
Eko mengantar Selvie kembali ke rumah Milano setelah menghabiskan rasa rindunya setelah sebulan lebih tidak bertemu Selvie. Sebenarnya siapa yang merindukan siapa? Karena Selvie lah yang lebih dahulu menghubungi Eko, Selvie juga yang menghampiri Eko di pelabuhan.
Dalam perjalanan pulang, Eko di buat sedikit kebingungan akan sikap Selvie. Sebenarnya ia di anggap apa dimata Selvie? Pemuas nafsu? Tempat menumpahkan segala uneg uneg atau kekasih?
Demi menjawab rasa penasaran dalam hati, Eko memberanikan diri menghubungi Selvie. Jika bertanya langsung suasana ia agak canggung, maka sebaiknya ia bertanya melalui telpon.
Baru saja nada sambung terhubung, suara Selvie terdengar antusias menjawab panggilan nya.
“Hallo, kamu masih di depan?” tanya Selvie.
“Tidak, saya sekarang sudah dalam perjalan pulang,” jawab Eko.
“Oh, syukurlah. Tadi aku melihat ibumu keluar menuju gerbang. Aku pikir kamu sengaja bertemu dengan nya. Jika ada yang melihat aku turun dari mobil itu kan bisa ketahuan,” jelas Selvie. Ucapan nya itu jelas membuat Eko sedikit kecewa. Ternyata masih sama. Selvie masih malu jika ketahuan menjalin hubungan dengan dirinya. Ia hanyalah anak seorang pembantu.
“Kenapa? Kamu merasa malu jika hubungan kita ketahuan?”
“Entahlah, saat ini aku hanya butuh dukungan dari mu. Setelah hatiku mantap, aku akan meninggalkan dirimu. Coba pikir, jika aku menjalin hubungan dengan mu apa kata orang orang nanti? Lagipula kedua orang tuaku pasti tidak akan pernah merestui kita. Aku berharap kamu maklum akan keadaan ku. Oh ya, sudah aku transfer uang ke rekening kamu. Anggap saja sebagai uang tutup mulut. Aku mohon rahasiakan hubungan kita jika kamu masih ingin bertemu dengan ku,” ucap Selvie panjang lebar.
Eko tertegun mendengar ucapan Selvie. Lagi lagi Eko merasa harga dirinya jatuh. Uang! Hubungan mereka hanya di nilai dengan uang.
Setelah sambungan telpon berakhir, Eko tersandar lemah pada sandaran kursi kendaraan yang ditumpanginya.
“Ia mengukur perasaan nya dengan uang. Senilai itulah aku dimatanya,” gumam Eko.
Saat itu bunyi ponsel ditangan nya kembali berdering. Panggilan telon dari sang ayah.
”Eko kamu dimana? Kamu kemana saja? Kamu baik baik saja kan?” tanya Marwan dengan nada khawatir.
“Ayah, Eko baik saja. Ada apa ayah?”
“Kamu dimana? Ayah akan ke tempat mu sekarang.”
“Eko di jalan Kartini. Eko bisa ke tempat kerja ayah kalau ayah mau,” ujar Eko yang tak ingin merepotkan ayahnya.
“Kita ketemu di rumah makan Iga jalan Merpati. Ayah segera ke sana, ayah tunggu kamu di sana,” ucap Marwan.
__ADS_1
“Baik ayah. Eko ke sana.”
“Kenapa ingin bertemu di sana? Tempat itu wilayah geng Mokey. Ayah tidak tau atau sengaja ingin bertemu disana?”
“Pak, kita ke jalan merpati.” ucap Eko pada pengemudi taksi.
Saat itu juga mobil meluncur menuju jalan Merpati.
Selang sepuluh menit, mobil yang ditumpang eko tiba di rumah makan Iga. Rumah makan paling populer di jalan merpati hingga tak sukit untuk menemukan rumah makan tersebut. Eko tiba terlebih dahulu dari sang ayah. Ia langsung menempati sebuah meja yang terletak di pojok rumah makan. tak butuh menunggu lama. Sang ayah yang ternyata bersama ibunya tiba di situ.
“Ayah ibu,” Eko melambai pada kedua orang tuanya.
“Eko kamu kemana saja? Kenapa ponsel kamu tidak pernah aktiv?” tanya sang ibu begitu duduk disamping anaknya. Sukma terlihat memperhatikan Eko dengan seksama. “Kamu dari mana saja? Kenapa kulitmu terlihat semakin gelap dan berat badanmu berkurang. Kamu tidak di apa apakan geng utu kan?” lanjut Sukma bertanya.
“Bu, Eko baik saja. Kemaren Eko bekerja di sebuah kapal minyak. Ditengah laut nggak bisa menghubungi ibu dan ayah.”
