Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 72. Penyesalan


__ADS_3

Enam bulan kemudian...


Di sebuah rumah tak seberapa besar, Selvie sedang sibuk memilah milah pakaian mahal nya untuk dimasukkan ke dalam lemari. Hari itu adalah hari ketiga Selvie tinggal di rumah Eko setelah resmi menjadi istri Eko.


Dan telah seminggu Selvie menjalani masa penangguhan penahanannya. Ia telah menjalani separuh dari hukumannya, dengan jaminan ia sudah bisa di jadikan tahanan rumah oleh pengadilan.


"Suamiku?" teriak Selvie lantang memanggil Eko. Rumah ity tak seberapa luas, tentu saja suaranya terdengar hingga keluar rumah.


"Cih, mau perintah apa lagi?" gerutu Sukma sembari mengayun ayunkan sapunya di halaman rumah.


"Ya nyonya," sahut Eko kemudian meninggalkan pekerjaannya membersihkan taman.


"Lemarinya nggak muat, gimana kalau kita membeli lemari baru lagi?" tanya Selvie dengan manjah.


"Nyonya mau lemari yang seperti apa, akan saya belikan. Asalkan jangan yang terlalu mahal," ujar Eko menyanggupi.


"Yang murah boleh, yang oenting bisa menampung semua pakaian ini. Aku nggak ingin semua pakaian mahal ini rusak dimakan cicak. Ibumu malas membersihkan rumah," ujar Selvie.


"Nanti saya yang bersihkan, Cicak, tikus dan kecoak pasti pergi dari rumah ini."


"Ada tikus juga?" Selvie bergidik ngeri mendengar kata tikus. "Aku mau pindah, kita cari rumah yang lebih besar suami. Ya carikan rumah yang kebih besar. Aku kurang nyaman di sini," ujar Selvie bersungut sungut.


"Baiklah aku carikan, tapi setelah gaji ku cukup ya, kemaren kita baru saja membeli ranjanh. Tambah harus beli lemari, seperti nya untuk mencari kontrakan rumah besar akan butuh waktu," bujuk Eko.


Selvie cemberut namun setuju dengan ucapan Sko.


Dari luar pintu Sukma mendengar semua oercakapan mereka.


"Kamu pikir kamu masih nyonya kaya seperti dulu. Menyesal aku menikahkan putra ku dengan mu. Seandainya aku tau kedua orang tuamu bangkrut nggak sudi punya menantu miskin dan pemalas seperti mu," sergah Sukma.


"Ibu, kenapa bicara begitu. Nyonya sudah berusaha berubah untuk ku bu, ibu jangan mempersulitnya," tegur Eko.


"Nyonya nyonya, emang kamu pembantunya?" Sukma memukul keras punggung anaknya.


"Ibu kenapa main pukul sih?"

__ADS_1


"Ibu, bisa lepas sendal. Ingat setiap masuk ke kamar ini, lepas sendal kotor ibu," ujar selvie sambil menatap jijik sendal jepit yang di pakai Sukma.


"Iiiggghhh, lama lama aku bisa gila tinggal bersama mereka. Batu tiga hari tingkah nya seperti nyonya besar kaya raya," gerutu Sukma sambil berjalan ceoat meninggalkan kamar itu.


"Suamiku, mulai besok aku akan mencari pekerjaan, minta ibu bersih bersih rumah dengan baik. Rumah kecil seperti ini tentu mggak sukit di bersihkan. Nanti setelah kita punya uang cukup, kita pindah ok?" ujar Selvie membujuk suaminya.


"Baiklah, terserah kamu saja. Aku akan katakan ke ibu untuk mengutamakan keberaihan kamar ini," jawab Eko.


"Baiklah," Selvie memeluk Eko sejenak. Ia kemudian mendorong tubuh Eko menjauh. "Kamu bau asap, kenapa nggak mandi dulu?" ujar nya.


"Ya namanya juga abis bakar sampah di depan."


"Sampah?" saat itu juga Selvie berlari menuju kamar mandi untuk mandi.


Beberapa hari berlalu di rumah Sukma. Ketenangan dan ketentraman tidak pernah terlihat di sana. Setiap hari Sukma akan marah marah akibat ulah Selvie yang seenaknya memerintah. Selvie ingin di perlakukan seperti nyonya rumah oleh semua orang.


