Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 32. Ide Busuk


__ADS_3

Baru sejam Selvie keluar dari rumah kini ia sudah kembali pulang. Dengan wajah kesal ia melempar sepatunya begitu saja di depan pintu. Ia kemudian berjalan cepat menuju ruang tengah.


“Wi, wiwi.”


Seorang pelayan tergesa gesa dari arah dapur menghampirinya.


“Loh Nyonyah sudah pulang? Nggak jadi makan siang dengan teman ya Nyah?” tanya Wiwi.


“Nggak jadi,” jawab Selvie kemudian merilekskan tubuhnya di atas sebuah sofa empuk diruangan itu. “Siapin makanan dong aku laper nih. Oh ya makanannya di masak hingga benar benar matang ya Wi. Hm jangan ada menu udang atau ikan. Ayam di masak lada hitam dan sop,” pinta Selvie.


“Baik Nyah?” sahut Wiwi. Namun dalam hati Wiwi sedikit keheranan. Tumben majikannya itu jadi pemilih makanan. Bukannya ia paling demen makan udang?


“Oh ya rumah kok sepi?” tanya Selvie sambil melihat ke arah belakang.


“Bu Sukma sedang menjemur tikar di belakang, Sena sedang keluar mengambil laundry. Asty sejak pagi keluar bersama Utari,” jawab Wiwi.


“Ya sudah, nanti makanan nya bawa ke kamarku Wi,” ujar Selvie. Ia berdiri dari sofa empuk itu kemudian berjalan menuju kamarnya.


Selvie merogoh sesuatu dari dalam tas nya yang ia beli saat perjalanan pulang kerumah. Tentu saja ia singgah di sebuah apotik untuk membeli alat testpack kehamilan.


Setelah membaca keterangan didalam kemasan mengenai cara pakai Selvie langsung menuju kamar mandi. ia melakukan sesuai petunjuk yang tertera pada kertas.


“Semoga nggak hamil, semoga nggak hamil, aku ga kepingin hamil anak Eko. Jangan hamil ya tuhan,” gumam Selvie. Ia terus berdoa sambil menunggu beberapa menit sebelum hasilnya keluar dengan jelas.


Perlahan lahan dua garis merah muncul pada layar testpack yang semakin lama warnanya semakin jelas terlihat.


“Nggak nggak mungkin, pasti hasilnya salah,” ucap nya. Ia mengambil satu testpack baru lagi kemudian melakukan hal yang sama. Setelah beberapa saat dua garis merah kembali muncul pada alat itu.


“Sialan,” umpat Selvie kemudian melempar testpack itu ke dalam tempat sampah.


“Aku harus mencari dokter yang bisa menggugugurkan anak ini sekarang juga. Anak seorang sopir tidak boleh ada didalam rahimku. Anak ini memlikiki gen yang buruk, seluruh keluarga nya adalah seorang pembantu. Tidak boleh!” batin Selvie. Ia bergegas keluar dari kamar mandi untuk mengambil ponselnya dari dalam tas.


Ia mulai mengetik sesuatu pada mesin pencarian ponsel.


“Penggugur kandungan,” setelah mengetik, beberapa merek obat muncul pada layar ponsel.

__ADS_1


Tok tok tok


“Nyah, makan siang nyonyah,” teriak Wiwi dari luar pintu.


“Masuk Wi.”


Wiwi masuk dengan membawa nampan di tangannya.


“Nyah, ayam lada hitam pesanan nyonyah sudah siap,” ucap Wiwi namun tak digubris oleh Selvie.


“Nyah?”


“Wi, kamu tau obat yang aman untuk menggugurkan kandungan ga?” tanya Selvie dengan mimik serius menatap layar ponsel. “Apa obat ini aman ya? Atau kita langsung ke dokter obgyn aja gimana?”


“Siapa yang hamil Nyah?” tanya Wiwi.


Wajah serius, cemas dan panik itu berbalik menatap Wiwi. “Aku hamil, dua minggu yang lalu aku nggak haid, tadi aku muntah muntah, aku hamil Wi. Gimana ini? Aku nggak ingin anak ini lahir!” Selvie mulai mengigit kuku telunjuknya sambil berpikir keras, ia ingin secepatnya janin itu keluar dari tubuhnya sebelum ada yang tau jika ia hamil.


