
Seharian itu Sukma terlihat sibuk. Semua pekerjaan rumah telah selesai ia kerjakan, bahkan ia membantu Utari mengurus Miracle. Sebuah hal yang sangat jarang dilakukan nya.
“Mandilah,” ujar Sukma pada Utari.
“Ibu ketemu teman ibu jam berapa?” tanya Utari.
“Jam 7,” jawab Sukma.
“Sekarang masih jam 5 bu, kita sekalian tunggu tuan untuk ijin,” ujar Utari.
“Ibu sudah ijin dengan tuan Morgan pagi tadi.”
“Jadi sudah dapet ijin dari tuan? Kalau begitu berikan Miracle kepadaku, aku akan memandikannya,” pinta Utari.
“Kita keluar tidak bersama Miracle, hanya kamu ibu dan ayah. Mbak Asty akan menjaga Miracle sebentar,” ujar Sukma.
“Tapi bu, Tari belum pernah meninggalkan Miracle pada-”
“Mbak Tari tenang saja Asty akan menjaga Miracle dengan baik. Asty sudah biasa mengurus anak kecil. Asty punya 15 orang keponakan yang masih kecil kecil dirumah. Jadi mbak Tari tidak perlu khawatir,” potong Asty yang kini berdiri disamping Utari.
“Sudah, sana mandi kemudian dandan yang cantik. Ibu akan menemani anak mu main sebentar kemudian mandi. Sebelum jam 7 ayah akan menjemput kita disini,” ujar Sukma.
Utari berjalan masuk, kepalanya masih menoleh ke arah Miracle yang sedang di gendong mbak Asty. Ada rasa berat dalam hatinya, seakan tak tega meninggalkan Miracle.
Setelah mandi, Utari mengenakan setelan berwarna biru tua. Setelah mengaplikasikan make up tipis Ia mulai memblow rambutnya.
Utari telah selesai berdandan kemudian Asty dan Miracle masuk ke dalam kamar.
“Asty, susu Miracle ada di lemari. Sejam lagi berikan susu nya 4 sendok takar dengan air 80 ml. Oh ya, sebelum tidur jangan lupa ganti bajunya. Kalau dia nangis kamu langsung hubungi saya.”
“Iya mbak.”
Utari bermain main sejenak dengan Miracle, kemudian mencium pipi dan dahi Miracle berulang ulang.
“Anak mama yang patuh yah sama tante Asty. Mama pergi dulu, jangan nakal sayang,” pamit Utari.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.10, Ia bergegas keluar dari kamar. Kemungkinan sang ayah dan ibu sudah menu gtu ya diluar.
Namun didepan pintu Utari berpas pasan dengan Morgan.
“Kamu akan kemana serapih itu?” tanya Morgan.
“Bukankah ibu sudah ijin? Aku akan temani ibu bertemu dengan teman lamanya,” ujar Utari.
__ADS_1
“Menemani teman ibumu tapi se rapih ini?” Morgan mendelik menatap pakaian Utari yang terlihat sangat formal.
“Ini pakaian lama, agak sempit sedikit dibadan ku. Sayang jika tak dipakai, takutnya badan ku menjadi semakin melar jadi sebaiknya dipakai saja selagi muat,” jelas Utari. Dengat alasan tepat itu Morgan tak lagi permasalahkan pakaian nya.
Kamudian wajah Morgan mendekati wajah Utari. “kamu dandan?” tanya Morgan lagi.
Utari memegang pipinya. “Apa terlihat terlalu jelas, padahal aku hanya mengaplikasikan warna natural. Seharusnya tidak terlalu mencolok,” ujar Utari.
Morgan mengambil tisu dari atas bufet untuk Utari. “Terlalu mencolok, lap sedikit.”
Setelah membersihkan lipstik dibibir Utari, Morgan mengangguk puas. Saat itu Sukma sudah berdiri dibelakang Morgan.
“Tuan, kami jalan dulu. Sudah hampir terlambat. Oh ya, makan malam tuan sudah di meja. Nyonya Selvie berpesan akan pulang agak telat hari ini, butik nyonya menjadi sponsor di sebuah acara fashion jadi dia agak sibuk,” ujar Sukma.
“Kalian Pergilah, aku bisa mencari makan ku sendiri,” ujar Morgan.
Sukma langung menarik lengan Utari, mereka berjalan bersama menuju pintu keluar.
