
Sejak kehamilan Selvie, keadaan di kediaman Milano menjadi semakin suram. Morgan menjadi tidak betah dirumah karena Utari terus menghindarinya. Selvie menjadi sering emosional karena Morgan jarang pulang. Utari sendiri, ia jadi jarang keluar kamar. Sedangkan para pembantu, mereka lebih sering berada di bagian belakang rumah. Mereka takut kena semprot Selvie, jika mood wanita hamil itu sedang buruk mereka semua akan kena imbasnya.
Suatu malam, Morgan pulang rumah dalam keadaan mabuk. Pukul 1 malam ia mulai menggedor gedor kamar Utari yang terkunci dari dalam.
Tok tok tok
“Utari, buka pintu sayang. Aku ingin bicara,” teriak Morgan.
Buk buk buk
Morgan tak lagi mengetuk, ia mulai memukul pintu kamar kemudian memanggil nama Utari semakin kencang.
“Utari, buka pintu. Ijinkan aku bicara sebentar Utari,” ulang Morgan.
Karena keributan itu, Utari akhirnya bangun dan membuka pintu kamar.
“Tari, kamu tidak ingin melihatku lagi. Aku sangat merindukan mu,” ucap Morgan kemudian merebahkan tubuh jangkung nya dalam pelukan Utari.
“Tuan, kenapa minum minum lagi?” ujar Utari merasa perihatin akan keadaan Morgan.
“Percayalah padaku Utari, bayi dalam kandungan Selvie bukan anakku. Aku pasti akan menunjukkan hasil tes DNA kepadamu. Percayalah,” mohon Morgan.
“I iya tuan, aku percaya,” ucap Utari mengiyakan. Seumur hidup, ia tidak pernah melihat Morgan serapuh itu. Untuk menenangkan Morgan Utari membalas pelukannya sambil menepuk punggung badan Morgan.
Ternyata disisi lain ruangan, Selvie tengah berdiri menatap Utari dan Morgan yang masih berpelukan. Sukma dan juga Wiwi berdiri tak jauh dari tempat Selvie berdiri.
“Utari, aku merindukanmu. Akhir akhir ini kamu terus menghindariku, aku juga ingin bertemu Miracle,” oceh Morgan.
“Tuan, bagaimana kalau saya membawa tuan ke kamar tuan?” tanya Utari.
“Tidak, aku ingin tidur dengan mu. Utari please jangan menolakku lagi,” ujar Morgan.
Utari tak bisa berbuat apa apa. Ia merasa iba terhadap Morgan namun juga kasihan melihat Selvie. Wanita hamil itu tengah meneteskan air mata. Terlihat dari tangannya yang tak henti menyeka pipinya. Ia pasti sedih melihat sang suami yang ia cintai sedang memeluk wanita lain dihadapannya.
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan?” pikir Utari.
“Tuan, ayo,” Utari membawa Morgan menuju ranjang nya. Seperti biasa pria itu langsung tertidur lelap begitu ia bersandar di atas ranjang.
Utari kemudian keluar dari kamar itu bersama Miracle dalam pelukannya. Ia langsung menghampiri ibunya. “Bisa kami tidur bersama ibu?” tanya Utari. Ibunya mengerling kurang senang karena ia selalu merasa sangat terganggu saat bersama Utari, apalagi sekamar bersama. “Ada yang ingin aku bicarakan dengan ibu, mengenai tawaran ibu waktu itu,” lanjut Utari.
Setelah sejenak melirik ke arah Selvie. Utari langsung berjalan mengikuti ibunya. Setiba dikamar sang ibu, Utari langsung merebahkan tubuh Miracle di atas ranjang tak seberapa empuk itu.
Utari kemudian duduk disamping Miracle, sedangkan sang ibu duduk di sebuah kursi dihadapannya.
“Apa tawaran ibu masih berlaku?” tanya Utari.
“Kamu akhirnya bisa berpikir bijak! Ibu akan menyiapkan segalanya. Kapan kamu akan pergi dari sini?” jawab Sukma.
“Secepatnya,” jawab Utari.
Ya, beberapa hari terakhir Utari memang terus berpikir. Keadaan dirinya dan Morgan tidak mungkin bersama lagi. Jika Utari menjadi egois tetap ingin memiliki Morgan maka ada banyak yang akan terluka. Sebaiknya ia pergi, Morgan Selvie dan anak mereka bisa memiliki kesempatan rujuk dan akur kembali. Jika Utari tetap berada dirumah itu, ia hanya menjadi penghalang bagi hubungan mereka.
“Baiklah, besok ibu siapkan uangnya,” ujar Sukma.