“Nyah tenang dulu, nyah,” sergah Wiwi.


“Kamu bantu aku wi, kita cari dokter kandungan yang aman yuk,” ucap Selvie semakin cemas.


Selvie mengeluarkan testpack dari dalam saku bajunya.


“Kata penjual di apotik itu, tingkat akurasi alat ini 99% aku sudah mencoba 2 kali dan hasil nya sama. Apa kita langsung ke dokter sekarang Wi!”


Wiwi mengambil test pack dari tangan Selvie mengecek dua garis merah yang tertera disana.


“Trus kalau nyonyah hamil kenapa? Tidak ada yang salah jika nyonya hamil, bukankah itu sebuah hal yang baik?” ujar Wiwi.


“Aku nggak menginginkan anak ini Wi,” ucap Selvie sedikit menekan.


“Nyonya tidak suka, tapi tuan sangat menginginkan seorang anak. Sekarang coba nyonya tenangkan diri dulu kemudian berpikir jernih,” Wiwi menyerahkan segelas air ke tangan Selvie.


Ya Morgan memang menginginkan anak, ia bahkan tergila gila dengan anak haram dari pembantu murahan itu. Morgan adalah tipe pria yang sangat mencitai anak anak.

__ADS_1


“Tapi…” Selvie masih ragu dengan rencana yang diutarakan Wiwi.


“Tidak ada tapi tapi, anak dalam perut nyonya adalah anak tuan. Rumah tangga nyonya dan tuan pasti akan membaik setelah kehadiran anak ini.”


“Tapi Wi aku tidak bisa.”


“Nyah! Jika tidak maka nyonyah akan kehilangan tuan.” bantah Wiwi.


Selvie terdiam. Mengingat beberapa minggu terakhir hubungan Morgan dan Utari semakin dekat. Mereka tidak segan memamerkan kemesraan di hadapan semua orang. Utari dan anaknya seperti Ulat bulu yang terus menempel pada suaminya. Ia harus mengusir wanita murahan dan anaknya itu menjauh.


Namun tekat yang tadinya sudah mulai kokoh itu tiba tiba sirna, kembali muncul keraguan dalam hati Selvie.


“Masalahnya anak ini bukan anak mas Morgan,” Selvie menatap Wiwi penuh harap sebuah solusi akan ada untuk dirinya.


“Bu bukan anak tuan Nyah? Nyonyah bukan hamil anak tuan?” tanya Wiwi seakan tak percaya. Ia segera menutup mulutnya yang hampir keceplosan berteriak keras.


Selvie mengangguk. “Seandainya anak ini adalah anak mas Morgan, dengan senang hati aku akan merawatnya, tapi…”


“Jadi anak siapa Nyah?” tanya Wiwi serius.


“Tidak, Wiwi tidak boleh tau siapa ayah dari anak ini. Jika ia tau, ia pasti akan menertawakan ku. Harga diriku akan jatuh dimatanya,” batin Selvie.


“Kamu tidak perlu tau siapa ayah anak ini, yang pastinya ini bukan anak mas Morgan,” elak Selvie.


“Ok. Sekarang Nyonyah anggap saja anak itu anak tuan. Setelah tuan tau nyonyah hamil anaknya, tuan pasti akan berubah. Ia akan lebih menyayangi nyonyah. Bagaimana pun anak dalam kandungan nyonyah adalah darah daging nya,” ujar Wiwi si empunya segudang ide busuk dalam benaknya.


Selvie kemudian teringat saat Morgan mabuk dan tidur sekamar dengannya. Walaupun tidak terjadi apa apa diantara mereka, wajah Morgan sempat ragu kala itu. Morgan terbangun dalam keadaan telanjang bersama dirinya, jadi ia tidak bisa memungkiri jika anak ini adalah anaknya.


“Baiklah, anak ini adalah anak mas Morgan, aku akan melahirkannya. Dia akan menjadi penerus keluarga Milano,” ucap Selvie dengan yakin.


Saat itu juga Selvie menuju nakas di samping tempat tidurnya. Ia menghabiskan makan siang yang baru di antarkan Wiwi. Ia butuh tenaga dan energi yang cukup untuk menjaga anak dalam perutnya agar tetap Sehat.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung…


__ADS_2