“Mana lipstikmu? Wajahmu pucat sekali, coba kamu pakai ini, warna coral pasti cocok dengan kulit mu,” ujar Sukma sambil terus berjalan menuju pintu.
Utari mengambil lipstik pemberian Sukma kemudian mengaplikasikan lipstik itu ke bibirnya. “Gimana bu, bagus?” tanya Utari.
“Sangat Cantik,” balas Sukma puas.
Disana Asty sedang sibuk mengganti popok Miracle yang basah. Sesekali Asty akan mengajak Miracle berbincang. Celoteh bayi itu semakin menggemaskan. Seakan mengerti ucapan Asty Miracle membalas nya dengan antusias.
“Miracle, senang nggak? Semoga kencan mama kamu berhasil. Ok?” ujar Asty pada Miracle dan dijawab celotehan senang oleh Miracle.
Mendengar ucapan Asty, Morgan kaget kemudia berjalan mendekatinya.
“Kencan? Siapa yang kencan?” tanya Morgan.
“Tu tuan, tuan sudah pulang,” ujar Asty kaku. Kala itu Morgan sedang melotot menatapnya.
“Utari dan ibunya pergi kemana?” tanya Morgan.
“Itu tuan, bu Sukma membawa Utari bertemu calon suaminya,” ujar Asty.
“Calon suami?” Dengan cepat Morgan merogoh ponsel dari dalam sakunya, ia ingin menelpon Utari kemudian menyuruhnya pulang saat itu juga. “Tidak tidak aku harus ke sana sekarang,” ujar morgan.
Asty menunduk takut, Morgan terlihat gelagapan dan tidak sabaran ingin segera menyusul Utari.
“Mereka makan dimana?” tanya Morgan.
__ADS_1
“Kalau tidak salah dengar, mereka akan pergi ke Sweet and Sour,” sahut Asty.
“Dimana itu?”
“Saya tidak tau tuan.”
“Tuan browsing saja alamatnya,” ujar Asty.
Dengan cepat morgan mengakses pencarian pada ponselnya. Sweet and Sour resto terletak di jalan gajah mada langsung muncul pada layar ponsel.
“Kamu ikut saya, bawa Miracle,” perintah Morgan.
“Sekarang tuan?” tanya Asty.
“Ya sekarang juga!” Morgan mengambil kunci mobil apa saja dari dalam laci kantornya kemudian berjalan cepat menuju garasi.
Asty yang tengah menggendong Miracle ikut berjalan di belakang Morgan. Mereka menuju sebuah mobil Sport lamborginie berwarna silver yang sedang terparkir di garasi rumah.
Karena terburu buru Morgan mengambil kunci apa saja dari dalam laci, secara acak mobil Silver mewah keluaran terbaru itu yang mereka gunakan saat itu.
Morgan mengemudi kan sendiri kendaraannya itu. Dengan bantuan GPS, mobil melesat diantara lalu lalang kendaraan yang sangat padat.
Asty meletakkan Miracle di atas pahanya. Sepanjang jalan, bayi kecil itu terus menatap Morgan.
Saat mobil berhenti di sebuah lampu merah. Morgan menatap Miracle, ia tersenyum kecil pada bayi itu.
“Kita akan lihat siapa pria yang akan menjadi calon suami mama mu. Jika dia tidak lebih baik dari ku maka sebaiknya jangan pernah berpikir mendekati mama mu.” ujar Morgan.
Asty memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia terkesima mendengar ucapan Morgan.
“Buset, siapa laki laki didunia ini yang lebih baik dari tuan. Seperti nya mbak Utari hanya bisa dilamar oleh anak nya Bill Gates baru dianggap sesuai, ckck.” batin Asty.
“Pantesan mama mu berdandan menor seperti itu. Diam diam dia sedang mencari suami. Padahal aku sudah menyuruhnya bersabar. Dia malah,” Morgan bergumam pelan sambil memasang wajah kesal. Seketika pandangannya kembali fokus ke arah jalanan karena lampu merah telah berubah menjadi hijau.
“O mai gat, tuan menyukai mbak Utari.” Mata Asty membulat, ia tak percaya telah mendengar ucapan itu dari mulut majikannya.
Suasan didalam mobil terasa mencekam, Morgan menyalip setiap mobil yang ada dihadapannya. Ia tak ingin terlambat barang sedetik, seakan Utari akan pergi meninggalkannya. Hingga beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di Sweet and Sour resto.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung…