
Sudah beberapa hari sejak Utari menempati kamar tamu. Tidak ada satupun orang di rumah besar itu yang ramah terhadapnya kecuali Morgan. Semua orang menganggap Utari seperti parasit yang hidup menempel dan mengisap keuntungan dari sang majikan.
Terlebih Selvie, setiap hari ia akan mencari gara gara terhadap Utari. Ia sering menghampiri Utari hanya untuk sekedar pamer bahwa ia lah nyonya di rumah itu, dialah istri Morgan.
Setiap tindakan Selvie tidak digubris Utari. Ia tetap bersabar hingga suatu pagi.
Tanpa sadar Selvie melihat Morgan secara sengaja mengusap kepala Utari, dengan tatapan mesra Morgan berpamitan untuk pergi bekerja.
Sepeninggal Morgan, disaat keempat pelayan sedang sibuk dibelakang rumah, Selvie langsung menghampiri Utari. Dengan berbagai cara ia ingin agar Utari segera pergi dari rumah itu.
“Kamu mau uang berapa? 5 miliar? 10 miliar. Katakan aku akan memberikannya untuk mu, tapi kamu harus menghilang dari kota ini,” ujar Selvie sambil berdiri menghadang Utari.
“Aku tidak butuh uang nyonya,” sahut Utari singkat. Ia tak ingin ribut lebih besar, ia mengalah atas hinaan yang di ucapkan Selvie.
“Bukankah satu satunya hal yang kamu perlukan didunia ini hanyalah uang?” tambah Selvie.
“Saya tidak punya urusan dengan nyonya, ijinkan saya lewat,” pinta Utari.
“Pikirkanlah baik baik, seberapa murahnya dirimu. Uang 10 miliar apa masih kurang? Kamu dan anak haram mu bisa hidup enak tanpa perlu mengemis perhatian dari suamiku lagi,” tambah Selvie berusaha meyakinkan Utari.
Mata Utari menatap tajam ke arah Selvie. Ia tak pernah terima saat anak nya terus di sebut anak haram.
“Tidak perlu repot repot memberiku uang nyonya, jika aku mau aku bisa minta kepada tuan. Tuan akan memberikan lebih banyak dari yang nyonya berikan,” ujar Utari, ia hendak melangkah pergi namun secara tiba tiba Selvie menarik badannya.
“Kamu tak tau diri, wanita murahan yang tidur dengan sembarang pria sekarang ingin menggoda suamiku?” Selvie mendorong tubuh Utari ke arah belakang hingga menghantam sandaran kursi.
“Aughhh,” pekik Utari
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Utari.
“Kamu mengandalkan bayi tak jelas siapa ayahnya itu untuk merebut hati suamiku, bawa pergi anak sialmu itu! Rumah ini tidak butuh orang kotor seperti mu yang tidur dengan sembarang pria dan hamil. Kamu dan anak hasil perbuatan kotor pembawa sial!” lagi lagi Selvie menghina Miracle.
“Aku akan merebut suamimu, aku menyukainya, dia ayah dari anak ku,” jawab Utari seraya menatap garang wajah Selvie.
Saat itu juga selvie langsung menarik rambut Utari. Ia menjambak menampar kemudian memukul Utari berulang ulang. Tak mau kalah lagi, Utari membalas Selvie. Saling baku hantam terjadi dengan sengit. Kedua wanita itu bergulat hingga ke lantai.
Posisi Selvie semakin terjepit, Utari mulai menghantamnya habis habisan.
“Tolong, tolong, ia ingin membunuhku,” teriak Selvie histeris.
Wiwi pelayan kepercayaan bersama seorang pelayan tiba disitu. Tak mau tinggal diam melihat majikannya kalah, Wiwi langsung menarik Utari kemudian menghantamnya. Pergulatan terjadi antara Utari dan Wiwi.
“Hentikan!” teriak Sukma yang saat itu sudah berada disitu. Kedua wanita itu masih saling adu pukul. Sukma langusung menarik Wiwi dari atas tubuh Utari sedangkan pelayan satunya membantu Utari berdiri.
__ADS_1
Suara isak tangis Selvie mulai terdengar.
“Berikan ponsel ku, ambil ponselku ke sini,” perintah Selvie.
Seorang pelayan lagi yang baru tiba disitu mengambil ponsel dari kamar kemudian menyerahkan ke tangan Selvie.
“Kamu harus mendekam dipenjara, aku akan menuntut perbuatan mu,” ujar Selvie.
“Aku juga akan melapor nyonya. Nyonya terlebih dahulu menyerangku,” ujar Utari tak mau kalah.
“Diam!” bentak Sukma pada anaknya.
“Nyonya, sabar dulu. Kita bicarakan hal ini baik baik,” bujuk Sukma.
Sukma berusaha menenangkan hati Selvie dan Utari. Keduanya masih tak mau diam, mereka saling tuding dan menuduh satu sama lainnya. Selvie merasa seperti korban yang tertindas ia telah menghubungi polisi. Sedangkan Utari merasa tak bersalah. Ia merasa harus membela diri karena diserang oleh Selvie terlebih dahulu.
Setengah jam kemudian Morgan dan Jerry tiba di rumah bersamaan dengan beberapa orang polisi. Saat itu Jerry langsung berurusan dengan para polisi itu agar kasus itu tidak lebih panjang.
Sedangkan Morgan ia berjalan cepat masuk kedalam rumah.
Melihat kedatangan Morgan Selvie semakin menangis tersedu.
“Ada apa ini?” tanya Morgan.
Ia menatap selvie terlebih dahulu. Ia Masih terduduk diatas lantai, selvie menangis sambil memegang beberapa kukunya yang patah. Rambutnya urak urakan dan baju dibadannya acak acakan.
“Polisi, aku ingin polisi. Dia harus ditangkap, ia mencoba membunuhku,” ujar Selvie.
“Kamu mau membuatku malu? Jika masalah ini tersebar ke media masa, kamu berani menanggung semua kerugian ku?” gertak Morgan.
“Ikut aku, kita bicara diruang kerjaku,” ajak Morgan, ia masuk terlebih dahulu ke ruang baca.
Wiwi membantu Selvie menuju ruang baca, sedangkan pelayan satunya lagi membantu Utari menuju ke sana.
“Kalian keluarlah, aku ingin bicara dengan mereka,” ujar Morgan.
Setelah kedua pelayan itu keluar Morgan menatap bergantian kedua wanita itu. Cukup lama ia menunggu siapa yang akan bersuara duluan.
“Apa yang terjadi,” tanya Morgan menatap Selvie.
“Dia mencoba membunuhku,” ujar Selvie mulai terisak.
“Membunuh? Kamu duluan memukulku tadi,” bela Utari kemudian mengangkat kepalanya. Ia masih sangat ingin meninju wajah munafik selvie.
“Tari diam,” Morgan baru menatap wajah Utari. Sedikit darah menetes dari hidungnya, merah memar ditulang pipinya serta goresan di pipi kanan dan leher.
__ADS_1
Utari kembali menunduk. “maaf,” ujar nya patuh.
“Bagaimana bisa dia membunuhmu?” tanya Morgan pada Selvie.
“Dia memukulku dengan tenaga yang sangat keras, aku tak berdaya di atas lantai namun dia terus memukulku,” jawabnya sambil berlinangan airmata.
“Dia duluan menampar dan menarik rambut ku,” bela Utari pada dirinya sendiri.
Morgan menatap lekat wajah Selvie seakan meminta penjelasan atas ulahnya yang lebih dahulu menyerang Utari.
“Dia mengatakan mas adalah ayah anak nya. Itu sebuah fitnah, ia ingin merebut mas dariku.” jawab Selvie pelan.
Mata Utari membeliak menatap Selvie, kemudian membuatnya canggung sendiri karena tatapan Morgan.
“Selvie, angkat kepala mu. Ingat! Aku tidak ingin masalah ini berlanjut ke polisi. Dan aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi. Masalah sepele ini membuatku meninggalkan meeting penting siang ini! Lihat gaya kalian, Kalian seperti wanita yang tinggal dihutan!” gertak Morgan.
Morgan bangkit dari kursinya menghampiri Utari. Ia mengangkat dagu Utari kemudian membersihkan darah dari hidung Utari.
“Jika polisi mengurus hal ini siapa yang akan ditangkap? Utari berdarah, memar dan luka seperti ini,” Morgan tidak melanjutkan kata katanya.
Selvie melirik Utari kemudian sadar bahwa wajah Utari terlihat sangat mengenaskan. Memar lebam dan berdarah.
“Aku.. aku tidak memukulnya sekeras itu, aku hanya…” sangkal Selvie.
“Siapa yang melakukan ini?” tanya Morgan.
“Wiwi? Pasti ulah Wiwi,” Batin Selvie.
“Nyonya dan mbak Wiwik melakukan pengeroyokan, mereka yang ingin membunuhku,” ujar Utari menambah nambahi.
“Selvie, kamu dan Wiwi memukulnya. Dan kamu ingin melapor nya? Polisi masih ada di depan, jika direruskan kerugian fisik yang di derita Utari lebih besar. Lihat,” Morgan mengangkat lengan Utari yang terlihat memar.
Selvie mulai panik, ia merasa tidak memukul Utari hingga seperti itu.
“Jika diteruskan bukankah Wiwi yang akan di tangkap?” batin Selvie.
“Aku yang salah, aku yang memukulnya duluan karena emosi. Wiwi hanya membantuku, dia tidak salah,” ujar Selvie.
“Sudah sekarang kamu keluar, hukum pelayanmu itu membersihkan taman selama 1 bulan. Atau pecat saja sekalian,” ujar Morgan.
“Aku akan menyuruhnya membersihkan taman sekarang, mas jangan memecatnya,” ujar Selvie kemudian bergegas keluar dari situ.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung…