
“Kenapa kamu menangis?” Morgan menatap wajah sendu Utari dibalik remang cahaya lampu kamar itu.
“Aku bahagia tuan, aku sangat bahagia.” ujar Utari berusaha meredam emosinya.
Jemari Morgan mulai mengusap airmata di pipi Utari, membuat Utari semakin tak kuasa untuk pergi darinya. Kelembutan sentuhannya, Utari selalu menginginkan hal seperti sekarang ini.
Perlahan wajah Morgan maju mendekati Utari, ia mulai mengecup dahi kemudian pipi, kecupan itu berakhir di bib ir Utari. Bermula dari kecupan ringan hingga menjadi sedikit berge lora, bib ir mereka terus beradu.
Utari tak kuasa menolak, dirinya ikut terbuai dalam kelembutan permaianan lidah Morgan. Pria itu terus menyesap setiap inci rongga mulut Utari.
Tanpa sadar tubuh pria itu sudah berada di atas tubuh Utari. Bahkan tangannya mulai merambah ke dadanya.
Utari segera menangkap jemari itu agar tidak terlalu jauh mengge rayang.
“Tuan,” cegah Utari berbisik. “Kita tidak boleh melakukan hal ini,” lanjutnya.
Morgan pun mengehentikan aksinya. Ia mengangkat badannya bertumpu pada siku tangan sambil mengusap lembut rambut Utari.
“Baiklah, aku akan menunggu hingga kamu siap,” bisik Morgan dan di balas senyuman oleh Utari.
“Tuan, aku harus mengurus Miracle,” ujar Utari agar Morgan bisa segera turun dari atas tubuhnya.
“Dimana anak itu?” tanya Morgan sambil menoleh ke arah box bayi dalam ruangan itu.
“Dia dikamar ibu,” jawab Utari.
“Aku masih ingin menatap wajahmu,” ujar Morgan yang tidak beranjak sedikitpun dari atas tubuh Utari.
Utari setuju, ia mengijinkan Morgan sedikit lebih lama berada di atas nya sambil terus menatap wajah yang sebentar lagi akan ia rindukan. Utari meraba hidung mancung Morgan dengan jari telunjuknya sambil bergerak turun ke arah bibir. Ia menyimak setiap inci wajah itu sepuasnya.
“Sudah puas lihatnya?” tanya Morgan.
Utari terkekeh kecil, seharusnya ia yang bertanya hal itu. Kenapa malah ia yang kini menatap Morgan lebih intens.
“Belum puas,” jawab Utari.
Morgan mengecup dahinya.
“Nanti malam aku akan pulang, dan tidur dengan mu,” ujar Morgan.
Utari terpana.
“Tapi nyonya?” tanya Utari.
“Aku tidak peduli lagi, aku akan segera menceraikan Selvie,” sahut Morgan.
“Tapi nyonya sedang-”
“Sedang hamil?” potong Morgan. “Ternyata kamu masih percaya jika anak dalam kandungannya adalah anak ku,” ujar Morgan kemudian bangun dari pembaringan. “Aku akan melakukan tes dna, hasilnya kamu akan tau,” lanjutnya.
Utari terdiam, Morgan begitu yakin jika anak dalam kandungan Selvie bukan anak nya.
“Kalau aku mengatakan Miracle adalah anak tuan, apa tuan akan percaya?” tanya Utari seperti menjebaknya.
__ADS_1
Morgan tediam menatap Utari. Ia tak tau harus memberikan jawaban apa atas pertanyaan itu. Karena bagi Morgan jelas Miracle adalah bukan anak nya.
“Miracle bukan anak ku, tapi aku akan memperlakukan kan nya seperti anak ku,” ucap Morgan dengan yakin.
“Ia menganggap Miracle bukan anaknya, tapi Miracle adalah anaknya. Bagaimana jika hasil DNA ternyata anak dalam kandungan Selvie adalah anaknya. Apa ia akan menyesal? Apa yang akan terjadi dengan ku? Sebelum semuanya menjadi rumit aku harus segera pergi dari sini.” batin Utari.
Melihat Utari terdiam, Morgan mendekati Utari kemudian menggenggam jemari Utari.
“Kelak jangan pernah mengucapkan pertanyaan seperti itu lagi. Miracle adalah anak ku, tidak boleh ada yang mempertanyakan hal itu lagi,” ujar Morgan.
“Baiklah, Miracle adalah anak tuan,” jawab Utari. Ia kemudian bangun dari ranjang. Mengambil beberapa pakaian dan popok Miracle yang ia letakkan di atas nakas.
“Kamu akan kemana?” tanya Morgan.
“Tentu saja aku akan melihat anak ku, mungkin ia sudah bangun dan sedang menangis sekarang. Aku belum mengganti popoknya.”
“Kenapa tidak membawanya ke sini?” tanya Morgan.
“Kalau tuan terus ada di kamar ini bagaimana kami akan ke sini? Aku tidak ingin menyinggung nyonya,” ujar Utari.
“Pokonya malam ini aku akan tidur disini,” ucap Morgan lagi.
Utari menatap wajah Morgan, pria itu ngotot ingin tidur dengannya. Utari menarik nafas panjang kemudian membuangnya serempak.
“Baiklah,” jawab Utari mantap. “Tuan boleh tidur disini.”
“Kalau begitu, ambil Miracle ke sini sekarang. Aku sangat merindukan nya,” ucap Morgan lega. Akhirnya ia bisa kembali pulang ke rumah. Utari tidak akan mengunci pintu kamarnya dari dalam lagi.
Utari pun bergegas keluar dari ruangan kamar itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 5, Miracle pasti sudah bangun, ia sendirian di dalam kamar sang ibu.
Ia menitip Miracle kepada Morgan. Ia sengaja membiarkan mereka bermain sepuasnya di kamar. Sedangkan Utari, ia bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Miracle dan Morgan.
Pagi itu Utari menyiapkan sarapan spesial untuk Morgan, sarapan yang ia buat sendiri juga menu yang ia racik sendiri untuk dua pria yang ia cintai.
Saat sedang sibuk kemudian Sukma tiba disitu.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Sukma.
“Membuatkan sarapan untuk tuan,” sahut Utari sambil terus menyiapkan bumbu masakan.
“Jika nyonya tau ia akan,” protes Sukma.
“Bu, please.” Mohon Utari. “Jangan larang saya, ini hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk tuan,” ujar Utari.
Mendengar hal itu Sukma mendesah, ia masih tetap tidak setuju Utari melakukan hal itu. Tapi jika ia ribut di dapur karena hal itu, tuan nanti akan ke situ. Rencana Utari untuk meninggalkan rumah itu bakal ketahuan.
“Bu,” pinta Utari sekali lagi dengan wajah penuh permohonan. “Saya hanya memasak, tidak lebih,” ujar Utari.
Akhirnya Sukma pergi dari situ.
Utari melanjutkan pekerjaan nya hingga selelsai.
Pukul 7 pagi segala jenis makanan sudah terhidang di atas meja. Utari memasak berbagai jenis makanan lezat di pagi itu. Tidak terlihat seperti menu sarapan pagi, terlihat lebih seperti hidangan makan siang dengan porsi yang lumayan banyak.
__ADS_1
Saat Asty masuk ke dapur ia kaget dengan aneka ragam menu di atas meja.
“Mbak, ada acara apa?” tanya Asty.
“Aku lagi kepengen masak aja, jadi masak lebih,” sahut Utari.
“Waah,” ujar Asty sambil tergiur dengan menu yang dilihatnya.
“Nanti setalah majikan makan, kita juga makan bersama,” ujar Utari.
“Asik,” sahut Asty.
Kemudian Sukma tiba disitu.
“Udang, ikan. Jika nyonya melihat ini, nyonya bisa marah. Kamu kalau melakukan sesuatu pikir dulu baik baik,” ujar Sukma.
“Aku memasak ini untuk tuan, bukan untuk nyonya,” sahut Utari.
Tanpa ingin menjelaskan lebih lanjut, Utari langsung meninggalkan Sukma dan Asty. Ia menuju kamarnya untuk memanggil Morgan keluar.
Karena mendengar Utari yang memasak menu sarapan pagi itu. Morgan langsung bergegas menuju meja makan. Masih dengan baju yang ia pakai semalam, tanpa cuci muka dan sikat gigi.
“Jadi ini kamu yang masak?” tanya Morgan antusias.
“Benar tuan,” jawab Utari.
“Ayo kamu duduk makan,” ajak Morgan.
“Tidak, saya masih harus memberi sarapan kepada Miracle dulu,” tolak Utari.
“Bu sukma, bawa Miracle. Setelah kami makan baru Miracle sarapan. Lagian dia baru saja meminum habis susunya, perutnya masih rada kenyang,” ujar Morgan.
Sukma pun mengambil Miracle dalam gendongan Utari kemudian pergi dari situ.
Morgan dan Utari pun sarapan bersama di meja makan untuk pertama kalinya.
Morgan terlihat sangat bahagia, sejak beberapa hari terakhir ia tidak makan teratur karena banyak masalah di perusahan. Baru kali ini ia makan dengan lahap, bahkan semua menu yang dihidangkan hampir ia lahap. Hingga perutnya benar benar kenyang.
“Selanjutnya setiap hari, saat sarapan kamu harus duduk makan bersama ku,” ujar Morgan.
Utari mengangguk dengan senyuman diwajahnya.
“Oh ya, kamu nggak perlu melakukan hal ini. Jika kamu tidak ingin masak kamu bisa meminta pelayan yang melakukannya. Atau jika kamu mau merekrut seorang koki juga boleh. Terserah padamu,” ujar Morgan.
“Baiklah. Selanjutnya tuan harus makan dengan baik setiap hari,” jawab Utari.
“Maafkan aku, aku hanya bisa pamitan demgan cara seperti ini,” gumam Utari dalam hatinya.
Jika saja Morgan tau Utari melakukan hal itu karena ia berncana akan meninggalkan rumah itu siang itu juga. Apa ia akan makan selahap itu. Apa ia akan sebahagia itu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung…