
Sesaat setelah mobil Morgan berlalu sebuah taxi tiba di halaman rumah itu. Perhatian Selvie teralihkan pada pria yang baru saja keluar dari dalam taxi itu.
“Eko?” gumam Selvie.
Eko berlari kecil menghampiri Selvie.
Saat itu Selvie hendak berbalik badan dan pergi dari teras itu, namun Eko langsung mencegahnya.
“Aku ingin bicara,” ujar Eko sedikit memaksa.
“Lepaskan, tak ada yang bisa kita bicarakan. Apalagi di rumah ini, kamu berani ke sini mencariku?” ujar Selvie sembari menghempaskan tangan Eko dari pundaknya.
“Aku hanya ingin memastikan, benarkah kamu hamil? Jika kamu hamil, artinya itu adalah anak ku,” ujar Eko tegas dengan tatapan lurus penuh keyakinan.
“Apa yang akan kamu lakukan? Kamu ingin menikah dengan ku? Kamu akan mengambil anak ini? Jangan mimpi!” Tegas Selvie.
“Aku akan bertanggung jawab. Kamu dan tuan akan bercerai. Aku yang akan menjadi ayah dari anak ku,” ujar Eko.
“Haha,” kelakar Selvie pada pria yang sedang berusaha meyakinkan dirinya. “Kamu pikir kamu siapa?” bisik nya di telinga Eko.
“Aku pria yang mencintamu, aku akan menjaga dan melindungi mu dan anak kita,” jawab Eko mantap mebuat Selvie terpaku. Sebuah pengakuan yang tak pernah ia terima dari siapa pun. Selama hidupnya tak ada siapa pun yang pernah berkata seperti itu. Sedikit membuat hati Selvie terharu tentunya.
Sejenak ia merasa tentram dan hangat, ia bersyukur akan ucapan itu. Di dunia ini ternyata masih ada orang yang mencintai dirinya.
“Tidak! Seorang Selvie menikahi pembantu? Apa kata ayah dan ibu? Mereka pasti akan menendangku ke jalanan. Aku tidak ingin menggembel bersama pria ini.” batin Selvie.
“Please, bukalah hati mu. Aku tau kamu juga membutuhkan ku. Aku akan menjaga kalian, walaupun kita tidak bergelimang harta, aku akan memastikan kamu dan anak kita bahagia tanpa kekurangan makan. Aku akan bekerja lebih giat untuk kalian,” ucap Eko kemudian berusaha meyakinkan Selvie.
“Tidak tidak!!” Selvie berbalik badan membelakangi Eko. Setelah menarik nafas ia sejenak terdiam. Eko masih berdiri di belakangnya kini mulai menggenggam jemari tangannya.
Selvie semakin tak kuasa menahan perasaan nya. Ia sadar jika ia memliki secuil perasaan pada Eko. Namun Morgan adalah pria impiannya. Pria masa depan yang selalu ada dalam mimpinya sejak ia kecil.
“Mas Morgan. Aku ingin kamu membunuhnya, aku mungkin saja akan menerima cinta mu jika pria itu sudah mati!”
Seperti tersengat petir mata Eko terbelalak mendengar ucapan Selvie.
__ADS_1
“Jika kamu bisa melakukan syarat itu, aku akan menerima mu,” lanjut Selvie kemudian berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Eko yang masih berdiri mematung di teras rumah itu.
Setelah beberapa menit sepeninggal Selvie, Eko masih berdiri menatap pintu yang kini telah tertutup rapat. Ia masih tak percaya akan apa yang di ucapkan Selvie. Membunuh Morgan? Pria yang bertahun tahun lamanya ia kenal, pria baik hati yang terus membantunya. Bukan hanya membantu dirinya, Morgan membantu seluruh keluarganya.
Bahkan ia kini dipekerjakan di pabrik menggantikan sang ayah. Morgan percaya kepadanya, haruskah ia membunuh pria itu karena cinta nya kepada Selvie. Tapi anak dalam kandungan Selvie?
….
Dua hari pun berlalu. Morgan harus bertemu pak Hutama secara langsung. Ia harus membatalkan kerjasama pak Hutama dengan paman Niko.
Beberapa kali Morgan mencoba menemui pak Hutama di kantornya, namun ia gagal karena kesibukan pria itu. Juga beberapa kali Morgan menemui pak Hutama di rumahnya tapi beliau tidak berada di rumah. Kini satu satunya cara untuk bertemu pak Hutama adalah datang menemuinya pada acara pernikahan putri nya.
