
Morgan duduk sendirian di ruangan kantornya. Lampu ruangan itu sengaja di biarkan gelap. Sembari menyalut sebatang rokok kemudian mengepulkan asapnya keluar dari mulut, tangan kirinya memegang segelas vodka. Tatapan Morgan hanya tertuju pada satu titik lampu gedung menjulang lainnya yang menerawang dari jendela ruangan itu. Ia terlihat sangat frustasi.
Kemudian Jerry tiba disitu setelah sebelumnya di hubungi oleh Morgan. Asisten pribadi sekaligus sahabatnya itu selalu ada di saat paling terpuruk hidup nya.
Setelah menekan sakelar salah satu lampu temaram di ruangan itu, Jerry menghampiri Morgan. Pria itu jelas terlihat sangat gundah. Gelas di dalam genggamannya diteguknya sekali lagi pertanda ia sangat haus akan alkohol untuk meredakan beban pikirannya saat itu.
Jerry berinisiatif mengambil botol berwarna bening dihadapan Morgan. Ia juga kemudian menarik gelas dari tangan Morgan, menuang vodka ke dalam gelas itu kemudian meminumnya. Melihat tindakan Jerry, Morgan langsung menatapnya.
“Hmm, aku hanya membantumu menghabiskan isi dalam botol itu,” ujar Jerry kemudian duduk pada kursi di sebelah Morgan.
Jerry menunggu sejenak sebelum Morgan mulai berbicara.
“Kamu percaya jika anak dalam kandungan Selvie adalah anakku?” tanya Morgan kemudian.
“Dia istrimu. Tentu saja ia?!” ujar Jerry mantap.
“Aku tidak pernah menyentuhnya.” ujar Morgan tegas agar bisa menepis keraguan dalam pikiran Jerry.
“Bro, hampir dua tahun kalian bersama. Kamu yakin tidak pernah menyentuhnya?” tanya Jerry selayaknya sahabat.
Kini pria galau itu menatap lekat wajah Jerry. “Aku tau bagaimana perasaanku. Kamu pikir aku akan tidur dengan nya hanya karena hasrat bercinta. Jika ia, tentu aku sudah menidurinya sejak pertama kami menikah,” ujar Morgan.
“Selama ini kalian berada dalam atap yang sama, tidak ada seorangpun yang percaya jika anak dalam kandungannya bukan anak mu,” ujar Jerry lagi.
Ya tidak ada yang tidak percaya termasuk Utari!
Mengingat Utari, Morgan meremas rambutnya yang memang sudah terlihat berantakan.
“Kami sekamar, tapi aku tidur di ruang pakaian,” ujar Morgan lemah.
“What? Selama dua tahun ini kalian seprti itu?” ujar Jerry kaget.
__ADS_1
“Ckck, pasti ada yang salah dengan otak mu. Kamu tidak pernah sekalipun melihat ia telanjang?” tanya Jerry yang baru pertama kali mendengar pengakuan dari sahabatnya itu.
“Aku…” Morgan sekali melihatnya telanjang yaitu saat ia pulang dalam keadaan mabuk malam itu. Tapi ia sangat yakin jika tidak terjadi apa apa diantara mereka walaupun banyak terdapat bekas merah didada Selvie saat itu.
“Bro, laki laki mana yang tidak tergoda akan kecantikan istrimu? Semua orang akan merasa mustahil mendengar hal itu,” ujar Jerry lagi.
“Aku sekamar dengan nya hanya karena ingin menjaga martabatnya di hadapan para pelayan yang waktu itu berjumlah lusinan orang. Aku tidak pernah berniat atau tertarik sedikitpun terhadapnya,” ujar Morgan.
“Tidak, jangan bilang kamu tertarik dengan sesama jenis,” canda Jerry.
Morgan menatap tajam mata Jerry hingga membuatnya menutup rapat bibirnya.
“Aku mencintai Utari. Aku terus membayangkan wajah nya. Anehnya hal itu terjadi setelah Utari pergi ke Surabaya. Tadinya aku menepis perasaan itu, aku pikir perasaan ku padanya hanya karena ingin melindunginya. Setelah pernikahan ku dengan Selvie aku semakin yakin dengan perasaanku kepadanya,” ujar Morgan.
“Utari gadis kecil yang menggemaskan itu?” ujar Jerry.
“Dia bukan gadis kecil lagi. Dia berusia 21 tahun sekarang. Dengan seorang bayi berusia hampir 9 bulan,” ujar Morgan. Ucapannya kini melemah. Setiap Ia teringat sosok Utari dan Miracle ia menjadi sangat sedih dan merindukan mereka.
“Jadi bagaimana rencana mu? Kamu tentu harus mengakui anak dalam rahim Selvie adalah anakmu,” ujar Jerry.
“Jika aku melakukan hal itu maka aku akan kehilangan Utari,” sahut Morgan.
Ruangan luas itu mulai berkabut akibat asap rokok dalam jemari Morgan. Saat itu juga Jerry langsung menarik batang rokok yang hampir habis itu kemudian membuang nya kedalam asbak.
“Jadi apa yang kamu ingin aku lakukan?” tanya Jerry serius.
Morgan berpikir sejenak…
“Selidiki Selvie! Cari tau ia bertemu dengan siapa saja selama sebulan terakhir ini. Periksa CCTV di butiknya. Periksa latar belakang siapa pun orang yang dekat dengan nya. Periksa juga latar belakang pembantu nya yang bernama Wiwi. Bisa jadi dia tau sesuatu,” ujar Morgan.
Jerry mengangguk paham. “Besok aku akan meminta Arlek ke sini. Dan, bagaimana dengan paman Niko, jika ia merger dengan pak Hutama. Kita bisa mengalami kerugian besar,” ujar Jerry.
__ADS_1
Morgan mengepal tangan kanannya. Seperti nya ia telah terjebak dalam permainan paman Niko. Paman Niko sengaja meminta pernikahan kontrak dengan putrinya Selvie dengan alih agar fondasi anak perusahan semakin kuat. Alih alih ia berncana menggunakan Selvie untuk masuk ke dalam perusahan induk.
Kini paman Niko memliki sebagian besar saham di anak perusahan yang mereka bangun bersama. Ia menggunakan perusahan fiktif kemudian mangambil alih saham sedikit demi sedikit.
Ternyata selama ini Morgan hanya di jadikan batu loncatan oleh Niko untuk melejit hingga mendapat kepercayaan dari para pengusaha besar lainnya.
“Sekarang aku hanya bisa memikirkan cara bagaimana mempertahankan perusahan induk. Aku terpaksa melepas anak perusahan ke tangan paman Niko,” ujar Morgan.
“Tapi, dalam perusahan induk tetap masih ada campur tangannya karena ada saham Selvie,” ujar Jerry khawatir.
“Aku berharap tidak ada satupun investor yang bersedia merger dengan mereka. Jika itu terjadi aku bisa bangkrut. Untuk membangun anak cabang itu aku sudah mengambil triliunan rupiah dari bank, aku tidak bisa mengakses dana sebanyak itu lagi untuk Milano grup. Aku terlilit hutang, dan…” Morgan memejamkan matanya membayangkan bagaimana percaya nya ia terhadap paman Niko. Paman yang selama ini menjadi tempat ia belajar berbisnis sering membantunya mengambil keputusan dalam perusahan ternyata punya nita jahat.
Morgan menarik nafas panjang kemudian membuangnya serempak.
“Lagian mana ada orang tua yang tega membiarkan anak gadis kesayangannya hanya menikah kontrak selama dua tahun. Ternyata seluruh perusahan adalah target mereka!” ujar Morgan.
“Status kamu dan Selvie sebagai suami istri masih bisa di untungkan. Jika kamu mengakui anak dalam kandungan Selvie, Selvie mungkin bisa berpihak padamu,” saran Jerry.
Morgan menatap Jerry. “Kamu gila. Anak itu bukan anak ku!” tegas Morgan. Disaat tersulit hidupnya, bahkan saat ia hampir bangkrut sekalipun, ia enggan menerima Selvie dan anak dalam kandungannya.
“Kalau kamu menceraikan Selvie, dia pasti akan,” ujar Jerry yang sedang mengkhawatirkan sesuatu.
“Bagaimana aku bisa menceraikannya? Kami tidak memiliki surat nikah.” Suasana menjadi hening sejenak. “Jalan satu satunya aku harus mencegah siapa pun yang merger dengan paman Niko.”
“Tapi, hubungan pak Hutama dan pak Niko akhir akhir ini sangat baik. Kemaren mereka terlihat bersama keluar dari cafee Exchioo. Pak Niko menempeli pak Hutama, ia bahkan rela konsumsi Miras tiap hari untuk meladeni kebiasaan pak Hutama,” ujar Jerry dengan seribu keraguan. Sepertinya kali ini Morgan harus benar benar berusaha sekuat tenaga agar pak Hutama dan pak Niko batal kerjasama.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung…