
Sudah pukul 9 malam, usai makan malam pak Hutama mengajak Morgan dan Jerry menuju cafee miliknya di bilangan Jakarta barat. Perbincangan mereka berlanjut pada rencana kerjasama membangun tambang emas diluar kota.
“Kamu mencurigai sesuatu? bisik Jerry.
“Kemungkinan besar pak Hutama lah orang yang disasar paman. Dia sedang butuh sebuah perusahan besar lainnya untuk menjatuhkan ku,” balas Morgan.
“Jadi kita harus gimana?” tanya Jerry.
“Kita sudah terlanjur berada disini, mereka pasti merasa aku sudah masuk dalam jebakan mereka,” jawab Morgan.
Seketika seorang pelayan masuk ke dalam ruang VVIP tempat mereka duduk dengan membawa beberapa botol minuman keras.
“Baiklah, untuk merayakan rencana kerjasama kita aku menjamu kalian disini. Kedepannya kita raup keuntungan dan menjadi pengusaha termasyhur dinegri ini,” ujar pak Hutama antusias. Ia mengangkat gelas kemudian bersulang untuk rekan kerja barunya itu.
Kemudian Niko datang mendekati Morgan dan duduk disampingnya.
“Morgan, penyakit usus buntu paman agak kambuh akhir akhir ini. Maukah kamu menggantikan paman menjamu pak Hutama? Paman sudah membujuknya, agar investasi di lahan tambang kita, sekarang giliran kamu yang menemaninya minum. Kamu tau sendiri sifat pak Hutama. Ia senang sekali berpesta seperti ini,” ujar Niko.
“Tapi paman, kerjasama belum sah hitam diatas putih kenapa kita harus repot membuang waktu seperti ini?” tanya Morgan.
“Paman mohon bantu lah paman,” ujar Niko sedikit memohon.
Saat itu Pak Hutama sedang menambah minuman ke dalam gelas Morgan dan Jerry. Mereka terpaksa meminum apa yang sudah di tuang pak Hutaman.
Hingga beberapa jam berlalu. Morgan sudah menghabiskan beberapa gelas minuman. Kepalanya mulai keliyengan, ia bahkan tidak sanggup berdiri dengan tenaganya sendiri. Ia benar benar mabuk hingga tidak sadarkan diri.
.
.
.
Sementara itu sebuah kamar tak seberapa besar. Suara ******* membahana di seisi ruangan. Selvie benar benar dibuat melayang oleh permainan Eko. Bahkan untuk sejenak Selvie lupa akan siapa pria perkasa yang membuatnya terbang melayang.
Usai percintaan panas itu, Selvie duduk bersandar pada sandaran ranjang yang tidak seberapa besar itu. Ia menatap tubuh kekar Eko tak berbalut kain sedang terlentang.
“Aku akan membayar mu berapa pun yang kamu mau, tidak ada seorang pun yang boleh tau hal ini,” ucap Selvie dalam.
“Aku tau kita melakukan ini karena rasa saling butuh. Tapi jika nyonya mau memberi ku uang, aku akan menerimanya, uang itu bonus buatku. Aku memang sedang butuh uang dan akan tutup mulut.” Eko bangkit dari ranjang menatap Selvie. “Kapan nyonya akan pulang? Jika seperti ini bukankah suami nyonya akan tau hubungan kita? Aku banyak berhutang budi padanya, jangan sampai ia mengetahui perbuatan kita.”
__ADS_1
Selvie menatap Eko sepintas kemudian mengambil ponsel nya dari atas nakas. “Kamu mengusirku?” Selvie mendesah panjang sambil menyalakan ponsel ditangannya. “Baiklah aku akan pulang, sudah dua malam aku tidak pulang. Nyatanya tidak ada satupun pesan dari suamiku, dia tidak peduli keberadaanku. Dia tidak menghubungi ku sama sekali,” ucapnya.
Ia bangkit dari ranjang kemudian berjalan menuju kamar mandi. Sepertinya Selvie mulai beradaptasi dengan rumah sederhana itu. Selain rumah itu tak ada tempat lain yang bisa di tuju nya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Eko mengantar Selvie pulang ke rumah. Sebelum keluar dari Mobil Selvie menyerahkan selembar cek senilai 100 juta ke tangan Eko.