Dan hal itu pula lah yang menjadi kekhawatiran Sukma selama beberapa hari terakhir. Kemana anaknya itu pergi. Apa geng Mokey telah menangkapnya karena belum membayar hutang. Bagaimana jika ia disiksa atau bahkan dibunuh?
Seketika itu wajah Sukma terlihat semakin khawatir.
“Tidak tidak, semoga tidak terjadi sesuatu terhadap Eko. Besok setelah Selvie memberikan uang, aku akan menghubungi si Mokey itu untuk membayar separuh hutang Eko. Tidak mungkin mereka benangkap Eko, mereka belum menagih ke sini berarti tenggat waktu pembayaran belum berakhir,” batin Sukma sambil termangu. Ia bahkan tidak fokus pada perkataan Utari.
“Bu, jika ibu tidak memiliki uang. Bisakah ibu hubungi keluarga ibu di kampung? Untuk sementara aku bisa tinggal di rumah keluarga,” ujar Utari namun tidak di simak oleh Sukma. Wanita itu seprti sedang memikirkan sesuatu.
“Bu,” panggil Utari sekali lagi.
“Bu, ibu mengkhawatirkan kak Eko?” tebak Utari sambil memegang pundak Sukma. Tak ada lagi hal yang bisa membuat ibu Sukma khawatir selain kaka laki lakikinya itu.
“Aku tidak memikirkan siapa pun. Kamu cukup pergi dari rumah ini biar beban ibu bisa sedikit berkurang,” ucap Sukma ketus kemudian bangkit dari kursinya. Ia hendak berjalan keluar dari kamar itu.
__ADS_1
“Bu.”
“Kalian tidur saja disini, biar aku mencari kamar lain untuk aku tidur malam ini,” ujar Sukma kemudian keluar dari situ.
Sepeninggal Sukma, Utari langsung berbaring disamping Miracle. Ia memikirkan keadaan disekitarnya. Ia pun akhirnya memilih mengalah dan pergi menjauh.
Keesokan paginya di kamar dimana Morgan sedang tertidur. Utari masuk diam diam ke kamar tersebut untuk mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan Miracle.
Sebelum Utari keluar dari kamar itu, ia menatap Morgan yang sedang tertidur lelap. Perlahan muncul perasaan bersalah dalam benak Utari.
“Maafkan aku tuan, aku bisa merasakan perasaan tuan yang tulus yang tuan berikan untukku. Tapi aku tidak bisa menerima hal itu lagi.”
Perlahan satu persatu langkah Utari maju mendekat, hingga akhirnya ia berdiri persis ditepi ranjang. Utari memutuskan duduk disana kemudian mulai mengusap tangan Morgan.
“Mungkin suatu saat aku akan menyesali perbuatanku. Aku mengikhlaskan tuan bahagia bersama orang yang tepat.”
Tanpa sadar tubuh Utari sudah berbaring di hadapan Morgan. Ia menatap wajah pria itu penuh seksama. Untuk terakhir kali Utari menatapnya sedekat itu, kemudian ia akan pergi jauh dari hadapan Morgan.
Tiba tiba tangan Morgan menggenggam tangan Utari. Ternyata ia sudah bangun. Karena kaget, Utari hendak bangun dari ranjang itu namun niatnya ia urungkan, tangannya digenggam erat oleh Morgan.
“Kamu ingin kemana Utari?” tanya Morgan. Perlahan ia membuka matanya kemudian menatap wajah Utari yang masih terbaring disampingnya. Tangannya itu mengusap wajah Utari sambil memohon. “Jangan pergi,” ucapnya parau.
Utari menatap nya semakin intens, sedikit rasa bersalah terbesit dalam benaknya. Terlebih setelah ucapan jangan pergi dari Morgan. Haruskah ia tetap tinggal.
Utari hampir saja meneteskan air mata, ia berusaha agar benda cair dipelupuk mata nya tidak mencair keluar.
“Aku hanya mencintaimu. Perasaan yang aku sendiri tidak pernah sadari. Aku sudah jatuh hati dengan mu sejak lama, sebelum Selvie masuk ke rumah ini. Aku pikir perasaan ini hanya karena rasa tanggung jawabku ingin menjaga mu. Ternyata aku salah, aku menginginkan mu Utari. Itulah kenapa aku tidak pernah melirik wanita lain, ternyata sejak awal dimata ku hanya ada kamu, gadis kecil yang tumbuh ceria hingga seperti sekarang ini,” Morgan mengungkapkan segala perasaan yang pernah di tepisnya selama ini. Ia tak ingin berbohong lagi.
Air mata keluar begitu saja dari pelupuk mata Utari. Mendengar pengakuan tulus Morgan, hati Utari menjadi bimbang. Ia tak ingin pergi meninggalkan Morgan. Karena ia juga mencintai pria di hadapannya…
.
.
__ADS_1
.
Bersambung…