
Morgan menarik sebuah kursi untuk Utari duduk, kemudian ia duduk persis di samping Utari berseberangan dengan Selvie.
Selvie hanya bisa menatap tanpa berani marah, sikap perhatian Morgan kepada Utari sangat membuatnya tak nyaman. Namun ia tak berani protes. Siapa dirinya di mata Morgan.
Selvie tak langsung berkecil hati mengingat sebentar lagi Morgan tak bisa menghindarinya lagi jika morgan tau ia sedang hamil anak nya. Dengan sabar, selvie berusaha mencari waktu yang tepat untuk mulai berbicara.
Kemudian beberapa menu makanan mulai di hidangkan satu persatu di atas meja makan oleh bu Sukma dan Sena. Sayur Cap Cai ayam, Ayam lada hitam, ayam goreng kalasan, sop ayam kacang merah dan ayam suwir balado.
Morgan menatap satu persatu menu di atas meja kemudian memanggil bu Sukma yang sedang berjalan meninggalkan ruangan itu.
“Bu Sukma.”
“Ya tuan,” bu Sukma kembali berdiri di samping meja makan.
“Kenapa menunya terlalu sederhana hari ini?” tanya Morgan.
“Maksud tuan?” tanya Sukma sedikit bingung dengan menu sederhana yang di ucapkan Morgan.
“Apa hanya ada menu ayam untuk hari ini?” tanya Morgan.
“Oh itu tuan, atas permintaan nyonya, menu di atas meja hanya boleh ada ayam saja,” jelas Sukma.
Saat itu juga pandangan Morgan tertuju kepada Selvie.
Sedangkan Selvie, kepalanya langsung menunduk menandakan perasaan bersalah karena melarang menu lain di atas meja. “Itu karena saya tidak bisa mencium aroma Udang dan ikan, saya akan muntah.” ujar Selvie seraya mengelus elus perutnya yang masih rata.
“Sejak kapan kamu muntah dengan aroma udang, padahal kamu bisanya tidak bisa makan tanpa udang,” gerutu Morgan.
“Maaf,” ucap Selvie dengan wajah semakin sedih. “Itu bukan kemauan saya, tapi kemauan anak dalam perut saya.”
Morgan menangkap ucapannya dengan Seruis. Bahkan pelipisnya mulai mengerut seakan tak percaya dengan ucapan yang baru saja di dengarnya.
“Anak dalam perut?” ulang Morgan.
__ADS_1
Selvie mengangguk. “Ya mas, saya sedang hamil.” Ia masih menunduk tak berani menatap wajah Morgan.
“Kamu apa?” gertak Morgan. Matanya membeliak sembari menautkan keningnya keheranan. “Bagimana kamu bisa hamil?” tanya nya.
Selvie tak menjawab.
“Anak siapa itu? Selama ini kamu punya kekasih?” tanya Morgan lagi.
Melihat percakapan makin serius antara Selvie dan Morgan, Utari langsung mengambil Miracle dari pelukan Morgan.
“Katakan siapa ayah anak itu, aku akan memintanya untuk bertanggung jawab. Kita bisa mengakhiri pernikahan ini lebih cepat,” ujar Morgan antusias.
“Mas, anak ini adalah anak mas sendiri,” terang Selvie, ia kini menatap mata Morgan dengan tegas. Matanya menekankan seolah apa yang di ucapkannya adalah benar. “Mas sudah lupa malam itu saat mas pulang dalam keadaan mabuk?”
“Haha,” Morgan tertawa besar seakan ucapan selvie adalah sebuah lelucon. “Jangan bermimpi, kita tidak pernah melakukan hal itu,” elak nya.
“Kita bahkan melakukannya sebanyak dua kali, mas mabuk parah, wajar saja jika mas tidak ingat. Setidaknya saat mas bangun kita berdua masih dalam keadaan telanjang di atas ranjang. Mas ingin memungkiri hal itu?” tanya Selvie.
Utari yang duduk di samping Morgan tertunduk lesu. Terang saja ia percaya ucapan Selvie karena Morgan pernah melakukan hal yang sama terhadap dirinya. Mereka tidur bersama hanya karena Morgan mabuk berat. Mereka melakukannya sebanyak dua kali hingga terlahir lah Miracle. Dan bahkan Morgan sama sekali tidak ingat akan hal itu. Hingga kini Miracle berusia hampir 9 bulan, Morgan tidak pernah sadar telah menggauli Utari.
Melihat Utari terus diam tak menatap wajahnya, Morgan langsung menggenggam jemari Utari. Satu satunya orang yang ia ingin agar percaya padanya hanyalah Utari.