”Ini uang service kamu sekalian uang tutup mulut, sisanya akan aku transfer ke rekening mu,” ujar Selvie kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
Sambil terus berjalan menuju kamar Selvie memperhatikan setiap barang mewah yang tertata di sana.
“Rumah mewah dan megah namun, namun aku sangat kesepian disini.”
Setiba di kamar, Selvie melempar tas nya ke atas ranjang Kemuidan berbaring disana.
“Jika saja mas Morgan bisa memberikan sedikit cinta nya untukku mungkin aku tidak akan merasa kesepian. Apakah sebaiknya aku menyerah dengan hubungan ini?”
Perlahan lahan mata Selvie tersayup sayup. Rasa kantuk mendera membuatnya terlelap.
Kemudian suara berisik sari depan rumah membuatnya terbangun diikuti suara ketukan pintu membuatnya terbangun.
Tok tok tok.
“Ada apa ini? Kenapa dengan mas Morgan?” tanya Selvie setelah melihat pak Danu sedang menggotong tubuh Morgan.
“Tuan mabuk berat, aku hanya bisa membawanya pulang,” ujar pak Danu yang terlihat kewalahan.
“Bawa masuk pak, kenapa bisa minum sebanyak ini? Mas Morgan minum dimana?” tanya Selvie seraya membantu pak Danu masuk.
“Tuan minum dengan ayah nyonya, dan pak Jerry. Tadi saya sudah mengantar pak Jerry pulang duluan.” jawab pak Danu.
Setelah meletakkan Morgan diatas ranjang. Pak Danu mulai melepaskan sepatu yang dikenakan Morgan.
“Pak Danu biar saya yang mengurusnya. Pak Danu bisa pulang,” ujar Selvie.
“Baiklah Nyah terimaksih,” pak Danu pun meninggalkan Morgan. Ia berlalu dari ruangan itu.
Sementara itu Selvie berdiri menatap Morgan yang tertidur lemas tanpa daya.
“Mas Morgan biasa pulang dalam keadaan mabuk, tapi tidak pernah separah ini.”
__ADS_1
Selvie mulai melepas satu persatu kaos kaki yang dikenakan Morgan. Kemudian membuka satu persatu kancing bajunya. Kemudian terlintas pikiran licik dalam benak Selvie.
“Mungkin ini kesempatan langka buatku. Tuhan sedang berpihak kepadaku.”
Dengan cepat Selvie membuka semua baju yang melekat di tubuh Morgan. Ia melempar baju itu ke atas lantai lalu membuka semua pakaian nya.
“Mas Morgan, kita adalah sepasang suami istri. Sangat wajar jika suami istri tidur bersama seperti ini,” gumam Selvie kemudian mulai memeluk tubuh Morgan. Ia memeluknya erat kemudian tertidur di atas lengan Morgan.
….
Perlahan kesadaran Morgan mulai terkumpul. Tangan kanan nya ingin memegang kepala nya yang terasa pening, namun ia tak bisa mengangkat tangan nya. Seakan ada yang menindih tangan nya itu hingga terasa kebas.
Saat Morgan melempar pandangannya ke kanan, sosok wanita sedang terlelap sambil bersandar disana.
Selvie!
Morgan tersentak kaget kemudian berusaha bangun dari pembaringan. Disaat yang sama Selvie pun membuka matanya.
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Morgan keheranan. Sambil memegang kepalanya yang sakit Morgan berusaha memikirkan kejadian semalam.
“Mas sudah bangun?” Sambil memasang senyuman memikat Selvie kembali berselonjor di bahu Morgan. “Terimakasih untuk semalam mas,” lanjut Selvie dengan senyum puas.
“Apa maksud kamu?” tanya Morgan.
“Kita sudah,” Selvie tersipu malu sambil memeluk bahu Morgan.
Morgan berdiri dari tempat tidur itu sambil memegang kepalanya. Ruangan kamar seakan berputar, rasa mual menghampirinya. Saat itu juga Morgan berlari menuju kamar mandi kemudian memuntahkan semua isi perutnya disana.
Selvie menyusul dibelakangnya sambil membawa segelas air putih. Ia mengusap punggung belakang Morgan kemudian menyerahkan segelas air putih kepada Morgan.
“Ini mas, minum dulu airnya,” ujar Selvie.
“Keluar dari sini,” usir Morgan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung…