selvie.


Mendengar ucapan dokter, wajah Morgan menjadi tegang. Hamil, tidak mungkin Selvie bisa hamil!


“Usia kandungan memasuki minggu ke empat, masih sangat muda ya bu harus di jaga dengan baik. Jangan terlalu lelah,” lanjut dokter itu.


Tak ingin berlama lama di ruangan itu, Morgan langsung keluar meninggalkan Selvie yang masih berbincang dengan dokter. Morgan bersidiri di depan pintu praktek menunggu Selvie keluar dari dalam.


“Apa benar malam itu terjadi sesuatu di antara kami?” gumam Morgan.

__ADS_1


Dalam kekalutan, ia meremas rambutnya hingga terlihat urak urakan. Tangan kirinya memegang pelipis sambil berpikir.


“Utari… pantas saja ia terlihat acuh. Dia pasti berpikir kalau aku ingin mengambil keuntungan dari dirinya dan Selvie. Dia pasti mengira anak Selvie adalah hasil perbuatanku! Bukti, dimana aku harus menemukan bukti?”


Beberapa saat kemudian Selvie keluar dari ruangan dokter. Saat itu juga Morgan dan Selvie langsung kembali pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan Morgan hanya diam, beberapa kali Selvie mengajaknya bicara namun ia tak merespon. Begitu merespon, Morgan akan merespon dengan kasar.


“Mas, maafkan aku sudah merepotkan mas,” ujar Selvie.


“Anak siapa itu?” tanya Morgan.


Wajah Selvie berubah menjadi sedih, ia tak menyangka Morgan akan curiga seperti itu. Sekarang ia sudah terlanjur berbohong, sampai mati pun ia akan berbohong.


“Ini anak mas, mas tau sendiri aku besar di luar negri. Teman ku di sini tak banyak, aku jarang keluar, siapa yang bisa mas curigai memeluki hubungan denganku?” ujar Selvie.


Morgan memukul kasar stir mobil hingga terdengar klakson berbunyi memanjang. Ia kesal karena Selvie memang jarang keluar rumah, ia tak memiliki banyak teman di Indonesia. Jadi apakah anak Selvie adalah anak nya?


“Apa mas tidak senang mendengar kehamilanku?” tanya Selvie.


Mata Morgan melirik tajam sesaat. “Aku tidak percaya itu adalah anakku, bagaimana aku bisa senang? Apa terbangun di saat mabuk dalam keadaan telanjang sudah bisa membuktikan anak itu adalah anakku?” ujar Morgan sinis.


“Aku curiga kamu sengaja menjebakku,” gumam nya pelan namun sempat tertangkap di telinga Selvie.


Selvie menelan salivanya yang tersekat di tenggorokannya. Ia hampir saja terbatuk, ia tak menyangka bagaimana Morgan bisa begitu yakin jika anak dalam kandunga bukan anaknya.


Selvie akhirnya diam hingga tiba dirumah, ia tak ingin lagi mengajak pria disampingnya itu membahas mengenai anaknya. Selvie takut malah akan memperumit keadaan.


Morgan berdiri di depan pintu kamar Utari. Ada banyak hal yang ingin ia jelaskan pada Utari. Morgan kemudian membuka gagang pintu kamar tersebut, ternyata pintu sengaja di tutup dari arah dalam. Ia masih berdiri di sana berencana untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Setidaknya ia bisa tertidur nyenyak jika Utari tidak salah paham terhadapnya.


“Mas,” panggil Selvie yang tiba tiba muncul disitu.


“Ada apa lagi?” tanya Morgan.


“Kenapa belum tidur, hari sudah malam, aku sudah-” ujar Selvie.


“Aku akan tidur di luar,” potong Morgan kemudian pergi dari situ.


Selvie berdiri terpaku menatap punggung badan Morgan yang memutuskan pergi dari rumah itu ketimbang harus tidur bersamanya.


“Bagaimana ini?”


Mata Selvie kemudian menatap pintu kamar Utari.


“Jika mereka tidak ada, apakah mas Morgan akan melirikku? Mas Morgan harus menjadi ayah dari anakku. Aku harus menyingkirkan mereka.”


Ia kemudian terpikir kepada Sukma ibu Utari. Selama ini bu Sukma tidak begitu akur dengan Utari. Jika bu Sukma bisa membantunya, hasilnya pasti akan lebih baik.

__ADS_1


Selvie kemudian berjalan menuju bangunan belakang. Ia tak ingin menunda waktu lagi. Bu Sukma harus segera menyuruh Utari pergi jauh dari kota itu.


Tok tok tok


Selvie mulai mengetuk pintu kamar bu Sukma. Tak perlu menunggu lama bu Sukma sudah berdiri di balik Pintu.


“Nyonya, butuh sesuatu?” tanya Sukma yang kaget karena nyonya rumah sudah berdiri di situ.


“Bu Sukma, aku ingin bicara.” ujar Selvie.


“Sekarang Nyah?” tanya Sukma lagi.


Selvie mengangguk sejenak. “Bisa saya masuk?”


“O ya silakan masuk nya,” Sukma membuka lebar pintu kamar dan mempersilahkan Selvie masuk kedalam kamarnya.


Selvie duduk di sebuah kursi kayu model lama sedangkan Sukma duduk di atas ranjangnya.


“Bu Sukma, saya ingin meminta bantuan bu Sukma,” ujar Selvie tanpa basa basi lagi.


“Bantuan apa Nyah?”


“Aku ingin Utari pergi dari rumah ini. Bu Sukma mohon bujuk Utari agar pergi jauh dan menghilang. Setidaknya hingga 5 tahun mendatang. Saat itu saya yakin suami saya sudah bisa melupakan perasaannya terhadap Utari.”


Sukma terkesiap mendengar ucapan Selvie. Terlebih saat wanita itu mulai menampakkan wajah sedih hingga menitikkan airmata.


“Bu Sukma tau sendiri, Suamiku sangat tergila gila padanya. Hanya karena rasa kasihan dengan keadaannya, hingga akhirnya mas Morgan ingin menikahinya. Jika mas Morgan menceraikan ku karena ingin menikahi Utari, bagaimana nasib anakku bu Sukma?” Selvie mulai menangis sejadi jadinya meratapi nasibnya kelak jika cerai dari Morgan.


Sukma mengambil tisu dari atas nakas kemudian menyerahkan kepada Selvie. Ia sangat perihatin akan keadaan majikan perempuannya itu. Semua akibat ulah Utari. Sejak kecil Sukma memang sudah tidak suka akan sikap Utari yang terlalu akrab dengan tuan Morgan. Anak itu sangat pintar mecari perhatian Tuan.


Tentu saja semua prasangka Sukma yang sudah buruk pada Utari kini menjadi semakin buruk. Tanpa permintaan Selvie sekalipun, Sukma memang berniat menyuruh Utari keluar dati rumah itu.


“Nyonya tenang saja, saya akan bicara dengan Utari. Ia setuju atau pun tidak, ia tetap harus pergi dari sini. Meski hatus dengan kekerasan,” ujar Sukma.


Mendengar ucapan Sukma, Selvie sangat gembira. Tidak sia sia ia datang ke kamar kumuh itu untuk menangis.


“Benarkah? Terimakasih bu. Aku sangat berterimakasih. Oh ya, beberapa hari lagi saya akan siapkan uangnya. Bu sukma tolong suruh Utari pergi yang jauh, saya rasa uang 3 miliar cukup untuk biaya hidup utari dan anaknya selama beberapa tahun kedepan.”


Sukma tertegun.


“3 miliar? Uang itu lebih dari cukup untuk membayar hutang anak ku,” gumam Sukma.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung…


__ADS_2