
Sepeninggal Mokey dari rumah makan itu, Marwan menatap tajam anak lelaki satu satunya itu.
“Ingat ini yang terakhir Eko. Ayah tidak akan membantu kamu lagi, seluruh harta yang ayah dan ibu hasilkan selama bertahun tahun kini terkuras habis karena hutang judi mu. Sekarang ibu dan ayah masih harus melunasi hutang rumah yang kamu gadaikan. Ayah mohon, ijinkan ayah dan ibu beristirahat dengan tenang di usia tua kami. Setelah hari ini, ayah tidak akan pernah memberikan kamu sepeser uang lagi. Tuan Morgan memberi kamu pekerjaan di gudang tempat ayah bekerja. Kamu akan menggantikan ayah bekerja di sana,” Marwan menarik nafas panjang kemudian membuang menghempaskan nafasnya serempak. Seakan sedang melepas beban yang menggatung di pundaknya.
“Bagaimana dengan pekerjaan ayah?” sela Eko.
“Ayah sudah tua, ayah akan kembali bekerja di rumah tuan hingga tenaga ayah melemah. Ayah harus membalas budi baik nya seumur hidup ayah,” ujar Marwan terdengar pasrah.
Mendengar ucapan suaminya, Sukma tertunduk lemah seakan menyesali semua perbuatannya.
“Ayah tenang saja, Eko akan mengembalikan sertifikat rumah ke tangan ayah secepatnya. Eko akan bekerja lebih giat. Eko janji tidak akan menyusahkan kalian lagi,” dengan tekat yang kuat Eko menatap ayah kemudian ibunya. Ia berniat akan hidup lebih baik. Kemudian terbesit dalam pikiran nya mengenai ucapan sang ibu barusan. Selvie hamil?
Setelah terdiam sejenak, Eko memberanikan diri bertanya.
“Bu, benarkah nyonya Selvie hamil?”
Sukma menatap wajah anaknya. “Kenapa membahas wanita pembohong itu lagi? Ibu tidak ingin membahasnya. Ibu tidak percaya satupun ucapan yang keluar dari mulut wanita itu,” ujar Sukma yang memang tak merasa yakin akan kehamilan Selvie. Karena Morgan sendiri menyangkal jika ia dan Selvie pernah berhubungan badan, pernikahan mereka palsu Morgan tidak pernah menyentuh wanita itu.
Karena merasa tak puas dengan jawaban sang ibu, dengan beribu rasa penasaran Eko pun bangkit dari kursinya.
“Bu, aku ada urusan penting hari ini. Aku harus menemui seseorang,” ucap Eko sembari berjalan keluar dari rumah makan itu.
Di luar rumah makan Eko meraih ponsel dari saku bajunya. Ia lamgsung menghubungi Selvie.
“Ada apa?” tanpa menunggu lama suara Selvie sudah menjawab panggilannya dengan nada datar.
“Kamu, kamu hamil?” pertanyaan spontan yang keluar begitu saja dari mulut eko.
__ADS_1
Selvie tak menjawab pertanyaan Eko selama beberapa saat, membuat Eko haris kembali mengulang pertanyaan nya. “Benarkah kamu hamil? Jawab aku!”
“Dari mana kamu mendengar hal itu?” Selvie balik bertanya.
“Dari ibu, benar kamu hamil kan. Itu anak ku!” perantaraan Eko yang tentu membuat Selvie terdiam. Entah apa yang di rasakan perempuan itu. Kemudian terdengar suara tertawa dari Selvie.
“Haha. Kata siapa aku hamil? Hamil anak mu? Jangan mimpi?” ucap Selvie tertahan. “sudah, jangan ganggu aku dulu. Aku akan mandi. Kelak jangan pernah menghubungiku seperti ini. Aku yang akan menghubungi mu jika aku butuh,” ujar Selvie kemudian memutus panggilan telpon.
“Ha halo,” Eko masih hendak bertanya sebuah pertanyaan namun Selvie nada terputus terdengar dari ponselnya.
Untuk lebih meyakinkan, Eko berniat bertemu dengan Selvie. Namun karena hari sudah malam, ia harus bersabar menunggu hingga esok hari. Banyak yang ingin ia pastikan dari perempuan itu. Tentu tidak melalui telpon, ia harus memastikan secara langsung.
