
“Selvie!” geram Morgan mengingat betapa keterlaluannya Selvie. Dia memanfaatkan Sukma dengan iming iming uang, agar Sukma membujuk Utari pergi dari rumah!
“Bu, sekarang ambil uang yang diberikan nyonya. Kita kembalikan uang itu kepada nyonya. Dimana ibu menyimpan uang itu?” tanya Marwan kemudian.
“Di bawah ranjang pak.” Sukma menjawab sambil terbata.
“Ibu tunggu di sini, biar bapak saja yang mengambil uang nya,” ucap Marwan akhirnya karena sang istri masih terlihat sesenggukan.
Sepeninggal Marwan, Morgan bertanya beberapa pertanyaan kepada Sukma mengenai Utari. Ia memakai baju apa, nomor taxi yang menjemputnya serta jam keluarnya dari rumah. Setelah mendapat jawaban lengkap dari Sukma, Morgan langsung menghubungi Arlek.
“Pak Arlek, gimana?” tanya Morgan.
“Belum ketemu jejaknya pak, orang orangku masih berkeliling di sekitar pinggiran Jakarta Utara.” lapor Arlek.
“Pak Arlek, Utari keluar dari rumah menggunakan taxi kuning nomor 30. Lacak kemana taxi itu mengantar Utari. Kemungkinan dia menuju stasiun kereta api menuju luar kota. Dan, saya punya pekerjaan tambahan juga, seorang pria bernama Eko Supriadi data lengkap dan foto akan saya kirim via inbox,” ujar Morgan.
“Baik pak!” sahut Arlek sebelum akhirnya panggilan diakhiri.
Pak Marwan memasuki ruangan itu dengan satu tas besar berisi uang. Sukma pun menatap tas jinjing ditangan suaminya itu dengan rasa sayang. Seumur hidup ia bekerja, belum pernah ia mengumpulkan uang sebanyak itu. Untuk membeli rumah sederhana yang mereka miliki saat ini pun harus kredit dari bank selama bertahun tahun. Kini setelah memiliki uang sebanyak itu kenapa harus dikembalikan?
“Sekarang bu Sukma panggil Selvie ke sini!”
.
.
.
Sementara itu di kamar Selvie…
Selvie baru saja terbangun dari tidurnya. Ia tidur sejak sore hari namun baru terbangun hampir pukul delapan malam. Entah mengidam apa yang di alaminya, matanya selalu terasa berat. Suara berisik apa pun di luar sana tidak akan mengganggu tidurnya sedikitpun.
Sejak siang itu, setelah mendengar bahwa Eko tidak pernah ada kabar semenjak hari ia dipecat, Selvie menjadi khawatir. Ia terus kepikiran akan pria yang ia usir dengar kasar, Selvie bahkan memaki dan menghina Eko di hari terakhirnya bekerja.
Kini Selvie menjadi takut sendiri. Bagaimana jika terjadi apa apa terhadap Eko? Apakah dia bunuh diri atau dia menghilang dan tak akan kembali lagi?”
“Tidak!”
__ADS_1
Selvie menepis segala prasangka buruknya.
Ia kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas mengecek beberapa pesan yang sudah ia kirim kepada Eko.
Di antara sekian banyak pesan yang di kirim, belum ada satu pun pesan yang di baca oleh Eko.
“Kemana dia?” gumam Selvie.
Selvie duduk di ranjangnya dengan penuh penyesalan atas apa yang ia ucap kan pada Eko.
Flash back to view weeks ago…
Setelah mengetahui dirinya hamil, Selvie menjadi takut jika Eko buka suara soal hubungan mereka. Hari itu juga Selvie memanggil Eko ke ruang baca.
“Ada apa nyonya?” tanya Eko setiba nya ia di ruang baca.
Selvie menatap wajah Eko, ia masih berpikir hal apa yang bisa membuat Eko pergi dari rumah itu tanpa kembali lagi.
“Nyonya butuh sesuatu?” tanya Eko lagi.
“Saya di pecat Nyah? Kenapa?” tanya Eko.
“Lakukan saja, tak usah banyak bertanya. Setelah berhenti kamu pergilah yang jauh, jangan pernah muncul di rumah ini lagi.”
Eko tercengang mendengar ucapan Selvie.
“Tapi, kenapa Nyah. Apa pekerjaan saya kurang memuaskan?” tanya Eko, ia enggan berhenti bekerja saat itu. Ia sedang butuh uang untuk membayar hutangnya.
Selvie memejamkan matanya. Eko terlihat tidak ingin patuh.
“AKU INGIN KAMU BERHENTI, KAMU DI PECAT !!!” ulang Selvie secara lugas sambil berjalan mendekati Eko. “Aku ingin menghilangkan jejak mu. Mengingat hubungan kita yang bo doh ini, aku jadi ingin muntah. Bagaimana tol ol nya aku akhir akhir ini, kenapa aku bisa tidur dengan mu?” Selvie mengusap lengan dan dan badannya seakan dengan wajah jijik.
“Nyonya, memecatku hanya karena hubungan kita? Oke aku janji tak akan mengulangi hal itu. Aku akan anggap hal itu tidak pernah terjadi. Aku mohon nyonya, aku sangat butuh pekerjaan ini,” mohon Eko.
“Kamu sudah di pecat. Apa otak mu tidak bisa mencerna kata-kata ku? Aku tidak ingin melihat mu di rumah ini atau dimanapun. Haha apa orang miskin emang susah di kasi tau? Kamu paham? Aku tidak ingin melihatmu lagi!” ucap Selvie dengan kejamnya.
Eko menatap wajah Selvie. Selama ini walau terkesan jutek, Selvie ternyata sangat lembut dan perhatian. Ia hanya seorang wanita yang butuh kehangatan. Kini wajah baru apa lagi yang sedang di tunjukkan Selvie. Kenapa mulut nya bisa semakin jahat?
__ADS_1
“Kamu pasti enggan di pecat, karena ingin uangku lagi iya kan?” Selvie melempar sekantong uang ke badan Eko. “Ambil itu, aku harap kamu tidak muncul lagi di hadapanku,” ucap Selvie dengan tatapan angkuh.
Eko terdiam dengan bibir yang kelu. Hinaan yang sangat menyakiti hatinya. Ia memang serakah jika menyangkut uang. Tapi kali ini, kenapa ia malah merasa harga dirinya jatuh karena hinaan itu berasal dari mulut Selvie.
“Aku tidak butuh uang nyonya, aku akan pergi dari hadapan nyonya, aku tak akan pernah muncul sampai aku menjadi orang yang sukses!” ucap Eko penuh tekad.
“Cih belagu, kamu dan keluarga pembantu mu bisa sesukses apa? Hidup aja masih numpang. Dan kamu, pekerjaan gigolo lebih cocok untuk mu agar bisa cepat kaya. Ayo sana gih ganti profesi,” ucap Selvie.
Eko mengepal kedua tangannya. Ia pergi dengan penuh amarah tanpa mengambil uang yang di berikan Selvie. Hari itu Eko bertekat untuk menjadi sukses, ia tidak ingin merasakan hinaan seperti itu lagi terlebih hinaan itu keluar dari mulut wanita yang ia cintai.
Now…
Mengingat semua ucapan jahat yang ia lontarkan kepada Eko, Selvie semakin resah. Ia takut jika pria itu gantung diri, minum racun atau mungkin menenggelamkan dirinya di laut.
“Tidak,” pekik Selvie tanpa sadar. Matanya mulai berkaca kaca sambil kembali mengetik sebuah pesan ke ponsel Eko.
“Maafkan kata kasar ku. Aku tidak bermaksud sekasar itu. Saat itu aku hanya sedang takut. Aku mohon, jawablah pesan ini. Aku sangat khawatir.” pesan terkirim.
Tok tok tok
“Siapa?” tanya Selvie.
“Nyonya ini saya bu Sukma. Tuan menunggu nyonya di ruang kerjanya,” ucap Sukma dari depan pintu.
“Baiklah, saya akan kesitu.” sahut Selvie.
Saat itu juga Selvie membenarkan pakaiannya kemudian menambahi riasan minimalis ke wajahnya. Sangat jarang suaminya itu mencarinya. Mungkin ada hal baru yang ingin di sampaikan. Apakah ada kejutan untuk istri yang hamil?
Dengan penuh semangat Selvie berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang kerja suaminya.
.
.
.
Bersambung…
__ADS_1