Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 28. Perjodohan


__ADS_3

Pukul 7 tepat, taxi yang membawa Utari dan kedua orangtua nya tiba di sweet and sour resto. Restoran bergaya modern diterawang oleh lampu terang benderang membuat setiap orang terlihat begitu jelas dari arah luar restoran.


Sukma, Marwan dan Utari masuk bersamaan kedalam ruangan luas itu. Mata Sukma terus mencari ke semua arah.


Disudut ruangan seorang wanita berdiri melambai ke arah pintu masuk dimana Utari Sukma dan Marwan berdiri. Mata Sukma akhirnya tertuju kesana.


“Pak, itu kelurga pak Muksin, ayo kita ke sana,” ajak Sukma sambil berjalan terlebih dahulu menuju meja nomor 26.


Utari berjalan bergandengan dengan sang ayah. Keluarga teman Sukma itu langsung menyambut Utari dengan sangat ramah.


“Ini Utari ya? Wah dia sangat cantik sekali. Ayo duduk,” ajak wanita itu.


Utari mengambil kursi di antara ibu dan ayahnya. Didepannya duduk seorang pria tampan berkulit sedikit gelap. Pria itu terlihat diam tak menatap ke arah Utari.


“Perkenalkan, ini pak Muksin dan istrinya. Serta itu Ardy putra mereka,” ujar Sukma kepada Utari.


Saat itu juga Utari langsung teringat ucapan ibunya saat dirumah sakit. Ardy ini lah pria yang ingin dijodohkan ibu Sukma dengan dirinya.


Saat itu juga wajah Utari berubah datar. Ia tak bisa lagi tersenyum mengingat perbuatan ibunya yang tega membawanya secara diam diam ke pertemuan itu tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Padahal Utari tidak pernah bersedia dijodohkan dengan siapa pun. Namun kini Ia telah terperangkap diantara kedua keluarga itu.


Utari terus diam, saat kedua keluarga sibuk berbincang. Dua sahabat itu tidak pernah berjumpa selama puluhan tahun, tentu banyak hal yang akan mereka bahas.


Perlahan percakapan mereka mulai merambah ke masalah anak anak. Kemudian mulai membahas masalah pernikahan. Telinga Utari Mulai fokus kemana arah pembicaraan mereka.


“Semua harta keluarga kami di kampung sudah diserahkan ke tangan Ardy, dia adalah tuan tanah baru di kampung suka senang,” pujian yang terus membanggakan anak nya terus keluar dari mulut bu Siti. Seperti seorang penjual yang sedang promo barang yang akan di jual agar laku di beli oleh pembeli.


“Oh ya, jadi bagaimana dia akan mengelola semua itu?” tanya Sukma tak kalah antusias.


Beberapa saat percakapan terhenti saat pelayan sedang mengatur pesanan makanan diatas meja. Utari menatap bingung kearah Ardy, pria itu sedari tadi diam tak menatap kemana pun. Pandangannya hanya berada pada satu garis lurus. Bahkan saat pelayan mengatur makanan di atas meja, Ardy tidak bergeming.


“Sukma, jika Utari menikahi Ardy, seluruh aset dan harta kami akan dikelola oleh Utari. Ardy akan menjadi sumber uang untuk Utari. Utari cukup menjaga dan merawatnya dengan baik,” ujar Sity berbangga hati.


“Apa dia bodoh? Dia tampan dan kaya tapi kenapa hanya pasrah begitu saja saat dijodohkan. Dia bukan nya menolak tapi duduk diam dan tidak membantah,” gumam Utari seraya menarik sebuah sudut dibibirnya.


“Pasti, Utari akan menjaga Ardy dengan baik,” sahut Sukma tanpa meminta pendapat Utari.


Siku Utari menyenggol lengan ibunya, “Aku tidak ingin menikah bu, aku belum siap” ucap Utari pelan.

__ADS_1


“Shhttt, ini kesempatan kamu. Lihat pria itu, dia sangat baik, wajahnya tampan dan kaya. Setelah menikah kamu akan menjadi nyonya besar di desa suka senang, dan anak mu bisa hidup enak,” sahut Sukma sambil berbisik.


“Tapi aku belum ingin menikah bu!”


“Tidak ada tapi tapi, ibu tidak ingin kamu menjanda seperti ini. Aib!”