Meski undangan tidak di terima Morgan secara langsung, ia harus tetap pergi ke perhelatan besar itu. Tentu saja Morgan akan bertemu paman Niko disana. Paman Niko pasti akan menghalangi niatnya. Morgan sudah siap dengan segala kemungkinan. Jika paman Niko berani macam macam, maka Morgan akan langsung mengumumkan perceraian nya dengan Selvie di acara itu juga.
Setelah membenarkan dasi berwarna keabuan dilehernya Morgan berdiri menatap keseluruh penampilannya pada stand mirror di hadapannya. Ia kemudian keluar dari kamar itu menuju mobil. Pak Danu sudah menunggunya di sana.
“Tuan, nyonya Selvie baru saja pergi. Kalian menuju ke tempat yang sama, kenapa tidak pergi bersama?” tanya pak Danu yang sengaja mengawali percakapan mereka.
“Cih, wanita itu masih dirumah ini? Padahal aku sudah menyuruhnya pulang ke rumahnya,” desis Morgan merasa kesal mendengar nama wanita itu.
“Apa katanya?”
“Katanya nyonya, ‘Hubungi aku jika tugas mu sudah kamu laksanakan, sebelum orang orangku bertindak. Dan jika itu terjadi kamu akan menyesal’, suara nyonya terlihat sangat marah,” ujar pak Danu.
“Apa maksud ucapannya? Siapa yang diberikan tugas? Orang orangnya?” gumam Morgan pelan kemudian teringat sebuah mobil yang mencurigakan sore tadi.
Morgan menatap kaca spion mobil, ia masih curiga ada yang mengikutinya sejak siang. Apa orang itu adalah utusan Selvie?
“Pak Danu, langsung ke hotel JC Elite. Dan jika ada yang mencurigakan langsung beritahu saya,” ucap Morgan mengingatkan agar pak Danu bisa waspada.
“Saya mengerti tuan,” sahut pak Danu.
Mobil hitam yang dikendarai Morgan terus melesat melalui keramaian jalanan menuju acara pernikahan. Beberapa rencana telah tersusun rapih dalam benaknya. Ia harus mendapatkan kepercayaan pak Hutama. Dan juga ia sudah menyiapkan win win solution yang akan ia tawarkan kepada paman Niko.
“Utari, aku akan menjemputmu dengan lebih percaya diri. Tidak akan membiarkan kamu pergi lagi.”
__ADS_1
Mobil hitam itu memasuki pelataran hotel berbintang 6. Gedung menjulang itu tampak bersinar terang dengan kelap kelip lampu yang mengiasi sepanjang jalan menuju lobby hotel. Di kedua sisi jalanan berjejer beberapa karangan bunga ucapan selamat dari berbagai kalangan.
Mobil Morgan berhenti tepat di tempat perhentian tamu.
“Waah, mewah sekali. Baru kali ini aku melihat yang seperti ini,” ujar pak Danu takjub.
“Maklum lah pak, putri satu satunya dari pemilik pertambangan menikah mana mungkin tidak mewah,” sahut Morgan sambil membenarkan posisi jasnya. Ia akan turun dari mobil, artinya sorotan kamera dari para wartawan akan menerpanya.
Saat itu juga ia harus siap dengan segala kemungkinan pemberitaan mengenai dirinya yang akan keluar esok hari di media. Tentu saja ia harus tampak rapih, Morgan Milano yang kini menduda tentu harus terlihat tampan.
Begitu Morgan keluar dari mobil, beberapa sorotan kamera benar benar menerpanya di iringi teriakan teriakan dari pertanyaan beberapa wartawan.
“Pak Morgan benarkah Milano Grup sekarang di ambang kebangkrutan?”
“Pak Morgan. PT. Antares yang dahulu bernaung di bawah Milano grup sekarang menjadi saingan bisnis anda. Apa tanggapan anda?”
“Pak Morgan, anda berseteru dengan mertua anda?”
“Apa kah pernikahan anda dan putri dari grup Antares akan berakhir?”
Sebuah pertanyaan terakhir yang di lontarkan oleh wartawan menarik perhatian Morgan.
Sebelum kakinya tiba di pintu masuk hotel, Morgan berhenti sejenak kemudian melayangkan pandangan pada wartawan yang mengajukan pertanyaan tersebut.
“Mungkin saja,” sahutnya mantap kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lobby hotel.
Tanpa disadari oleh Morgan, Selvie sedang menatapnya dari sisi lain lobby hotel. Ia mengepalkan jemarinya. Tatapan Selvie terus mengikuti Morgan hingga menghilang masuk ke dalam ballroom hotel tempat diadakan perhelatan mewah itu.
.
.
.
Bersambung…
__ADS_1