“Sayang, percayalah. Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Aku paling tau dengan perasaan ku. Aku tidak mungkin meniduri wanita yang tidak aku cintai,” jelas Morgan.
Utari menepis tangan Morgan dari tubuhnya.
“Buktikan, jika anak itu bukan anak tuan.” ucap Utari singka padat namun sarat makna.
Saat itu juga mata Morgan menatap marah ke arah Selvie. Ia tidak terima wanita itu mempermainkannya. Semabuk mabuknya ia saat itu. Tidak mungkin dia akan menghamili Selvie. Selama ini yang ada dalam otaknya hanya Utari. Satu satunya wanita yang terbayangkan ia gauli hanya Utari bahkan pernah terbawa hingga ke dalam mimpinya.
“Baik, aku akan buktikan bahwa aku tidak mungkin tidur dengannya,” Morgan kemudian bangkit dari kursinya. “Kamu ikut saya!” hardik Morgan pada Selvie dengan tatapan sangat marah.
“Kita akan kemana mas?” tanya Selvie. Ia mulai dibuat takut. Ia takut jika keputusannya ternyata salah telah mengaku anak dalam perutnya adalah anak morgan. Ia takut jika Morgan akan menyakitinya setelah tau kebohongannya.
__ADS_1
“Cepat ikut saya,” lanjut Morgan.
“Tapi mas,” tolak Selvie.
“Kita akan mencari dokter obgyn untuk memastikan kehamilan mu. Bagaimana pun caranya aku akan membuktikan jika anak itu bukan anak ku!”
Selvie bangkit dengan ragu dari kursinya.
Morgan menatap sekilas ke arah Utari kemudian pergi meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Selvie menyusul berjalan dibelakangnya.
Sepeninggal Morgan dan Selvie, Utari masih duduk terpaku di meja makan. Ada sedikit terbesit rasa beralah dalam hatinya. Segitu tidak percaya kah dirinya terhadap Morgan? Namun karena hal yang di alaminya membuat ia menjadi bimbang. Anak dalam kandungan Selvie anak Morgan atau bukan? Kenapa Morgan mati matian tidak mengakui anak itu?
Kemudian sebuah tepukan keras dipunggung membuyarkan lamunan Utari.
“Anak ini, sejak kapan kamu mempunyai hubungan dengan tuan. Kamu lihat itu? Nyonya sekarang hamil, kamu mau merusak rumah tangga mereka?” geram Sukma.
Utari tak menggubris ucapan ibunya. Ia tak tau harus menjawab apa. Haruskah ia meminta maaf karena sudah bersalah ingin merebut Morgan dari Selvie.
“Sudah ibu katakan, kamu ke sini hanya akan menambah masalah dirumah ini. Aib yang kamu bawa pulang ini membuat berantakan seisi rumah ini,” lanjut Sukma sambil menunjuk Miracle.
“Bu,” gertak Utari karena tak terima anaknya disalahkan. “Kenapa jika aku mencintai tuan? kelakuanku tidak ada hubungannya sama sekali dengan Miracle. Aku ingin tuan Morgan menjadi suamiku, aku yang menginginkan anak ku memliki seorang ayah. Ini bukan salah anak ku!!”
“Kamu! Kamu sudah gila. Sejak kapan otak mu jadi tercemar. Pasti ayah dari anak ini yang sudah membuatmu rusak. Kenapa kamu tidak mencari pertanggung jawaban kepada yah kandungnya?” geram Sukma.
“Bu, ibu tidak berhak menghakimi ku seperti itu. Walaupun ibu sudah membesarkanku ibu tidak berhak menghinaku dan anak ku seperti itu. Sedari dulu aku memang tidak pernah di anggap anak oleh ibu. Ibu hanya mengambil keuntungan dariku!” dengan mata berkaca kaca Utari bangkit dari kursi. Ia berjalan cepat menuju ruangan tengah meninggalkan Sukma yang masih ternganga dengan ucapannya.
“Pokoknya kamu harus keluar dari rumah ini, carilah tempat untuk mu dan anak mu. Lihat kan permasalahan tuan dan nyonya. Jika ternyata anak nyonya adalah anak tuan, artinya kamu jangan menjadi tidak tau malu dengan terus menjadi parasit dirumah ini,” teriak Sukma.
Teriakan Sukma masih terdengar di telinga Utari bahkan setelah ia masuk ke dalam kamar. Pintu kamar sudah ia tutup dengan rapat, ia tidak ingin mendengar cemooh sang ibu. Selama ini ia tak pernah mendapatkan dukungan sedikitpun dari ibunya. Justru, ibunya terus menyudutkannya agar pergi jauh dari situ. Rumah yang sudah dianggap Utari sebagai tempat untuk ia pulang.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung…