
Mobil hitam itu melaju cepat menuju bandara.
"Bener feelingku, Morgan pasti akan membawa Mirey pergi ke suatu tempat. Mungkin ia menyesal telah menikah denganku, dia ingin membawa Miracle pergi dariku. Pantes saja akhir akhir ini dia berubah, bahkan tidak ingin menyentuhku lagi," gumam Utari sambil bersandar lemah di jendela mobil.
"Statusku telah sah menjadi istrinya, tapi dia malah ingin pergi dari ku. Huffftttt," desah Utari.
"Mbak Utari kenapa?" tanya Asty.
Tanpa menjawab, Utari berpaling menatap keluar jendela. Ternyata mereka hampir saja tiba di bandara. Saat itu juga Utari langsung mengambil Miracle dari pelukan Asty.
"Sini berikan Mirey pada ku."
Asty memberikan Miracle ke tangan Utari kemudian sibuk melihat ke arah luar jendela.
Mobil pak Danu melewati pintu keberangkatan bandara, membuat Utari bertanya tanya sebenarnya kemana tujuan mereka.
"Pak Danu, sebenarnya kita akan ke mana?" Utari akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Kita akan lewat pintu belakang neng," jawab singkat pak Danu.
Utari diam sejenak karena mobil harus melewati pos pemeriksaan.
Sore hari beranjak temaram, sebenarnya kemana mereka akan membawa Miracle. Setelah berhasil lolos dengan pengecekan ticke di pos penjagaan. Utari kembali bertanya.
"Sebenarnya kita akan kemana pak?"
"Kita sudah sampai neng, itu mobil tuan di depan, neng bisa bertanya langsung kepada tuan." Mobil pak Danu langsung berhenti tepat di samping mobil sport Morgan.
"Itu mobil Jessie kan pak?" tanya Utari sambil menujuk mobil lainnya yang terparkir disamping mobil Morgan.
Dengan jas hitam dan kacamata hitam, Morgan berjalan menghampiri mobil mereka. Ia langsung membukakan pintu untuk Utari keluar.
Pria tampan itu menjulurkan tangannya menyambut Utari turun dari mobil.
Dengan muka masam Utari menerima tangan Morgan kemudian turun dari mobil. Seketika itu Morgan langsung mengambil Miracle dari pelukan Utari.
Jessie dan Rayhan pun keluar dari mobil menghampiri Utari dan Miracle.
"Ckckck," decak Jessie sambil memperhatikan Utari dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Mbok ee, mau kemana?" canda Jessie karena tampang Utari yang tampak kusam di balik daster.
Tidak menjawab ucapan Jessie, Utari malah cemberut kemudian membuang muka.
Morgan mendaratkan ciuman di dahi Utari.
"Ini bukan ideku sayang, ini ide mereka," ucap Morgan.
Utari menatap Morgan dari sudut matanya. Perasaan kesalnya belum berkurang sedikitpun karena pria itu ikut mempermainkan perasaannya.
__ADS_1
"Loh maksud aku kan baik, itu," ucap Jessie sambil menujuk ke arah Rayhan. Rayhan langsung menyerahkan dua buah koper ke tangan Utari.
"Kita bulan madu bersama," Sorak Jessie sambil melompat lompat memeluk Utari.
"Cih," desis Utari kesal.
"Loh Tar, ini surprise buat kamu," seru jessie.
"Gak lucu," sahut Utari.
"Maaf," Morgan memeluk dan berbisik di telinga Utari.
Airmata berderai dari pelupuk mata Utari. Bagaiman tidak, tadinya Utari berpikir Morgan menyesal telah menikahinya dan akan mengambil Miracle dari hidupnya. Morgan dan Miracle akan pergi meninggalkannya. Sejak tadi hatinya sesak membayangkan hal yang paling ia takutkan itu.
"Nah loh, gue bilang juga apa." ucap Rayhan begitu melihat Utari menangis.
"Tari maaf, maafin tari. Aku cuman ingin buat kejutan, aku nggak punya maksud lain kok," bujuk Jessie sambil menepuk nepuk punggung Utari.
"Kalian jahat, aku pikir kalian akan membawa Miracle pergi dari ku," tangis Utari pecah seketika. Ia ia memukul pelan dada Morgan sambil terus menangis. "Aku pikir kamu menyesal telah menikahiku, kamu hanya menginginkan anaku saja. Dan Kamu akan pergi dengan wanita lain yang lebih cantik."
Jessie dan Morgan tertegun, surprise mereka gagal total. Utari malah menangis kejer karena takut kehilangan Morgan dan anaknya. Hal yang selama ini ia takutkan hingga harus menyembunyikan siapa ayah Mirey dari Morgan.
Morgan memeluk Utari semakin erat.
"Kata siapa aku menyesal. Aku tidak akan oernah meninggalkan mu. Hal luar biasa yang aku miliki saat ini adalah dirimu dan anak kita."
Utari menatap Jessie dari sudut matanya dengan kesal.
"Tari, maaf." Mata Jessie mulai berkaca kaca, ia benar benar merasa bersalah.
Rayhan mendekati Jessie kemudian menggenggam tangan Jessie.
"Tari maafin kami, seharusnya aku yang salah karena tidak melarang Jess melakukan hal ini."
"Aku yang salah, seharusnya aku tidak ikut ikutan berbohong seperti mereka," tambah Morgan.
Pak Danu yang berdiri di samping mobil tersenyum tipis. "Neng, maafin aja, niat mereka baik kok."
Ujung mata Utari mentap tajam ke arah pak Danu membuat pria paruh baya itu tak melanjutkan ucapannya.
"Berikan anak ku, aku nggak butuh suami dan teman seperti kalian," gertak Utari sambil merebut Miracle dari tangan Morgan. Ia berbalik badan hendak pergi dari situ.
Saat itu juga Jessie bersujud menahan kaki Utari, "Tari maaf, aku janji nggak akan ulangi lagi. Tari, bukankah kita sahabat?" bujuk Jessie.
Langkah Utari terhenti karena Jessie menahan kaki nya erat dari belakang. Saat itu Utari berusaha menahan tawanya, tingkah mereka seperti itu membuat Utari senang. Ia harus membalas perbuatan mereka.
"Sayang, ya sudah kita nggak usah pergi dengan mereka kita akan kemana sekarang?" bujuk Morgan.
__ADS_1
Mendengar ucapan Morgan Jessie menjadi gerah.
"Tari, nggak ada istilah mantan sahabat. Mantan suami banyak. Seandainya kamu pisah darinya, kita akan tetap menjadi sahabat."
Mata Morgan membola menatap Jessie. Apa ia sedang berharap agar Morgan pisah dari Utari?
"Haha," tawa Utari pecah seketika.
Jessie melepaskan tangan nya dari kaki Utari kemudian tertunduk lemah.
"Ya sudah, biar kami yang pergi bulan madu sendir. Aku nggak akan memaksa kalian untuk ikut," tutur Jessie lemah tak bersemangat.
Utari akhirnya berbalik badan.
"Kita disini ngapain? Pesawat kita yang mana?" tanya Utari.
Jessie mendongak seketika menatap Utari.
"Jadi kamu ikut?" tanya Jessie kemudian bangkit berdiri melihat anggukan kepala Utari. "Asik," pekiknya girang. "Ayo, itu pesawat kita," Jessie menunjuk sebuah Jet pribadi yang terpakir tak jauh dari mereka.
Utari dan Jessie melangkah cepat menuju pesawat meninggalkan Morgan dan Rayhan yang masih berdiri melipat tangan didada. Mereka bingung melihat dua wanita yang tadinya menangis kini tertawa ceria.
"Tuan, bapak bantu bawa koper nya tuan?" ucapan pak Danu akhirnya menyadarkan Morgan dan Rayhan.
"Iya pak." sahut Morgan.
"Asty, kamu akan tinggal terus dalam mobil?"
Asty bergegas turun dari mobil.
"Jadi Asty ikut tuan?"
Morgan mengangguk.
"Ya ya baiklah, akhirnya asty bisa naik pesawat. Asik. Ibu, bapak, Asty naik pesawat bu, pak," Asty segera menarik kopernya kemudian berlari cepat menyusul Utari Jessie dan Miracle.
"Apa hanya kita saja yang normal disini?" Rayhan pun akhirnya beranjak dari tempatnya berdiri setelah drama tangisan dan tawa yang baru saja di tontonnya.
Hari itu mereka betolak dari bandara menuju Perancis, negara yang di idamkan Jessie dan Utari untuk berliburan bersama.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1