…
Sementara itu di kediaman keluarga Milano, usai menutup panggilan telpon Eko. Sebuah panggilan telpon lainnya masuk ke ponsel Selvie.
“Putri pak Hutaman 2 hari lagi akan menikah. Undangan kamu dan Morgan sudah kalian terima? Ayah harap kamu dan Morgan bisa hadir pada acara besar itu. Pak Hutaman adalah rekan bisnis ayah dan banyak pengusaha pengusaha besar lain yang hadir di sana. Ini kesempatan besar buat keluarga kita. Ingat, datang bersama suami mu! Jangan kecewakan ayah!”
“Ta tapi ayah?”
Tanpa mendengar basa basi dari selvie sang ayah sudah menutup panggilan telponnya.
“Bagaimana aku mengajak mas Morgan ke sana? Melihat wajah ku saja dia tidak ingin,” gumam Selvie dalam hatinya.
Tangan kanannya kemudian meraba perutnya yang masih rata. Janin di dalam perutnya tumbuh semakin besar. Ia harus memikirkan solusi secepatnya. Morgan mati matian menolak janin dalam perut itu anak nya. Dan jika dilakukan tes DNA pasti akan ketahuan kalau anak itu bukan anak Morgan.
Selvie kemudian berjalan keluar menuju ruang kerja Morgan. Ia mencari suaminya itu disana namun ruangan itu kosong. Ia berjalan menuju pintu kamar tamu yang biasa di tempati Utari dan Miracle. Beberapa minggu terakhir Morgan tidur di sana, semoga ia berada di sana.
__ADS_1
Saat Selvie hendak mengetuk pintu kamar itu, Morgan keluar dari dalam membuat Selvie mengurungkan niatnya sambil terpaku karena Morgan sedang menatapnya tajam.
“Berapa kali sudah aku katakan agar jangan pernah muncul di hadapanku? Aku sudah memintamu pergi dari sini, kembali lah ke rumah orang tua mu,” ujar Morgan sarkas disertai tatapan dingin menusuk hati.
“Mas, aku,” Selvie berpikir alasan tepat yang sesuai agar Morgan mau keluar dengan nya. “Ada undangan pernikahan dari putri pak Hutaman. Setelah hari itu aku akan pergi dari rumah ini, setelah hari itu mas bisa umumkan perceraian kita. Tapi mas, bisakah kita hadir bersama sebagai suami istri untuk terakhir kalinya di sana?” tanya Selvie sambil memohon.
Terlihat kening Morgan mengerut, ia terlihat sedang menelaah sesuatu dalam pikirannya.
“Jika aku ingin aku bisa pergi sendiri, kamu tidak perlu susah payah berperan menjadi istriku lagi. Kenapa? Ayah mu yang meminta? Haha, pasti karena ayah mu masih harus berdiri dari belakang nama besar Milano untuk merebut keserakahannya. Belum cukup anak perusahan yang dia ambil dariku?”
“Bukan seperti itu mas, aku hanya ingin bersama mas untuk terakhir kalinya. Aku tidak ada sangkut pautnya dengan ayah,” ujar Selvie.
“Menyingkirlah dari hadapanku. Aku muak melihat wajah mu,” ucap Morgan tegas dan jelas kemudian berjalan melewati Selvie begitu saja menuju pintu keluar.
“Mas, aku mohon hadirlah bersama ku,” pinta Selvie sambil terus berlari kecil menuju pintu keluar. “Mas, aku mohon.”
Setibanya ia di teras, Morgan sudah masuk kedalam mobil. Ia tidak diberikan sedikitpun kesempatan untuk berada di dekatnya.
Saat itu Selvie hanya bisa berdiri menatap mobil Morgan yang berlalu cepat meninggalkan halaman rumah itu. Dengan perasaan putus asa, kecewa, dan amarah Selvie mengepal jemarinya dengan erat. Terbesit sebuah pikiran jahat dalam benaknya.
“Jika aku tidak bisa mendapatkan mu, maka siapa pun itu tidak boleh mendapatkan mu! Kamu harus mati! Aku bisa terus menyandang nama nyonya Milano, anak dalam perutku tetap akan menjadi penerus Milano grup. Aku harus membunuhmu agar aib dalam perutku bisa terus hidup.”
.
.
.
__ADS_1
Bersambung…