Marwan tak pernah bisa beristirahat dengan tenang. Sepulang dari bekerja, Sukma akan mencercanya untuk melampiaskan kekesalan terhadap Selvie, hingga akhirnya Marwan dan Sukma juga ikut ribut setiap hari.


Hingga suatu malam, karena keributan besar antara Sukma dan Selvie, Marwan menjadi sangat marah. Emosi yang memuncak, kelelehan dan kurang istirahat membuat tekanan darah pria tua itu menjadi sangat tinggi. Seketika itu juga, marwan jatuh pingsan hingga kepalanya terbentur pada sandaran kursi. Ia dilarikan ke rumah sakit terdekat karena kondisi kritis.


"Utari."


"Utari."


Dokter yang bertugas jaga di dalam ruangan ICU memanggil Sukma untuk berbicara serius.


"Bu, kondisi suami ibu sekarang kritis. Ia masih enggan untuk sadar. Bagaimana jika ibu membawa kesini Utari. Pasien terus menerus menyebut nama itu," ujar Dokter Yoga.


"Utari?" tanya Sukma tak menyangka. Sudah setengah tahun lebih ia tidak mendengar kabar Utari. Entah bagaimana keadaanya kini.


"Bu," panggil dokter itu hingga membuyarkan Sukma yang sedang berpikir keras. "Mungkin wanita bernama Utari itu bisa membuat pasien kembali bersemangat untuk hidup," lanjut dokter Yoga.


"Baik dok akan saya usahakan," jawab Sukma.


Segera setelah keluar dari ruangan dokter, Sukma langsung mengecek ponsel dari saku bajunya. Ia mencari nama utari dalam daftar kontaknya. Bamun tak ada satuoun kontak bernama utari di sana.

__ADS_1


Sukma menghampiri Eko, Eko pasti mempunya nomor kontak Utari.


"Apa kata dokter bu?" tanya Eko.


"Tubuh ayahmu menolak pengobatan, ia masih belum sadar dan terus mengigau nama Utari. Nak kamu memiliki nomor pknsel Utari?" tanya Sukma.


Eko segera melihat daftar kontak di hp nya. Setelah mencari barang sejenak Eko kemudian menggeleng.


"Aku juga yidak memilik nomornya bu," ucap Eko.


Sukma duduk lemah menatap lantai.


"Dokter menyarankan kita untuk melakukan MRI agar bisa tau penyakit ayahmu, tapi ibu tidak memiliki sepeser uang pun untuk itu. Nak kamu pasti punya uang kan, tolong pinjamkan kepada ibu."


"Bu, aku tidak punya uang juga, uang terakhir sudah aku gunakan untuk membeli lemari. Aku gajian seminggu lagi, itupun tidak digaji full karena aku meminjam uang dengan atasanku," jawab Eko.


Kekhawatiran di wajah Sukma semakin menjadi.


"Semua gara gara istrimu, dia membuat kekacauan di dalam rumah. Sekarang dimana dia? Menjenguk ayahmu saja tidak!"


"Sudahlah bu, jangan menyalahkan Selvie. Dia lelah, sepanjang hari dia keliling beberapa perusahan untuk mencari pekerjaan. Toh dia bekerja untuk kita juga," bela Eko pada istri kesayangannya.


Sukma mendesah panjang, ia teringat akan Utari.


"Jika Utari ada disini, dia pasti bisa di andalkan," gumam Sukma pelan. Ia teringat akan putri angkatnya dahulu. Mungkin ia telah salah karena mengabaikan Utari, anaknya itu tidak pernah pelit dan selalu memberikan apa yang di minta Sukma. Sukma benar benar menyesali sikapnya kepada Utari.


"Utari, apakah ibu sebaiknya ke rumah tuan untuk mencarinya," sebut Sukma. Matanya seketika membulat. "Ya tuan Morgan, ibu akan mencoba menghubungi tuan Morgan. Utari pasti bersama nya," ide yang tiba tiba muncul dalam benak Sukma langsung di laksanakan. Saat itu juga Sukma langsung menghubungi nomor ponsel Morgan dari dalam kontaknya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2