Utari beralih ke sisi ayah nya. “Ayah, aku tidak ingin menikah,” ucap Utari sambil memelas dibahu sang ayah.


“Ayah tau, ayah akan pikirkan cara untuk membatalkan pertunangan kalian,” ujar Marwan.


“Ayah lihat pria itu, ia terus diam menatap gelas didepannya. Dia tidak ingin menatap kita, dia juga pasti tidak setuju dijodohkan seperti ini kan ayah,” bisik Utari.


“Ehm, Ardy. Kamu setuju dengan pernikahan ini? Jika kamu tidak-”


“Setuju! Saya sangat setuju, kata ibu Utari secantik Dewi dari kayangan,” potong Ardy masih dengan tatapan lurus menatap gelas.


Mendengar ucapan lantang Ardy, Marwan hanya terdiam tak melanjutkan ucapannya.


“Baguslah jika nak Ardy setuju. Anak ku Utari memang sangat cantik, nak Ardy pasti suka.”


“Haha, ayo dimakan dulu makanan nya, kita bisa melanjutkan perbincangan setelah makan,” ucap Siti.


“Tuan, uhuk uhuk,” melihat majikannya disitu sukma kaget hingga terbatuk batuk. “Tuan kenapa disini?” tanya Sukma.


Beda hal dengan Utari, melihat Morgan dan Miracle ia seperti melihat malaikat yang datang untuk menolongnya. “Tuan,” wajah Utari berbinar senang.


“Miracle menangis, jadi aku menyusul kalian,” ujar Morgan cuek tak peduli tatapan Sity dan Muksin suami Sity.


Utari berdiri menghampiri Morgan dan Miracle. “Anak ku menangis ya, maaf kan mama nak,” ucap Utari.


Setelah menggendong Miracle, bayi itu tertawa girang, wajahnya gembira dan tak ada tanda bahwa ia baru saja menangis.


“Jadi ini Miracle anak nya Utari? Wah tampan sekali, setelah Ardy dan Utari menikah, kalian bisa menambah satu anak lagi. Ia pasti tak kalah tampan dengan Miracle,” ujar Siti menghampiri Utari dan Miracle.


Saat itu juga Morgan berdiri disamping Utari. “Siapa yang akan menikah? Utari belum ingin menikah!” ujar Morgan.


“Tuan.”

__ADS_1


Morgan menatap pria tampan yang duduk dimeja makan. “Kamu bisa berikan apa pada Utari? Wajah tampan saja tidak menjamin kamu bisa membahagiakannya,” ucap Morgan pada Ardy.


“Kamu siapa? Kenapa ikut campur urusan kami?” sela Sity.


“Saya—”


“Ini tuan Morgan majikan kami, dia sudah seperti keluarga.” potong Sukma.


“Saya akan memberikan semua harta saya kepadanya,” ucap Ardy.


“Cih, kalau cuma harta aku juga bisa,” desis Morgan pelan sambil menatap satu persatu wajah kedua orang tua Ardy penuh intimidasi. “Utari masih harus mengurus anaknya yang masih bayi, dia belum boleh menikah.”


Ardy bangkit dari kursinya kemudian memukul meja didepannya.


Prakkk


“Kamu tidak punya hak mengatur hidup Utari,” ucap Ardy.


“Tuan, kenapa Dia terus menatap gelas itu?” bisik Utari ditelinga Morgan.


“Apa dia buta?” balas Morgan.


“Buta? Padahal dia terlihat sangat sempurna. Pantas saja dia tidak bisa membantah keinginan orang tuanya.”


“Karena dia terlihat sempurna kamu jadi lupa diri? Kamu tidak boleh menikah dengannya.” ujar Morgan.


“Jika pertunangan ini batal, keluarga kami tidak akan memberikan pinjaman uang kepada bu Sukma. Bu Sukma maaf, perjanjian di antara kita batal,” ucap Siti dengan angkuh.


“Maafkan saya Sity, kita akan bicarakan lagi hal ini setelah Utari setuju. Saya akan membujuknya,” ucap Sukma.


“Bu, aku belum ingin menikah. Sudah aku katakan berulang ulang pada ibu,” ucap Utari.


“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan kami pamit,” ucap Morgan. Ia pun membawa pergi Utari dan Miracle dari rumah makan itu.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung…


__ADS_2