“Laut? Kamu bekerja keras seperti itu buat apa?” tanya ibu nya dengan mimik khawatir.
“Bu,” sela sang ayah.
“Ta tapi, kamu sudah membuat kami khawatir,” ucap Sukma lagi.
“Sudah lah bu, kita akan bahas itu nanti saja. Sekarang hubungi kepala gang itu. Katakan kami sudah disini,” ujar Marwan.
Sukma terlihat memgetik sesuatu pada ponselnya.
“Mereka akan ke sini,” ujar sukma setelah mendapat balasan pesan.
“Jadi ibu dan ayah janjian di sini karena itu. Ayah sapat uang darimana?” tanya Eko.
“Tuan Morgan. Dia memberikan kita uang setelah tau hutang mu dengan para gangster itu. Padahal sebelumnya dia juga yang melunasi hutang kamu. Entah dengan cara apa ayah bisa membalas budi tuan,” ucap Marwan yang tampak resah pada wajahnya. Saat itu ia menatap Sukma yang masih tertunduk malu. “Ditambah ibumu yang semena-mena terhadap Utari. Tuan pasti sedang kesulitan mencari anak itu,” ujar Marwan kemudian.
“Utari kenapa?” tanya Eko.
“Tanya ibumu. Dia dan nyonya Selvie mengusir Utari dari rumah,” jawab Marwan dengan nada kecewa seraya membuang membuang nafas nya serentak.
__ADS_1
“Ibu sudah minta maaf, ibu tidak tau jika masalahnya seperti itu,” ujar Sukma.
Lagi lagi Marwan menarik nafas panjang kemudian membuangnya serempak. “Kamu terlalu meme benci Utari. Padahal anak itu tidak bersalah. Tidak ada yang salah jika dia dan tuan saling mencintai. Kenapa kamu sangat tidak suka jika Utari menjadi nyonya rumah?” Sergah Marwan.
“Utari dan Tuan? Trus Nyonya Selvie?” tanya Eko semakin penasaran.
“Cih, nyonya? Dia bukan nyonya kita lagi. Pernikahan mereka hanya kontrak dan akan berakhir beberapa hari lagi,” ucap sinis Sukma mengingat kesalahan yang di tumpahkan selvie kepada Sukma. Selvie mencuci tangan dan tidak mengaku jika ia lah yang membayar Utari agar pergi dari rumah. Selvie malah mengatakan jika uang itu di pinjam Sukma. Tentu saja Sukma sangat kesal dengan perempuan itu.
“Ta tapi, kenapa? Nyonya dan tuan?” Eko masih mencerna ucapan ibu nya sambil kebingungan.
“Nyonya nyonya, wanita itu pembohong. Mengaku ngaku hamil agar ibu perihatin. Akhirnya ibu setuju membantunya membujuk Utari pergi dari rumah,” sesal Sukma.
“Hamil,” pekik Eko.
“Makanya bu, jika sejak awal ibu punya sedikit rasa sayang kepada Utari hal ini pasti tidak terjadi. Ibu terus memanfaatkan anak itu. Ayah kecewa dengan ibu,” sambung Marwan.
“Ayah bisa stop salahkan ibu kan? Setiap hari ayah terus mencerca ibu. Ibu juga sudah minta maaf.”
Eko tidak lagi mempedulikan perdebatan yang terjadi antara ibu dan ayahnya. Dalam benak Eko terus mempertanyakan kehamilan Selvie. Sebelumnya Selvie tidak cerita jika ia hamil. Jika ia hamil maka anak dalam kandungan selvie itu adalah anaknya.
Ketiga orang keluarga itu tidak sadar tujuan mereka berada disitu adalah untuk bertemu kepala gangster Mokey. Hingga beberapa saat berlalu, tanpa mereka sadari Mokey sudah berdiri di samping meja mereka. Pria berbadan besar dan tatoan itu menatap sinis keluarga yang sedari tadi sibuk membahas urusan keluarga mereka.
“Pak Mokey,” ucap Sukma seraya berdiri menyambut kehadiran pria yang di segani para mafia di ibukota itu.
“Duduk lah, saya disini hanya untuk mengambil uang saya. Menanda tangani Kwitansi pelunasan. Kalian bisa lanjutkan lagi perdebatan kalian yang tadi itu,” ujar Mokey seraya menyerahkan selembar kertas di atas meja.
Marwan pun segera mengeluarkan beberapa kertas perjanjian diatas meterai agar di tanda tangani oleh Mokey kemudian menyerah kan cek dan satu tas uang tunai kepada pria itu.
“Terimakasih, senang bekerja sama dengan kalian. Berikut, jika butuh dana lagi bisa hubungi saya,” ucap nya sambil tersenyum puas. Mokey pun segera pergi bersama beberapa pria lain yang mengikuti di belakang nya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung…